
Satu minggu kemudian.
Rada baru saja menyelesaikan acara wisuda nya. Mala dan Cici tentu hadir melihat acara tersebut bahkan Zora Zhiang pun ikut ke sana melihat calon menantunya itu.
"Selamat ya nak"Ucap Zora pada Rada.Mereka sekarang sudah di mobil dalam perjalanan pulang.
"Iya tante"Jawab Rada duduk di sebelah Zora sedangkan Mala dan Cici duduk di bangku belakang.
"Oh ya Rada.Tante minta maaf atas ketidak hadiran Maxsi soalnya dia lagi sibuk dengan pekerjaannya di kantor"Ucap Mala lagi.
Rada tersenyum kecut.Mengapa pula dia mengharapkan kedatangan Maxsi ,tunangannya tak diharapkan itu.
Walau Rada dan Maxsi sudah mulai dekat beberapa waktu belakangan ini, tapi bukan berarti Rada menyukai lelaki itu.Dia bahkan berharap bisa lepas dari hubungan atas dasar paksaan tersebut.
Akhirnya tak ada lagi yang perbincangan. Cuma keheningan dalam mobil mewah itu.Hingga mereka tiba di halaman rumah Rada.
Rada ,Cici,dan Mala turun dari mobil lalu mengucapkan banyak terimakasih pada Zora yg telah mau mengantarkan mereka pulang.
Setelah kepergian Zora.Ketiganya lansung masuk ke dalam rumah.Rada masuk ke dalam kamar lalu segera mengganti pakaiannya.
Cici dan Mala juga masuk ke kamar masing-masing lalu istirahat di sana.
Sebelum pulang ,Zora menyempatkan diri mampir ke kantor putranya terlebih dahulu.
Semua para karyawan menyapa padanya karna mereka tahu kalo yang kesana ialah mama dari pemilik kantor tempat mereka bekerja.
"Siang nyonya"Sapa resepsionis.
"Siang juga"Balas Zora seraya berjalan menuju ruangan putranya
Clek
"Maaf mengganggu"Ucap Zora setelah membuka pintu.
Maxsi yang lagi memeriksa berkas,segera menghampiri mamanya lalu mereka duduk di sofa.
"Ada apa ma?"Tanya Maxsi
"Mama kesini mau nanya,kenapa kamu nggak datang ke acara wisuda menantu mama?" Zora memandang serius putranya.
"Menantu"Maxsi tak salah dengarkah.
"Iya,Rada kan bakal jadi mantu mama" Zora menjawab sembari melihat meja kerja Maxsi yang mana sudah banyak berkas menumpuk di sana.
"Mama benar ingin Rada jadi istri aku?"Tanya Maxsi tak percaya.
Zora mengangguk kepalanya. Setelah melakukan pengujian pada Rada kemarin, dia jadi setuju kalau gadis menjadi menantunya. Rada gadis penurut ,dan itu kriteria menantunya.
Maxsi benar tak percaya mendengarkan ucapan mamanya barusan. Pemuda itu mulai memijit pelipisnya. Menikah bukalah hal mudah dilaksanakan bagi seorang playboy sepertinya.
"Kamu jangan membantah. Sudah cukup lama mama menunggu kamu untuk menikah nak.Besok mama akan atur segala keperluan acara pernikahannya."Zora beranjak dari sofa lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan rasa ketegangan yang melanda putranya.
Maxsi gusar. Dia belum siap untuk menikah saat ini.
Dia lansung memanggil asisten Leah untuk menemuinya.
Asisten Leah secepatnya datang menghampiri tuanya karna mendengarkan suara panik Maxsi ketika memanggilnya .
"Ada apa tuan muda?"Asisten membungkuk di depan Maxsi yang lagi duduk di sofa memasang muka gusar.
"Aku harus bagaimana Leah.Mamaku ingin aku segera menikah dengan Rada.Dan aku belum siap menikah Leah"Lemas tubuh Maxsi rasanya saat ini.
Asisten Leah tampak berfikir lalu terlintas ide dibenaknya."Bagaimana kalo tuan bikin nona Rada benci sama tuan, jadi nona sendiri yang akan melakukan penolakan nantinya"Saran Leah.
