
"Jangan halangi langkahku" ucap seorang wanita yang dengan amarahnya yang terus menggendong anaknya menyusuri jalanan.
"Jika kamu menibggalkan rumah ini maka jangan harap kamu bisa kembali kesini lagi" ucap seorang pria dwngan wajah tak kalah merahnya yang sedang marah..
🌺🌺🌺
Vita Retno Ardinata seorang mahasiswi yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata rata. Tetapi karena kenakalannya harus membuatnya menjadi seorang mama mudah akibat dari pergaulannya yang terlalu bebas. namun di usia pernikahannya yang masih terbilang sangat muda sekitar enam bulan dan memiliki seorang putra yang kini sudah berumur lima bulan, harus meninggalkan suaminya karena menurutnya tingkah suaminya yang kini suda sangat berubah.
Awal pernikahan mereka terbilang sangat bahagia pasalnya menikahi seseorang yang sudah berhubungan dengannya selama kurang lebih lima tahun, harus kandas ketika Reno Fano yang dulunya tidak memiliki hubungan baik dengan keluarganya kini lebih memilih mendengarkan dan mengikuti saran dari kedua orang tuanya.
Reno sering keluar malam dan bahkan tidak pulang membuat Vita sangat khawatir terhadapnya. dan ketika Reno pulang maka Vita akan menjadi sasaran kemarahan akibat dari kekalahannya dalam berjudi dan juga akibat dari minuman beralkohol yang membuatnya harus mabuk dan tidak sadar akan perilakunya kepada Vita.
🌺🌺🌺
Vita terus berjalan sambil menggendong putranya dengan deraian air mata yang terus mengalir di pelupuk matanya. Kata kata dari sang suami yang mengancamnya agar tidak pernah menginjakkan kembali kakinya ketika dia harus pergi dari rumah itu. Bukan hanya itu, sekelabat bayangan penyiksaan terhadap dirinyapun juga terus terbayang dalam ingatannya. Vita terus berjalan hingga seseorang menghentikan laju kendaraannya tepat di samping Vita.
"Vita" ucap seseorang di balik kemudi mobilnya
Vita lantas saja langsung mendongakkan kepalanya menatap siapa gerangan yang saat ini sedang memanggilnya.
"Ada apa denganmu? masuk dulu" ucap orang tersebut yang turun dari mobilnya dan berjalan memutari mobil membukakan pintu untuk vita dan putranya.
"Sekarang kau mau kemana?"
"Saya ingin pulang ke rumah ayah kak Rey" ucap Vita dwngan suara tersedu sedunya.
"baiklah? tapi bagaimana dengan suamimu"
"saya sudah tidak ada hubungan dengannya kak Rey, saya ingin pisah darinya"
reyhan kemudian membelalakkan matanya dan mengerem mobilnya secara mendadak, dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh sahabatnya saat ini
"apa kamu yakin"
"aku sangat yakin sekarang? nanti akan aku ceritakan kak" ucap Vita menatap Reyhan dengan mata sendunya, dan kemudian mengecup pucuk kepala putranya.
Reyhan kembali melajukan mobilnya menuju mension kediaman Ardinata. Hanya suara sesenggukan dari Vita yang sesekali terdengar dan nuga suara rewel dari putranya yang sedang duduk di pangkuan sang ibundanya.
tak lama di perjalanan mobik Reyhan kini memasuki kediaman Ardinata. mobil Reykan kemudian berhwnti tepat di depan pintu utama mension megah tersebut.
Vita dan Reyhanpun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam mension.
"selamat datang nona, tuan muda dan juga tuan Reyhan" sapa salah seorang pelayan kepada ketiganya.
Vita dan Reyhan hanya mengangguk kepada pelayan. Reyhan kemudian meminta izin kepada Vita agar bayinya di gendong olehnya. yang di balas anggukan oleh Vita.
"okey baby sekarang kamu di gendong sama onkel ya kasian bundamu jika harus menggendongmu terus" ucap Reyhan kepada sang baby meskipun si baby hanya terlihat tersenyum kepadanya.
Vita berjalan menuju ruang baca dan berharap bisa bertemu dengan ayahnya dan bisa menceritakan semua permasalahannya kepada sang ayah serta memohon bantuannya.
"Assalamualaikum ayah" ucap Vita ketika melihat ayahnya yang sedang sibuk membuka tiap lembaran pada dokument yang sedang di bacanya saat itu.
"waalaikum salam, kamu bersama siapa sayang" jawab ayah Vita dan kemudian menutup dokument yang di bacanya tadi.
"itu yah sama Kak Reyhan dan juga sama cucu ayah Alvi" ucap Vita yang berusaha menampilkan wajah bahagianya kepada sang ayah.
"ternyata jagoan kakek juga datang ya" ucap tuan Ardinata yang kemudian berdiri ingin menggendong cucunya. Reyhan langsung membaca Alvi kepada kakeknya.
"Vita, apa Reno tidak memgantarmu?" tanya tuan Ardinata yang ingin tahu apa sebenarnya yang sedang di sembunyilan oleh putrinya itu.
"maafkan atas kebodohan Vita di masa lalu yah" ucap Vita dengan tangisan yang sedari tadi ia bendungnya, kini pecah dan tak tertahankan lagi.
"Ayah tidak menyalahkan kamu syang, ayahnya kecewa kepadamu yang tidak bisa menjaga diri dengan baik" jawab ayahnya yang kemudian memberikan Alvi kepada Reyhan agar membawanya keluar, dia todak ingin cucunya takut ketika melihat bundanya menangis seperti saat ini.
"sekarang ceritakan apa sebenarnya yang terjadi" lanjut ayah Vita kembali sembari membantu anaknya berdiri dan duduk kembali di sofa.
Vita kemudian berdiri dan duduk di sofa dan di ikuti oleh ayahnya. Vita masih menangis dan memeluk ayahnya mencoba mencari ketenangan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya.
"Vita ingin pisah dari Reno yah, Vita sudah tidak tahan dengan sikapnya yang kasar dan juga yang suka judi serta pemabuk ayah" ucap Vita yang mencoba tenang dalam pelukan ayahnya sembari menceritakan masalahnya.
"sebenarnya ayah sudah tahu mengenai sikap suami kamu nak, ayah sering mwndapat laporan dari tukan kebun yang bekerja di rumah suami mu itu, suda lama ayah ingin mengajakmu pulang tapi ayah juga tidak ingin memcampuri urusan keluarganu nak" ucap sang ayah yang tak sengaja menjatuhkan air matanya.
"sekarang kamu istrahat nanti kita akan membicarakan semuanya ketika ibu mu sudah pulang sekarang ajak Alvi untuk istirahat. selesai makan malam kita bicarakan masalah ini kembali: ucap ayah Vita yang tak kuasa melihat putri semata wayangnya menangis seperti saat ini.