Kim: He Loves Me, He Loves Me Not

Kim: He Loves Me, He Loves Me Not
Reuni 3


Jadi, apa sebaiknya yang kujadikan sebagai alasan untuk membawa Ash? Aku sendiri masih bingung. Padahal laki-laki itu berdiri tak sampai 50 meter. Lihat situasi dan kondisi saja, kurasa. Baiklah, saatnya beraksi.


“Hai, Ash! Ternyata kamu di sini? Sedang menikmati jadi bintang?” sapaku seolah-olah baru saja melihatnya.


Ash menoleh menatapku, bisa kulihat tatapannya mengatakan, syukurlah. “Kim!!! Kenapa kamu datang terlambat?!” serunya membalas sapaanku.


Ash meraihku masuk ke dalam pelukannya tanpa persiapan dan aba-aba sedikitpun. Sial. Bukan begini rencanaku. Bisa gawat kalau banyak orang yang sadar. Sekuat tenaga aku melepas pelukan itu.


“Maaf, Tania. Sepertinya aku sudah cukup berdansa. Lagipula Kim sudah datang. Ada yang harus kami bicarakan.” Ash langsung memberikan alasan pada Tania dengan lengannya yang masih melingkari pinggangku. Terus terang aku merasa risih, tapi sebisa mungkin kutahan setidaknya sampai kami berdua berhasil menyingkir dari sini. Oh, baiklah, sepertinya aku tak perlu mengarang alasan apapun. Sepertinya yang dia butuhkan cuma aku sebagai tameng untuknya. Haha. Dan kemudian tanpa sedikitpun basa-basi lagi, Ash hengkang dari tempat itu.


Ash menggandengku, ralat : menarikku, menjauh dari ‘lantai dansa’ dengan langkah cepat. Sepertinya ia sudah benar-benar tak ingin terjebak harus berdansa dengan orang lain lagi. Haha, poor Ash. Ash baru memperlambat langkahnya begitu mencapai area VVIP tempat orang tuanya duduk dengan santai.


Aku menarik tanganku dari genggaman Ash dan beranjak untuk kembali duduk di sebelah Tante Ayu. Ash mengikutiku dan duduk di sebelahku. “Eh. Kamu duduk di sebelah Om Andra aja. Jangan di sini.” usirku sepenuh hati.


“Duh. Repot amat. Aku sudah terlanjur di sini juga.” sahutnya tak bergerak dari posisinya.


“Ih. Gila aja! Aku makin sengsara nanti. Aku duduk di sini aja tatapan orang-orang sudah setajam pedang. Kalau kamu ikut duduk di sebelahku juga, bisa-bisa laser yang nembus aku.” omelku sambil terus berusaha mendorongnya. Usaha sia-sia sebenarnya. Ash bahkan tidak bergerak se-inchi pun. Seperti telah bercokol kokoh hingga ke dalam tanah.


“Yaudah biar aja orang ngeliatin. Gak usah dihiraukan.” sahut Ash santai.


“Ogah.” balasku sengit.


Ash masih terlihat bersikukuh dan tak mau mengalah. Namun kali ini sepertinya aku yang akan menang. Om Andra memberiku bantuan. “Ash, pindah. Jangan sengaja mengganggu Kim.” titahnya singkat, padat, jelas.


Ash memandangku sejenak sebelum angkat kaki dengan tidak rela dan pindah duduk ke sebelah ayahnya. “Aku kan masih sudah lama gak ketemu Kim, Pa. Dia datang aja kalian yang langsung ditemui. Bukan aku.” gerutunya tak puas.


“Nggak usah akting sok imut kekanak-kanakan, Ash. Kim datang ke sini kan memang untuk ketemu kami. Bukan kamu.” Tandas Tante Ayu. Aku hanya tertawa senang mendapat dukungan dari orang tua Ash, berkebalikan dengan Ash yang tampak pasrah menerima nasibnya dianak tirikan.


“Kim, kamu nggak kasian sama Ash apa? Dia sampai seperti jadi piala bergilir gitu. Terus-terusan digangguin sama cewek-cewek. Dijadikan rebutan udah seperti komoditas langka aja.” Tante ayu berpura-pura memelas bertanya padaku.


Aku tak bisa menahan cengiran lebarku mendengar Tante Ayu menggoda anaknya sendiri. “Biar aja, Tante. Ash itu sok jual mahal aja. Padahal dia suka direbutin gitu.” selorohku memutarbalikkan fakta.


“Kalau kamu termasuk yang ngerebutin sih aku pasti seneng-seneng aja.” gerutu Ash menimpali kami.


Ash menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ditambah dengan perubahan atmosfer yang terasa berat dan mendadak, instingku berteriak kalau aku lah penyebabnya. Waduh, aku salah ngomong kah? Kok suasananya jadi nggak enak gini?


