THE WOMAN IS THE KING OF PLAYBOY

THE WOMAN IS THE KING OF PLAYBOY
5.Bertemu Mantan.


Keesokan siangnya.


Di dalam ruangan kerjanya Maxsi sedang berkutat dengan laptop dan berkas-berkas yang harus diperiksa .Pria tampan dengan kacamata sudah bertengger di mata itu sangat fokus dengan kerjaannya.


Tok...,tok.....,tok.....


pintu diketok sama asisten yang berada di luar ruangan majikannya.


"Masuklah"Sahut Maxsi.


Asisten Leah membuka pintu dan masuk kedalam ruangan kerja Maxsi dengan wajah peluh pias.


"Ada apa asisten Leah?"Tanya Maxsi tanpa menoleh.


"Tu..,tuan a..da nona Desi di luar"ucap Leah terbata bata.


Desi merupakan salah satu mantan Maxsi dan juga partner kerjanya. Perawakannya tinggi,berkulit putih,alis tipis,dan mata bulat.Merupakan ciri fisik yang cukup cantik.Jangan lupa kepintaran otaknya hingga bisa bekerja sama dengan seorang Maxsi Zhiang,pembisnis handal.


Maxsi lansung memutar kursi kerja menoleh pada asisten Leah yang sedang menunduk."Suruh dia masuk!"Perintahnya bernada datar begitupula ekspresi wajah lelaki tersebut.


Asisten Leah segera keluar. Dan satu menit kemudian muncullah gadis dengan gaun berwarna biru muda pas lutut dengan lengan menanggung. Sepertinya dia datang bukan sebagai partner, melainkan mantannya Maxsi.


Maxsi masih dengan ekspresi dingin walau gadis dihadapan nya sangatlah menggoda.


Desi berjalan menghampiri Maxsi dengan langkah kaki jenjangnya dibuat gemulai yang tentunya makin menggoda.


Maxsi beranjak dari kursi kerjanya lalu berjalan ke arah sofa yang berada di sudut ruangan."Sebaiknya kita berbicara di sini"Ucapnya sudah duduk di atas sofa.


Desi menurut saja ke sana.


"Maxsi Zhiang...,benarkah berita mengenai dirimu itu,benarkah kau sudah tunangan dengan gadis belia yang statusnya jauh dibawah kamu hubby?"Tanya Desi sudah duduk di samping Maxsi hingga pemuda itu sedikit risih dengannya.


Maxsi menatap tajam pada Desi."Iya,itu benar.Dan kau jangan sesekali mengatai tunangan ku !"Ucap Maxsi agak marah.Walau dia belum cukup mengenal Rada dan tak ada rasa sedikitpun pada gadis itu,tapi sekarang dia ialah tunangan nya Maxsi Zhiang,pemuda yang sangat menjunjung tinggi harkat martabatnya.


Desi berekspresi tak percaya alias shock."Aku tak menyangka selera mu sekarang sudah dibawah standar .Mungkin itu karna setelah putus denganku otakmu sudah mulai miring ,Maxsi"ungkapnya sinis. Dia memang masih menginginkan Maxsi tapi dia juga mencoba sok jual mahal pada lelaki yang sama sekali tak ada rasa padanya tersebut.


Maxsi sudah naik pitam,pantangannya dihina apalagi di kandang sendiri. Lelaki itu berdiri lalu berjalan ke arah pintu dan membukakannya dengan lebar."Sepertinya kau datang hanya membuang waktu saya yang sangat berharga nona.Sebaiknya kau anjak kaki sekarang kalau tidak ada kepentingan kerja dengan Saya."Ucapnya dingin.


Desi mencebik kesal.Dia lantas berdiri dari sofa,berjalan ke pintu yang dimana Maxsi sudah seperti predator di sana."Baiklah.Aku undur diri tuan Maxsi.Ternyata waktuku yang berharga hampir sia-sia jika digunakan untuk menemui mantan yang selera nya turun drastis ini hingga mau tunangan ama anak dari keluarga kelas menengah."Ucapnya masih mengolok-olok Maxsi.Setelah merasa puas,gadis itu beranjak pergi dari kantornya Maxsi.


Maxsi melangkah ke meja kerjanya kembali ,lalu duduk di kursi."Asisten Leah!!"Teriaknya hingga kedengaran sama Leah yang berada di ruangan kerja karna posisi ruangan mereka sangatlah dekat.


