Lucky For Us

Lucky For Us
Bab 3. Keluarga sederhana


Maya memasuki pekarangan rumah dengan hati yang penuh kebahagiaan, namun


tatapannya langsung bertemu dengan wajah khawatir ibunya, Ruhmiati. Ibu Maya


berdiri di depan pintu rumah dengan pandangan yang campur aduk antara kelegaan


dan kekhawatiran.


"Maya! Akhirnya kamu pulang," kata Ruhmiati dengan suara lembut namun penuh


perhatian. "Aku khawatir kamu terlalu lama di luar. Apakah semuanya baik-baik


saja?"


Maya tersenyum dan berjalan mendekati ibunya. "Maafkan aku, Bu. Aku tadi


bertemu dengan seseorang yang sangat menarik di desa. Kami menghabiskan waktu


bersama di bukit, mengobrol dan menikmati pemandangan matahari terbenam."


Ruhmiati melepaskan napas lega, kemudian tersenyum lembut melihat ekspresi


wajah putrinya. "Aku senang kamu baik-baik saja dan menikmati waktu mu. Tetapi,


harap beri tahu aku jika kamu akan pulang lebih malam lagi. Aku khawatir."


Maya mengangguk mengerti. "Tentu, Bu. Aku minta maaf telah membuatmu khawatir.


Aku akan berusaha memberi tahu lebih awal jika aku akan pulang terlambat lagi."


Ruhmiati meraih tangan Maya dengan lembut. "Kamu tahu, putriku, ibu hanya


peduli padamu. Kamu adalah sinar matahari dalam hidupku, dan aku tidak tahan


melihatmu pulang larut seperti ini tanpa kabar."


Maya tersenyum lebar, merasakan hangatnya kasih sayang dari ibunya. "Terima


kasih, Bu. Aku sangat beruntung memiliki ibu sepertimu."


Mereka berdua berpelukan sejenak, merasakan kehangatan dan kedekatan di antara


mereka. Setelah itu Maya memasuki ruang tamu dengan senyum lembut, melihat


ayahnya, Rahman, duduk di sana dengan ekspresi yang seakan-akan tidak ada yang


pernah terjadi. Ayahnya tampak begitu wibawa dan tenang, seolah-olah tidak


membiarkan perasaan khawatir mengganggu ketenangannya.


"Ayah," sapanya dengan suara lembut, sambil mendekati kursi tempat ayahnya


duduk. "Maafkan aku karena pulang agak malam. Aku harap kamu dan Ibu tidak


terlalu khawatir."


Rahman tersenyum dan mengangguk. "Tidak apa-apa, Maya. Kamu sudah cukup dewasa


untuk menjalani hari-harimu sendiri. Aku tahu kamu bisa menjaga dirimu."


Maya merasakan betapa ayahnya mencoba untuk tetap kuat dan tidak menunjukkan


perasaan khawatirnya. Dia tahu bahwa ayahnya juga merasakan kekhawatiran yang


sama dengan ibunya. Meskipun begitu, Maya merasa bersyukur atas sikap positif


ayahnya yang selalu memberikan dukungan.


"Duduklah, Nak," kata Rahman, menunjuk kursi di sebelahnya. "Ceritakan


bagaimana harimu tadi."


Maya duduk dan mulai bercerita tentang pertemuannya dengan pria tampan di


mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum mendengar cerita-cerita


tersebut.


Setelah Maya selesai bercerita, Rahman meletakkan tangannya di bahunya dengan


lembut. "Nampaknya kamu punya hari yang menarik, Nak. Tetapi, ingatlah untuk


selalu berhati-hati dan waspada."


Maya mengangguk. "Terima kasih, Ayah. Aku akan tetap berhati-hati."


Mereka berdua duduk di ruang tamu, berbicara lebih lama tentang kehidupan,


mimpi, dan harapan. Walaupun tak selalu menunjukkan perasaan dengan kata-kata,


Maya merasa terlindungi dan dicintai oleh kedua orangtuanya yang selalu ada


untuknya.


Setelah obrolan singkat di ruang tamu, ibu Maya, Ruhmiati, akhirnya berbicara


dengan lembut, "Maya, bagaimana kalau kita makan malam sekarang? Aku rasa kita


semua sudah sangat lapar dan menunggu kamu pulang."


Maya tersenyum dan mengangguk setuju. "Tentu, Bu. Aku juga sudah lapar."


Mereka berdua berjalan ke dapur, di mana bau harum masakan sudah mengisi


udara. Ayah Maya, Rahman, sudah duduk di meja makan dengan senyum ramah. Mereka


berdua bergabung di meja makan, dan Ruhmiati mulai menyajikan hidangan yang


telah disiapkan.


Saat mereka duduk bersama di meja makan, mereka saling bertukar cerita tentang


apa yang mereka lakukan selama hari itu. Ruhmiati dan Rahman mendengarkan


dengan penuh minat saat Maya menceritakan tentang pertemuannya dengan pria


tampan di desa dan petualangan di bukit. Mereka juga berbicara tentang rencana


dan harapan untuk masa depan.


Saat makan malam berlangsung, suasananya hangat dan penuh kebersamaan. Maya


merasa begitu bersyukur memiliki keluarga yang peduli dan selalu ada untuknya.


Meskipun mereka mungkin tidak selalu menunjukkan perasaan khawatir dengan


kata-kata, tetapi cinta dan perhatian mereka begitu terasa dalam setiap


tindakan dan momen bersama.


Setelah makan malam selesai, mereka membersihkan meja bersama dan kembali ke


ruang tamu. Mereka duduk bersama di sofa, bercanda dan tertawa, sementara


matahari terbenam di luar jendela. Maya merasa begitu bahagia di tengah-tengah


keluarganya, dan dia tahu bahwa momen-momen seperti ini adalah yang benar-benar


berarti dalam hidupnya.


Malam kian larut mereka memutuskan untuk istirahat, pertemuan singkat dengan


pria sore tadi cukup untuk membuatnya terjaga di pembaringan ya hingga akhirnya


dia tertidur juga dengan harapan esok akan ada hari seperti hari ini.