
william keluar dari kamarnya ketika malam telah larut.wajahnya yang dari kemarin terlihat kusam kini menjadi lebih segar.dia berjalan dengan langka ringan,membawa kakinya melangka ke depan pintu kamar maory.william sadar,keegoisannya pasti membuat maory semakin terluka.namun sekarang dia akan berusaha untuk bangkit.memberikan perhatian penuh untuk putrinya dan berusaha untuk melupakan semua beban yang telah berakar dalam hatinya.
Tok tok tok
tok tok tok
apakah dia sudah tidur???
tok tok tok
tidak ada respon.
william berbalik dengan perasaan bersalah.memang tidak seharusnya ia bertingkah seperti ini.namun ia masih tidak bisa berbagi cerita tentang kematian Diana.masih banyak kejadian rumit yang sebenarnya maory tidak tahu tentang ibunya.
"ayah"
william menghentikan langkahnya yang hampir menuruni tangga,kemudian membalikkan badannya,menatap wajah putrinya yang sedang tersenyum namun masih menyisihkan sedikit raut wajah sedih.
william tidak berkata apa-apa,kakinya hanya melangka maju,dengan pelan ia mendekap tubuh maory.william tidak dapat memerintahkan matanya untuk tidak berair.
"ayah..."maory mendongakkan kepalahnya.menatap wajah merah ayahnya yang sedang terisak kecil.
"aku tidak perna melihat ayah ku secengeng ini."
william masih membisu,mengeratkan pelukannya seolah-olah ini terakhir kalinya dia akan berjumpa dengan putrinya.
"maafkan ayah,nak"
"untuk??"
"untuk kesalahan ayah hari ini"
"aku ngerti kok yah,"
william menghapus air matanya sambil sedikit melengkungkan bibirnya.putri kecil yang terasa baru kemarin ada dalam gendongannya, kini memperlihatkan sikap dewasa menghiburnya.
"siapa laki-laki yang tadi bersama mu?pacarmu??"maory melepas pelukan ayahnya dengan ekspresi penuh tanya.
"lihat di mana?bukannya tadi ayah tidak perna kluar kamar??"
"kalian sedang viral di media,kau belum tahu??"
"a-apa???"maory kemudian teringat,saat di kampus dia sempat berpelukan dengan harry.kemudian saat di makam ibunya,ya ampuuun,,mengapa aku tidak menyadari itu.
maory bergegas masuk ke kamarnya untuk menghubungi harry.sedangkan wiliam hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang sedang panik.
"apa kau perlu bantuan ayah?"william masih berdiri di depan pintu,menawarkan bantuan dengan nada mengejek menjahili anaknya.
"AYAAAAAAHH"suara maory terdengar menggema,membuat semua asisten dan pengawal di seluru ruangan berlari dengan panik menaiki lantai dua.
*****
PENERUS CORPINDO MENGGANDENG KEKASIH SAAT MEMPERINGATI HARI KEMATIAN DIANA
Banner tertawa bahagia melihat berita di siaran televisi.bagaimana tidak,hanya dalam beberapa bulan saja harry telah memberikan sedikit keberhasilan untuknya.
"hari ini kau pasti sangat senang,bisa mendekati anak yang sombong itu"banner bertanya pada harry yang kebetulan datang di rumahnya setelah pulang dari rumah maory.
"biasa saja menurutku"
"jika tahu hasilnya begini,mengapa tidak dari dulu kau ku tugaskan untuk ini"
"ayah,pekerjaan di kantor sedang menumpuk menunggu ku"
"tenang saja,orang-orang profesional sudah menangani semua urusan di kantormu.nanti ayah akan mengabarimu jika ada urusan yang besar"
"andaikan ayah mendaftarkan ku sebagai dosen di kampus itu mungkin aku akan punya waktu untuk pekerjaan pribadiku"harry mulai kesal dengan rencana ayahnya.
"jika kau menjadi dosen kau tidak akan punya banyak waktu dengan maory.tapi jika menjadi seorang mahasiswa,kau akan leluasa untuk menarik perhatiannya"
"bagaimana jika ada yang tahu"
"semua berkas yang di palsukan sudah aman,kau juga masih terlihat seperti umur 23 tahun setidaknya ,kecuali jika kau sendiri yang membocorkan rahasia ini"banner mematikan tv sambil mengangkat satu kakinya ke atas kaki yang lain.duduk santai sambil membahas kegiatan harry dengan maory tadi siang.
"jadi apa saja yang kalian lakukan di rumahnya tadi???"
"hanya ngobrol biasa"
"tidak ada yang spesial??"