Boro-boro asisten Leah memasuki ruangan majikannya kembali, setelah selesai mendengarkan keributan Maxsi dan Desi yg sudah berhenti satu menit yang lalu.


"Ada apa tuan muda?"Tanya asisten Leah membukukan badan di samping Maxsi.


"Ck,pake nanya lagi.Bukankah kau sudah mendengarkan keributan aku sama wanita ganjee tadi,hah?Cepat kau cabut saham kerjasama dengan perusahaan milik Desi!"Perintahnya.Lelaki itu sudah sangat marah ketika harga dirinya dipandang rendah dengan wanita yang tak ada artinya di matanya.


"Baik tuan"Asisten Leah segera pergi dari ruangan Maxsi lalu mencabut segala saham yang ada di perusahaan milik Desi.Mungkin bisa dikatakan perusahaan itu bakal rugi karna saham yang ditanam Maxsi termasuk yang banyak di kantor itu.


"Jangan pernah kau memperlihatkan muka tak ada harganya itu dihadapan ku Desi, jika kau masih ingin hidup bermewah-mewah.Karna aku tak akan segan menghancurkan perusahaan secuil mu itu"Ucap Maxsi memandang kota melalui jendela.Sebab ruangannya berposisi di atas lantai lima gedung kantor Zhiang group.


Drrrrrrt....drrrrrrt.......


Ponsel dalam saku celananya berdering tak karuan.Maxsi segera merogoh ponsel.Ternyata mamanya menelfon.


"Hallo ma,ada apa?"Tanyanya


"Hallo Maxsi,bisa tidak kau membawa Rada ke rumah utama?Mama ada perlu dengannya!"Ucap Zora yg lagi duduk di sofa sembari melihat para pelayannya bekerja.


"Bisa ma,aku akan ke sana nanti bersama Rada"Jawab Maxsi.Mood nya bekerja sudah tak bagus. Sepertinya asisten Leah akan melanjutkan pekerjaan pemuda itu.


"Baiklah.Mama tunggu"Ucap Zora memutuskan sambungan telfon.


Maxsi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana."Asisten Lea..."Panggilnya lagi pemuda malang yang setia bekerja bersamanya.


Leah muncul lagi."Apa tuan?"Tanya mulai kesal sebab dia hampir tiga atau empat kali bolak-balik berjalan ke ruangan Maxsi.


Maxsi terkekeh-kekeh."Kau tahu tidak dimana Rada kuliah? Sepertinya gadis itu masih jam kuliah deh"Ucap Maxsi .


"Tahu tuan,ada di universitas XxX"Jawab Leah.Dia pasti sudah mencari selut belut hal yang berkaitan dengan tunangan tuanya itu.Sebab dia sudah memprediksikan bakalan membutuhkan informasi tersebut.


Maxsi tersenyum senang. Asistennya ini benar-benar bisa diandalkan,tak salah dia memilih pemuda yang sudah lima tahun lebih mengabdi dengannya itu."Kalau begitu, kau lanjutkan pekerjaan aku soalnya aku mau menjemput gadis mulut lebar itu"Ucap Maxsi.


"Hah?"Asisten Leah tak mengerti maksud dari kata gadis mulut lebar.


"Rada kan suka banyak ngomong apalagi berdebat, makanya aku kasih julukan gadis mulut besar"Terang Maxsi.


Asisten tersenyum simpul.Dia tak menyangka Maxsi bakal sedetil itu sama Rada,pake kasih julukan segala.Tak seperti biasa,Pikirnya.


 


\*


 


"Ra,aku pamit pulang ya,kamu serius nggak bareng kami aja pulangnya?"Tanya Mouri sama Arya pada Rada.


Rada menggelengkan kepala"Kalian duluan aja, aku bisa pulang sendiri kok"Jawabnya menolak. Mereka kan nggak satu arah,dia jadi takut repotin sahabatnya terutama Arya yang sebagai supir setia kekasihnya Mouri.


"Oke,kami ke parkiran dula.Bye"Ucap Mouri melambaikan tangan begitupula Arya.Keduanya mulai berjalan menjauhi Rada.


Rada melihat punggung kedua sahabatnya yang mulai lama makin menghilang hingga benar-benar hilang dari pandangannya.


