
"periksa semua cctv.laporkan semua hal- hal yang mencurigakan kepada saya,sekecil apapun.termasuk siapa saja yang masuk di ruangan presdir mulai dari 3 hari yang lalu.!!"
sekertaris lius keluar dari ruang monitor.Dia benar-benar tidak menyangka,data perusahaan yang selama ini tersimpan dengan rapi bisa bocor.semua data-data penting perusahaan hanya tersimpan di laptop tuan william,mustahil jika ada seseorang yang bisa masuk ke ruangannya dengan mudah.tapi siapa yang bisa masuk ke dalam ruangan itu seperti hantu.
untung saja dia menyadari itu lalu mencadangkan data lebih cepat.jika terlambat,mungkin secepatnya corpindo tinggal kenangan.
semua cctv sedang dalam pemeriksaan.william yang sedang duduk dalam ruangannya,sedang memeriksa beberapa berkas yang sempat menumpuk kemarin.
namun pikirannya kembali terganggu.rasa khawatir tiba-tiba menyelimuti hatinya.
aneh,gumamnya.
"semua masih sedang dalam pemeriksaan tuan"dengan tiba-tiba suara sekertaris lius menyadarkannya.
"anda baik-baik saja?"
"lius,apa kau menyadari sesuatu??"
sekertaris lius diam sejenak.
"apakah menyangkut masalah banner??"
sekertaris lius berusaha menebak.tapi itulah yang sedang ia pikirkan.
"ku rasa,ini ada hubungannya dengan dia."wiliam membuang nafas kasar.berusaha berfikir lebih keras.
"saya akan mencari tahu mengenai kekahawatiran anda jika anda menyetujui"
"tunggu sampai ada kasus lain.jika beberapa hari kedepan masih terulang,barulah kita bergerak.keberadaan banner juga belum di ketahui setelah kematian Diana"
"baik tuan,kalau begitu saya keluar dulu"
sekertaris lius membalikkan badannya setelah william mengangguk.beberapa staf yang tak sengaja berpapasan dengannya menundukkan wajah-wajah mereka saat dia keluar dari pintu.
mereka tidak berani menatap wajah dingin itu,apalagi dalam kondisi seperti ini.sikap tegasnya memberi gambaran bahwa saat ini dia akan benar-benar menerkam siapa saja yang telah berani berbuat sebodoh itu di perusahaan corpindo.
****
apa yang harus ku katakan padanya sekarang.apakah aku harus memohon ampun sambil menangis??ya Tuhan cabut saja nyawa ku ini.
jeff meremas tangannya yang mendingin sambil menunduk pasrah.banner belum mengeluarkan sepata kata pun.namun aurahnya sudah terlihat menakutkan.
"jelaskan alasan apa yang bisa membuat mu gagal"
"tuan,aku sunggu telah berusaha saat fedrick mengirimkan email pada ku.tapi.."
"tapi karna aku bodoh,makanya aku gagal tuan.begitu????begitukan??"banner sekarang sudah bertanduk.
ya Tuhan apakah malaikat pencabut nyawa sedang terjebak macet di tengah jalan?kenapa lama skali datang mencabut nyawa ku.
"kemarilah"perintah banner.
apa yang akan dia lakukan padaku sekarang??
jeff hanya mengikuti perinta dengan patuh.apapun yang banner lakukan terserah,aku pasrah.batin jeff
"kau adalah seorang ayah.anak dan istri mu pasti sedang menunggu mu di rumah.tapi bagaimana jika hari ini kau pulang tanpa satu tangan??"
"tuaaan,ku mohon"keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuhnya.
"bagaimana aku bisa mengampuni mu.kau sudah menyia-nyiakan kesempatan sebagus itu"ucapan banner yang setengah berbisik terdengar lebih menakutkan.
"tuan,aku berjanji.lain kali aku akan berusaha melakukan tugas ku dengan baik"suara paniknya mulai bergetar.kata maafnya mungkin tidak di terima kali ini.
"baiklah"
benarkah???
jeff menggeleng tak percaya.tapi mendengar satu kata dari banner itu,bisa membuatnya sedikit bernafas lega.
"tapi memberimu sedikit goresan sebagai peringatan tidak apa-apa kan?"
jeff kembali menegang.baru lima detik ia menurunkan ketegangan dalam dirinya namun ia kembali merasakan detak jantungnya bekerja dengan cepat.
AAHHHHKKKKKK
inikah yang di namakan hanya sedikit goresan???
