
sampai di restoran...
"vid sebenarnya ada apa sih? aku jadi penasaran"
"Zim aku ketemu dia. dia daftar di sekolah yang sama seperti kita"
"siapa sih?. yang daftar sama? sama gimana. kalo ngomong yang bener dikit kenapa sih vid" ucap Zima.
"kamu tau kan anak laki-laki yang sering aku ceritain ke kamu. yang sering aku kepoin diam-diam di sosial media. yang sampai sekarang follow dia aja aku nggak berani. padahal sering pantengin sosial media dia. dia yang satu organisasi sama aku kemarin. dia.... diaaa....."
"stop!!!. yaaaa..... yaaa...yaaa... aku tau siapa yang kamu maksud nggak usah di jabarin lagi. bisa sampai Maghrib aku dengerin ya kalo kamu jabarin soal dia." ungkap Zima
"hehehe... terus mau gimana lagi. namanya juga......"
"idih cinta yang tak di anggap" ucapnya sarkas
" kok gituuu sih kamu ngomongnya" protesku
"vidya yang cantik... baik... rajin menabung.... dan Soleha. rasa kagum kamu tu cuman sepihak. dia nggak tau dan bisa jadi dia juga nggak tertarik sama kamu. secara kamu aja ngagumi nya ngumpet-ngumpet."
"..............." aku terdiam dan memikirkan semua perkataan Zima.
"benar tidak Vid...??? jangan cuman bengong dong!!"
" iya Zima kamu benar. terus aku harus gimana. liat dia aja tuhhh aku udah deg-degan parah sumpah" ucapku
"busetttttt itu cinta, suka apa takut neng. kayak ketemu preman atau setan aja kamu" ucapnya meledek
"susah ya kalo curhat sama orang jomblo bukanya kasi masukan malah mancing di air keru mulu."
"hadehhhhh kayak situ nggak jomblo aja"
"jomblo sih tapi seenggaknya gue suka sama seseorang. nah kamu cerita tentang cowok aja nggak pernah. apa jangan... jangan.... " tebakku.
"eehhh Zubaidah nggak usah mikir macam-macam kamu. yakali ...... amit... amit aja dehhh. Gue jomblo karena emang belum Nemu yang pas dan cocok aja"
"terserah dehhh. ok balik ke topik lagi" ucapku
"eh iya emang kenapa kalo dia daftar satu sekolah yang sama?" tanyannya.
"Nggak apa-apa sih sebenarnya seneng aja. berarti bisa liat dia setiap hari."
"Vid lu halu yaaak. sekolah kita sekarang itu gede. kita satu sekolah sama dia juga kemungkinan kamu ketemu cuman 10%." ucapnya.
"ih kok gitu. kemarin aja di sekolah aku tiap hari bisa liat dia walaupun beda kelas" kataku.
"stopppp Zima !!! kamu kayak nggak ngedukung banget sihh.. kasi kata-kata yang baik-baik kek biar beneran jodoh" ucapku lesu.
"Vidya... kalo boleh jujur yaa aku sendiri nggak terlalu suka sama dia dan nggak setuju kamu suka sama dia. secara pergaulan dia tau sendiri kayak gimana. dan kamu nggak takut ayah kamu tau kamu dekat sama model gituan" ucap Zima
"Zima aku tau kok pergaulan dia gimana. tapi aku kayak yakin gitu kalo dia itu anaknya baik"
"baik dari mana muka aja berandalan kayak gitu"
"stopp Zima jangan nilai orang dari luarnya aja"
"lah terus nona Vidya ini tau si dia baik dari mana?
"si dia??? what namanya Sidan. Zim.... Sidan. S. I. D. A. N." ucapku.
"yaelah malah didiktein. aku juga tau kali namanya. males aja nyebutnya."
"tapi ya menurutku dia itu tau kalo aku sering memperhatikan dia. tapi kok. ya dia nggak pernah notice aku yahhh"
"itu tandanya dia nggak suka sama kamu Vid. atau mungkin dia malah risih" ucap Zima sembarangan sambil meminum minumanya yang sudah di pesan tadi.
"apa iya yah? dia risi? terus aku harus gimana??"
"satu-satunya cara ya kamu kalo ketemu dia biasa-biasa aja Vid. biar nggak dikira lu ngebet banget sama dia"
"tapi kan emang aku suka banget"
"yaa ampun Vidya bisa nggak sih kamu tuhhh mahalan dikit. nggak usah ngobral pengen di taksir banget sama dia."
"tapi kenyataanya emang gitu Zima. mau digimana in lagi."
"fix butuh di rukiah ni anak biar syaiton ya pada keluar."
"..........." aku hanya tersenyum menanggapinya.
"eh Zim udah sore ni kita balik yokk. nanti dicari in ayah aku."
"yaudah ayok"
"lusa pengumuman yang keterima kan. nanti perginya bareng lagi ya" ucapku pada Zima
"beres itu mah".