Dia pun mulai berjalan berlawanan arah ke utara sedangkan Arya dan Mouri ke selatannya.Rada terpaksa pulang sendiri hari ini dikarenakan jam kuliahnya lebih banyak dari Cici yang sudah pulang duluan tadi.


Rada mulai melewati beberapa lorong kampus yang terlihat sepi.Hawa menakutkan merasuki tubuh gadis itu.Dan tiba-tiba.............


"Ah....,


Seseorang menarik tangan Rada ke samping lorong.


"Johun,ngapain kamu narik aku,hah?" Tanya Rada setelah mengetahui orang yang menariknya ialah Johun.Pria itu menahan dan mengurungnya di diding dengan kedua tangan di masing-masing telapak tangan Rada"Benar berita itu Ra,benarkah kamu sudah tunangan sama Maxsi Zhiang?"Tanya Johun menatap lekat wajah Rada dengan jarak sudah beberapa senti hingga dia dapat merasakan hembusan nafas gadis itu.


"Iya,itu benar.Lalu kenapa,apa hubungannya dengan kamu,ha?"Seru Rada penuh amarah. Dia sudah muak melihat wajah lelaki yang telah mengkhianati cintanya.


"Mengapa tunangan sama dia Ra?Secepat itukah kau melupakan aku.Baru beberapa hari kau memutuskan hubungan denganku,mengapa sekarang sudah tunangan aja dengan lelaki itu?"Johun tak terima dengan kenyataan yang ada.Benarkah gadis yang selama ini memuja nya dengan mudah berpaling darinya.


"Mengapa kau harus marah ?Bukankah kau sudah bahagia dengan wanita mu?Atau kau tak ingin aku bahagia? Hah,tunggu. Bukankah selama ini kau cuma mau memainkan perasaanku playboy,lantas mengapa juga kau marah?"Rada mengeluarkan seluruh amarahnya. Dia sudah tak tahan lagi dengan situasi mencekam seperti saat ini.Dia ingin segera keluar dari cekaman Johun yang masih tak mau melepaskannya.


Johun terdiam. Dia menyadari kalau dia benar telah menyakiti dan memainkan perasaan gadis di dekapan nya. Tapi sekarang dia sudah benar mencintai Rada,apakah dia mampu melepaskan dan membiarkan gadis itu bahagia bersama orang lain.Tak akan bisa sepertinya.


"Apakah kau tak ada lagi rasa cinta sedikitpun sekarang untuk aku Rada Rigorda?"Tanya Johun lirih.


"Hah,hahaha. Cinta katamu,terus bagaimana dengan semua pengkhianatan yang telah kau berikan padaku?Kau pikir aku buta hingga tak merasakan sakitnya dikhianati.Asal kamu tahu saja.Aku bahkan sampai trauma karna kelakuan mu itu.Aku bahkan belum yakin kalau hatiku yang rapuh ini bakalan sehat kembali seperti semula!!!"


"Maafkan aku Rada"Ucap Johun hendak mendekatkan tubuh ke Rada untuk memeluk gadis itu.


"Lepaskan...,aku nggak mau lagi dipermainkan.Lepas!!!"Teriak Rada berlinang air mata memberontak mencoba melepaskan diri dari kurungan Johun.


Maxsi terengah-engah melihat adegan di depannya sedari tadi.Dia cuma diam saja hingga kedatangannya tak diketahui sama Rada baik Johun.Dia cukup Shock setelah mengetahui mantan tunangan Rada dan juga gebetan sepupunya Rola yang ialah musuhnya di dunia bisnis dan sekarang juga di percintaan. Tentu dia akan mempertahankan Rada dari rival sesama playboy walau dia belum ada rasa cinta dengan Rada.Hm,mungkin sekarang belum, tapi belum tentu untuk besok-besok nya.


Pemuda itu memilih pergi dari sana.Bukan tak ingin membantu Rada,tapi dia tak mau ikut campur saja dengan urusan pribadi tunangannya itu.Menurutnya biarkan saja Rada dan Johun menyelesaikan masalah pribadi mereka.


Akhirnya Rada terlepas dari kurungan Johun dengan sedikit tendangan kaki dia hadiahkan pada pria itu .Hingga Johun mengadu kesakitan di bagian betis dan lutut serta kakinya.


"Aku harap mulai sekarang kamu jangan pernah menghubungi atau menemui aku lagi Johun."Ucap Rada menyeka air matanya dengan tangan lalu berlari menjauhi pria itu hingga sampai ke gerbang dengan nafas ngos ngosan.


