THE WOMAN IS THE KING OF PLAYBOY

THE WOMAN IS THE KING OF PLAYBOY
6.Bertemu Calon Mertua.


Rada sekarang berada di dalam kafe milik peninggalan ayahnya yang telah meninggal dua tahun lalu.Rada memakai baju kaos putih polos dengan paduan celana training.


Orang-orang mulai menyerbu ke kafe milik Rada setelah mengetahui gadis itu tunangan dari orang nomor satu di kota itu.


Rada,Cici dan Malah kewalahan menghadapi pelanggan karna mereka tak mempekerjakan karyawan di kafe.


Ketiga perempuan itu sedang duduk santai di salah satu meja sembari meminum jus segar di masing-masing tangan mereka.


"Nggak nyangka ya, berkat pengumuman kakak tunangan ama tuan muda kaya raya kita dapat pelanggan banyak karnanya"Ucap Cici mengaduk jusnya.


"Iya,ibu juga begitu. Hm,sepertinya kamu juga harus pacaran ama orang kaya sekaligus orang terkenal Ci.Biar makin banyak pelanggan kitanya"Sahut Mala mengajarkan siasat pada putri bungsunya.


Rada terbahak sampai tersedak mendengarkan interaksi dua perempuan di samping kanan kirinya.Uhuk...,huk...,huk..Rada tak sengaja menyenggol botol jusnya ke lantai karna batuk dan Mala menepuk pelan punggung putrinya agar tak tersedak lagi.


"Kalian bicara apa sih?Nggak ngerti aku dengan jalan kerja pemikiran kalian!"Ucap Rada setelah keadaannya sudah normal.


"Itu namanya siasat biar kita cepat kaya kak.Kalau aku pacaran ama orang kaya dan terkenal ,harkat martabat kita bakalan naik nantinya"Tutur Cici memberitahukan.


"Hahahah hahahaha hahahaha"


Rada tertawa terbahak bahak sampai jatuh dari kursi.Mala dan Cici mengkerut alis keheranan.


Rada berdiri ke posisinya semula duduk di kursi sembari memegang perut nya yg terasa sakit akibat banyak tertawa."Kamu pacaran? hahahaha ...Mana ada pria yang mau pacaran ama gadis tomboy seperti kamu dek"Ucap Rada.


Mala pun akhirnya ikut tertawa"Hahahaha... benar juga ya? Hahahaha...."


Cici mengerucut bibir sebal.Bisa-bisanya ibu dan kakaknya menertawai nya.


Mala dan Rada memandang Cici dari ujung kaki sampe pucuk kepala. Keduanya adu pandang lalu ketawa kembali.


"Hahaha...... Hahahaha.... Hahahaha...."


Bagaimana mereka nggak tertawa melihat penampilan Cici ? kalau gadis itu memakai baju piyama tidur dengan paduan celana pencil sobek di bagian lutut.Rambutnya digulung ngasal dengan Roll. Miris antara feminin dan tomboy alias acakan tak tertolong.Untung para pelanggan nggak kabur melihatnya tadi.


Brak....,!!!!!!!


Cici menggebrak keras meja di hadapannya Rada dan Mala terkejut bukan main.Sepertinya jiwa tomboy Cici muncul.


Rada dan Mala mulai mencari benteng pertahanan masing-masing jika Cici mulai mengamuk.


Set.................


Dan ketika perang dunia akan mulai.Tiba-tiba muncul mobil klasik mewah melesat tepat di jalan depan kafe.


Akhirnya bendera perang yang akan dikibarkan digagalkan karna kedatangan tamu terhormat itu.


Seorang wanita paruh baya dengan wajah masih cantik walau sudah ada sedikit kerutan di mukanya turun dari dalam mobil mewah itu dengan langkah anggun. Dia memakai gaun putih dilapisi jas diluar nya.


Rada,Cici dan Mala bahkan sampai terpesona walau mereka sesama perempuan mereka akui wanita didepannya memiliki aura kecantikan tinggi.Bahkan mata mereka sampai silau akibat pantulan cahaya mengenai kacamata wanita cantik itu.


