
“Sebelum kita menutup acara dengan ramah tamah dan berbagai penampilan yang siap memukau anda semua, ada sedikit berita dan request dari seluruh alumnus yang hadir di sini.” Kudengar suara MC yang meningkahi tawa renyah Tante Ayu akibat lelucon garing yang baru saja kuceritakan. “Pertama, berita ini sebenarnya adalah sebuah ucapan selamat yang berasal dari seluruh civitas akademika Yayasan Cerdas Mulia atas keberhasilan Ashra Odai Dharmawangsa meraih gelar MBA dengan predikat cumlaude.” MC itu berhenti berbicara sejenak untuk memberikan kesempatan pada riuhnya hadirin yang bertepuk tangan. “Selanjutnya kepada Ashra Odai Dharmawangsa dimohon untuk naik ke atas panggung untuk memberikan sepatah dua patah kata. Dimana ini merupakan request dari seluruh alumnus SMU Cerdas Mulia angkatan ke-15.” Ucap sang pembawa acara ketika gemuruh tepuk tangan mereda.
Bisa kulihat gelombang manusia yang mengarahkan pandangannya pada satu titik di area food corner. Titik dimana terdapat sedikit penumpukan massa. Secara naluriah, aku turut mengarahkan tatapanku pada titik penumpukan itu. Kurasa aku bisa menebak siapa yang menjadi pusat kumpulan manusia itu. Tanpa bisa kutahan ringisan kecil terbit dibibirku. Pasti menyebalkan berada di posisinya. Bisa kubayangkan omelan panjang yang akan terus menerus menumbuk gendang telingaku jika aku berada di sekitarnya nanti setelah selesai acara.
Butuh waktu cukup lama sebelum akhirnya sosok yang diharapkan memberi sepatah dua patah kata itu berhasil keluar dari kerumunan padat itu. Cukup jauh bagiku untuk bisa melihat ekspresi apa yang terpasang pada wajahnya. Namun berdasarkan pengalaman, aku bisa menerka senyum bisnis simetris yang pasti ia gunakan saat ini.
“Siapa yang menyisipkan acara ini, Tante?” tanyaku pada Tante Ayu, ibu dari pemuda yang sedang memberikan pidato singkat di atas panggung itu.
Tante Ayu mengangkat bahunya sebagai isyarat bahwa ia pun tidak tahu ada acara seperti ini. “Tante Cuma diundang acara reuni angkatan kalian sebagai perwakilan Yayasan. Tapi mengenai isi acara sampai menyisipkan pengumuman kepulangan Ash dan gelar barunya itu, Tante sama sekali tidak tahu.”
Aku melempar cengiran pada Tante Ayu. “Bisa-bisa ada yang bakal ngomel sehari semalam setelah ini.”
Dan di balas dengan cengiran lebar pula oleh wanita di sampingku. “Bukan cuma ngomel, bisa-bisa ada ledakan bom atom setelah ini di rumah.” Tambahnya yang kusambut dengan tawa lepas.
Pada dasarnya Ash dan aku memiliki beberapa kesamaan. Kesamaan kami yang paling besar adalah bahwa kami sama-sama tidak suka menjadi pusat perhatian dan tampil mencolok. Bedanya, kalau aku secara natural memang sangat tidak menarik perhatian dan dapat dengan mudah diabaikan. Bisa dibilang ini adalah bakatku sejak masih berbentuk embrio. Sedangkan Ash merupakan sosok yang sangat mudah menarik perhatian secara natural. Ash, tanpa berupaya sekalipun, tanpa melakukan apapun, bahkan jika ia hanya duduk mematung pun, pasti akan tetap mengundang perhatian dari siapapun yang melihatnya. Resiko punya wajah tampan dengan tingkatan outstanding. Ditambah lagi dengan latar belakangnya yang juga outstanding, sungguh-sungguh seperti anugerah sekaligus kutukan.
Tak sampai tiga menit Ash berbicara di depan sana. Ia benar-benar hanya memberikan sepatah dua patah kata sepertinya. Ash segera melangkah turun begitu MC kembali mengambil alih jalannya acara. Kemudian dengan aba-aba dari sang Pembawa Acara, mengalunlah musik yang kembali menyemarakkan acara.
Entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba seorang gadis yang kuketahui sebagai salah satu teman sekelas Ash ketika kami masih di tahun pertama naik ke atas panggung dan mengambil alih mic yang berada dalam genggaman MC. “Selamat malam semuanya. Malam ini, kuberanikan diri berdiri di sini untuk membuat sebuah permohonan. Agar tak ada lagi penyesalan yang kurasa. Kepada Ash, kumohon, berdansalah denganku untuk pertama dan terakhir kalinya.” Dan dengan segera perempuan itu berlari ke arah Ash dan berdiri di hadapannya seraya mengulurkan tangan.
