Kim: He Loves Me, He Loves Me Not

Kim: He Loves Me, He Loves Me Not
Reuni 1


Taksi biru yang kutumpangi berhenti tepat di depan Lobby megah sebuah hotel ternama yang dikenal dengan nama besarnya dan menjangkau nyaris di seluruh belahan bumi. Seorang bellboy membukakan pintu taksi untukku. “Selamat malam dan Selamat Datang.” sapa bellboy itu ramah dan sopan. Etika dan sopan santun yang sangat terjaga, standar tuntutan dari hotel bintang lima.


Kusunggingkan senyum sebagai balasan keramahan laki-laki itu. “terima kasih.” ucapku mengapresiasi bantuan dan keramahannya. Kulangkahkan kakiku langsung ke area Lobby yang luas dan nyaman sembari memeriksa jam tanganku. Pukul 20:05. Seharusnya acara sudah dimulai. Aku terlambat satu jam lebih, tapi sejujurnya sama sekali tak ada penyesalan atas keterlambatanku. Aku justru senang dan berharap bahwa acara sudah berakhir ketika aku datang. Sungguh aku berharap demikian. Tapi sayang sekali aku sudah terlanjur berjanji untuk datang meski terlambat sekalipun.


Seharusnya mudah saja aku membatalkan janji dengan alasan pekerjaan yang sangat banyak atau mungkin meeting yang tak bisa ditunda. Namun kali ini aku benar-benar tidak bisa melanggar janjiku. Bukan karena acaranya yang sangat penting, melainkan karena kepada siapa janji itu aku buat.


Pasangan suami istri Dharmawangsa sudah sangat baik padaku. Bukan satu atau dua saja hutang budiku pada pasangan itu. Karena itu, membuat mereka kecewa dengan tidak menepati janjiku akan membuatku terjebak dalam lubang rasa bersalah. Jangan salah, mereka pasti akan sangat memahami dan tidak akan memaksaku jika aku membuat alasan yang sangat mendesak. Namun aku pasti tak bisa menahan beban rasa bersalah atas kekecewaan mereka. Pasangan itu sangat kuhormati, mereka sudah seperti orang tua bagiku.


Kakiku melangkah cepat menuju sebuah ballroom yang digunakan sebagai venue acara malam ini. Suara ritmis yang dihasilkan oleh sepatu pantofel dan langkah kakiku menghiasi koridor sunyi yang menghubungkan lobby utama dengan lokasi ballroom. Sebenarnya sudah ada lobby tersendiri yang memudahkan undangan untuk langsung menuju ballroom, tapi karena aku tidak memiliki privillage menginap atau sekedar datang ke hotel ini, jelas aku tidak tahu informasi itu. Sampai di sini sudah cukup jelas, aku tidak termasuk dalam golongan manusia yang bisa menganggap hotel sebagai rumah kedua atau sekedar tempat meeting dan kerja tentu saja.


Hingar bingar dan dentuman suara musik sama-samar terdengar begitu jarakku dan venue acara tak lebih dari 50 meter. Hall berpintu ganda dari kayu solid dan tebal itu terlihat seperti batas antar dimensi bagiku. Dimana begitu aku melangkah masuk, aku harus siap untuk menambah ketebalan mentalku. Jangan salah, aku termasuk dalam golongan manusia bermental baja, hidupku yang telah menempaku seperti itu. Namun untuk survive di dimensi itu, bukan hanya mental setebal baja yang aku butuhkan, aku butuh mental setebal dan sekuat baja cor (mungkin).


Penerima tamu yang berasal dari tim EO acara menghampiriku begitu aku melangkah mendekati pintu masuk. “Ada yang bisa saya bantu, Ibu?”, tanyanya sopan.


“Oh, di sini benar acara reuni SMU Cerdas Mulia, kan?” Aku balik bertanya. Kupikir mungkin saja aku salah tempat. Mengingat di area ini ada tiga ballroom yang berdekatan, meski yang ada di hadapanku adalah ballroom dengan kapasitas terbesar.


Penerima tamu di depanku memandangku sejenak. Meski sepintas dan dilakukan dengan cepat, aku bisa merasakan ia melakukan scan padaku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Mungkin ia sedikit sangsi bahwa aku termasuk salah satu undangan. Baiklah, tekanan sudah mulai terasa di sini. “Apa bisa menunjukkan undangannya, Bu?” tanyanya lebih lanjut.


Aku mengeluarkan ponsel pintar dari dalam tasku dan menunjukkan email undangan yang berisi QR code. Perempuan yang usianya tak mungkin lebih tua dariku itu melakukan scan pada QR code yang aku tunjukkan dan secara tiba-tiba sedikit merubah posisi berdirinya menjadi sedikit lebih tegak. Perubahan gestur yang sangat kecil, tapi secara tak sengaja tertangkap oleh mataku. “Baik, Ibu. Mari saya antar ke area VIP.”


