
Siang hari yang cerah.
Rada baru saja selasai melakukan konferensi pers. Mengumumkan hubungannya dengan Maxsi.
Semua orang mulai segan dengan gadis itu dikarenakan status barunya.
Sekarang Rada berada di dalam mobil Maxsi, bersama pemuda itu dan asistennya.
Rada memandang jalanan melalui jendela mobil.Baru kemarin dia memutuskan hubungan tunangan nya dan Johun Le,sekarang sudah tunangan pula dengan Maxsi Zhiang lelaki yang sudah jelas terkenal playboy. Sepertinya dia harus menutup rapat hatinya agar tak terluka nantinya jika mendapat pengkhianatan dari tunangan dadakan itu.
"Kau jangan senang dulu telah bertunangan denganku"Ucap Maxsi membuyarkan lamunan gadis yang duduk dibelakangnya.
Rada menoleh pada Maxsi dan tatapan tajam yang dia dapatkan dari pemuda itu.
Cih,dia pikir aku senang dengan status baru ini?Aku bahkan berdoa agar hal ini tak terjadi. Lagian siapa nyium aku kemarin hingga terjadinya status tak mengenakan ini .ckckck,orang kaya emang suka ngomong seenak jidat nya saja.Batin Rada mendongkol.
Asisten Leah tersenyum tipis melihat pantulan wajah kesal Rada melalui cermin mobil disampingnya.
"Kenapa kau diam saja?Bukankah di kafe kemarin kau banyak ngomong, mengutukku, memarahi aku dan yang lainnya"Maxsi menoleh kebelakang, melihat wajah gadis yang lagi ditekuk.
Rada melipat kedua tangannya di dada."Jadi kau memintaku untuk mengutukmu lagi,ternyata kau ketagihan dengan kutukan aku kemarin, tapi sayang untuk yang sekarang harus bayar"Jawab Rada sinis.
Maxsi terbahak.Baru kali ini seorang gadis berkata lancang dan kasar padanya.Sungguh mengejutkan apalagi untuk asisten Leah.
Sepertinya bakalan seru kalo mereka benar-benar nikah nanti.Batin Leah cekikikan.
Maxsi memilih diam.Sepertinya dia akan kalah debat dengan gadis yang berstatus tunangan nya itu.
Rada tersenyum simpul melihat wajah kesal tunangan nya.Siapa dulu yang ngajak dia berdebat tadi.
Setelah melewati jalanan dan menghabiskan waktu satu jam lebih,akhirnya Rada sampai di halaman rumahnya.Rada turun dari mobil tanpa ucapan terimakasih. Gadis itu nyolonong keluar.
Maxsi berdecak lalu mendongak ke jendela mobil."Apakah mulut mu tak gatal sedikit pun untuk sekedar mengucapkan berterimakasih padaku?"Teriak Maxsi pada Rada yang mulai berjalan jauh dari mobilnya.
Rada menoleh kebelakang, dia memijit pelipisnya."Jadi kau berharap aku mengucapkan terimakasih? Hah,aku benar-benar tak menyangka"Ucapnya bernada dibuat shock."Bukankah aku tunangan mu,sudah kewajibanmu mengantarkan aku pulang tuan muda"Imbuh gadis itu tersenyum menyebalkan.
Maxsi kembali duduk ke kursinya."Cepat kau bawa aku dari sini asisten Leah,aku rasanya ingin sekali menjambak rambut gadis itu"Ucapnya dingin.Tatapannya fokus ke depan. Sepertinya dia sudah hilang kesabaran jika menghadapi tunangan nya yang ternyata juaranya berdebat.
Asisten Leah tentu menurut saja dengan perintah majikannya"Baik tuan"Ucapnya mulai melajukan mobil meninggalkan halaman rumah minimalis milik Rada.
Rada melihat kepergian mobil Maxsi dengan tertawa cekikikan. Sepertinya gadis itu tak takut sedikitpun dengan Maxsi.Dia pun memilih berjalan memasuki rumahnya dengan badan sedikit lelah.
Rada berjalan menuju kamarnya tanpa menyapa ibu beserta adiknya yang berada di sofa ruang tamu.
"Mau kemana Rada?"Tanya Mala menghampiri Rada hingga gadis itu menghentikan langkah kaki dan menoleh ke belakang dimana ibunya sudah berdiri disana.
