Lucky For Us

Lucky For Us
Bab, 8. Rencana lamaran


Bulan berlalu, hasil jepretan Rama semakin bagus kini Rama berhasil membuka galeri nya sendiri untuk memamerkan hasil jepretan nya dan berkat dukungan dan berbagai masukan sang kekasih, Maya. Rama semakin bersemangat dan hasil foto-foto nya di rasanya lebih hidup serta menarik para penggemar fotografi.


Beberapa hari kemudian Orang tua rama datang berkunjung ke galeri putranya yang berhasil menarik minat para pecinta fotografi. Obrolan mereka teralihkan saat mata mereka menangkap sebuah foto pepohonan di antara gunung di sore hari yang menurut mereka sangat indah. Melihat orang tuanya terdiam Rama mengikuti arah pandang mereka dan tersenyum. 


Flah back on...


Suatu hari, mereka berdua pergi ke perbukitan terdekat untuk menjelajahi alam. Rama membawa kamera favoritnya, siap untuk menangkap momen-momen indah yang ada di sekitarnya. Maya mengagumi kecintaan Rama pada fotografi, tetapi dia merasa ada sesuatu yang bisa dia bagikan kepada Rama.


Saat mereka berdiri di puncak perbukitan, matahari terbenam sedang merayakan warna-warni di langit. Rama segera mengangkat kameranya untuk mengambil foto matahari terbenam yang menakjubkan itu, tetapi Maya menyentuh lengannya dengan lembut.


"Rama," kata Maya, "bolehkah aku memberikan saran? Sebagai seorang pencinta alam, aku merasa kita bisa mengambil foto ini dengan cara yang berbeda."


Rama memandang Maya dengan penuh perhatian, menaruh kameranya di samping. "Tentu, Maya. Aku selalu terbuka untuk saranmu. Apa yang kamu pikirkan?"


Maya tersenyum dan menunjuk ke arah puncak bukit yang jauh. "Lihatlah ke sana, kejauhan, di antara pepohonan dan gunung yang menjulang. Saya ingin Anda menangkap kesederhanaan alam di sana, seolah-olah itu adalah pemandangan yang bersembunyi dari mata manusia biasa. Alihkan fokus dari matahari terbenam dan temukan keindahan dalam yang tersembunyi."


Rama merenung sejenak, lalu mengangguk. Dia mengubah pengaturan kameranya dan mengarahkannya ke arah yang Maya tunjukkan. Dia mengambil foto itu, dengan cahaya matahari yang berwarna emas lembut menggantikan sorotan utama.


Ketika Rama melihat hasilnya, dia tercengang. Maya benar-benar memberikan perspektif baru yang menakjubkan pada fotografi alamnya. Foto itu menunjukkan keindahan yang halus dan sederhana di tengah keramaian alam.


"Dengan saranmu, Maya," kata Rama dengan penuh kagum, "aku merasa kita tidak hanya menangkap keindahan alam, tetapi juga keintiman yang tersembunyi di dalamnya. Terima kasih."


Maya tersenyum bahagia dan mengatakan, "Tidak masalah, Rama. Kita selalu bisa belajar dari alam dan satu sama lain. Bersama-sama, kita dapat menangkap semua keajaiban yang ada di sekitar kita."


Dari saat itu, Rama belajar untuk melihat alam dengan mata Maya, menangkap keindahan yang lebih dalam, dan keduanya terus menjelajahi dunia alam dengan pandangan yang lebih mendalam tentang cinta mereka dan keindahan di sekitar mereka. 


Falsh back off... 


Setelah kunjungan orang tuanya dan memberitahukan tentang pandangan maya terhadap alam membuat Rama merasa semakin yakin bahwa Maya adalah orang yang tepat untuk mendampinginya seumur hidup. Setiap momen bersama Maya membuatnya semakin kalau maya adalah orang yang tepat untuk mendampingi nya. Rama merasa bahwa dia ingin membuat momen lamaran itu menjadi sesuatu yang istimewa dan tak terlupakan.


