THE WOMAN IS THE KING OF PLAYBOY

THE WOMAN IS THE KING OF PLAYBOY
7.Bertemu Mantan Calon Mertua.


Selepas diantar pulang sama Zora.Rada bergegas memasuki rumahnya.Ketika itu dia langsung di sambut dengan kedatangan keluarga Johun di sana.


Mala menghampiri putrinya dan membimbing gadis itu ke sofa dimana Cici adik Rada serta Johun,Arya dan kedua orang tua mereka sedang menatap Rada di sana.


Rada duduk di sofa dengan kepala menunduk karna tak mampu menatap wajah orang tua Johun.


"Hm,kami sebagai orang tua dari johun datang kesini untuk meminta maaf atas segala kelakuan putra kami pada putri anda nyonya Mala "Wiliam Le memulai pembicaraan. Dia papa dari Johun dan Arya.


"Ya pak,saya dan putri saya sudah memaafkan perbuatannya, tapi Rada memang tak bisa melanjutkan hubungan nya sama Johun sebab seperti yang kalian semua lihat di berita kemarin. Putri saya sudah tunangan sama tuan muda Maxsi" Jawab Mala berusaha untuk tenang karna tak mau terjadi keributan di rumahnya.


Johun Le cuma bisa menunduk mendengarkan. Di cukup sadar kalo hubungannya dan Rada memang tak bisa diselamatkan lagi.


"Iya kami tahu nyonya Mala,tapi kami juga khawatir saat ini dikarenakan undangan pernikahan mereka sudah disebarkan kemarin,kami pusing memikirkan harus bagaimana saat ini"Ucap Sherlina Le lemah.Dia beserta suaminya baru saja pulang dari luar negri setelah mengetahui berita Rada dan juga cerita yang disampaikan putra bungsu mereka Arya Le.


Arya tentu tak tinggal diam saja setelah mengetahui kelakuan sang abang pada sahabatnya Rada.Dia tak mau gadis itu terluka lagi dengan hubungan yang belum jelas putus dengan Johun,makanya dia meminta kedua orang tuanya pulang menuntaskan masalah itu.


"Bagaimana kalo aku aja yang gantiin kakak Radanya?"Celetuk Cici angkat bicara. Gadis tomboy itu mulai lelah dengan kesendirian nya hingga dengan mudahnya ambil keputusan tak di sangka semua orang.


Johun terbahak. Bisa-bisanya gadis bau kencur seperti Cici mengajukan diri menggantikan posisi Rada jadi calon istrinya.


"Aku nggak mau"Ucap Johun menolak.


Cici cebik bibir sebal."Ya ,sebenarnya aku juga nggak mau sih,tapi demi nama baik keluarga, apalah dayaku"Jawabnya Cici sok jual mahal .


Sebenarnya diam-diam dia juga menyukai mantan tunangan kakaknya itu,tapi perasaan gengsi masih melekat ditubuhnya hingga tak pernah ia tunjukkan rasa suka tersebut.


Yang lain terperangah melihat perdebatan Cici dan Johun.Mereka terkejut mendengarkan omongan Cici yang mau menggantikan posisi Rada menjadi tunangan Johun.


Arya yang sedari tadi diam saja angkat bicara."Benar juga sih ucapan Cici.Hm aku setuju sama usulan Cici" ,ungkapnya


Ketiga orang tua mengangguk ngangguk paham.Sedangkan Rada diam ditempat, dia sudah pusing dengan segala drama hidupnya .


Aku pasrah aja ama yang udah ditakdirkan untukku. Sebab aku dulu sangat berharap nikahnya ama Johun,eh,ternyata harapanku itu bertolak belakang dengan takdirku sendiri.


"Kalau saya terserah kalian saja.Ciciitu ,jika kamu yakin dengan keputusanmu,ibu dukung aja,tapi jangan menyesali nya nanti dikemudian hari" Ucap Mala menyerahkan segala keputusan di tangan putrinya. Bukannya tak khawatir tapi dia cuma tak mau memaksa anaknya sesuai perintahnya, sebab yang akan menjalani bukan dia tapi mereka. Jadi biarkan mereka menentukan jalan hidupnya masing-masing.


"Papa setuju ama nak Cici Johun.Bagaimanapun kita harus menjaga nama keluarga yang hampir kau burukkan" Ucap Wiliam berharap Johun menerima keputusannya.


Johun mengangguk pelan.Mari coba kita lihat sampai mana Cici mau bertahan dengannya nanti.


"Baiklah.Sudah diputuskan kalau Cici yang bakalan nikah ama abang Johun ya?"Tanya Arya memastikan.


