
Akhirnya hari yang ditungu-tunggu pun tiba. ya.... hari untuk pengumuman siswa yang diterima. aku dan Zima saat ini sudah sampai diparkiran sekolah. saat ini kami masih menggunakan pakaian dari sekolah sebelumnya. karena itu sudah menjadi peraturan sekolah ini.
"Vid, kira-kira kita bakal keterima nggak yaaa?" tanya Zima sambil kita berjalan melewati gerbang untuk masuk ke bagian dalam sekolah tersebut.
"kalo aku sih........" jawabku menggantung
"apa???" tanya Zima penasaran
"yakinlah Zima. kamu nggak usah over thinking gitu dehh. nggak baik tau." tanyaku sambi tersenyum
sesampainya kita didalam ternyata kertas pengumuman belum ditempel dan kami melihat sudah banyak sekali orang yang sudah tidak sabar menunggu pengumumanya. sambil menunggu pengumuman aku dan Zima mencari tempat duduk di taman sekitar sekolah.
"ih gimana sih katanya jam sembilan pengumumanya sekarang udah jam sepuluh belum juga ada pengumuman. PHP banget sih." cerocos Zima dengan kesal
"idih sih eneng sabar atuh. kalo keseringan marah-marah.ntar cepat tua terus cowo pada takutlo nanti dekatin kamu." ejek ku
setelah beberapa saat terdengan suara panitia penerimaan siswa baru yang mengatakan jika pengumuman peserta calon siswa baru telah keluar dan sudah ditempel di dinding-dinding kelas yang nantinya akan menjadi kelas kita nantinya.
aku dan Zima yang mendengarnya pun sudah tidak sabar untuk melihat calon kelas kita nantinya. saat ingin berjalan menuju gedung bagian jurusan IPA aku tidak sengaja bepapasan dengan sidan dan tidak sengaja mata kita saling tatap.
aku ingin tersenyum dan menatapnya tapi mimik mukanya biasa saja seakan tidak mengenalku, jadi kuurungkan niatku sampai kami pun saling berlalu. Aku dan Zima menyusuri bangunan kelas IPA di mulai dari kelas 01 hingga sampai di kelas 03 kami tidak menemukan nama kami berdua.
"Vid..? ini bukan mimpikan sekarang sisa satu kelas lagi untuk jurusan IPA dan kamu tau apa artinya?" tanyanya ragu-ragu dan terlihat cemas.
sesugguhnya akupun saangat cemas. karena kelas terakhir adsalah penentu. apakah kita keterima atau tidak, karena kami yakin tidak mungkin dijurusan IPS atau pun Bahasa karena kita mengisi tesnya ngawur.
kami pun berjalan menuju kelas terakhir. sesampainya disana Zima sangat senang karena mendapatkan namanya ada pada urutan terakhir. ini karena nama diurutkan berdasarkan abjad bukan nilai. dan aku dengar-dengar kelas 04 ini adalah kelas untuk anak-anak dengan nilai yang tinggi.
zima belum menyadari ekspresiku di belakangnya. karena terlalu senangnya dia. secara perlahan akupun mundur dan mencari tempat duduk dibawah pohon sambil melamun. aku berpikir apa benar tidak ada kesempatan untukku. apakan nilai ku begitu rendah di tes kemarin. padahal aku merasa sudah menjawab tesnya dengan baik dan tidak begitu bodoh untuk diterima disekolah ini.
terbukti disekolah sebelumnya aku berada dikelas unggulan di sekolah itu dan nilai ku cukup baik walaupun bukan juara kelas. saat sedang berpetualang dengan pemikiranku sendiri, tiba-tiba Zima datang dengan muka yang cemas.
"Vid aku nyariin kamu dari tadi taunya kamu ada disini." ucapnya
"mmmmm vid ... kamu baik-bak ajakan?" sambungnya.
aku melihat wajahnya dan memaksakan senyumku.
"tentu" jawabku singkat.
"Vid... tadi aku sudah mengecek berulang kali. tau-tau ada nama kamu yang kelewat tapi hasilnya masih sama Vid"
"hahahahahah... (tertawa terpaksa). iya iyak nggak ada lucu banget."
"ya... nggak gimana-gimana Zim mungkin emang udah jalanya. toh yang nggak lolos juga banyak kok. mungkin aku emang salah satu dari mereka." ucapku lesu
"kamu jangan putus asa gitu dong Vid aku juga ikut sedih jadinya. gimana kalo kita cari nama kamu dijurusan yang lain. siapa tau kamu lolosnya dijurusan itu.
"kamu becanda ya Vid mana mungkin aku lolos di jurusan yang lain orang pada saat tes aja aku ngisinya ngawur." ucapku putus asa.
"kan siapa tau Vid. tadi ada anak yang kayak gitu juga namanya nggak ada di IPA padahal dia daftar IPA tapi pilihan keduanya Bahasa tau-taunya dia ada di kelas Bahas"jelasnya
"gitu ya?"
"iya, makanya ayukkk!" ucapnya sambil menarik tangan ku.
akupun mengikutinya. kami meyelusuri kelas bagian IPS yang merupakan pilah kedua ku. satu-satu kelas sudah kami susuri mulai dari kelas 04 hingga sekarang didepan kelas 02 . tapi tetap saja tidak ada namaku.
"Zim udah deh. aku nggak mau ngecek lagi. kamu mau aku sakit hati lagi karena tidak menemukan namaku dikelas terakhir. cukup sampai sini aja." ucapku dengan nada mulai kesal.
"tapi masi ada satu kelas lagi Vid... gimana kalo namamu ternyata ada disitu." ucap Zima
"itu nggak mungkin 01 IPS tempat anak-anak pintar. nggak mungkin ada nama ku. pas tes aja aku ngisinya ngasal nggak mungkin ada yang benar" ucapku dan mulai ingin berjalan pergi.
"(kalo difikir iya juga sihhh, tapi apasalahnya mencoba nggak rugi juga). batin Zima sambil berjalan kekelas 01 IPS tanpa sepengetahuan Vidya.
saat melihat kertas pengumuman Zima begitu kaget karena apa yang difikirkanya benar. yaa nama Vidya ada di kertas itu dan tidak mungkin salah karena Zima hapal betul nomer pendaftaran Vidya. Ia segera berlarih menuju Vidya yang belum jauh.
sesampainya di Vidya dia langsung menarik tangan Vidya menuju kelas IPS 01
"eh.... eh... Zim kamu kenapa?. kenapa narik-narik sih"
"ikut aja sini. kamu pasti senang."
Sesampainya didepan kelas Zima menunjuk kertas yang ada nama Vidya.
"Vidya see."
"are you kidding me"
"no, Vid... no..."
"tapi. tapi. tapi ini semua nggak mungkin Zima. ini nggak adil. ini semua nggak adil." ucapku dan berlari kearah taman karena merasa sangat kesal. dengan semua yang aku hadapi hari ini. mersa dipermainkan yaaa itu yang aku rasakan saat ini...