“Bener, Kim. Hidup itu harus realistis. Jangan seperti Ash. Direbutin sampai banyak yang rela antri, ngomel. Maunya yang kualitas super. Tapi usaha nggak sebanding. Kalau maunya yang kualitas super, usahanya juga harus super. Iya kan, Kim?” Tante Ayu mengambil alih percakapan. Untung saja, atau mungkin memang maksudnya untuk meringankan suasana kali ya?


Terus terang aku kurang paham tentang apa yang dimaksud Tante Ayu, tapi tanpa ragu aku menyambut bantuan Tante Ayu itu. “Iya bener itu.” sahutku dengan cengiran yang sengaja kupasang.


Tante Ayu, tak banyak orang yang berhasil menemukan dan menggali karakter aslinya. Rata-rata orang yang melihatnya atau sekedar mengenalnya akan berpendapat bahwa beliau adalah orang yang kaku, menyeramkan, tegas dan tak suka berbasa-basi. Mereka yang berpikiran seperti itu kemungkinan hanya asal berpendapat setelah sekedar menilai penampilan luarnya saja. Memang jika kau memandang Tante Ayu, kesimpulan yang kau dapatkan mungkin adalah kesan agung dan mengintimidasi. Beliau bukanlah wanita dengan kecantikan surgawi bak dewi kayangan atau semacamnya, namun kesan yang kau dapatkan ketika memandangnya akan membuatmu terpesona pada kesan agung yang sangat mengintimidasi.


Itu juga pikiran awalku tentang beliau. Namun ketika beliau mengizinkanmu masuk ke dalam inner circle-nya, kau akan tahu bahwa karakter asli beliau sangat sederhana dan menyenangkan. Beliau akan memperlakukanmu dengan sangat akrab begitu ia mempercayaimu. Namun beliau memang punya penilaian sendiri tentang siapa saja yang ia ijinkan untuk masuk ke dalam lingkungan terdekatnya.


Acara ramah tamah dan hiburan terus berlangsung. Kontras dengan malam yang beranjak semakin sunyi, suasana di dalam hall terasa semakin panas dan bersemangat. Sedikit banyak aku bisa memahami, kami semua, alumnus angkatan ke-15 sedang berada pada masa puncak kami. Kami muda, kami berpenghasilan, dan rata-rata kami belum menikah. Sedangkan aku, bukan karena aku bersenang-senang dan asik menikmati acara aku masih bertahan di sini, melainkan karena Tante Ayu dan Om Andra yang masih bertahan di sini hingga aku terpaksa bersabar. Sekalipun pasangan itu pasti akan memahami dan mengijinkan jika aku pamit terlebih dahulu, namun entah mengapa aku merasa kurang sopan melakukan itu.


Terus terang aku ingin pindah dan menempati kursiku sendiri, karena posisiku di sini membuatku merasa canggung dan serba salah. Beberapa kali Om Andra dan Tante Ayu harus menerima sapaan dari kolega mereka. Namun mereka tak membiarkanku untuk pergi sejenak sekedar memberi meraka privasi. aku yakin ini akan menjadi pertanyaan besar di kalangan mereka. Namun jelas aku tak tahu apa intensi pasangan baik hati itu sebenarnya. Mungkin mereka menggunakanku sebagai tameng untuk menghindari kemungkinan adanya keluarga yang berniat menawarkan sebuah perjodohan atau pertunangan. Dan setahuku, ini sangat sering terjadi.


Setelah sekian kali kolega mereka datang dan pergi, aku tak lagi ambil pusing atas situasi canggungku saat ini. Aku memutuskan menikmati saja dessert mewah yang tersuguh dihadapanku. Tak baik menyia-nyiakan rejeki yang terhidang di depan mata. Ya kan? Aku sedang menikmati eclair keduaku ketika Tante Ayu yang baru saja melepas teman yang menyapanya bertanya padaku. “Jadi Kim, aku penasaran gara-gara pertanyaan temanku tadi, bagaimana sebenarnya kamu pertama kali bertemu dengan Ash?”


Aku mengunyah eclair yang tersisa di dalam mulutku dengan tergesa dan berakhir membuat tenggorokanku menderita. Ash mengangsurkan sebotol air mineral padaku melewati ayahnya, yang dengan senang hati kuterima. “Terima kasih.” kuucapkan sebelum aku mengalihkan fokusku pada Tante Ayu yang masih menunggu jawabanku. “Pertama ketemu, Tante? Bukan pertama kenalan, kan?”


“Beda ya memangnya?” Tante Ayu bingung. “Coba ceritain dua-duanya deh.” Pinta Tante Ayu.


Aku memandang Ash meminta bantuan. Namun yang kudapat hanya senyuman manis menyebalkan, seolah menjadi balas dendam atas perlakuanku tadi. Makian dalam hati kulontarkan sepenuh hati pada Ash. Sudahlah, sebaiknya aku bercerita sesuai versi yang kutahu saja. “Jadi awalnya gini, Tante...”


...****************...


Kindly give me ur support ❤


Like, Comment, Vote, n Rate 5


Thank you..