Seketika hall menjadi nyaris hening dari riuh suara manusia. Bahkan aku secara tak sadar sudah ternganga takjub. Namun hening itu tak bertahan lama, detik berikutnya riuh suara tepuk tangan dan teriakan memenuhi hall. “Dansa! Dansa! Dansa!!” teriak nyaris semua orang dengan semangat. Bisa kulihat Ash yang berdiri terdiam di kejauhan, terjebak dalam dilemanya.
“Whoa.. sepertinya lebih baik kita mengungsi dulu ke villa sementara waktu, deh Mas.” usul Tante Ayu pada suaminya. “Sepertinya benar-benar bakal ada ledakan nanti di rumah.”
Dari jauh aku menyaksikan adegan mirip lamaran dan ajakan berdansa namun versi terbalik. Cukup lama Ash mematung, mungkin mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada. Namun aku yakin pada akhirnya Ash akan menerima ajakan itu meski dengan terpaksa. Karena Ash yang kukenal bukanlah manusia kejam yang tega mempermalukan orang lain di tengah keramaian seperti ini.
Dan tepat seperti itulah yang akhirnya terjadi. Pada akhirnya Ash menyerah dan menyambut tangan yang terulur itu. Meski mungkin dengan terpaksa. Alunan musik berganti, menyesuaikan permintaan mayoritas peserta reuni. Beberapa saat setelah Ash memulai dansanya, beberapa pasangan akhirnya ikut turun berdansa.
“Itu siapa, Kim?” Di sebelahku Tante Ayu bertanya.
“Kalau nggak salah namanya Cindy, Tante. Mantan Ash. Mereka pernah sekelas di tahun pertama.” jawabku memberi informasi.
“Berani dan Agresif sekali ya.”
Aku tertawa mendengar komentar Tante Ayu yang tanpa filter sama sekali itu. “Dia memang terpesona dan jatuh cinta sama Ash sejak pertama kali ketemu, Tante. Sampai seperti orang yang terobsesi. Kalau nggak salah orang tuanya pernah menemui Om Andra untuk mengajukan tawaran perjodohan dan pertunangan.”
“Bener itu, Mas? Kok aku nggak tahu?” Kali ini Tante Ayu mengajukan pertanyaan penasarannya pada suaminya.
Om Andra mengangguk sebagai jawaban. Lalu ia menambahkan, “Langsung aku tolak soalnya. Jadi aku gak ingat ngasih tahu kamu. Kamu kan tahu sendiri aku paling gak suka jodoh-jodohin anak.”
Tante Ayu ikut mengangguk mendengar penjelasan suaminya. “Keputusan tepat, Mas. Aku nggak mau mantuku seperti itu.”
“Tenang tante, Ash itu punya banyak pilihan. Banyak yang antri mau jadi istrinya. Tante nggak akan kekurangan pilihan buat dijadikan menantu.” sahutku menimpali.
“Eh, gini-gini Tante tahu lho seleranya Ash itu yang seperti apa. Sayang aja sepertinya jalannya belum nyambung.” sahut Tante Ayu lagi disusul dengan tawa renyahnya yang terasa tanpa beban.
Musik berhenti, menjadi kesempatan bagi Ash untuk melepaskan diri dari Cindy yang menempel padanya. Namun sayang, sebelum Ash sempat bergerak lebih dari lima langkah, seorang wanita lain menghampirinya dan mengulurkan tangannya. Mengulang persis apa yang terjadi sebelumnya. Mungkin Cindy secara tidak langsung telah memberi inspirasi pada para gadis yang lain untuk bertindak berani dan agresif malam ini.
Serempak aku dan Tante Ayu tertawa menyaksikan betapa terganggunya Ash. Putra semata wayang Tante Ayu dan Om Andra itu merasa sangat terganggu dan kesal, namun di sisi lain ia tak bisa menolak mereka. Meski dengan terpaksa dan setengah hati, pada akhirnya Ash menerima ajakan dansa itu. Aku masih tertawa bersama Tante Ayu ketika pada akhirnya mata Ash menangkap basah kami. Mata kami bertemu dan aku merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan perbuatan yang memalukan.
Padahal kalau dipikir-pikir, apa salahku? Aku kan Cuma menertawakan kesialannya. Tapi mungkin aku merasa bersalah karena tidak setia kawan. Entahlah.
