THE HEIR'S ENEMY

THE HEIR'S ENEMY
04


pagi-pagi sekali,ketika pintu kamarnya di ketuk pelan,namun maory masih terlelap tenang di balik balutan selimutnya.tak perlu baginya untuk menunggu perintah memasuki kamar mewah tersebut,karna pemiliknya tidak mungkin berbicara dalam keadaan tertidur.wanita paru payah itu kemudian memdekat ke lalu menggoyangkan bahu nona mudah dengan lembut


"mmmmm"maory hanya bergumam memberi tanda bahwa dia sudah bangun,namun matanya masih malas terbuka.sang pelayan segerah menyiapkan baju yang akan di pakai majikannya,menyiapkan air untuk mandi,dan membuka gorden.tugas pertamanya telah selesai,tinggal memberi sentuhan akhir.


"semua telah siap nona"maory menggeliat manja sambil bangun dari tidurnya dengan malas.


"trimah kasih"sang pelayan segerah keluar dari kamar setelah memastikan tak ada lagi yang di butuhkan majikannya selain membersihkan badan.


30 menit berlalu,maory telah menapakkan kakinya menuruni tangga melewati para pelayan yang menyempatkan waktu untuk menundukkan kepalanya horamat di antara kesibukan mereka,menyelesaikan tugas masing-masing sebelum tugas berikutnya menumpuk.


maory duduk tenang sambil memperhatikan para pelayan menyusun makananan di atas meja makan dengan sangat profesional.


"apakah ayah belum bangun??"sambil melirik ke sana kemari mencari ayahnya.


"tuan besar belum pulang dari semalam nona"


"kenapa?apakah ada masalah di kantor?"mulai kawatir


"sepertinya begitu nona"maory hanya bisa diam sejenak.toh sudah biasa ayahnya tidak pulang,mungkin urusan kantor sedang menumpuk.namun maory masih tetap merasa kawatir,ayahnya pasti sangat lelah.


namun yang maory pikirkan saat ini adalah hari peringatan tentang kematian ibunya.selama ini ayahnya selalu mengurung diri di kamar jika hari itu tiba.maory hanya berpikir,mungkin ayahnya butuh waktu yang tenang dan ingin menyendiri untuk setiap moment itu.bagaimana perasaannya setiap hari itu tiba,pasti sangat berat jika harus bertukar posisi dengannya.kehilangan orang yang di cintai dalam waktu yang sangat tiba-tiba.


"mbak,kalau nanti ayah pulang,bilang aku ke makam ibu setelah pulang kuliah."maory memberi pesan saat ia akan memasuki mobil.hatinya saat ini sedang mendung.felix pun hanya bisa mengangguk paham,dia akan mengerti hanya dengan melihat wajah sang majikan.suasana hari ini mungkin akan banyak di gunakan untuk menangis.mungkinkah felix akan merangkul lagi tubuh mungil gadis itu saat sedang menangis tersedu-seduh di depan makam ibunya,seperti tahun-tahun kemarin.sebenarnya itu adalah kesempatan tipis felix setiap sekali setahun.meskipun itu terdengar jahat,tapi itu adalah moment tahunan baginya.


"felix"suara lembut menyadarkan lamunannya.


"iya nona"


"apakah kau tahu apa yang di lakukan ayah hari ini??"


"saya juga tidak tahu tentang itu nona"


maory membuang nafasnya berat.


"apakah ayah juga mengunjungi makam ibu seperti yang ku lakukan??"


"itu juga aku tidak tahu nona,selain sebagai karyawan kantor,tugas saya hanya mengantar jemput dan memastikan hari anda berjalan dengan baik"


suasana kembali hening.felix melirik maory dari kaca spion beberapa detik,lalu kembali menatap lampu merah.hari kematian memang akan membuat orang berantakan,meskipun sudah bertahun-tahun.gumam felix.


****


william duduk termenung menatap sebuah foto di tangannya.hari sudah menjellang siang,namun dia masih betah berada dalam ruang kebesarannya itu.rasa sakit dan benci masi membekas dalam hatinya.kejadian 21 tahun yang lalu kembali mengingatkannya pada wajah Diana,wanita yang sangat ia cintai.bagaimana dia bisa kehilangan istrinya dengan cara yang sangat menyedihkan itu.seperti drama yang di buat untuk membuat siapa saja penontonnya untuk menangis,sungguh sutradara yang benar-benar cerdas.namun kisah william bukanlah bagian atau semacam drama itu.william sendiripun tidak tahu,bahwa kisahnya akan serumit itu.sampai ia kadang tidak ingin melihat wajah putrinya yang sedang menangis mengingat ibunya.


