
.
.
.
Siang ini panas, sepanas hatiku yang dongkol karena teman-temanku yang asal-asalan mengumpulkan bukunya padaku. Aku tahu ini tugasku sebagi ketua kelas, aku juga sebenarnya tidak keberatan jika hanya bertugas mengumpulkan buku-buku tugas teman sekelasku. Namun kelakuan teman-teman sekelasku yang dengan asal meletakkan bukunya di atas mejaku hingga berserakan dan berjatuhan membuatku sangat kesal. Mereka ini sudah SMA, tapi sekedar menumpuk buku dengan rapi saja tidak bisa?!
Kuabaikan riuhnya suara siswa di luar kelasku. Hari ini memang hari terakhir PTS (Penilaian Tengah Semester), dan sepertinya siswa SMA Cerdas Mulia tengah larut dalam euforia keberhasilan mereka menyelesaikan PTS. Terus terang aku merasa heran dengan suka cita mereka yang menurutku berlebihan itu. Padahal ini hanya PTS dan bukannya PAS (Penilaian Akhir Semester); padahal besok bukan hari libur; padahal besok masih ada kegiatan belajar seperti biasa, apa sebenarnya yang mereka rayakan itu?
Bahkan aku bisa mendengar keributan yang mereka ciptakan di sepanjang koridor depan kelasku. Ada gerombolan yang tertawa terbahak-bahak, ada yang saling bercerita dengan keras dan penuh semangat hingga suaranya seperti mengetuk gendang telingaku, banyak juga suara seseorang yang sekedar meneriakkan atau memanggil orang lain. Entahlah, mungkin aku yang tidak mengetahui budaya sekolah ini. Lagipula ini baru tahun pertamaku dan PTS pertamaku di sekolah ini.
“Ashra!” salah satu suara teriakan melengking yang sudah berulang kali tertangkap telingaku. Entah siapa yang memanggilnya, namun sepertinya si pemilik nama ini memiliki pendengaran yang harus dipertanyakan kenormalannya. Karena seharusnya dengan suara teriakan yang melengking tinggi dan berulang kali itu, siapapun dalam rentang radius 1 km dapat mendengarnya. Atau mungkin bisa jadi si pemilik nama dengan sengaja berpura-pura tidak mendengar?
“Ashra! Aku sudah berkali-kali manggil, kok nggak dengar sih?” pertanyaan bernada manja itu terdengar tepat di depan kelasku dan 100% membuatku menengok penasaran di tengah kesibukanku menyusun buku-buku tugas yang harus segera kuantar ke ruang guru. Dewita, pemilik suara melengking yang sejak tadi berteriak memanggil nama Ashra terlihat bersemangat dan senang karena berhasil menangkap targetnya. Tanpa sungkan, tanpa malu-malu, cewek yang termasuk dalam jajaran 5 top beauty di sekolah itu mengaitkan tangannya pada lengan Ashra. Bisa kulihat reaksi risih dan tak suka di wajah Ashra, namun Dewita seakan tak menyadari reaksi itu hingga ia tetap bergelayut manja pada Ashra.
Wah, lumayan juga ada tontonan real life FTV siang-siang gini. Aku mengamati gerombolan itu bergerak pelan. Entah apa yang mereka bicarakan, karena aku tak bisa mendengar suara percakapan mereka, namun dari ekspresi wajah Ashra yang terlihat sangat terganggu dan ekspresi wajah Dewita beserta pengikutnya yang kecewa, kurasa aku bisa menyimpulkan bahwa apapun yang diinginkan oleh Dewita dan gerombolan pengikutnya tidak tercapai.
Jangan salah paham, baik Dewita maupun Ashra, keduanya aku tak mengenal mereka secara pribadi. Tapi siapa sih yang tak mengenal nama mereka di seantero sekolah ini? Aku rasa sama sekali tak ada. Bakkan tukang kebun pun kurasa minimal mengetahui salah satu dari mereka. Dewita sebagai salah satu dari top beauty di sekolah ini. Dan Ashra, bahkan lebih tak bisa diabaikan. Selain wajahnya sangat tampan rupawan menawan, dengan jenis ketampanan universal.
Jika istilah itu membuatmu bingung, aku akan menjelaskannya. Maksudku, semua orang tahu kalau tampan itu relatif, bisa jadi bagi sebagian orang ketampanan ras A lebih menarik daripada karakter tampan dari ras B, tapi ada juga yang berpendapat sebaliknya dan sebagainya. Namun ketampanan universal itu adalah tingkat ketampanan dimana dari ras manapun kamu berasal atau bagaimanapun preferensi ketampananmu, kamu akan mengakui bahwa ia tampan. Titik, tak ada perdebatan. Setampan itu memang Ashra. Lalu bukan hanya itu, kudengar latar belakang keluarganya pun tidak bisa diremehkan. Tentu saja dengan semua kelebihan itu, Ashra benar-benar menjadi target menggiurkan bagi para singa betina.
Yah, bagaimanapun itu bukan urusanku. Dunia mereka jauh di luar jangkauanku. Lagipula gerombolan itu sudah melewati kelasku. Tontonan siangku sudah selesai. Saatnya kembali fokus menyelesaikan tugasku dan segera keluar dari sini. Berlama-lama di sini juga tidak akan membuat perutku kenyang dengan sendirinya. Aku beranjak keluar kelas dengan membawa tumpukan buku yang harus kuantar ke ruang guru. Ransel lusuh yang sudah menemaniku sejak lulus sekolah dasar tergantung menambah beban di bahuku. Aku memang berniat langsung hengkang dari sekolah begitu menyelesaikan keperluanku.
