Kim: He Loves Me, He Loves Me Not

Kim: He Loves Me, He Loves Me Not
Siapa Dia?


Rasa-rasanya aku butuh semacam booster untuk menaikkan moodku yang kacau dan suram sejak bangun tidur subuh tadi hingga detik ini dimana matahari hampir kembali ke peraduannya. Dan jelas butuh lebih dari sekedar kopi atau makanan enak untuk memperbaiki moodku yang sepertinya bahkan tidak berpihak padaku hari ini.


Pagiku lesu dan bisa ditebak penyebabnya adalah kurang tidur dan acara yang selesai terlalu malam menghabiskan nyaris seluruh energiku. Sepanjang pagi aku sadar aku telah menggunakan mulutku untuk mengomel, menggerutu dan mengutuk acara reuni semalam. Kenapa harus semalam itu? Kenapa harus weekday dan bukannya weekend? Kenapa aku juga harus datang? Dan kenapa-kenapa yang lain.


Siangku berlangsung dengan sangat menyebalkan. Dua janji temu dengan klienku dibatalkan dan harus reschedule ulang. Alasannya? Aku juga tak tahu. Sekretaris mereka hanya mengatakan mereka memiliki urusan mendadak yang tidak dapat ditunda. Nasib freelancer kecil, harus mengalah dengan bos-bos besar yang selalu minta didahulukan.


Harapan dan doaku, petang ini berjalan aman, lancar dan tidak menjadi bencana. Mudah-mudahan tidak ada masalah apalagi sampai ada pembatalan kerjasama. Ini adalah janji temu terakhir yang harus aku lakukan hari ini. Setelah itu aku bisa pulang dan kembali bekerja di balik layar laptopku. Comfort zone-ku.


Puluhan kali sudah aku menengok jam tanganku dan mengecek notifikasi di ponselku. Seandainya mataku memancarkan sinar laser, mungkin jam tangan dan ponsel pintarku sudah habis berlubang dari tadi. Sudah lewat 30 menit dari waktu yang disepakati, namun batang hidung manusia yang menjadi klienku tak juga tampak. Jangankan batang hidung, ujung ekor pun sama sekali tak terlihat tanda-tandanya. Apakah hari ini benar-benar hari bencana buatku? Karena bahkan sekedar notifikasi pemberitahuan sepertinya enggan menghampiriku.


Baiklah, 15 menit lagi. Kalau belum juga muncul aku akan pasrah dan pulang. Entahlah, rupanya butuh sebuah kepasrahan agar keadaan berpihak padaku. Karena beberapa menit setelah aku membulatkan tekad pasrahku, makhluk yang sejak tadi kutunggu itu secara tiba-tiba muncul dari pintu masuk cafe dan melambaikan tangannya ke arahku dengan semangat 45.


“Ibu Kim, saya mohon maaf sekali atas keterlambatan saya. Saya benar-benar tidak menyangka jalanan akan semacet ini.” ungkap laki-laki dengan setelan kemeja kerja yang kini berdiri di hadapanku dan mengulurkan tangannya.


Secara otomatis aku berdiri dan menjabat tangan klienku itu. “Tidak apa-apa Pak Aksa. Kita semua tahu, hujan deras dan jam pulang kerja adalah kombo mematikan bagi orang di jalanan.” sahutku berusaha ramah sekaligus mencairkan suasana. “Silakan duduk, Pak.” Lanjutku mempersilakan Aksa.


“Sebelum kita memulai agenda dan pembicaraan kita, boleh saya memesan sesuatu dulu?” Aksa meminta ijin.


“Tentu pak Aksa. Silakan ambil waktu anda.” sahutku sopan. Setelahnya laki-laki itu pergi menuju counter penerimaan pesanan dan kasir. Aku mengambil kesempatan itu untuk menyiapkan berkas yang kira-kira aku butuhkan. Laptop kerjaku juga sudah dalam kondisi stand by menyala.


Pertemuan ini sebenarnya adalah atas permintaan dari Aksa dua hari yang lalu. Entah apa yang dibutuhkannya hingga ia berinisiatif meminta sebuah pertemuan untuk membicarakan proyek kami. Emm, aku ralat, sepertinya kurang tepat kalau aku menyebut proyek kami. Maksudku adalah proyek dimana Aksa merekrutku sebagai tim kreatifnya.


Padahal seingatku, pada rapat terakhir sudah jelas point-point keputusan yang diambil beserta pembagian jobdesc masing-masing fungsi. Lalu sepengetahuanku, deadlineku dalam tim kreatif masih satu minggu lagi. Karena itulah mau tak mau aku cukup merasa gugup sekaligus bertanya-tanya menghadapi pertemuan ini.


Aksana Giriraja adalah seorang konsultan jasa periklanan yang belakangan cukup berkembang. Jasa konsultan miliknya bukanlah perusahaan besar yang memiliki banyak pegawai. Namun karena ide-ide kreatif dan karya-karya out of the box-nya, namanya mulai dikenal dan dilirik oleh mereka yang membutuhkan iklan.


Perlu dicatat, aku bukanlah pegawainya. Perkenalanku dengan Aksa adalah karena proyek ini. Aksa mencari seorang content creator untuk mendukungnya sebagai tim kreatif di proyek ini. Katanya, setelah mencari dan berselancar di dunia maya, ia tertarik dengan content-content dan ide yang aku kerjakan. Jadilah ia menawariku kerja sama dalam proyek ini. Jadi jika disimpulkan, Aksa ini bisa dibilang sebagai klienku juga. Tapi bisa juga dibilang bahwa aku adalah pegawai sementaranya.


