
Rama dan Maya duduk bersama di ruang tamu, meletakkan buku-buku pernikahan di atas meja kopi di depan mereka. Mereka telah menghadiri kelas pra-nikah dan sekarang sedang merenungkan pelajaran yang mereka pelajari.
Maya melihat ke arah Rama dengan senyum lembut. "Rama, kelas pra-nikah tadi begitu bermanfaat, bukan?"
Rama mengangguk setuju. "Iya, Maya. Saya pikir itu membantu kita untuk berbicara tentang hal-hal yang mungkin tidak pernah kita diskusikan sebelumnya."
Maya mengambil buku catatannya dan mulai membacakan beberapa poin yang dia garisbawahi. "Saya suka bagaimana mereka menekankan pentingnya komunikasi dalam pernikahan. Ini membantu kita memahami harapan dan kebutuhan satu sama lain."
Rama menambahkan, "Dan juga bagaimana kita bisa bekerja sama dalam mengatasi konflik. Itu akan sangat penting untuk menjaga hubungan kita tetap kuat."
Mereka juga mulai merencanakan detail pernikahan mereka. Mereka mendiskusikan tema pernikahan, pilihan dekorasi, dan menu makanan dengan penuh semangat. Masing-masing memberikan masukan yang berharga.
Rama tertawa saat Maya mempertanyakan pilihan warna untuk dekorasi. "Mungkin kita bisa menggabungkan kedua warna favorit kita, Maya. Biru dan kuning."
Maya tersenyum. "Itu ide yang bagus, Rama. Biru mewakili ketenangan, dan kuning adalah warna kebahagiaan. Sama seperti perasaan kita."
Namun, persiapan pernikahan bukanlah hanya tentang tugas dan perencanaan. Ada juga waktu untuk momen-momen keintiman bersama. Salah satu malam, mereka duduk di teras penginapan, menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang.
Rama menggenggam tangan Maya dengan lembut. "Maya, aku begitu beruntung memiliki kamu dalam hidupku. Aku tidak sabar untuk memulai perjalanan ini bersama-sama."
Maya tersenyum dan merangkulnya. "Sama, Rama. Kita akan melewati semua ini bersama, tidak peduli apa yang terjadi."
Seiring hari pernikahan mendekat, mereka tahu bahwa pernikahan itu lebih dari sekadar satu hari. Ini adalah awal dari perjalanan seumur hidup yang mereka pilih untuk jalani bersama-sama.
Untuk pesta outdor pernikahan mereka, merekalah sendiri yang memilih dekorasi dan tema yang di gunakan bersama WO ternama di kota itu. Untuk pesta indor mereka serahkan pada orang tua rama.
"besok kita akan menemui Luna selaku pemilik Luna Organizer, WO yang akan berkerja sama dengan kita untuk menyempurnakan tema yang kita bahas sebelumnya" ucap Rama tiba-tiba.
"iy Rama, aku jadi tidak sabar menunggu hari esok" balas maya berbinar
"ini sudah agak larut aku akan mengantarmu pulang sekarang, takut orang tuamu khawatir nyariin kamu"
"kalau sama kamu sih mereka tidak akan khawatir, mereka sudah percaya 100% sama kamu"
"iya, yah" sambil mencolek hidung calon istrinya itu. "kalau begitu kamu nginap aja kalau gitu?"
"di kasih hati minta jantung, ku aduin ayah tau rasa kamu!" balasnya
Mereka tertawa bersama di temani angin malam yang kian merasuk ke tulang
"yuk" Rama menggandeng tangan maya menuju mobilnya untuk mengantar maya pulang karena saat ini Rama tinggal di sebuah penginapan milik orang tuanya dekat dengan Galeri seninya
Tangan mereka bergandengan tanpa mau saling melepaskan seakan ada perekat di telapak tangan kedua pasangan yg selalu kasmaran itu. Tibalah mereka di samping mobil Arjuna kemudian membukakan pintu mobilnya untuk sang kekasih
"silahkan masuk tuan putri" canda Rama mempersilahkan
"Terima kasih pangeran" balas maya melangkah masuk. Kemudian Rama menutupnya lalu memutari mobilnya masuk ke kursi kemudi. Mobil Rama sudah melesat membela jalan di luar kerlip lampu menyinari jalan yang di lalui Rama. Hingga tak terasa sampailah mereka di depan rumah maya.
"tidak dulu ya, lain kali saja"
"baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya?" Maya melambaikan tangan
"iya, besok pagi-pagi aku akan menjemputmu habis ini langsung tidur ya, mimpi in aku!"
"iya, bawel" balas maya berpura-pura kesal
"kamu masuk dulu, baru setelah itu aku akan pergi"
"manis sekali calon suamiku ini" kata maya kemudian berbalik masuk ke rumahnya.
Di dalam rumahnya, maya langsung membuka horden melihat mobil Rama sudah bergerak meninggalkan pekarangan rumahnya hingga tak terlihat. Maya senyum-senyum sendiri dan itu di saksikan kedua orang tuanya yang sedari tadi duduk di sofa ruang tamu mereka.
"ehemm"
"ayah, ibu" ucap maya heran bercampur malu karena tertangkap basah tersenyum sendiri.
"kalau sudah cinta dunia seakan milik berdua" kata ayahnya
"yang lain ngontrak" samber ibunya tertawa
Maya semakin malu karena di ledek orang tuanya, Maya berlari kecil memasuki kamarnya meninggalkan mereka berdua yang masih menertawainya.
*****
Di dalam mobil Rama senyum sendiri mengingat momen pertemuannya dengan maya untuk pertama kalinya di sebuah kolam kecil alami di kaki bukit mencari spot foto yang menarik, dan sekarang gadis yang menyapanya itu sekarang akan menjadi istrinya.
Tak perlu waktu lama Rama sudah ada di penginapan nya, seperti maya yang saat ini sudah dalam kamarnya hendak mengistirahatkan tubuhnya, Rama pun demikian dia langsung masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya tapi senyum itu tak pernah lepas dari bibirnya.
"kamu sekarang lagi apa maya? " gumam mya menatap langit kamarnya. Tapi tak mungkin dapat balasan hanya di sambut hembusan angin di luar jendela.
Malam kian larut tapi Rama masih setia dengan pikirannya, dia masih terjaga. Padahal besok mereka baru akan membahas tema pernikahan mereka tapi dia sudah tak sabar menantikan nya. Bagaimana kalau malam pernikahannya mungkin dia tidak akan bisa tidur. Lama Rama berpikir akhirnya dia tertidur juga.
Kicauan burung dan sinar matahari pagi membangunkan 2 pasang mata yang berbeda di waktu yang sama. Rama bergegas ke kamar mandi tak sabar rasanya menemui sang kekasih hati.
Begitupun maya karena terjaga semalaman dia harus bangun lebih siang dari biasanya. Saat maya berjalan keluar kamarnya untuk mandi ibunya sibuk di dapur untuk memasak memastikan gizi yang baik untuk anggota keluarganya.
"maaf bu, aku telat" ucap maya menghampiri ibunya mengambil piring yang akan di bawa ke meja makan.
"ga apa-apa nak, kamu pasti capek mengurus pesta pernikahan kamu yang sebentar lagi akan di laksanakan" kata ibunya maklum "sana mandi dulu" menghentikan maya yang hendak membantu ibunya.
"baiklah bu" Maya menurut menuju kamar mandi
Selang 16 menit kemudian maya sudah selesai dengan ritual mandi nya sekarang dia sudah terlihat lebih segar. Kemudian masuk kedalam kamarnya lagi mengganti pakaian yang baik karena sebentar lagi Rama akan menjemputnya.