THE HEIR'S ENEMY

THE HEIR'S ENEMY
05


jommi diam dalam duduknya,menatap makam ayahnya tanpa ekspresi.banyak hal yang belum ia tahu tentang kematian ayahnya.


yang ia tahu,beberapa orang datang membawa mayat ayahnya yang berlumur darah.jommi kecil hanya bisa menangis.di temani oleh pamannya dan beberapa teman ayahnya untuk membantunya memakamkan ayahnya.


sungguh keadaan yang sangat menyedihkan bagi jommi.ibunya yang sampai saat ini belum ia tahu keberadaannya,apakah masih hidup atau juga sudah melebur jadi tanah seperti ayahnya.


jommi mengusap pusara ayahnya dengan lembut,menyingkirkan dedaunan kering yang menempel menutupi nama ayahnya.menaburkan bunga dengan lembut lalu meletakkan bunga yang telah di rangkai indah di dekat nama ayahnya.


jommi tidak ingin menangis,meskipun hatinya terluka.


****


felix menatap dua pasang manusia sedang duduk menghadap makam Diana.maory sesekali menitikkan air mata,sedangkan harry mengelus lembut bahunya untuk menenangkan.


"sudahlah.jika kau bersedih apakah ibumu akan bahagia melihatmu?"


"...."


pemandangan ini membuat mata ku sakit.


"apakah anda ingin menambah jam kunjungan nona?"felix bertanya dengan lembut,berusaha menghentikan pemandangan yang membuatnya ingin berteriak itu.sudah 2 jam dia menunggu dengan kesal.bukan karna maory yang terlalu lama,tapi karna laki-laki yang bernama harry itu,entah bagaimana ia bisa menggantikan posisi terbaiknya.


"apakah kau ingin pulang bersama ku??"


harry diam sejenak,menimbang keputusan yang akan ia katakan.


"apakah maksud mu,,,,kau ingin aku menemani mu pulang??"


"jika kau ingin.ini kali pertama aku mengajak teman ke rumah"


"..."kesempatan tanpa perencanaan kan??


"baiklah"


di dalam mobil.


felix melajukan mobil dengan kecepatan sedang.sesekali dia melirik ke kaca spion.takut jika ada kelakuan tak senono yang di lakukan harry kepada majikannya.


"aku tidak perna melihatmu berteman dengan siswa lain di sekolah selain jommi.apakah kau juga pemilih dalam berteman??"


"yah..bisa di bilang begitu"


harry tidak puas dengan jawaban singkat itu.


"alasannya??"


"dulu aku perna punya banyak teman.aku tidak perna merahasiakan sesuatu dari mereka.tentang ayah ku,keluarga ku,dan tentang kehidupan pribadi ku.tidak ada yang aku tutupi.aku hidup layaknya orang pada umumnya.tapi ada satu syarat dalam pertemanan kami.apapun yang mereka tahu,jangan sampai bocor ke media.kecuali jika mendapat izin dari presdir carpindo.tapi...mereka buta dengan uang.banyak informasi tentang ku yang mereka jual.lebih parahnya lagi mereka menjebak ku di sebuah hotel dengan seorang lelaki.aku tidak yakin,tapi bisa saja ada yang ingin menjatuhkan nama baik perusahaan ayah ku.sehingga ada seseorang yang rela membayar mahal teman-teman ku untuk melakukan hal sekeji itu.sampai akhirnya,aku memutuskan untuk tidak mudah percaya dengan orang lain"maory membuang nafas berat"apakah ceritaku terlalu panjang??"


harry tertawa pelan.


"tidak juga.itu adalah penjelasan,bukan cerita"maory hanya tersenyum."itu pasti menyakitkan bagimu".dan harry tiba-tiba merasa iba.


"yah...itu membuatku sangat kecewa"


"maaf aku jadi mengingatkanmu"apa yang membuat harry tiba-tiba merasa bersalah dan minta maaf.sungguh hal yang tidak harry sadari.


"tidak apa-apa,aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini".harry mengeryitkan alisnya bingung."kita sudah sampai"


harry menoleh,memandangi gerbang yang menjulang tinggi dengan takjub.dia kembali mengingat saat mengikuti mobil maory sepulang sekolah.hal yang tidak perna ia bayangkan adalah bangunan mewah yang ada di balik tembok itu.harry terus memandangi ketika mobil berputar memasuki halaman rumah.


mustahil jika penyusup bisa menembus keamanan ini kan??.


harry tidak bisa menutupi rasa kagumnya.rumah yang hanya di huni 2 orang majikan bisa semegah ini.


"ayo masuk.ini baru dari luar,kalau di dalam kau akan lebih takjub lagi"harry mengangguk pelan.dengan malu ia mengakui."normalkan??siapapun akan sama denganku jika melihat hal seperti ini."harry berusaha menenangkan dirinya.