"Mau istirahat bu,soalnya Rada capek banget hari ini"Jawabnya dengan lemah.
Malah mengusap lembut kepala putrinya."Ya sudah, sana istirahat di kamar, nanti ibu hangatkan air mandi mu agar cepat bugar lagi tubuhnya"
Rada mengangguk lalu berjalan memasuki kamarnya. Acara konferensi pers tadi benar-benar menghabiskan tenaga nya ,belum lagi menjawab debat tunangan nya.
Cici yang lagi menonton acara televisi di depannya menoleh pada Mala yang kembali duduk di sampingnya."Ada apa kak Radanya bu?"Tanyanya
"Cuma capek aja Ci"Jawab Mala sudah fokus menonton acara favorit nya.
Cici ber O riah menanggapi lalu ikut kembali menonton.
\ ********
Maxsi sudah sampai di depan halaman rumah utama keluarga Zhiang.Jika di apartemen mungkin rawan untuknya sekarang karna kondisi tubuh dan perasaannya yang lagi tak bersahabat.
"Asisten Leah,coba kau cari siapa orang yang telah menyebarkan foto ciumanku dan Rada dan usahakan menemukan pelakunya secepat mungkin"Perintahnya
"Baik tuan muda,akan saya usahakan"Sahut asisten Leah,dia cukup penasaran siapa orang yang telah berani menjadi paparazi tuanya sebab selama ini belum ada yang berani mengusik kehidupan pribadi tuanya itu.
Maxsi segera turun dari mobil"Kau bawa saja mobil ini pulang, sebab aku akan menginap di rumah utama malam ini dan ingat jemput aku besok ke sini"Ucapnya yang lansung di anggukan. Asisten Leah melajukan mobil hingga hilang dari pandangan Tuanya.
Maxsi masuk ke dalam rumah utama setelah kepergian asisten Leah.
"Paman..........,"
Balita laki-laki berlari menghampiri Maxsi dengan raut wajah amat gembira.
Maxsi berjongkok menyambut keponakan yang beberapa bulan ini tak ditemuinya."Apakah kamu tak merindukan paman tampan mu ini?"Tanya Maxsi sembari mencolek dan mencium pipi balita dalam pelukannya yang bernama Dozan itu.
Maxsi memandang seluruh sudut ruangan.Terlihat para pelayan sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Tapi akhirnya mereka sadar juga dengan kehadiran tuan muda mereka.Semuanya lansung menunduk hormat dan maxsi lansung mengangguk dan menyuruh mereka melanjutkan tugas mereka kembali,tentu semuanya menurut.
"Tumben kau pulang ke sini bocah nakal?"Ucap Nanya ,kakak Maxsi.Wanita itu baru saja keluar dari ruang dapur bersama mamanya Zora Zhiang.
Nanya mengambil alih putranya dari Maxsi"Jangan mencium putraku dengan bibir kotor mu itu.Dan apa kau bilang tadi,paman tampan?Putraku bahkan lebih tampan darimu"Ucapnya yang di iyakan Zora.
Maxsi mencebik sebal.Lelaki itu memilih memeluk mamanya dengan gaya memelas, dia seperti ingin mengadu.
"Lihat kak Nanya ma,dia mengataiku"Adunya pada sang mama yang tampak tak memihak padanya.
"Benar yang dikatakan kakak mu itu,cucuku lebih tampan darimu nak.Sadarlah"Ucap Zora membuat Maxsi makin sebal karnanya.
Maxsi melepaskan pelukannya. Dia berjalan ke sofa lalu merebahkan tubuh di sana.Zora dan Nanya ikut ke sana.
"Bagaimana acara konferensi pers nya, lancar?"Tanya Zora serius pada putranya.
Maxsi menoleh malas"Lancar"Jawabnya singkat.
"Cie yang sudah tunangan.Sepertinya Dozan bakalan dapat tante nih"Goda Nanya pada adiknya. Dozan tertawa lucu pada paman nya,walau dia tak mengerti apapun hal apa yang dibicarakan para orang tua.
Maxsi mulai mendekati mamanya lalu bergelayut manja pada wanita itu."Ma,apakah tunangan nya akan berlanjut sampai nikah ma?"Tanyanya.
Zora memperbaiki posisi lalu menatap penuh makna pada Maxsi"Sayang, sampai kapan kamu akan membujang? Keluarga kita membutuhkan garis keturunan darimu nak",Ungkap Zora yang dimengerti Maxsi bahwa tunangan nya berkemungkinan berlanjut ke pernikahan.