“Mantan Ash juga. Namanya Tika. Tapi aku kurang kenal sih, Tante.” jawabku.
Tak lama lagu berakhir dan Ash melepaskan diri dari Tika pada kesempatan pertama. Ia berusaha menjauh dari area yang digunakan untuk berdansa secepat mungkin tanpa berlari. Nahas, belum juga ia bisa melangkah jauh, seorang gadis lain mencegatnya. Bisa kubayangkan betapa kesalnya dia.
Berkali-kali Ash melakukan kontak mata padaku. Seperti berusaha menyampaikan sesuatu. Entah apa maksudnya. Pada akhirnya Ash menyerah mencoba melakukan telepati padaku. Dan meraih ponsel dari dalam sakunya dengan seorang gadis masih menunggu dengan sabar di hadapannya. Ash mengetik dengan sangat cepat dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Selanjutnya dengan terpaksa ia menerima uluran tangan gadis yang masi bertahan di hadapannya itu.
Getaran singkat ponselku membuatku mengalihkan pandanganku dari tontonan menarik. Pesan dari Ash. Rupanya ia menulis pesan untukku tadi. Namun sebelum aku sempat membuka isi pesan itu, Tante Ayu kembali bertanya padaku. “Kali ini siapa lagi?”
“Namanya Audrey. Mantan Ash juga. Dia dulu pacar pertama Ash. Dia punya gelar Ratu tercantik di sekolah dulu.” Kembali aku membeberkan informasi yang kuketahui. Lama-lama aku merasa seperti seorang agen mata-mata yang sedang melaporkan informasi.
“Astaga, sebenarnya berapa banyak mantan anak itu?” Om Andra menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
“Setahu saya, Ash nggak pernah cari pacar sih, Om. Justru cewek-cewek itu yang selalu mengejar Ash. Sampai dia kesal.” Aku sedikit membela Ash.
“Warisan wajahmu sepertinya bikin Ash susah, Mas.” celetuk Tante Ayu yang disusul dengan derai tawa kami bertiga. Aku kembali memusatkan perhatianku pada pesan yang tadi dikirim Ash dengan sisa tawaku.
Ash : Kamu sudah datang?!
Sejak kapan kamu duduk di situ?!
Kenapa malah duduk2 di situ sih?! Kenapa g ke sini?!
Keluarkan aku dari situasi ini!
Kubalas pesan itu dengan singkat. Meski mungkin dia tak akan langsung membacanya.
Me : Haha
Yakin kamu mau berhutang padaku?
Lagu berakhir tepat tiga menit setelah aku berhasil mengirimkan pesanku. Ash langsung membaca pesan yang kukirimkan begitu ia berhasil melepaskan diri dari Audrey. Dia menggelengkan kepalanya mengetahui aku sedang mengamatinya. Mungkin dia berpikir sudah tak lagi membutuhkan bantuanku karena lagu sudah berakhir dan ia melangkah dengan cepat berusaha keluar dari area dansa itu.
Namun seperti yang sudah kubilang, tentu saja keberadaan dan sosok Ash sendiri sangat sulit diabaikan. Meski ia berusah berjalan dengan menundukkan pandangannya agar tak bertatapan dengan siapapun, ternyata itu belum cukup. Seorang wanita kembali menghadang jalannya dan memaksanya untuk berdansa. Bisa kulihat bahu tegap Ash terlihat turun untuk sesaat, seolah menunjukkan betapa tak berdayanya ia.
Tanpa bisa kutahan, aku terbahak. Dan rupanya tawaku sempat tertangkap mata oleh Ash. Ia mengirim tatapan menghiba seakan memohon pertolongan padaku. Baiklah, sepertinya memang Ash sedang butuh pertolongan.
“Om, Tante, aku pamit menyelamatkan Ash dulu ya. Sebelum dia terpaksa harus berdansa dengan istri orang.” pamitku sambil menahan tawa.
“Perempuan itu sudah punya suami? Astaga. Sudah sana buruan.” Tante ayu mengusirku dari situ begitu ia mendengar info yang kuberikan. Tugasku hanya satu, menyelamatkan putra kesayangan Tante Ayu.
Aku melempar ringisan kecil pada pasangan yang sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri itu. “Kutukan wajah tampan.” celetukku setengah tertawa sebelum berbalik dan melangkah santai menuju tempat Ash berdiri.
...****************...
Kindly give me ur support ❤
Like, Comment, Vote, n Rate 5
Thank you..