“Maaf membuat Bu Kim menunggu lama.” ucap Aksa membuyarkan fokusku pada flowchart yang sedang kubaca. “Silakan dinikmati, mudah-mudahan Bu Kim suka” tambahnya menyodorkan piring kecil berisi croissant hangat padaku.


“Tidak perlu repot, Pak. Saya sudah memesan milik saya sendiri tadi.” tolakku yang setengahnya adalah basa-basi. “Jadi, apa bisa langsung kita mulai tujuan dari pertemuan yang Pak Aksa inisiasi ini?” To the point aku memberinya isyarat agar tak bertele-tele.


Aksa melempar senyum paham sebelum ia membuka sebuah file pada tabletnya. “Baik, Bu Kim. Mari kita mulai saja sebelum terlalu malam.” Lalu seperti merasa sedikit terganggu, ia menambahkan, “Sepertinya terlaku kaku jika saya memanggil dengan sebutan Bu. Apa bisa saya memanggil nama anda saja? Saya rasa anda masih sangat muda. Dan anda juga bisa memanggil saya tanpa embel-embel Bapak. Saya masih 30 tahun.”


Aku menampilkan sebuah senyum bisnis dan mengangguk, “Senyaman anda saja.” Rasanya ini semua terlalu berbelit-belit dan bertele-tele. Syukurlah setelah itu laki-laki dihadapanku ini langsung masuk ke dalam point penting dari pertemuan ini.


Cukup lama kami rapat, menyesuaikan ide dan permintaan spesifik klien dari proyek ini. Cukup lama jika melihat dua gelas kopi yang sudah terkuras isinya. Hingga akhirnya setelah menyamakan dan berhasil menyepakati sebuah konsep yang lebih baru, pertemuan kecil ini berakhir. Hampir satu jam total pembicaraan kami. Dan kesimpulan yang aku dapat adalah pemilik proyek berubah pikiran sehingga aku harus mengerjakan ide dan konsep dari awal lagi.


“Baik Pak Aksa, saya pamit duluan.” pamitku singkat.


“Tunggu, Kim. Saya akan mengantarmu. Sebagai permintaan maaf atas keterlambatan saya hari ini.” sela Aksa menghentikan langkahku.


“Tidak perlu repot, Pak. Taxi saya sudah di depan.” tolakku.


“Saya memaksa. Saya akan bayar biaya pembatalannya.” Lalu tanpa menunggu responku, laki-laki itu berjalan menuju Lobby dan menemukan taxi yang telah kupesan. Dia benar-benar membayar biaya pembatalan pesanannya!


Astaga.. cobaan apalagi ini? Bagaimana nasib cicilan tidurku? Aku meratap dalam hati. Tentu saja yang terjadi selanjutnya adalah aku terpaksa mengikuti Aksa masuk ke dalam mobilnya. Sungguh ini adalah sejenis siksaan yang sangat menyebalkan. Aku mengantuk, aku butuh tidur, tapi aku tak boleh tidur. Sekali lagi harus kukatakan, moodku sudah hancur tercecer dimana-mana.


Perjalanan 30 menit menuju rumah kontrakanku itu rasanya menjadi seperti perjalanan jarak jauh yang sangat menyebalkan. Harapanku saat ini hanya satu, jangan lagi ada tambahan masalah yang membuat hariku semakin menjadi bencana.


Aksa menghentikan mobilnya dibelakang sebuah mobil yang sudah lebih dulu terparkir manis di depan rumah kontrakanku. Aku kenal mobil itu. Dan pemiliknya pun tampak sedang duduk manis menunggu di teras rumah. Bisa kulihat Ash mengamati dengan penuh tanda tanya ketika mobil Aksa mendekat. Lalu ekspresinya berubah senang ketika melihatku keluar dari dalam mobil. Dan kemudian ekspresinya kembali berubah, kali ini menjadi seperti waspada ketika melihat Aksa mengikutiku turun dari dalam mobil.


Aku punya firasat, entah bagaimana ini akan berlanjut menjadi hal yang menjengkelkan.


“Hai, Ash! Sudah lama? Kenapa gak hubungi aku kalau kamu datang ke sini?” sapaku seraya melangkah cepat dan membuka pagar kecil rumahku. Aksa mengikuti di belakangku dan bisa kulihat Ash berjalan menghampiriku.


“Terima kasih atas tumpangannya, Pak Aksa.” Aku berbalik dan mengucapkan terima kasih. Niatku adalah agar Aksa tak meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah.


Aksa tersenyum padaku. Mungkin ia menangkap maksudku yang tak ingin mengundangnya masuk. “Anytime, Kim.” sahutnya menanggapi ucapan terima kasihku sekaligus menyodorkan tangannya. Aku menjabat tangan Aksa yang ia ulurkan itu, berharap agar laki-laki itu segera pulang. Namun yang tidak aku sangka adalah, bukannya melepas jabatan tangan itu, ia justru menangkup tanganku dengan sebelah tangannya yang lain. “Istirahatlah yang cukup, Kim. Kamu terlihat sangat lelah. Sampai jumpa lagi.” tambahnya.


Aku hanya bisa melongo karena sama sekali tidak menyangka kejadian itu. Namun lambatnya reaksiku ternyata berbanding terbalik dengan reaksi Ash. Seakan sebuah gerak refleks otomatis, Ash melingkarkan lengannya pada pinggangku dan menarikku merapat padanya.


Sikap protektif yang ditunjukkan Ash itu membuat Aksa menyerngit terganggu. “Siapa dia, Kim?” tanyanya.


Baru saja aku membuka mulut dan akan memperkenalkan Ash sebagai sahabatku, namun Ash sudah menjawab pertanyaan itu dengan cepat. “Aku orang terdekat Kim.”


...****************...


Kindly give me ur support ❤


Like, Comment, Vote, n Rate 5


Thank you..