"Ah,aku setuju dengan ide mu Leah.Baiklah,aku akan melakukannya"Ucap Maxsi bangkit dari sofa.
"Bagaimana kalo besok kita lakukan hal itu kita lakukan"Ucap Leah
Maxsi mengangguk kepala setuju.
Keesokan harinya.
Rada bangun dari tidur nya lalu bergegas mandi.Hari ini dia sudah ada janji ketemuan dengan Mouri dan Arya.Makanya gadis itu bangun cepat hari ini.
Setelah mandi dan memakai pakaian,Rada keluar dari kamar lalu menyapa adik dan ibunya yang lagi sarapan pagi di meja makan.
"Mau Kemana Ra,udah rapi aja pagi-pagi?"Tanya Mala seraya menyuap makanannya.
"Aku mau ketemuan ama Mouri dan Arya bu,aku pamit pergi dulu"Jawab Rada berlalu keluar rumah.
Didepan sudah ada taxi online yang dipesan Rada .Rada masuk ke dalam mobil itu lalu mereka segera melaju ke tempat tujuan Rada.
Setelah sampai di depan kafe tempat tujuannya,Rada turun keluar dari dalam mobil taxi lalu menyodorkan uang pada si supir taxi.
"Makasih pak"Kata Rada.Supirnya mengangguk lalu melaju mobilnya meninggalkan Rada.
Rada segera memasuki kafe depannya dengan langkah panjang karna takut telat.
"Sorry telat"Rada mendudukkan bongkong ke kursi sebelah Sahabatnya Mouri.
"Its okay, noh minum jus alpukat nya udah aku pesan untuk kamu tadi"Jawab Mouri mengaduk jusnya seraya menyodorkan gelas berisikan jus alpukat pada Rada.
Rada menerima minumannya lalu menyesap sedikit jus itu."Pagi-pagi udah minum yang dingin-dingin kalian ,pake ngajak lagi"omelnya tapi tetap ikutan .
Arya terbahak mendengarkan omongan Rada yang tak sesuai dengan tindakan gadis itu."Ngomel tapi tetap aja minumnya" Ucapnya.
"Mau gimana lagi,kan,sayang kalo dibuang"Kilah Rada.
Ketiganya terkekeh-kekeh
Di luar kafe sana dua orang pemuda baru saja memasuki ruang kafe dengan gaya angkuh.
"Tuan,bukankah itu nona Rada"Ucap Leah seraya mengada ke tempat Rada sedang berbincang-bincang dengan kedua sahabatnya.
Maxsi menoleh arah pandang asistennya."Kau benar. Sepertinya rencana kita tepat dilaksanakan sekarang ini karna kebetulan ketemu dia"Ucap Maxsi tersenyum samar.Tak tahu mengapa dia merasa tak suka melihat Rada berdekatan dengan seorang lelaki seperti Arya sekarang yang lagi tebar humor.Walau tak tahu perasaan apa yang lagi melandanya,Maxsi tetap marah karna status Rada ialah tunangan nya yang sama artinya gadis itu miliknya saat ini.
Dengan langkah panjang Maxsi menghampiri tunangannya dengan asisten Leah mengikut di belakang.
Brak
Maxsi menggebrak meja di hadapan Rada.Tentu gadis itu terkejut karna nya.
"Maxsi.Ngapain kamu ngebrak meja segala dan untuk apa kamu kesini " Tanya Rada
Maxsi menoleh dengan mata tajam pada Rada."Aku yang nanya. Ngapain kamu dekat-dekat sama lelaki ini"Tunjuk nya pada Arya yang lagi menatapnya.
"Ya ketemuan sama bincang-bincang lah"Jawab Rada kesel karna masih terkejut dengan gebrakan meja tadi juga melihat tatapan tajam dari Maxsi.
"Ngapain juga kamu bincang sama dia,hah?"Bentak Maxsi sampai suaranya menggelegar ke seluruh ruangan. Semua karyawan kafe pun takut dengan kemunculan tuan muda kota ini yang lagi marah-marah. Arya dan Mouri pun takut karna nya.
Cuma Rada yang masih biasa saja di sana.Sebab dia memang sering dapat teriakan seperti itu dari ibu atau adiknya.