"Ngapain kamu di sini?"Tanya Rada heran serta terkejut melihat Maxsi yang lagi bersandar di kepala mobil di depan pintu gerbang kampus.


Maxsi tersenyum tipis."Mau jemput orang yang bakalan jadi istriku,nyonya muda Zhiang"Jawabnya membukakan pintu untuk Rada.


"Arg............."


Rada berteriak sembari menghentak hentakan kakinya ke aspal lalu masuk ke dalam mobil.


Masih sempat bertingkah aneh juga kamu walau dalam keadaan sedih hingga matamu sembab karna menangis Ra.Aku berjanji jika kamu sudah jadi istriku nanti,tak akan kubiarkan orang-orang membuatmu menangis lagi. Cukup sekarang untuk pertama dan terakhirnya kau menangis hanya karna dikhianati. Besok-besok cuma akan ada senyuman saja di bibir mungilmu itu.Janji seorang raja playboy pada Rada.


Apakah dia tak sadar dengan janji yang baru diucapkan kalau dia mengatakan Rada bakalan jadi istrinya wlau dalam batinnya. Apakah jiwa playboy pria itu mulai memudar dan apa dia mulai ada rasa sama Rada juga ? Hm,entahlah.


Playboy kan sering kasih janji palsu.


Dalam perjalanan, tak ada yang angkat bicara baik Maxsi ataupun Rada .Keduanya hanyut dengan urusan masing-masing. Rada melamun sedangkan Maxsi fokus menyetir memandang jalan di depannya.


Hm,tumben asistennya nggak ikutan. Sepertinya pemuda itu sudah muak mengabdi sama tuan muda aneh di sebelahku ini kale.Batin Rada keheranan.


Setelah beberapa menit perjalanan, Rada mulai heran dengan arah jalan mobil Maxsi yang berlawanan arah dengan jalan menuju rumahnya.


"Maxsi,kita mau ke mana?"Tanya Rada menoleh pada Maxsi.


"Kita mau ke klinik mata"Jawab Maxsi memberitahukan tapi matanya samasekali tak menoleh pada Rada karna fokus menyetir mobil.


"Mata kamu ada yang sakit ? mana coba aku lihat"Rada mulai khawatir sembari mencoba melihat bagian mata Maxsi manakah yang sakit.


"Kamu diamlah, tidak usah khawatir"Ucap Maxsi menenangkan Rada agar tak usah khawatir padanya.Dan Rada akhirnya mengangguk patuh.


Setibanya mereka di klinik.


Rada dan Maxsi lansung disambut sama dokter karna Maxsi sudah memberitahukan kedatangannya tadi sama dokter di sana.


Ketiganya lantas masuk ke ruang pemeriksaan. Rada tak henti-hentinya melihat mata tunangannya yang terlihat baik-baik saja.


"Aku lihat mata kamu tidak ada yang bermasalah, kenapa ke klinik segala"Tanya Rada heran.


"Ah,diamlah Rada,tak usah banyak tanya!"Ucap Maxsi mendudukkan bokong ke kursi dekat meja dokter begitupula Rada dan dokternya.


"Ada apa tuan muda?"Tanya dokter ikut heran,sebab mata Maxsi memang tak ada kerusakan sedikit pun dia lihat.


"Dokter, apakah anda tak lihat mata tunangan saya yang sembab ? Cepat kau periksa!"Perintahnya.


Dokter tersenyum menyadari orang yang jadi pasien nya bukanlah Maxsi melainkan gadis yang duduk di sebelah pemuda itu.


"Mari saya periksa matanya nona"Ucap dokter menuntun Rada ke tempat periksaan.


"Loh,kok aku sih ? Mataku tak apa-apa Maxsi!"ucap Rada menyakinkan.


"Sudahlah, periksa saja Rada"Jawab Maxsi santai duduk di kursinya melihat Rada yang didorong dokter ke tempat pemeriksaan.Rada pun pasrah karna dipaksa dokter.


Lima menit kemudian,pemeriksaan mata Rada pun selesai.Rada dan dokter kembali duduk di dekat Maxsi duduk.


"Bagaimana dokter, apakah matanya ada yang bermasalah?"Tanya Maxsi serius pada dokter di depannya.