Maxsi berdecak dan berdecak"Aku belum mau nikah ma,lagian Rada belum tentu cocok sama aku"Ucapnya mencari alasan.
Zora menatap Maxsi dengan serius. Baginya Rada sudah cukup cocok berdampingan dengan putranya, wlau baru kemarin dia mengenali gadis itu tapi dia yakin kalau gadis merupakan anak baik-baik yang bisa menjaga nama baik keluarganya kelak.Dari sekian banyak gadis yang mendekati putranya baru Rada yang menarik perhatiannya. Gadis itu pasti bisa merubah kebiasaan buruk putranya, buktinya Maxsi lansung terpesona hingga mencium gadis itu di depan umum.Asal diketahui saja,kalau ciuman kemarin merupakan ciuman pertama Maxsi sebab lelaki itu tak pernah melewati batas jika pacaran ama anak gadis orang. Walau dikenal playboy dia tetap harus menjaga nama baik keluarga bahkan lelaki itu memang tak pernah berniat melakukan itu karna menurutnya cuma akan merusak tubuhnya yang sempurna.
\*
Pagi hari yang sudah mulai disinari matahari.
Rada buru-buru menyambar tasnya lau pamit pergi kuliah pada ibunya."Bu,aku pamit kuliah bareng Cici dulu"Ucapnya. Mala mengangguk.
"Woy,cepetan pamitnya, sudah hampir telat nih!"Teriak Cici di luar.
Cici mengulurkan helm pada Rada yang lansung disambut lalu memasangnya di kepala.
Keduanya lansung melesat ke depan gerbang gedung megah,yaitu kampus tempat mereka berkuliah.
Keduanya memang kuliah di tempat yang sama,cuma beda jurusan dan tingkatan saja.
Kedua gadis itu mulai memasuki halaman kampus yang terlihat sudah ramai.Di depan pintu kantin ,Mouri dan Arya melambaikan tangan pada mereka.Lantas keduanya menghampiri sepasang kekasih tersebut.
Diperjalanan menuju kantin,Rada mulai ditatap para mahasiswa yang membuat gadis itu bingung. Tak biasanya para mahasiswa menatapnya penuh segan padanya bahkan melirik aja jarang.Wlau begitu Rada masih berusaha bersikap biasa saja.
Sesampainya di kantin mereka pertama-tama memesan makanan terlebih dahulu dikarenakan mereka belum makan pagi tadi.
"Kenapa orang-orang menatap aku ya?"Tanya Rada heran sembari melihat sekeliling yang masih menatap padanya.
Mouri berkomentar"Itu karena berita kamu yang dikabarkan tunangan ama tuan muda Zhiang.Emang berita itu benar Ra?"Tanyanya memastikan sebab dia juga belum percaya sepenuhnya pada berita televisi yang dia lihat kemarin.Arya pun begitu, dia tak marah kalo berita itu benar dan dia juga tak marah bahwa Rada sudah memutuskan hubungan dengan abangnya Johun.Sebab dia juga tahu sikap playboy abang nya itu.
Rada hanya diam ditempat. Dia bingung mau mulai cerita darimana.
"Benar"Cici yang menjawab sebab dia tahu kalau kakaknya Rada bakal loading dulu saat ingin menjawab.
Mouri dan Arya terbahak tak percaya.
"Benarkah, ya ampun.Sahabat aku bakal jadi nyonya muda Zhiang dong,istri dari tuan muda Zhiang yang kaya raya itu"Cici heboh sendiri membayangkan sahabatnya yang akan menjadi nyonya muda nantinya.
"Ah,benarkah. Selamat mantan kakak ipar"Ucap Arya bercanda.Tapi tak disangka Rada bakal terbahak karnanya.
Rada menunduk ke meja"Maaf ya Ar,aku nggak jadi kakak iparmu"Ucapnya sedih. Perasaan cinta pada johun pastinya belum sepenuhnya hilang tapi rasa dikhianati tentu lebih besar dari rasa cinta tersebut.
Arya memainkan jari-jari tangan di meja.Dia sebenarnya tak ada niat buat Rada sedih, hanya sekedar becanda saja. Sepertinya gadis itu mudah tersinggung dan sensitif.