Dia ialah nyonya Zora Zhiang.Dia mulai melangkah kaki menghampiri ketiga perempuan yang air liur mereka sudah menets kesana kesini.


#Tiga menit Kemudian.


Zora sudah berada di salah satu meja kafe sembari meminum jus mangga dengan kaca mata sudah bertengger di kepala. Sedangkan ketiga pemilik kafe berdiri berbaris di hadapan nya seperti jemuran kain.


"Mengapa kalian berdiri di situ,memangnya kalian mau melakukan acara pertunjukan interaksi untuk saya ? "Tanya Zora memandang ketiganya.


Ketiganya kompak menggelengkan kepala. Mereka tak ada bakat ke arah sana.Kalau teriak-teriak seperti tarzan di hutan mungkin sih.Karna mereka sering jadi ayam yang berkokok dipagi hari membangunkan para tetangga kalau lagi ribut.


"ya,makanya duduk bareng saya di sini!"Ucap Zora menepuk kursi di Sebelahnya.


Ketiganya adu pandang tak percaya."Memangnya boleh nyonya"Tanya Cici sebagi perwakilan dari geng trio tut-tut itu.


Zora melongo sampai pipet yg dipegangnya jatuh ke lantai."Iyalah, bukankah kafe ini milik kalian ? Bukankah kalian tuan rumahnya di sini?"Ucap Zora heran.


Ketiganya cengengesan nggak jelas. Mereka lantas berlari bergabung ke meja Zora sampai hampir terpeleset karna kondisi lantai kafe yang lagi basah ulah Rada menjatuhkan jusnya di lantai 7 menit berlalu.Zora tersenyum samar melihat tingkah absurd geng trio tut-tut itu.


"Ada sebab apa nyonya mampir ke sini ya?"Tanya Cici lagi, ketika dia dan yang lain sudah duduk .


"Cuma mau nengok calon menantu yang kata putra saya lagi kurang enak badan kemarin, sekarang masih nak?"Tanya Zora menatap lembut pada Rada.


Zora tersenyum senang."Kalo begitu,kamu mau nggak temani saya berbelanja hari ini ? soalnya lagi nggak ada teman nak ! Tanyanya.


Rada memandang ibu dan adiknya,meminta persetujuan dari mereka. Keduanya mengangguk mantap.


Rada kembali menoleh pada calon mertuanya."Mau nyonya"Jawabnya.Sudah seminggu gadis itu tak melakukan refreshing,jadi lumayan lah nanti dia bisa jalan-jalan melihat gedung-gedung tengah kota.


Rada memandang pakaiannya yang terlihat biasa saja,apakah dia pantas jalan bareng nyonya besar Zhiang yang kelewat cantik serta menawan dibandingkan dia.


Zora membelai rambut Rada hingga gadis itu memandang bingung padanya.


"Kau tak usah pikirkan penampilan, pakaian yang kau pakai itu cukup sesuai dengan umurmu,jangan coba berfikir memakai gaun melebar sepeti saya ini karna ini cocoknya dipakai dengan orang seumuran saya!"Tutur Zora seakan tahu hal apa yang lagi mengganjal dibenak Rada.


Rada tersenyum sembari membayangkan kalo dia memakai pakaian seperti yang dipakai mertuanya sekarang. Ya benar,dia akan kelihatan tua nantinya.Dan dia juga bakalan risih sebab tak biasa memakai pakaian sejenis gaun melainkan terbiasa mengunakan pakaian bercelana yang tak ber rok


Zora kembali memakai kacamata yang tadinya bertengger di atas kepala beralih ke hidung tepat di depan matanya.Setelahnya dia menggandeng tangan Rada,seperti menuntun gadis itu berjalan menuju mobil dan naik ke dalamnya.


Lalu memasang sabut pengaman masing-masing.


Zora segera tancapkan gas mobil menuju jalan raya kota.Jalan tersebut lansung dibelah sama Zora yg ternyata jago dalam menyetir mobil hingga tak mempekerjakan supir pribadi untuknya.