Dokter tersenyum simpul melihat kekhawatiran Maxsi pada tunangan nya."Cuma sembab saja tuan,tak ada yang lainnya. Ini saya kasih obat menghilangkan sembab nya"Tuturnya mengulurkan obat yang baru dia ambil dari dalam laci meja di hadapannya.


"Oh,begitu.Terimakasih dokter"Ucap Maxsi lega.Dia menyambut obat dari dokter lalu membayarnya langsung pada sang dokter.


Rada geleng-geleng kepala diam di kursinya. Emang mata sembab ,ada juga obatnya? Hm,berlebihan sekali.Tapi aku cukup terharu karna playboy ini masih punya hati sampai sembab mataku diperiksa dan diberi obat segala. Ah,jangan sampai baper Rada.Ingat dia PLAYBOY !


Rada dan Maxsi kembali ke dalam mobil.Mereka sekarang dalam perjalanan pulang menuju rumah Rada.


"Tuh,kan apa aku bilang tadi ? Mataku tak ada yang bermasalah Maxsi"Ucap Rada tanpa menoleh pada lelaki yang lagi fokus nyetir disebelahnya.


"Sana cermin ke spion !"Maxsi tanpa menoleh.


Rada menurut saja.Dia melihat wajahnya melalui spion mobil di sebelahnya. Tampak kedua mata gadis itu sembab berwarna kemerahan.


"Iya,sembab sih,tapi tak usah bawa ke klinik juga"Ucap Rada masih protes. Gadis itu menoleh ke samping jendela mobil,melihat langit yang mulai mendung seperti pertanda hujan mau turun.


"Kan,bisa saja syaraf matanya rusak nanti atau rabun kalo sering begituan"Tutur Maxsi.


Ya ampun. Benarkah dia lagi perhatian sama kondisiku ? Amboi,jangan sampai baper Ra.Kamu harus kuat menjalani kehidupan penuh godaan ini.


Tiba-tiba saja pipi Rada memerah mendengarkan penuturan Maxsi barusan padanya. Seusaha usaha mungkin dia menutupi wajah merahnya itu dengan telapak tangan.


Maxsi tersenyum tipis melihat tingkah Rada melalui pantulan jendela kaca mobil.Gadis itu sangat menggemaskan di matanya sedari pertama bertemu walau mulut Rada komat kamit mengutuknya, tapi tetaplah menggemaskan.Hingga dia tergiur mencium bibir mungil milik Rada waktu itu.


Sesampainya Rada dan Maxsi di depan halaman rumah Rada.Rada segera turun dari dalam mobil tunangan nya.


"Eh,tunggu Ra"Maxsi mendongak ke jendela mobil.


Rada kembali menghampiri pria itu ke depan jendela mobil.


Maxsi menyodorkan kantong plastik berisikan obat mata pada Rada yang lansung diterima gadis itu."Ini obat matanya,jangan lupa di pakai. Terus jangan menangis ya!"Ucapnya menjulurkan tangan mengusap kepala Rada yang diam membeku ditempat karna ulah nya itu.


Deg..,


Tubuh Rada benar dibuat membeku seperti bongkahan es karna ulah Maxsi yang mengusap kepalanya. Tapi tidak dengan denyut jantungnya yang malah berdetak makin cepat,bahkan sampai tak karuan.


Maxsi tersenyum selesai mengusap kepala tunangannya Rada."Aku pamit pulang dulu.Oy,jangan diam aja di sini.Buruan masuk dalam rumah, sepertinya hujan mau turun"Ucapnya sudah duduk di kursi mobil.


Rada tersentak sadar. Segera dia mengangguk patuh saja,tapi posisi belum beranjak.


Maxsi pun tancap gas,melaju kan mobil meninggalkan Rada yang masih berdiri di tempat melihat kepergiannya.


Setelah bayangan mobil Maxsi telah lenyap dari pandangan. Rada bergegas melangkahkan kaki menuju rumahnya.


"Cie........,yang diantar pulang ama tunangan nya"Goda Cici ketika Rada sudah masuk dalam rumah. Cici sedari tadi mengintip interaksi Rada dan Maxsi di luar melalui jendela kaca rumahnya.


Rada tak menghiraukan. Gadis itu nyelonong masuk ke dalam kamar bahkan tak menyapa ibunya yang berada di meja makan dekat kamarnya.


