
GUSRAK!!
BRUK!
Ketenangan dan kedamaian waktu makan siangku terganggu oleh suara berisik tak diundang. Refleks kutolehkan kepalaku mencari sumber suara perusak suasana itu dan menemukan hal yang mungkin akan semakin membuat kedamaianku semakin terancam. Tatapan kami bertemu, dan yang ia lakukan pertama kali adalah memberi perintah agar aku diam dan tak membuat keributan melalui isyarat telunjuknya yang ia letakkan di depan bibir.
Hih.. siapa sebenarnya yang bikin suara berisik? Gerutuku sambil mengamati tamu tak diundang yang sedang berjongkok mengamati keadaan. Miris aku menatap kondisi tanaman semak yang tampak patah di beberapa bagian. Kasihan semak, kasihan bapak tukang kebunnya juga. Kurasa hanya itu empati yang bisa kuberikan pada semak-semak mengenaskan itu.
Aku mencoba tak ambil pusing atas kejadian yang baru saja terjadi dan mengembalikan fokusku pada buku yang terbuka di pangkuanku. Bagaimanapun bukan semua itu bukan urusanku. Ya! Memang bukan urusanku setidaknya sampai teriakan panggilan yang sangat berisik mengganggu konsentrasiku tak sampai semenit kemudian.
“Ashra!” panggilan itu mengejutkanku.
“Ashra!!” kali ini suara lain turut memanggil.
Dan beberapa suara lain yang turut pula meneriakkan satu nama itu.
“Haduh.. dimana sih cowok itu? Cepet banget hilangnya!” Gerutu salah satu dari mereka, meluapkan kekesalan.
Aku mengarahkan tatapanku pada manusia pemilik nama yang menjadi target pencarian itu. Bisa kulihat ia berusaha sedemikian rupa melipat tubuhnya hingga begitu berhimpitan dengan tanaman semak yang mengelilinginya. Seandainya ia serupa bunglon, mungkin aku takkan bisa menyadari keberadaanya di sana. Tatapan kami kembali bertemu. Kali ini tanpa bergerak sedikitpun, ia melemparkan tatapan memohon padaku agar aku menutup mulutku.
Tatapan memelasnya sungguh membuat tawa tertahanku hampir menyembur keluar. Sungguh, melihat sosok setampan dan seelegan Ashra harus berpura-pura menjadi seonggok batu dan menyatu dengan alam adalah hal yang sangat tidak cocok. Dia yang diciptakan untuk menjadi pusat perhatian dan menarik perhatian orang lain, saat ini tengah berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari kodratnya. Siapa yang tak akan tertawa? Dan berkat itu pelototan tajam kesal dilemparkannya padaku. Reflek aku menutup mulutku demi mencegah semburan tawa lebih lanjut.
Sebaiknya memang aku tak perlu peduli tentang ada yang sedang terjadi pada Ashra dan penggemarnya. Bagaimanapun aku tak ingin terlibat dengan mereka. Sudah cukup kejadian kemarin membuat telingaku harus mendengar makian yang menjengkelkan. Aku memutar tubuhku berbalik demi meneguhkan tekadku dan berhasil kembali tenggelam pada tugasku.
Rasa-rasanya baru sebentar aku terfokus pada tugasku, gangguan kembali menghampiriku. Kali ini dalam bentuk manusia utuh. Ashra menyapaku dan menghenyakkan diri duduk tak jauh di sampingku. “Hai. Terima kasih ya, sudah membantuku bersembunyi.”
Responku? Tentu saja hanya menatap cowok sebayaku itu dengan bingung bercampur heran. Aku menelisiknya dari ujung kepalanya hingga dedaunan kering yang akhirnya mendapatkan kehormatan menjadi alas duduknya. Kenapa dia berterima kasih padaku? Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa. Tapi entahlah, mungkin dia merasa sudah cukup berterimakasih karena aku tetap diam. Aku hanya mengangkat bahuku membalas ucapan terima kasihnya dan memilih mengembalikan perhatianku pada tugas dihadapanku. Bagaimanapun, tugasku lebih penting, dan aku harus menyelesaikannya sebelum waktu istirahat ini berakhir.
“Ngerjain apa? Kok sepertinya familier ya?” Ashra melongokkan kepalanya mengintip buku tugasku.
Astaga! Apa-apaan orang ini?! Kaget aku, asal main dekat-dekat aja. Jangan tanya jantungku. Kasihan dia, kondisinya seperti selesai melakukan kerja berat. Aku mengusap bagian tubuh dimana debaran jantungku yang nyaris melompat terasa.
Mungkin karena menyadari gesture terkejut dan aku yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, Ashra sedikit menjauhkan diri. “Um, sorry. Aku penasaran dengan itu.” Ashra menunjuk buku dan lembaran kertas di pangkuanku. Syukurlah cowok satu ini sadar diri kalau keberadaannya terasa janggal bagiku. “Jadi, apa itu? Boleh aku lihat?” tanyanya lagi.
