
“Jadi dulu kamu jualan foto-foto Ash?” Tante Ayu menatapku setengah tak percaya, sekaligus penasaran.
Ringisan kecil tak bisa kutahan terlepas dari bibirku. “Andaikan saja dulu aku jualan foto-foto Ash, mungkin aku gak akan bingung memikirkan biaya kuliahku, Tante.” Sahutku. “Sayang aku gak sanggup membayangkan bakal dikejar-kejar penggemar Ash yang pingin beli foto, atau ditanya macam-macam. Bakal benar-benar menarik perhatian, Tante. Hih..” tambahku seraya bergidik ngeri membayangkan adegan aku yang dikejar-kejar seperti buronan.
Tawa Tante Ayu yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya meledak begitu saja. Mengingatkanku pada tawa Ash pada masa itu yang hingga kini tak kumengerti alasannya. “Kamu memang beda, Kim. Gak pernah bikin Tante bosan.” ucap Tante Ayu, kemudian beliau berceletuk menambahkan, “Kenapa dulu Tante gak kepikiran buat jual foto-foto Om Andra ya? Pasti untung besar juga kan, Kim?”
“kalau kamu jual foto-foto suamimu, berarti perlu dipertanyakan kadar cintamu.” sahut Om Andra santai.
“Ya bukan waktu mas sudah jadi suamiku lah, Mas. Kalau waktu sudah jadi suamiku sih ya gak rela dong.” dengan halus Tante Ayu mengelak.
“Kim.” Ash memanggilku. “Pulang yuk.” Ajaknya.
Seketika itu juga Tante Ayu menyahut, “Lho? Kenapa? Kim di sini aja sama Mama. Kamu pulang sendiri.”
“Mama ini gimana sih? Aku kan baru datang, sudah lama gak ketemu Kim. Kangen ini. Kok Kim malah dimonopoli sama mama.” Ash menggerutu kesal.
“Tapi aku datang ke sini kan memang karena Om dan Tante.” balasku tanpa berusaha menutupi cengiran lebarku.
“Nah, kamu dengar sendiri kan?” tambah Tante Ayu memanas-manasi putranya.
Ash melempar pelototan kesalnya yang (menurutku) lucu padaku. “Kim!” serunya kesal. Ah, sudah sepuluh tahun lebih aku mengenal laki-laki ini, tapi belum pernah aku merasa bosan membuatnya kesal. Pada akhirnya tanpa merasa perlu persetujuanku lebih lanjut, Ash berdiri dan menarik tanganku. Memaksaku mengikutinya. “Pa, Ma, aku bawa Kim dulu.” pamitnya tanpa sedikitpun mengendurkan genggaman tangannya.
Aku hanya sanggup melambai pada pasangan orang tua Ash itu sebelum Ash benar-benar menarikku menjauh. Lebih jauh, Ash menarikku hingga aku berada persis di sampingnya. “Puas kamu bikin aku kesal?” rajuknya, bersamaan dengan tangannya yang merengkuh pinggangku.
Refleks tubuh dan otakku berusaha melepaskan diri dari rengkuhan lengannya. “Ash! Apaan sih? risih tau!” omelku kesal.
“Ini hukuman karena ngerjain aku. Lagi pula kita akan melewati mereka. Tahan sedikit lah.” kilah Ash mempertahankan posisi lengannya. “Ini supaya kita bisa lewat dengan lancar. Supaya gak ada yang berusaha narik-narik aku lagi.”
Berat hati aku menghentikan usahaku untuk lepas. Alih-alih, aku membiarkan sahabatku ini menuntunku menuju pintu keluar dalam pelukannya. “Sebenarnya ini gak ada hubungannya sama sekali. Mereka semua tahu kalau kita bersahabat.” Protesku.
“Ada hubungannya. Mereka pasti tahu apa arti keberadaanmu untukku.” balasnya santai.
“Apa maksudmu? Memang ada arti lain selain sahabat?”
Ash melirikku dengan segaris senyum terpahat di wajahnya. “Bagimu mungkin itu arti kita. Tapi bagi mereka, ada banyak yang bisa mereka deskripsikan.”
Aku tak terlalu paham apa yang laki-laki ini maksud. Tapi aku malas berdebat dan aku sudah lelah. Jadi kubiarkan saja dia dengan apapun ide atau pemikiran yang berputar dalam kepalanya.
Sesuai dengan prediksi Ash, kami bisa berjalan menuju tempat mobilnya terparkir dengan nyaris sangat lancar tanpa dihentikan oleh siapapun. Hanya ada beberapa orang teman kami yang sempat bersalaman sebelum melepas kami. Sudah pukul 23.00 dan hari akan berganti dalam satu jam. Tapi acara di dalam Ballroom belum juga diakhiri! Terus terang sebenarnya aku lega Ash menarikku keluar dari Ballroom itu. Energiku sudah terkuras habis rasanya.