"Aku yang minta maaf Ra.Ah,sudahlah aku tadi cuma becanda doang",Ungkap Arya mengusap kepala Rada.Gadis yang sudah dia anggap saudari sendiri.
Cici dan Mouri tersenyum melihat interaksi dua orang di depan mereka yang sudah seperti kakak beradik saja.
Rada mendongak menatap Arya yang tersenyum tulus padanya."Terimakasih atas pengertiannya Ar"Ucapnya terharu, Arya merupakan sahabat yang dapat memahaminya selama ini.
Tiba-tiba bu kantin mengantarkan pesanan Rada dan yang lain.Cici orang pertama yang mengambil makanan karna jujur dia benar-benar lapar saat ini.Lansung saja gadis itu menyikap makanannya dengan rakus.
"Karna sekarang kak Rada sudah jadi tunangan bang Maxsi.Maka dia harus traktir kita dong"Ucapnya dengan mulut berisi.
Arya dan Mouri mengangguk antusias."Setuju",ungkap keduanya.
Rada cuma bisa menggeleng kepala serta tersenyum miris.Jujur saja,walau sudah tunangan ama Maxsi ,lelaki itu belum pernah mengasih uang padanya.Jadi uangnya yang bakalan habis saat ini,bukan uang Maxsi.
\*
Ditempat berbeda, tampak seorang pemuda malah marah tak jelas pada para karyawan nya sedari dia di kantor. Dia iala Johun Le.Lelaki itu amatlah marah setelah mengetahui Rada sudah bertunangan dengan Maxsi Zhiang,musuhnya.
"Jadi kau lebih suka sama lelaki buaya itu Rada"Ucapnya seakan dia tak sama buaya nya dengan Maxsi.
Johun duduk di kursi kebesarannya dengan tangan mengepal di dada.Ingin sekali dia melabrak pemuda perebut mantan kekasihnya Rada.Tapi karna Maxsi lebih berkuasa darinya, ia pun menggagalkan rencananya tersebut.
Rola beru saja datang ke kantor Johun,lansung saja dia menghampiri pemuda itu ke ruangannya.
Rola membuka handle pintu ruang kepunyaan Johun.Segera dia berjalan mendekati lelaki yang tengah duduk di kursi kerja tersebut."Hai,apa kabar sayang"Sapanya melingkarkan kedua tangan di leher Johun.
Johun sudah muak dengan perlakuan Rola yang selalu menggodanya, bahkan sampai jadi penyebab dia putus hubungan sama Rada,perempuan yang baru dia sadari telah menculik hatinya. Ya,Johun baru menyadari bahwa dia bukan saja ingin memainkan Rada,tapi ternyata dia benar-benar sudah mencintai gadis itu.
Johun menepis tangan Rola yang berada di lehernya."Mau ngapain lagi kau kesini?"Tanyanya datar.
Bukannya menjawab, Rola malah naik ke pangkuan pemuda di depannya.
"Apa-apaan kau Rola,cepat turun dari pangkuanku!"Johun berbicara agak berteriak. Tapi tak memengaruhi wanita yang masih setia duduk dipangkuan nya.
Mulai memainkan dasi yang terpasang di leher Johun dengan gaya centil lalu beralih ke kancing baju kemeja pemuda itu."Apakah kamu tak merindukan aku sayang?"Tanyanya dengan manja.
Johun sudah naik darah karna ulah ketidak sopan Rola padanya.Segera dia mendorong tubuh Rola hingga wanita itu terlempar ke lantai sampai mengadu kesakitan.
Johun berjalan menghampiri Rola lalu berjongkok tepat di hadapannya."Kau pikir aku tak tahu kalau kau adik dari Maxsi Zhiang,lelaki yang sudah merebut Radaku.Mulai sekarang jauhi aku kalau kau masih mau hidup"Ucap Johun marah.
Rola berdiri terbirit birit kesakitan lalu berjalan ke pintu."Hm,ternyata kau sudah tahu ya?Baiklah,maka dari itu kau harus menerima ku karna kalau tidak,aku akan pastikan gadis itu diperistri kakakku",ungkapnya mengancam. Walau sudah sering disakiti dan ditolak.Rola masih bersikukuh menginginkan Johun jadi miliknya.Wanita itu lantas pergi dengan seringai licik nya.