Rama duduk di ruang kerjanya, berpikir keras tentang bagaimana cara yang sempurna untuk melamar Maya. Dia tahu bahwa dia ingin melakukan itu di kafe favorit mereka, tempat yang penuh dengan kenangan indah. Namun, dia bingung tentang bagaimana menjadikannya momen yang tak terlupakan.


Akhirnya, Rama memutuskan untuk mencari nasihat dari sahabatnya, Arif. Dia tahu bahwa Arif adalah orang yang penuh ide kreatif dan selalu memberikan saran yang bijaksana.


Rama menghubungi Arif dan mengundangnya untuk bertemu di kafe. Saat mereka duduk bersama di sudut kafe yang nyaman, Rama mulai menceritakan rencananya untuk melamar Maya.


"Arif, aku ingin momen ini menjadi sesuatu yang luar biasa bagi Maya," kata Rama dengan penuh semangat. "Tapi aku bingung tentang cara melakukannya dengan cara yang benar."


Rama mendengarkan dengan antusiasme. "Itu terdengar bagus, Arif. Apa lagi?"


Arif melanjutkan, "Kemudian, saat momen yang tepat tiba, Katakan padanya betapa berartinya dia dalam hidupmu dan bagaimana kamu tidak bisa membayangkan hidup tanpanya."


Rama tersenyum mendengar saran-saran Arif. "Terima kasih, Arif. Aku akan melakukan yang terbaik untuk melakukannya. Aku harap dia akan mengatakan 'ya'."




Beberapa hari kemudian, Rama mengundang Maya ke kafe favoritnya. Semua persiapan telah dilakukan, dan suasana kafe dipenuhi dengan aroma bunga dan lagu-lagu yang indah.


Saat Maya masih sibuk mengobrol dengan orang tuanya juga ibu dan ayah Rama, Rama diam-diam bersiap-siap untuk mengungkapkan kejutannya. Dia telah merencanakan momen spesial ini dengan sangat hati-hati, dan kafe favorit mereka adalah tempat yang sempurna.


Rama melangkah ke arah petugas kafe dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap. Musisi yang telah ia sewa mulai memainkan lagu-lagu romantis di sudut kafe. Sementara itu, staf kafe membawa meja kecil ke tengah ruangan dan meletakkan piring-piring yang berkilauan dan bunga-bunga segar di atasnya.


Maya dan orang tuanya serta orang tua Rama tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ketika mereka kembali ke meja, mata Maya memancar kaget saat melihat suasana yang berbeda.


"Rama, apa yang sedang terjadi?" tanya Maya, terkejut.


Rama tersenyum misterius. "Ini adalah kejutan untukmu, Maya."


Musisi kafe memainkan lagu favorit mereka, dan Rama mengundang Maya untuk berdiri. Dia menggenggam tangan Maya dengan lembut dan berkata, "Maya, kita telah berbagi begitu banyak momen indah bersama. Hari ini, aku ingin berbagi satu momen indah lagi bersamamu."


Rama berlutut di hadapan Maya dan mengeluarkan kotak kecil yang berkilauan dari saku jaketnya. Ketika kotak itu terbuka, mata Maya berbinar ketika dia melihat cincin berlian yang indah.


"Maya, apakah kamu mau menjadi istriku?" ucap Rama dengan suara lembut.


Maya terdiam sejenak, air mata kebahagiaan mengembang di matanya. Dia menutup mulutnya dengan gemetar dan akhirnya mengangguk dengan penuh sukacita. "Tentu, Rama. Aku mau."


Kafe itu riuh oleh tepuk tangan dan sorakan dari orang-orang yang hadir, dan musisi kafe melanjutkan lagu romantis mereka.


Rama dan Maya merangkul satu sama lain dalam kebahagiaan yang tak terkatakan. Malam itu adalah malam yang indah dan berkesan bagi mereka berdua, dan sebuah babak baru dalam perjalanan mereka sebagai pasangan yang baru bertunangan.