Wow! Rupanya jatah tontonan siangku belum habis. Gerombolan tadi ternyata bergerak searah dengan tujuanku. Di depan sana gerombolan penggemar Ashra itu bergerak lambat dalam kerumunan yang hampir memenuhi koridor. Padalah koridor sekolah ini terhitung cukup lebar. Kurasa sekitar dua meter lebarnya. Namun kerumunan itu hampir memenuhi koridor dan hanya menyisakan sedikit sekali space kosong. Benar-benar mengganggu lalu-lintas pengguna koridor yang lain.
Aku bisa menangkap sedikit percakapan mereka begitu posisiku kurang dari tiga meter. “Ayolah Ashra, boleh ya?” Pertanyaan rayuan bernada manja itu membuatku yang hanya mendengarnya turut merasa geli dan risih. Aku bahkan heran bagaimana Ashra bisa tahan mendengar suara seperti itu sekaligus digelayuti lengannya.
Tak lama aku mendengar sahutan dari Ashra. “Dew, maaf. Tapi benar-benar gak bisa. Aku sudah ada janji.” tolaknya.
Nah kan? Kalau aku jadi Ashra, aku juga pasti akan menghindar. Haha. Tapi sekali lagi, itu semua bukan urusanku. Mendengarkan dan menonton mereka terus-menerus tidak akan membuat perutku kenyang. Aku harus segera sampai di warteg mbok Darmi kalau mau hari ini pulang dengan membawa uang.
Seharusnya peraturan yang melarang kegiatan berlari, bergerombol dan memenuhi koridor pasti ada alasannya. Namun aku baru menyadarinya setelah kejadian mengesalkan itu menimpaku. Aku tak tahu entah bagaimana awalnya, tapi sepertinya gerakan tangan Dewita yang berlebihan dan sangat bersemangat secara tak sengaja menyenggol dan mendorongku. Hal yang kusadari hanyalah tiba-tiba aku sudah jatuh duduk terjengkang dengan buku-buku yang bertebaran berantakan di sekitarku.
Aku masih menyusun kesadaranku ketika tiba-tiba omelan menyebalkan menghantam gendang telingaku, “Gimana sih?! Punya mata nggak?! Orang lagi jalan kok ditabrak!”
Aku bangkit dan merapikan rok seragam sekolahku yang sedikit terbuka. “Saya jalan biasa saja di pinggir. Kamu yang menyenggol saya dengan gerakan tanganmu.” Aku meluruskan.
“Heh gendut! Kalau salah itu minta maaf!! Jangan malah balik nyalahin orang lain!!” Dewita semakin keras menyudutkanku. Dan rasanya sangat menyebalkan berdiri di posisi ini. Posisi dimana aku tak bersalah tapi disalahkan, sekaligus tersudut dan ditonton puluhan pasang mata. Aku benci jadi pusat perhatian seperti ini, terutama dalam situasi yang negatif.
Aku sudah berpikir akan membalas bentakan itu tepat ketika sebuah suara menyela dengan tegas. “Sudah. Dewita, kamu sendiri tahu kalau kamu salah. Kamu dan teman-temanmu berjalan memenuhi koridor dan menghambat orang lain. Jangan menyalahkan orang lain yang ingin lewat mendahului. Bukan hanya kalian yang bersekolah di sini.” Ternyata Ashra yang berdiri menengahi. Mungkin ia sendiri juga sudah merasa kesal sejak tadi.
“Tapi Ashra, dia yang nabrak aku dari belakang. Lihat badannya aja segede itu. Untung aja dia jatuh gak nimpa aku. Kalau ketimpa bisa celaka aku.” Dewita masih berkelit tak mengakui kesalahannya.
Ashra tak menyahuti keluhan Dewita dan justru membantuku memungut buku-buku yang berserakan. Ashra menyerahkan buku-buku itu padaku dalam satu tumpukan rapi. “Terima kasih.” ucapku pelan, hanya cukup agar ia mendengarnya dan berbalas dengan sebuah anggukan.
Aku menganggap masalah ini selesai dan tak ingin memperpanjangnya lagi, karena terus terang waktu bebasku sudah tak banyak lagi. Maka tanpa basa-basi aku melanjutkan langkahku menuju ruang guru secepat mungkin. Tapi sepertinya bagi Dewita, ini masih belum berakhir. Ditambah teguran Ashra tadi yang mungkin menyinggung harga dirinya. “Heh! Mau kemana kamu?! Minta maaf dulu!” teriak Dewita.
Apa aku berhenti? Kurasa tak perlu. Amukan kekanak-kanakan seperti itu tak perlu kuladeni. Lagipula beberapa detik kemudian aku mendengar suara Ashra menegur Dewita kembali. “Cukup, Dew. Dia gak salah apa-apa. Aku lihat sendiri dia hanya ingin lewat lalu terbentur gerakan-gerakan tanganmu. Sudah ya, aku juga sudah ada janji.”
Lalu entah bagaimana kelanjutannya, aku tak tahu dan tak peduli. Namun yang aku tahu, sejak saat itu entah bagaimana Dewita menjadikanku musuh sekaligus saingan abadinya. Bagaimana dengan Ashra? Kurasa ucapan terima kasih tadi itu bisa kuanggap pertukaran kata pertama antara aku dan Ashra. Singkat dan sama sekali tidak berkesan tentu saja. Sudah kukatakan tadi, Ashra dan juga sebagian besar makhluk di SMU Cerdas Mulia merupakan manusia yang berada di luar jangkauanku.
...****************...
Kindly give me ur support ❤
Like, Comment, Vote, n Rate 5
Thank you..