Johun gusar .Dia tak bisa membayangkan kalau Rada benaran akan diperistri musuhnya sendiri. Pria itu mulai mengacak rambutnya frustasi."Tak mungkin, tak mungkin Radaku harus jadi milik orang"lirihnya menjatuhkan tubuh ke lantai.
Selesai berkuliah, Arya lansung pergi ke kantor tempat abang nya bekerja.Dia sempat berselisih jalan dengan Rola,tapi wanita itu tak menyapanya bahkan melirik saja tidak. Sepertinya lagi marah karna biasanya Rola sangat antusias menyapanya bila bertemu.Bahkan wanita itu seringkali menjilat padanya, agar mendapat perhatian darinya dan tentunya Johun.
Sesampainya Arya di ruangan Johun,tampak sang abang terkulai lemas di lantai dengan kondisi memprihatinkan. Mulai dari rambut yang acak acakan, dasi di leher mulai kendor, dan jas yang sudah dilepas menyisakan baju kemeja dengan dua kancing telah terbuka.
Arya sangat terkejut, dia segera berjalan menghampiri abangnya lalu berjongkok di hadapan pemuda itu."Kenapa bang?"Tanyanya basa basi.
Ingin rasanya Johun mencabik cabik muka tampan sang adik karna kesal.Udah tampang orang frustasi, pake ditanya lagi, pikirnya.
"Mau apa kau kesini,mau menertawai aku yang diputusin sama Rada atau mau ngasih santunan rohani?"Tanya Johun bernada kurang bersahabat.
Arya tersenyum masam.Awalnya dia memang berencana memarahi Johun karna telah mengkhianati Rada yang dulu dia harapkan jadi kakak iparnya, tapi akhirnya dia gagalkan rencana itu karna percuma juga menurutnya. "Nggak kok bang,cuma lagi kangen sama abang aja"Jawabnya ngasal.Mana mungkin dia merindukan lelaki yang tiap hari dia temui di rumah walau jarang saling sapa menyapa.
Johun tertawa getir.Adiknya ini pasti memang lagi menertawai nya, pikir pemuda itu."Tuh,benarkan kau mau menertawai aku"Ucapannya membuat Arya berdecak sebal.
Kelihatanya abangnya ini suka banget berfikiran negatif sama dia,pikir Arya."Aku cuma mau jemput abang, soalnya ini kan sudah jam pulang kerja"Ucapnya sembari melirik arloji di tangan. Ya,Johun memang berniat untuk tak pulang hari ini lalu menginap di kantor sebab para karyawan emang udah balik sedari tadi bahkan mungkin cuma dia aja yang masih dikantor.
Mengingat adiknya sudah mau menjemput, walau dia bakalan pulang sendiri juga sebab mereka sama-sama bawa mobil tadi.Johun akhirnya menggagalkan rencana nginap di kantor.
"Baiklah"Ucap Johun sembari berdiri lalu merapikan pakaian beserta rambutnya.
Arya ikut berdiri, dia tersenyum simpul melihat penampilan Johun yang sudah rapi."Iyalah, emangnya abang nggak takut kalau nginep di sini sendirian"Sekarang Arya makin jadi adik ngeselin,pikir Johun.
Aku nggak jadi terharu ama kamu yang mau jemput aku tadi Ar,lagian kita akan tetap pulang sendiri, toh sama-sama bawa mobil.Batin Johun menatap kesal pada Arya yang sudah berdiri di pintu.
"Justru aku yang khawatir kalo kau di rumah sendiri, bisa-bisa kau ajak kuntilanak penunggu rumah nginap bareng nanti"Johun tentu tak mau kalah dan ikut membalas omongan adiknya. Mereka sekarang sudah menjadi abang adik normal yang saling mengolok-olok.Tak seperti biasanya,yang saling cuek-cuek kan.
Keduanya saling merangkul sembari lempar senyuman, mereka mulai berjalan ke luar kantor lalu pisah di parkiran karna mereka bakal pulang sendiri dengan mobil masing-masing.
Arya mendongak kepala ke luar jendela mobilnya."Bang,bagaimana kalo kita adu balap sampai rumah?"Tantang nya.
Johun mendongak juga lewat jendela mobil."Oke,siapa takut"Jawabnya menerima tantangan.
Keduanya mulai siap-siap dan...............
Set.........
Mobil kedua abang beradik tersebut melaju dengan kecepatan tinggi di tengah jalan raya kota .Semoga saja mereka tak kena tilang polisi nantinya!!!