Gadis ini masih bersikap biasa saja setelah aku membentak nya,benar-benar tak bisa dipercaya, pikir Maxsi menatap lekat wajah Rada yang juga menatap tajam padanya.
"Apa tatap-tatap,hah,"Ucap Rada marah.
Bukannya menjawab, Maxsi malah menarik Rada keluar dari kafe menuju mobilnya. Gadis itu terus saja memberontak,tapi sia-sia karna tenaga Maxsi lebih kuat darinya.
Mouri ingin sekali membantu Rada tapi dia juga tak mau ikut campur dengan urusan pribadi sahabatnya itu.Begitu pula Arya.
Asisten Leah segera bergegas menghampiri majikannya. Perasaan,rencananya nggak begituan, pikirnya.
Maxsi dan Rada sudah di dalam mobil. Rada terus melakukan perlawanan kabur, tapi Maxsi tak membiarkannya.
Maxsi mendekap tubuh Rada lalu mencium bibir gadis itu sampai kehilangan nafas.
Rada terus saja memukul dada tunangan nya sampai akhirnya dia keluar dari dekapan pemuda itu.Segera Rada membuka pintu mobil yang ternyata sudah dikunci Maxsi.
Maxsi yang baru dipukul Rada kembali mencoba Rada."Kau tak akan bisa karna pintunya sudah aku kunci"Ucapnya dengan seringai licik.
Rada panik,dia tak mau Maxsi menyerangnya lagi.
Ketika Lelaki itu hendak mendekapnya lagi,Rada langsung mendaratkan tamparan tepat di pipi Maxsi.
Maxsi merasa tusukan tajam kuku Rada yang ternyata panjang hingga menyayat pipi mulusnya mengeluarkan darah.
Rada terkesiap melihat pipi Maxsi yang mengeluarkan banyak darah atas perbuatan nya. Segera dia mendekati pemuda itu.
"Maafkan aku,.hiks....., maaf..."
Rada memang tak bisa melihat darah,apalagi itu karnanya.Gadis itu menangis sejadi jadinya.
Maxsi yang melihat Rada menangis merasa tak tega.Dia merasa bersalah telah menyakitinya. Segera dia menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya."Maafkan aku,aku yang salah"
Rada cecungukkan dalam pelukan Maxsi.Lelaki itu memberikan pelukan yang hangat sampai dia nyaman dengan posisinya saat ini.
Setelah tangisan Rada berhenti, Maxsi melonggarkan pelukannya. Ditatapnya mata sembab Rada.Bukankah dia telah berjanji tak akan membuat mata itu mengeluarkan cairan bening lagi,ah dia telah menyakitinya.
Diusap air mata Rada hingga tak tersisa lagi di pipi mulus gadis yang telah membuat perasaannya tak karuan. Perasaan dia tak mau Rada dekat lelaki lain.Ah,bukankah itu dinamakan rasa cemburu.
"Maafkan tindakanku tadi"Maxsi lirih.Sepertinya dia mulai menyukai tunangannya Rada sampai tak tega jika melihatnya menangis .
Tok...tok.....tok...
Asisten Leah mengetok kaca mobil Maxsi karna takut majikannya itu melakukan hal di luar batas.
Maxsi melepaskan pelukannya.Lalu dia membuka jendela mobil.Dilihatnya asisten Leah di luar sudah kecapean,mungkin karna mengejarnya tadi.
Rada dan Maxsi pun keluar dari mobil.
"Tuan, jangan sampai melakukan diluar batas"Peringt Leah.
Maxsi terkekeh lalu merangkul bahu Rada hingga gadis terkejut."Aku kan melakukanya dengan tunanganku"Jawabnya
Rada melepaskan rangkulan Maxsi.Apa maksud pemuda itu barusan, "melakukannya dengan tunangan."Jangan-jangan pemuda itu berniat aneh padanya.
"Apa maksudmu"Rada menatap penuh tatapan menyelidiki.
Maxsi salah tingkah karna ditatap sama Rada.Dia menggaruk kepala nya "Ciuman"Jawabnya
Rada langsung melotot.Bisa-bisanya lelaki itu mengatakannya