“Mau kuantar kemana?” tanya Ash begitu kami duduk dengan nyaman di dalam mobilnya.
“Phuulaang..” jawabku sambil menahan kuap yang bertekad menerobos keluar dari mulutku. Mataku berair sebagai konsekuensinya.
Ash tertawa kecil, “Ok. Kuantar pulang.” Maka dengan itu mobil Ash membawa kami meluncur menembus malam. Jalanan yang sunyi, mobil yang meluncur dengan senyap dan stabil serta AC yang berhembus sejuk berkolaborasi untuk membuat mataku semakin tak kuasa menahan kantuk.
Aku sudah hampir terhanyut dalam tidurku ketika suara bass Ash menarikku keluar dengan paksa dari dalam kubangan kantuk. “Kim, mau nemenin aku makan sebentar gak?” tanyanya.
“Hah?” Adalah reaksi pertamaku begitu suara Ash mengusikku. Sungguh, otakku sedang dalam kondisi terlemotnya.
“Mau nemenin aku makan dulu gak? Aku lapar nih.” ulang Ash dengan sabar.
Aku menguap lebar, bahkan punggung tanganku sepertinya tak cukup menutupi lebar mulutku. “Hamu hehom hakam?” tanyaku tanpa menunggu kuapku tuntas.
Hebatnya, tanpa perlu aku mengulangi pertanyaan tak jelasku tadi, Ash menjawab dengan wajar. Seolah pertanyaanku itu terdengar normal di telinganya. “Sudah, tapi Cuma sedikit. Sekarang aku lapar.” Memang, laki-laki ini pantas untuk kusebut sahabat. Dia bisa memahami suara aneh yang keluar dari mulutku sebagai kalimat normal yang lengkap.
“Ok. Tapi aku minum aja.” putusku kemudian. “Mau makan apa?” tanyaku lagi.
“Yaudah cari gih. Mudah-mudahan aja masih ada yang buka jam segini.”
Mobil Ash membelah malam membawa penumpangnya menyusuri jalanan demi sepiring tahu campur yang diidam-idamkan pemiliknya. Cukup lama Ash berputar-putar menyusuri jalanan untuk memenuhi keinginannya. Mungkin ada 30 menit terbuang hanya untuk mendapat jawaban dari pedagang tahu campur bahwa dagangan mereka sudah habis.
Bukannya aku mengeluh atau keberatan, karena toh aku sama sekali tak menahan hasrat mataku untuk terpejam. Tapi mungkin Ash sedikit merasa tak enak padaku yang di matanya terlihat seperti manusia yang nyaris pingsan. “Kim, maaf ya. Kalau sekali lagi pedagang tahu campurnya bilang habis, aku antar kamu pulang langsung aja deh.” ucap Ash merasa bersalah sembari membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah perumahan yang di bagian depannya berjajar deretan warung-warung kaki lima dengan tenda terpal seadanya.
“hiasya ajha khai, Ash (Biasa aja kali, Ash).” jawabku dengan pelafalan kacau akibat kuap yang terus saja menerobos keluar. “Aku juga sambil tidur kan ini.” tambahku setelah berhasil menuntaskan kuap tadi.
Tak sampai satu kilometer dari gerbang perumahan, Ash menghentikan mobilnya di depan sebuah warung dengan tenda terpal yang sudah setengah tergulung. Sepertinya pemiliknya hendak menutup warungnya dan pulang. “Tahu campurnya masih ada, Pak?” Kudengar samar-samar suara Ash bertanya pada penjual tahu campur yang sedang membersihkan gerobaknya itu.
“Masih ada, Mas.” Terdengar pula jawaban dari sang pedagang.
“Kalau gitu saya pesan satu porsi saja bisa ya?”
“Bisa mas, tapi warungnya sudah diringkes, Mas.”
“Ndak apa-apa, Pak. Saya makan di mobil saja.”
Dialog itu terdengar hilang timbul oleh telingaku. Entah karena teredam oleh dinding mobil, atau karena jarak antara aku dan Ash yang cukup jauh, atau mungkin juga karena otakku yang sudah mulai melayang antara sadar dan tidak.
Tak lama Ash masuk kembali ke dalam mobil dengan sepiring tahu campur dan sebotol air mineral ditangannya. “Akhirnya berhasil dapat tahu campur.” Ucap Ash girang. Aku meluruskan punggungku dan mencoba mengumpulkan kesadaranku yang perlahan terserak. Ash menyerahnya botol air mineral di tangannya padaku. “Nih. Gak ada teh hangat. Air mineral aja gak apa-apa kan?”