Bimbang membuatku mematung sejenak, sebelum akhirnya aku memutuskan, “Nanti. Aku harus menyelesaikan ini sebelum bel masuk berbunyi.” Dan tanpa menunggu respon atau tanggapan dari Ashra, aku kembali fokus pada pekerjaanku.
Dari sudut mataku aku bisa melihat tatapan heran sekaligus aneh yang dilemparkan Ashra padaku. Tapi apa peduliku? Toh yang terpenting jika tugasku selesai akan membuat seluruh jadwalku setelah ini berjalan tepat waktu. Tak kuhiraukan lagi sekitarku termasuk makhluk tampan di sebelahku. Setidaknya perkiraanku sisa waktu istirahat ini cukup bagiku jika aku konsentrasi dan benar-benar fokus menyelesaikan tugasku.
Aku memeriksa jam tangan plastik murahan yang melingkar di pergelangan tanganku begitu soal terakhir terselesaikan. Bagus. Masih ada waktu lima menit, jadi aku masih bisa sedikit bersantai. Perlahan aku merapikan kembali alat tulis dan bukuku.
“Sudah selesai?” sebuah suara bariton menyapaku dan hampir membuatku melempar tempat pensil yang tengah kupegang. Terkejut? Tentu saja! Aku bahkan sudah lupa kalau tadinya ada orang lain di situ.
Makhluk tampan yang sedang duduk bersandar pada pohon tak jauh dariku itu menyerngit aneh menatapku. “Kenapa memangnya? Gak boleh?"
Aku mengangkat bahuku. “Bukan. Kupikir kamu sudah pergi. Kan sudah gak ada lagi yang ngejar kamu. Jadi buat apa sembunyi di sini?” sahutku setengah menjelaskan. Bagaimanapun cowok ini terhitung pemilik sekolah ini, bisa-bisa diusir aku kalau dia tersinggung.
“Tadi kamu bilang disuruh nunggu? Aku mau lihat itu.” Tunjuknya pada lembaran yang terserak di dekat kakiku. “Itu worksheet tugas hari ini kan?”
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaanya itu dan mengangsurkan lembaran yang tadi kukerjakan padanya. Kubiarkan laki-laki itu membaca dan mengamati hasil pekerjaanku sementara aku melanjutkan kegiatanku merapikan kembali alat tulisku.
“Whoa! Sudah selesai semua! Hebat sekali.. Ini materi yang baru diajarkan hari ini kan? Hebat!” Ashra berseru takjub tanpa berusaha menutupi suaranya. Aku menatap aneh pada pujian yang kupikir tidak pada tempatnya itu. Aku tak mengerti apa yang hebat dari mengerjakan tugas yang memang sudah seharusnya dikerjakan.
Ashra mengembalikan lembaran worksheet itu ketika aku mengulurkan tangan meminta tugasku kembali. Tanpa banyak bicara aku memasukkan lembaran-lembaran itu ke dalam map yang sudah kusiapkan. “Hei. Boleh kenal? Aku Ashra di X-3. Siapa namamu?” dijulurkannya tangannya meminta jabat tanganku.
Ragu aku meraih tangan yang terjulur itu. Tapi kurasa tak baik menolak orang yang sudah bersikap sopan pada kita, jadi kusambut tangan Ashra itu dan menjabatnya. “aku Kim, X-1.”
“Terima kasih untuk tak membocorkan posisiku tadi ya.” ucap Ashra. Terdengar tulus dalam pendengaranku. Namun tidak terlihat tulus bagi mataku karena segaris senyum bisnis tebar pesona yang dilemparnya padaku.
Mempesona? Hmm, bahkan mempesona sangat kurang untuk mendeskripsikannya. Terlalu menyilaukan, terlalu mematikan sampai-sampai aku mempertanyakan ketulusannya berterima kasih. Aku mengangkat bahuku merespon ucapannya itu. “Itu balas budiku untuk pertolonganmu kemarin.”
Ashra tampak berpikir dan mengamatiku sejenak, mungkin mengingat-ingat pertolongan apa yang aku maksud. Tak perlu waktu lama baginya untuk berhasil mengingat bahwa aku adalah cewek gendut yang jatuh terjengkang dengan sangat memalukan kemarin. “Ah! Sama-sama kalau gitu.” balasnya, kali ini dengan senyum yang terlihat lebih tulus. “Ngomong-ngomong, apa aku boleh menyalin jawaban worksheetmu tadi?”
“Eng, Boleh. Tapi bolehkah kamu mengizinkan aku mengambil fotomu lalu menjualnya pada murid-murid di sini. Sepertinya penghasilanku akan besar sekali.” Jawaban gilaku membuatnya melongo terkejut sesaat. Waduh, Ashra pasti akan sangat marah dan menyebutku kurang ajar gila. Dasar mulut sinting! Begitu pikirku.
Di detik berikutnya sebuah tawa renyah pecah dan sukses ganti membuatku melongo. Ashra menyemburkan tawa berderai yang sama sekali tak kuketahui apa penyebabnya. Ah, bodo amat. Konglomerat isi otaknya memang beda.
.
.
.
...****************...
Kindly give me ur support ❤
Like, Comment, Vote, n Rate 5
Thank you..