Area VIP? Undanganku adalah undangan VIP? Meski sedikit bingung, aku tetap tersenyum dan mengangguk sebelum melangkah mengikuti arahan petugas penerima tamu itu. Kurasa aku bisa menebak oknum yang bertanggung jawab atas masuknya namaku dalam jajaran undangan VIP.


Dasar! Sudah tahu aku tak suka terlalu mencolok, malah memasukkan namaku dalam daftar tamu VIP. Awas nanti. Aku tak bisa menahan diri untuk mengomel dalam hati.


Rasanya aku bisa mengerti mengapa penerima tamu yang sedang mengarahkanku ke kursiku ini menyangsikan perkataanku bahwa aku juga undangan, setelah masuk ke dalam hall besar yang telah disulap dengan sangat megah itu. Seluruh undangan yang hadir pada acara itu tampil dengan penampilan terbaik mereka dalam balutan dress cantik, jas resmi, atau minimal batik tulis mahal keluaran butik-butik ternama. Tentu saja aku yang datang hanya dengan setelan blazer kerjaku yang cukup kusut karena sudah kupakai bekerja seharian, ditambah wajah yang hanya sempat tersentuh touch up sekedarnya saja menjadi dengan mudah disalahpahami olehnya.


Tapi kurasa bukan aku yang salah kostum di sini. Demi tuhan, ini cuma acara reuni! Mereka semua yang terlalu berlebihan. Mana ada acara reuni yang isinya seperti pesta dansa dan gala dinner konglomerat begini?!


Ralat. Kurasa memang begini jadinya kalau komunitasnya semacam manusia-manusia alumnus SMU Cerdas Mulia. Yayasan Cerdas Mulia lebih tepatnya.


Baru saja aku menyandarkan punggungku yang kaku pada sandaran kursi ketika sebuah suara wanita yang meneriakkan namaku menembus telinga di tengah hingar bingar musik. Kutolehkan kepalaku mencari asal suara yang terasa familier itu. Lambaian tangan yang penuh semangat membantuku menemukan sumber suara yang memanggilku tadi. Seorang wanita dalam balutan gaun simple namun terkesan elegan tersenyum lebar begitu aku menyadari posisinya. Ia tak lagi berteriak memanggilku, namun gestur tangannya mengisyaratkan untukku agar mendekat padanya.


Oh tidak. Kumohon biarkan saja aku di sini. Tempat itu justru akan membuatku semakin mencolok.


Aku berusaha menolak dengan memberikan gestur bahwa aku ingin berada di tempatku saja. Tentu saja keinginanku itu langsung ditolak. Wanita itu berkeras agar aku datang padanya. Seharusnya aku sudah sangat hafal bagaimana karakternya. Tapi sedikit berusaha tentu tak ada salahnya, barang kali ada sedikit anomali beliau akan memberikan izin.


Menghela nafas panjang aku bangkit dari kursiku dan bergerak pelan menuju sofa melingkar yang menjadi tempat wanita itu. Welcome kursi panas VVIP. Sarkasku dalam hati. Apa tak ada cara untukku agar tak terlalu menonjol di sana? Topeng hitam mungkin? Seharusnya aku pakai masker saja tadi waktu datang.


“KIM!!! Akhirnya kamu datang. Tante kangen sama kamu!” serunya penuh semangat seraya menarikku ke dalam pelukannya begitu aku berada dalam jangkauannya. Perasaan akrab begitu saja memenuhi rongga dadaku.


Tanpa bisa kutahan, senyum terkembang di bibirku mendapatkan sambutan hangat itu. “Tante Ayu. Lama nggak ketemu. Kim juga kangen sama Tante dan Om.” Aku membalas pelukan hangat itu. Kusalami dan kucium tangan beliau begitu pelukan itu terlepas. Lalu beralih pada Laki-laki tua di sebelah Tante Ayu yang tengah tersenyum ramah padaku. “Om Andra apa kabar?” sapaku seraya mencium tangannya khidmat.


“Om dan Tante sehat. Kamu sendiri gimana? Kok gak pernah mampir ke rumah lagi?” sahut Om Andra ramah.


Aku memamerkan ringisan kecil dan memberikan jawaban standar, “Aku sehat, Om. Meskipun capek banget. Lagi hectic aja ini kerjaan.”


“Sini. Sini. Duduk di sebelah Tante aja. Jangan di sana. Kejauhan.” Tanpa aba-aba Tante Ayu menarik tanganku dan memaksaku untuk duduk tepat di sebelahnya. Tanpa bisa menolak, aku mendudukkan diriku pada sofa berduri itu. Jangan salah, sofa itu nyaman tentu saja. Dibuat dengan busa dan bahan yang tentunya berkualitas tinggi. Tapi entah mengapa, aku justru merasakan panas dan tajamnya tatapan yang tertuju padaku begitu aku mendudukinya. Tidak salah kalau aku mengatakan ini adalah kursi panas dan berduri.


...****************...


Kindly give me ur support ❤


Like, Comment, Vote, n Rate 5


Thank you..