Semuanya mengangguk mengiyakan termasuk Rada sekalipun.


Sherlina beranjak dari Sofa lalu menghampiri dan memeluk tubuh Rada."Maafin kelakuan Johun ya nak.Tante benar-benar minta maaf atas segala perbuatannya ama kamu"bisik Sherlina di telinga mantan tunangan putranya.


Rada ingin rasanya menangis terisak,tapi dia juga harus terlihat bahagia di depan Johun agar pemuda itu yakin bahwa Rada telah melupakannya dan bahagia dengan status baru mereka masing-masing.


Sherlina melepaskan pelukannya lalu beranjak lagi menghampiri tunangan baru Johun yang tak lain ialah adik dari mantan tunangan putranya itu.


Cincin berlapis berlian dikeluarkan Sherlina dari dalam tasnya. Cicin itu dia sematkan di jari manis milik Cici."Semoga yang terakhir untuk anak tante Ci"ungkapnya memeluk tubuh Cici.


Kedua keluarga itu memang telah dekat sedari dulu ,jadi tak heran kalau Sherlina berharap banyak sama Mala Rigorda dan sekeluarga.Dia bahkan terpukul setelah mengetahui berita Rada yang baru tunangan sama tuan muda di kota ini.


Bagaimana tida,gadis yang sedang berstatus tunangan dari putranya dikabarkan tunangan pula sama lelaki lain,untung penyakit jantungnya tak muncul saat itu.


Setelah puas memeluk Cici,Sherlina segera beranjak menghampiri calon besan nya"Aku pamit dulu Mal,maaf atas segalanya"ungkapnya.


Mala lansung memeluk tubuh sahabat lamanya itu.Semua terjadi bukan kehendak mereka tapi karna takdir yang mau tak mau harus diterima.


Sedangkan para lelaki sudah di dalam mobil.Mereka tak mungkin cipika cipiki juga bersama para wanita.


Tak lama keluarlah Sherlina dari dalam rumah bersama Mala.Sherlina segera berjalan masuk ke dalam mobilnya dan sekeluarga.


"Aku pamit pulang dulu Mal"Ucap Sherlina melambai-lambaikan tangannya lewat jendela mobil.Mala tersenyum dan ikut membalas lambaian Sherlina hingga mobil sahabatnya itu hilang dari pandangan. Segera dia kembali masuk kedalam rumah.


Rada beranjak dari sofa lalu berjalan memasuki kamarnya tanpa sepatah kata pun baik ibu atau adiknya.


Cici terdiam di sofa melihat kakaknya pergi ke kamar tanpa berucap sedikit pun padanya."Apakah kakak marah sama aku bu?"Tanyanya pada Mala yang sudah duduk disamping lalu memeluknya.


"Dia tak marah nak.Mungkin Rada lagi capek aja.Kamu nggak lihat dia pakek rok tadi.Mungkin camer nya yg nyuruh hingga dia mau memakai pakaian yang tak pernah di pakai itu" Ucap Mala menenangkan Cici walau dia sebenarnya sangatlah khawatir dengan kondisi putri sulungnya Rada apalagi perasaannya.


Rada menutup pintu kamar lalu menguncinya dari dalam.Untuk saat ini dia butuh waktu sendiri. Gadis itu berjalan menuju ranjangnya lalu menjatuhkan tubuh di sana.Tak terasa air mata yang sedari tadi dia tahan mengalir deras dari kelopak matanya. Rasa yang paling dijauhi dan ditakuti akhirnya melandanya juga,yaitu rasa luka yang tak bisa dibagikan dengan orang lain dan tak bisa juga dia tahan seorang.


"Hikss....., hiks......., hiks... hiks....hiks......"


Rada meremas spray tidurnya. Melampiaskan segala perasaannya pada benda yang tak akan merespons tindakannya tersebut sampai kapan pun.


"Huaaa... hiks...., Mouri...aku butuh teman curhat saat ini..hiks..huaaa"


Tiba-tiba saja Rada teringat dengan sahabatnya Mouri yang selalu mendengarkan curhatannya baik sedih maupun senang ,gadis gila shopping itu.


Di tempat lain seorang gadis yang sedang berkaca di depan cermin melihat pantulan wajahnya habis di makeup tiba-tiba tersedak dan batuk-batuk tak tau sebabnya.


"Uhuk..uhuk.. uhuk...,siapa pula yang lagi mengiba aku nih...Uhuk....,uhuk...uhuk..atau siapa pula yang lagi membicarakan namaku hingga wajah ku tercoreng ama lipstik nih "Ucap Mouri melihat wajah nya tercoreng lipstik akibat dia batuk barusan.