Harry berdecih kesal,dia sangat benci dengan rencana ayahnya yang menyita banyak waktu kerjanya.jika bukan karna dana yang di tawarkan ayahnya untuk meningkatkan perusahaannya mungkin sekarang dia sedang duduk mengurus pekerjaannya.
banner masih menunggu harry untuk merespon pertanyaannya namun,harry hanya bersikap tak ingin membahas apapun sambil memainkan handphonnya.
"amber sudah menunggu ku di apartemen,aku akan balik"harry segera bergegas pulang tanpa menunggu jawaban ayahnya.
****
"lah aku,setiap hari bertemu dengannya"ucap felix dengan nada tidak suka.
"kenapa kakak seperti tidak senang? hhhhhhhhh cemburu ya?"
felix diam kesal,melihat tingkah adiknya yang sok tahu itu membuatnya merasa menyesal bisa memiliki adik perempuan.jika saja adiknya itu laki-laki mungkin dia akan bisa di ajak bercerita tentang wanita.namun apalah daya,ternyata ibu dan ayahnya memberinya seorang adik perempuan yang kelakuannya seperti anak TK padahal dia sudah terbilang dewasa.
"benarkan??"jeslyn bertanya sekali lagi.dia tidak akan puas jika felix tidak menjawab.
"kau tahu apa tentang ku"
"tahu semua lah.akukan adikmu,waktu kecil kau selalu mengatakan bahwa kau suka dengan nona Moo"
"hanya karna dulu aku perna mengatakan itu bukan berarti sampai sekarang aku masih seperti itu.sekarang aku sudah berubah"
"benarkah,lalu kenapa aku masi mendengarmu memanggil nama nona moo saat tidur?"
felix benar-benar kesal sekarang.
kadang aku ingin menuntut ibu.mengapa bisa melahirkan putri seperti dirimu.
jeslyn hanya tersenyum.melihat felix yang kesal begitu adalah hiburan baginya.akhir-akhir ini,dia selalu menyaksikan kakaknya pulang ke rumah dengan wajah yang tidak bersahabat.Dia selalu mengira mungkin ada masalah di rumah tuan william yang membuatnya letih.namun saat menyaksikan berita di tv tadi,otak cerdasnya langsung membuat kesimpulan.
hmmmmmmmm,,,tanpa dia menjawab pun,aku sudah tahu hhhh.
*****
jommi mempercepat langkahnya memasuki gerbang.jam belajar masih lama, namun ia seperti siswa kesiangan yang sedang terburu-buru.sehingga sopir yang mengantarpun harus ikut berlari mengikutinya sambil membawa tasnya.
"mas jommi,tasnya ketinggalan"
"aduh pak,kenapa bisa lupa sih?"
"ya aku gak tahu toh mas,orang masnya yang lupa!"
"eh iyaya,makasih ya pak"jommi kembali melangka cepat,mengabaikan sopirnya yang sedang bingung,lantaran jommi masih saja berlari padahal ruang kelasnya sudah ia lewati.
"ada apa jom,kok lari-lari?"
jommi akhirnya menghentikan langkahnya saat maory memanggil namanya.
"atur nafas dulu,aku tidak mau mencium bau mulut mu yang tergesa-gesa"
mau tidak mau jommi berhenti 3 meter di depan maory untuk mengatur detak jantungnya yang masi berdetak tak karuan karna berlari.
setelah merasa baikan ia melanjutkan langkanya ke depan maory yang sedang menunggunya.
"jadi kenapa"
anak ini membuatku penasaran saja.
"soal kemarin"
"kenapa kemarin?"
"di tv.heboh banget"
"ohhh itu??semua sudah beres kok.beritanya sudah di hapus"
maory menanggapi dengan santai.
"tapi semua orang pasti masih penasaran"
"tenang saja felix akan menyelesaikannya hari ini"
"tapi semua mata orang melihatku"
"santai ajalah.paling pertanyaan mereka biasa-biasa saja"
andai kau bukan maory,sudah ku jitak palamu itu.
jommi merasakan bulu kuduknya merinding.membayangkan semua anak-anak akan menginterogasinya di kelasnya nanti.
lalu aku harus jawab apa??
"kenapa jom?kok kamu pucat gitu?"
"kayaknya aku pindah ke kelas kamu aja deh"
"jangan ngacok jom,mana mungkin bisa??"
maory mempercepat langkahnya sambil tertawa,meninggalkan jommi yang sedang kebingungan.
"kamu masih ngutang penjelasan ri' "
jommi setengah berteriak yang hanya di acungi jempol oleh maory dari jauh.