"kita akan kembali ke rumah"


"baik tuan"sekertaris lius segerah menjalankan perintah setelah william buka suara.sama halnya dengan felix,willian akan mengerti semua tentang isi pikiran tuannya.bukan karna hubungan ayah dan anak,tapi pekerjaan yang membuat mereka memiliki indra ke-6.jika tidak,tentulah majikannya akan sangat kesal harus memberi penjelasan,apa lagi dalam situasi seperti ini.


Namun perbedaannya adalah,hari ini felix mendampingi nona kecilnya yang berduka,sementara sekertaris lius menemani tuan besarnya yang sedang memendam benci.benci kepada orang yang telah mempermainkan hidupnya.


*****


suara berisik dalam kelas bersahutan.pagi-pagi memang membuat setiap siswa akan bersemangat membahas aktifitas mereka masing-masing saat pulang dari sekolah.ataukah mengambil kesempatan mengerjakan tugas yang belum sempat mereka kerjakan apa bila bell belum berbunyi.


keceriaan terlihat di wajah-wajah mereka,namun tidak bagi harry.bagaimana ia akan betah berada dalam keberisikan ruangan itu jika beberapa gadis di belakangnya sedang membicarakan dirinya.pembicaraan yang membuang-buang waktu bagi harry.bagaimana bisa gadis-gadis itu tertarik pada dirinya,sementara dia tak perna peduli pada kaum mereka,sunggu makhluk yang aneh.gumamnya dalam hati.


aku tahu wajah ku memang sangat tampan,hingga meskipun aku tidak bersikap ramah,kalian masih saja mengagumi ku,cih dasar.tersenyum angkuh.


namun senyumnya memudar ketika melihat sang tuan putri yang selalu di puja puji memasuki ruang kelas dengan wajah yang tidak seperti biasanya.lalu mengeryitkan alis tak peduli.waktunya akan sia-sia hanya untuk memikirkan sesuatu yang tak berharga baginya.


namun 1 jam,2 jam,3 jam,sampai pelajaran selesai rasa penasarannya kembali menyerang,harry ingin bertanya,namun harga dirinya sangat tinggi untuk melakukan hal itu.lagi pula dia tak ingin tahu masalahnya.gadis itu akan semakin menggodanya apa bila ia memberikan rasa simpati.


harry semakin bingung ketika seorang wanita paru bayah datang membereskan buku-buku di atas meja,lalu memasukkannya ke dalam tas milik maory.tak hanya membereskan,tapi wanita itu juga membantu membawakan barang-barangnya.


apakah dia sedang sakit sehingga membutuhkan pelayan untuk pekerjaan sekecil itu.tapi kenapa harus ke kampus jika memang sakit??.


"hey"akhirnya dinding pertahanan harry runtuh.


"ya"merasa dirinya yang di maksud,maory menghentikan langkahnya lalu berbalik mencari siapa yang menyapa.


"apa kau punya masalah?"


"ah,tidak"


"lalu??"


"lalu?tumben kau bertanya tentangku"


"aku tidak bersimpati seperti yang ada dalam pikiranmu.tapi aku merasa peduli denganmu,hanya sebatas teman kelas"harry berusaha memberi alasan agar gadis itu tidak menggunakan situasi ini untuk mengusilinya.


"aku tahu sikap ku tak bersahabat,tapi jika kau punya masalah,mungkin aku bisa jadi pendengar yang baik"


aku hanya sedang latihan smenjadi laki-laki pengertian.


"kau mungkin punya urusan lain selain mendengar keluhan ku"berbalik melanjutkan langkanya.


"apakah kau menolak kebaikan ku?ketahuilah aku tidak perna pedulih dengan orang lain selama ini".berusaha mensejajarkan langkanya dengan maory.


maory membuang nafas berat.jujur,maory memang sangat membutuhkan pundak untuk bersandar saat ini.hari berat harus ia lewati sendiri setiap tahun,ayahnya juga berduka tapi tidak ingin di ganggu dan jommi,satu-satunya teman yang bisa menghiburnya selama ini juga tidak bisa menemaninya hari ini.benar-bdnar suatu kebetulan,di mana hari ini adalah hari untuk jommi juga harus berduka setelah kehilangan ayahnya.namun bedanya,jommi memperingati hari kematian ayahnya di temani oleh paman dan keluarganya yang ada,sedangkan maory???bahkan ayahnya tidak ada untuk menghiburnya.


tanpa sadar setetes air bening berhasil mengalir di pipinya.harry mendekapnya pelan reflex,mungkin karna benar-benar merasa simpati,tapi mengapa??bukan ka selama ini banyak wanita yang menangis di depannya,namun tak perna sepeduli ini dengan mereka?.


"menangislah,jika itu yang membuat bebanmu terasa ringan"


tidak menyadari bahwa banyak pasang mata mengamati mereka dengan puluhan kamera.