“Makasih.” sahutku masih berusaha sadar.
“Sorry ya, aku bawa-bawa kamu keliling tengah malam gini.” Kembali Ash meminta maaf dan disusul dengan suapan pertamanya yang ia lahap sepenuh hati. “Wow! Enak!” seru Ash di menit berikutnya ketika suapan pertamanya berhasil tertelan sempurna. Dan segera, pada detik berikutnya pemuda tampan mempesona ini melaporkan hasil temuannya padaku. “Enak banget deh, Kim! Cobain!” Dan tanpa menunggu persetujuanku, sesendok penuh potongan daging dan kuah berpetis pekat tersodor di depan mulutku.
Tanpa bisa menolak, kubuka mulutku dan kuterima suapan sesendok tahu campur itu. Enak memang, namun sebuah insiden terjadi tepat ketika aku menelan hasil kunyahanku dan menyebabkan aku terbatuk hebat karena tersedak. Terburu-buru Ash meletakkan piringnya pada dashboard mobil dan membantu menepuk punggungku. Ash menyodorkan air mineral padaku begitu batukku mereda. “Thanks.” aku berterima kasih.
“Sudah deh. Kelihatannya kamu sudah nggak sanggup makan yang bener gara-gara ngantuk. Tunggu ya. Aku makan cepat-cepat ini.” putus Ash merasa bersalah dan bersegera menghabiskan seporsi tahu campurnya.
Padahal, bukan karena mengantuk aku tersedak. Alasan sebenarnya adalah karena tatapan Ash yang kutangkap tepat ketika aku akan menelan makanan dalam mulutku tadi. Seharusnya sudah biasa Ash menatap atau memperhatikanku. Tapi yang tadi, tatapan itu terasa begitu intense dan berbeda bagiku. Berbeda dalam artian aneh dan tak terdefinisi untukku. Dan itu membuatku terkejut sekaligus merinding hingga terjadilah insiden itu.
Mungkin bukan refleks fisiologiku yang terganggu karena mengantuk. Mungkin yang terganggu adalah kinerja otakku. Sudahlah. Aku menyodorkan balik botol air mineral yang tadi Ash berikan padaku begitu sepiring tahu campur ditangan Ash tandas tak tersisa. Kurasa, untuk kecepatan makan seperti itu, Ash akan sangat banyak membutuhkan air untuk melancarkan pencernaannya.
“Nanti, aku bayar sekalian kembalikan piringnya dulu.” tolak Ash. Tanpa perlu menunggu responku, Ash keluar dari mobil dan mengembalikan piring kotor itu. Tak sampai tiga menit, Ash sudah kembali duduk di kursi kemudinya. Kembali aku menyodorkan botol air mineral yang masih tersisa separuh itu. Kali ini tanpa sepatah katapun Ash menerima dan langsung menenggak tandas air mineral itu. “Haaahh leganya..”
“Kamu ngidam ya kayaknya?” tukasku mengomentari tingkahnya yang seperti wanita hamil yang sedang ngidam itu.
Ash memandangku dengan tatapan yang ia buat sesinis mungkin, meski hasilnya lucu menurutku. “Aku sudah dua tahun gak ngerasain tahu campur, Neng Geulis. Wajar dong.” Aku tertawa mendengar panggilannya untukku. Itu adalah panggilan khas yang selalu ia pakai dulu ketika ia sudah merasa geram atau geregetan padaku. “Kim, pinjam bahu bentar ya. Istirahat bentar dulu baru aku antar kamu.” Dan tanpa menunggu persetujuanku, Ash bersandar dan meletakkan kepalanya di bahuku.
Aku membiarkan sahabatku itu. Padahal menurutku posisinya pasti sangat tidak nyaman, karena bahuku lebih rendah darinya. Tapi ketika aku mengamati Ash yang memejamkan matanya, kurasa Ash sama sekali tak merasakan ketidaknyamanan itu.
“Kim, Do you miss me?” Sebuah pertanyaan tiba-tiba tercetus dari bibir Ash yang masih memejamkan matanya. “Because I miss you so bad.” Lanjutnya, kali ini membuka matanya dan menatapku dengan tetap bersandar pada bahuku.
Ada riak yang tak bisa kubaca pada ekspresi Ash dan ada yang aneh dari tatapan Ash. Aku tak mengerti, tapi entah bagaimana di sudut terdalam batang otakku tempat respon primitif manusia bersembunyi, aku merasa Ash di hadapanku adalah orang yang sama sekaligus berbeda dan harus aku waspadai. “I do miss you, Ash.” jawabku tulus, meski sebuah ganjalan masih tersisa di bagian terdalam benakku.
...****************...
Kindly give me ur support ❤
Like, Comment, Vote, n Rate 5
Thank you..