****
jommi sedang mengorek telinganya,saat maory datang secara tiba-tiba dan menegur jommi dengan suara yang cukup menusuk gendang telinganya.
"jommi,jorok bangat sih kamu"
"ri' nggak boleh ngagetin orang yang sedang ngorek telinga"
"kenapa??lagian kau ngoreknya di kantin.di toilet kek."
"gak ada sempat ri', keburu kau datang"
"apa hubungannya?"
"pasti kau mengajak aku menemui mu untuk mendengar cerita mu tentang harry kan??makanya aku ngorek telinga biar nggak budek telingaku ini."
memang ia sih.hehehe.
"jangan lupa jaminannya ya??"
jommi membuka buku menu sambil tersenyum.
"hemmm???"seseorang berdehem tepat di samping maory.
jommi dan maory serempak mengalihkan bola mata mereka ke sumber suara.
"harry...??"
teng dedeng...
"sepertinya aku tahu topik pembahasan kalian hari ini"
"....."kedua tersangka saling menatap.
"eh,ini.tadi jommi nanya sama aku.kira-kira harry itu suka makan apa.iyakan jom??"cengar cengir.
"kapan aku bertanya seperti itu?"sengaja melihat ke arah lain ketika maory memandangnya sambil mengancam.
harry lantas mendaratkan bokongnya di kursi yang masih kosong,tidak menghiraukan 2 bocah di depannya yang sedang ngambek-nganbekan.
ini akan jadi makan siang romantis jika kecebong satu ini tidak ada.batin maory.
harry memesan beberapa menu,kemudian diam tanpa sepatah kata pun.aurahnya tidak bisa di tebak.dia bukan lagi harry yang di kenal maory beberapa hari yang lalu.sifatnya kembali cuek tak banyak bicara.
seperti bunglon.
"entah mengapa aku merasa kau terlihat sangat dewasa dengan gayamu itu!"menyandarkan bahunya dengan sangat santai."aku merasa kau tidak cocok untuk berbaur dengan siswa di kampus ini"lanjut maory tanpa melihat ke arah harry.
pernyataannya tidak di tanggapi.tapi maory juga tidak berharap untuk di respon,toh harapannya hanyalah hayalan semata,orang seperti harry memiliki suara semahal berlian 30 karat.
sedangkan jommi memandang tak peduli pada 2 orang di depannya.menikmati menu makan siangnya lebih baik dari pada mengikuti pembicaran mereka.hanya sesekali jommi mengangkat alis sebelah saat perkataan maory tidak perna mendapatkan jawaban.
"kau tahu jom,ternyata harry adalah orang yang mandiri,sekarang dia sudah memiliki usaha sendiri.padahal ayahnya adalah seorang pengusaha"
"aku juga bisa seperti itu andai aku adalah dia"harry hanya diam sambil menatap menu pesanannya yang sedang di susun di atas meja oleh pelayan kantin,menunggu apakah jommi akan melanjutkan kata-katanya.namun melihat jommi kembali sibuk menghabiskan makanannya,ia kemudian ikut menyantap makanannya.
"jikapun kau adalah dia, aku tetap tak percaya bahwa kau akan menjadi anak yang mandiri.hhhh"jommi tidak menghiraukan ejekan maory.dia malah memandang ke arah harry sambil tersenyum.
"meskipun aku bukan laki-laki yang mandiri,tapi setidaknya aku bukan anak seorang penjilat"
mendengar ucapan jommi,sontak membuat harry meletakkan kembali satu sendok suapan yang hampir masuk ke dalam mulutnya,sambil menahan emosi untuk tidak menanggapi ucapan seorang bocah yang menyebalkan itu.
namun jommi hanya tersenyum membalas pandangannya yang menahan amarah.
"ada apa??"maory bertanya dengan wajah sedikit bingung melihat aksi tatap-tapan kedua orang itu.
"tidak apa-apa"ungkap jommi cepat."sepertinya nafsu makan ku sudah hilang"sambil berdiri padahal piringnya sudah kosong"jangan lupa bayar ya ri' ".harry menatap punggung jommy yang telah menjauh,ia tahu jommi sedang mempermainkannya.ia merasa perutnya tiba-tiba kenyang karna emosi.
"apa kau punya masalah dengan jommi?"masih dengan wajah bingung.pasalnya harry benar-benar terlihat sangat terganggu dengan ucapan jommi.
pertanyaannya masih tidak mendapat tanggapan.malah harry berdiri dari duduknya setelah meletakkan uang di atas meja sambil memanggil pelayan.