"duduklah"maory tersenyum senang.setidaknya dia merasa punya teman


saat ini.meskipun ia sadari,bahwa laki-laki yang ada di depannya ini belum sepenuhnya ia kenal,tapi dia sendiri percaya,bahwa harry adalah orang yang baik.untuk saat ini.


harry mengngguk pelan,mempersilahkan maory yang telah mengambil langka menaiki tangga.sambil menunggu,harry beranjak dari duduknya,sekedar untuk melihat-lihat,harry memandangi semua pajangan lukisan yang menghias dinding,berapa harga lukisan semegah ini??gumam harry.matanya terus berpencar,memandangi lampu kristal yang tidak bisa ia ekspestasikan harganya berapa.namun pandangannya berhenti,ketika matanya menangkap sebuah foto seorang wanita.tapi dia tidak bisa mengingat di mana perna melihat foto serupa itu.


"permisi tuan".seorang pelayan menyapanya dari belakang.


"oh...iya maaf"harry kembali duduk di sofa.pelayan tadi sudah menyediakan minuman dan beberapa camilan di atas meja.tidak lama kemudian maory muncul dari tangga,dengan setelan dres selutut dan geraian rambut panjangnya,di tambah beberapa aksesoris menghias beberapa bagian tubuhnya.munafik jika harry tidak tertarik dengan gadis itu.tapi harry tidak ingin suaranya terdengar murahan untuk hal yang belum perna ia katakan.


"maaf,ayah ku ada di kamar,tapi tidak bisa menemui mu"


"oh ya??..dia sedang sakit?"


"hanya kurang enak badan saja"


"aku merasa kurang nyaman.aku memasuki rumahnya tapi tidak melihat keadaannya"


"tidak apa-apa.dia juga tidak ingin di ganggu.bahkan aku sendiri tidak ingin dia temui."


harry berusaha tetap bersikap care.bertemu dengan ayah maory adalah hal yang tidak bisa dia bayangkan.meskipun william belum perna melihatnya,namun bisa jadi ada hal-hal yang terjadi di luar kendalinya.banner adalah musuh di balik kekacauan hidup william.dan saat ini dia sedang menjalankan misinya untuk bisa lebih dekat dengan maory.jika dia gagal,mungkin saja ayahnya akan melakukan hal yang belum perna ia bayangkan.


"kok bengong...kenapa??"harry sadar dari lamunannya.


"nggak...aku hanya kepikiran ayah ku saja.dia juga kurang sehat akhir-akhir ini"


"hhh...orang tua memang suka gitu.."


"hmmm..ngomong-ngomong kita di sini mau ngapain??"harry mencari topik mengalihkan pembicaraan yang menurutnya tidak penting.


"mmm.. apa ya???cerita-cerita mungkin.kamu belum cerita tentang keluarga kamu loh..."


"kamu juga belum cerita"


"tapi kamu pasti sudah tahu kan...kamu tinggal search aja di google hhhh..."maory tertawa ringan.tapi apa yang ia katakan memang benar.siapapun pasti akan mengenalnya saat nama pemilik corpindo di sebut.


"sedikit sih..."


"mulai dari kamu dulu deh"harry meneguk tehnya tanpa jawaban.


"ayahmu kerja di mana?"


"ayahku juga pemimpin perusahaan.tapi tidak sebesar ayahmu".harry berhenti sejenak.berpikir untuk merangkai kata yang pas.menjelaskan kehidupan keluarganya adalah hal yang paling rumit.terlebih lagi dia harus menutupi banyak kenyataan dengan kebohongan.


"orang tua ku sudah lama cerai,jadi dulu aku bolak balik dari rumah ibu ke rumah ayahku.tapi sekarang aku nggak tinggal sama orang tua aku lagi.capek..apa lagi sekarang ibu ku tinggalnya di luar negri"harry membeberkan beberapa fakta.


"maksudnya sekarang kamu tinggal sendiri??..di mana??"maory tertarik untuk bertanya.


"aku tinggal dia sebuah apatemen,sekarang aku sedang merintis usaha,meskipun masih sangat kecil tapi aku berusaha untuk mandiri"


"wah kau hebat,tapi apa kau bisa membagi waktu sekolah mu untuk urusan pekerjaanmu??"


"tentu saja tidak.aku punya beberapa orang yang membantuku.(....).kamu tahu gak sih.baru kali ini aku tertarik ngomong tentang diri aku.apa lagi sama orang yang baru sekitar 5 bulan aku kenal".


"hhhhhhh....yang bener nih"maory seakan tak percaya.


"kok bisa ya??..jangan-jangan kamu dukun ya???"ucap harry dengan ekspresi pura-pura bingung.


"baru kali ini juga aku liat kamu banyak bicara.di sekolah jangankan bicara,senyum aja paling cuman nyengir"


ngobrol ringan terus mengalir.tanpa menghiraukan raut wajah tidak suka dari sudut ruangan.matanya terus menatap tajam pada sosok yang terasa asing baginya.


****


**sepih adalah ramai seorang diri,,,


ketika cinta hanya dipendam,,,


tanpa ada keinginan untuk menyampaikan kepada sang pemilik hati.


- FELIX***-