Rada terkagum-kagum dengan keahlian calon mertuanya itu.Dia malu sendiri karna mengemudi sepeda saja tak bisa.


"Wow,nyonya keren nyetir mobilnya."Komentar Rada.


Zora tersenyum tipis dan masih fokus menghadap ke depan.Ini mah belum seberapa untuknya.Bahkan dia pernah ikut jadi peserta balapan antar kota pada masa mudanya dulu.


Setelah 10 menit perjalanan,akhirnya Rada dan Zora sampai di mall ujung utara kota.Setelah mobil diletakkan di parkiran, keduanya mulai berjalan memasuki mall tersebut.


Zora memegang erat tangan Rada seperti ibu yg lagi takut anaknya nyasar ditengah-tengah pasar atau pun di mall ini.Rada sedikit terkejut dengan perlakuan Zora padanya.Gadis itu teringat ketika dia pergi berbelanja ke pasar yang diperlakukan seperti itu juga sama ibunya Mala,bedanya dia juga berdua bareng Cici sedangkan yang sekarang ini cuma dirinya sendiri dan yang bimbing calon mertua.


Zora berjalan memasuki tokoh baju bersama Rada.Rada mengernyit dahi melihat baju yang stylenya remaja seumuran nya semua. Jangan-jangan calon mertuanya mengalami puber kedua, pikirnya mulai ke arah yang aneh-aneh.


Tapi tak disangka Rada,Zora malah memilih baju itu untuknya.


"Hm,ini nggak cocok"Komentar Zora meletakkan anger satu style pakaian ke tubuh Rada.Hingga sampai tiga kali dia melakukan kegiatan mencocokkan pakaian untuk calon menantunya itu.


Rada pasrah saja bak patung pakaian dalam di tokoh pakaian.


Rok pensil warna biru muda dengan atasan blush kuning kecoklatan menjadi pilihan Zora untuk Rada.Sekarang Rada sudah memakai pakaian itu dengan sedikit risih ya karna tak biasa menggunakan rok.


Zora sudah beberapa kali meminta gadis itu membiasakan diri tapi tetap saja dia terbirit birit berjalan apalagi Kakinya yang tak bebas melangkah panjang seperti biasanya.


Zora putus asa dan memilih menghiraukan kesusahan kaki Rada untuk berjalan. Dia beralih memasuki toko sepatu mulai memilih sepatu manakah yang cocok dengan pakaian Rada sekarang.


Rada mendudukkan tubuh ke sofa yang sediakan untuk tamu berbelanja ke tokoh sepatu itu.


"Hm,ini pasti pas untuk Rada"Ucap Zora seraya memegang sepasang sepatu sport lalu menghampiri Rada.


"Coba kau pakai sepatu ini Rada!"Perintah Zora mengulurkan sepatu di tangannya pada Rada.


Rada menyambut lansung mencoba sepatunya dan ternyata pas , sesuai dugaan Zora.


"Hah,pas.Kalau begitu, sepatu itu saja kita beli"Ucap Zora senang.


Syukurlah sekali percobaan langsung pas.Kalau tidak kaki pasti kesemutan nanti.Cukup tubuh bagian atasku saja yang hampir mati rasa karna mencoba-coba pakaian tadi.


*****


Sehabis membeli minuman,Rada dan Zora akhirnya pulang.Mereka dalam perjalanan menuju rumah Rada sekarang.


"Kamu kapan wisuda Ra?"Tanya Zora tiba-tiba.


"Satu minggu lagi nyonya"Jawab Rada sembari menyeruput jus melon dalam tabung plastik di tangannya.


Zora manggut-manggut."Eh,kamu jangan panggil saya nyonya,tante aja ya!"Ucap Zora lagi.


"Baik tante"Jawab Rada patuh.


Zora senyum simpul melihat kepatuhan Rada padanya. Sebenarnya sedari tadi ia lagi menguji kesabaran gadis itu menghadapi segala perintahnya yang amat egois tadi.