"Cici,kamu jangan goda terus kakaknya. Tu lihat, dia sampai nggak nyapa kita"Ucap Mala nyindir Rada.Wanita paruh baya itu sedang memakan keripik kentang yang dia buat kemarin malam.


Brak....,


Rada menutup pintu kamarnya dengan kasar lalu menghamburkan tubuh ke kasur tidur.Dia sungguh lelah menghadapi dua pemuda yang satu mantan tunangan dan yang satunya lagi tunangan. Dan kedua orang itu ialah playboy yang tak bisa dipercaya. Rada harus-harus menutup pintu hatinya kepada keduanya.


 


\*


 


Maxsi baru sampai di rumah utama. Dia berjalan menghampiri mamanya Zora yg lagi duduk di sofa memangku balita tampan di ruang tengah.


Maxsi ikut gabung duduk disebelah mamanya."Ma,Radanya nggak bisa kesini soalnya dia lagi nggak enak badan sekarang"Ucapnya.


Zora sedikit kecewa tapi dia juga harus memaklumi kondisi calon menantunya Rada yang ternyata tak bisa datang menemuinya dikarenakan kondisi tubuh yangkurang sehat.


"Ya sudah ,tak apalah"Ucap Zora


Maxsi tersenyum.Dia mengambil alih memangku Dozan,keponakannya dari sang mama."Hai,keponakan paman.Ngapain aja tadi my little boy ?" Tanyanya mencolek pipi gembul milik Dozan.


"Cama nyenyek maman"Jawab Dozan dengan bahasanya.


Maxsi tertawa.Keponakannya ini seperti Rada saja.Sama-sama punya bibir menggemaskan.


Zora tersenyum melihat interaksi kedua lelaki di depannya.Dia beranjak dari sofa lalu berjalan dan menepuk bahu putranya."Mama harap mulai sekarang kamu tinggal di sini saja nak"Ucapnya.Dia merindukan putranya yang selama satu tahun ini lebih memilih tinggal berpisah darinya dengan alasan ingin hidup mandiri.


Maksi membalas dengan senyuman.Dia juga sudah rindu dengan keluarganya. Ternyata hidup sendiri itu membuatnya merasa kesepian dan lupa dengan rasanya kehangatan keluarga. Cukup kasih sayang dari seorang ayah yang tak dapat dia rasakan selama sepuluh tahun ini dikarenakan sang ayah telah meninggal dunia.


***


Johun memasuki rumahnya dengan kondisi lemas tak berdaya.Sepertinya dia tak ada harapan bersama Rada lagi,karna gadis itu tampak membencinya sekarang. Yang dapat dia lakukan ialah mencoba melepaskan Rada dengan segenap hati jiwa dan raga nya. Pria itu berjalan lalu duduk di sofa.


Hahahah, seperti mau melepaskan nyawa terbang di badan saja.


Arya yang lagi makan di ruang makan tersentak melihat kondisi abangnya.


"Kenapa bang?"Tanya Arya menghampiri sang abang yg lagi duduk di sofa.


Johun menoleh sekilas pada Arya yang sudah duduk di sampingnya. Lalu dia menutup Kembali kelopak matanya."Sepertinya Rada sudah sangat membenciku. Aku tak ada harapan lagi bersamanya Ar"Gumam Pemuda itu.


Arya terbahak tak percaya melihat keputus asaan Johun.Lelaki itu menepuk pelan lengan milik abangnya."Sudahlah bang,biarkan dia bahagia dengan yang lain.Mungkin dia tak ditakdirkan untuk abang"Ucapnya bijak membuat Johun membuka kelopak mata.


"Kau benar Ar.Aku harus berusaha melupakan,melepaskan,dan membiarkan dia bahagia dengan yang lain."Ucapnya sudah pasrah dengan kenyataan yang ada.


Johun beranjak dari sofa.Ia berjalan menuju kamarnya karna dia ingin istirahat sekarang ini.


Arya tersenyum tipis. Akhirnya abangnya itu sadar juga. Arya tak berminat lagi melanjutkan aktivitas makan.Dia memilih menghidupkan televisi lalu menonton acara sepak bola yang ternyata sudah berlangsung sedari tadi.


"Sial,seharusnya aku tak usah menceramahi bang Johun tadi.Tuh kan,acaranya udah mau hampir habis",ungkapnya menyesali kegiatan menceramahi Johun yang membuatnya terlambat menonton acara kesukaannya.