Lucky For Us

Lucky For Us
Bab, 6. Bunga untuk Siska


Maya dan Siska bertemu pertama kali di toko bunga Maya di pinggiran kota, sekitar 1 jam perjalanan dari rumah mereka. Keberangkatan Siska ke toko itu tidak terlalu direncanakan. Ia diundang oleh salah satu teman sosialitanya


untuk membeli bunga di sana. Temannya telah memberikan banyak pujian tentang toko milik Maya yang terkenal dengan keindahan dan keunikan bunga-bunga di sana.


Siska merasa penasaran dan bersedia menghabiskan waktu untuk perjalanan tersebut. Tanpa banyak pertimbangan, ia pun pergi ke toko bunga Maya pada suatu pagi. Begitu ia tiba, pandangannya langsung tertarik oleh rangkaian bunga-bunga yang indah dan beragam. Siska berjalan mengelilingi toko, memandangi setiap rangkaian bunga dengan kagum.


Ia merasa bahwa toko ini benar-benar luar biasa, dengan aroma bunga segar yang mengisi udara. Saat itulah, Maya datang mendekati dengan senyuman ramah di wajahnya.


Maya (sopan): "Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"


Siska (tersenyum): "Selamat pagi. Saya mendengar banyak pujian tentang toko bunga Anda."


Maya (tersenyum tulus): "Terima kasih, Bu. Saya senang Anda datang. Apakah Anda mencari sesuatu khusus?"


Siska (terkesan): "Saya ingin membeli rangkaian bunga yang indah untuk acara spesial. Teman saya memberi tahu saya bahwa toko Anda memiliki rangkaian bunga yang sangat menarik."


Maya (mengangguk): "Tentu, saya akan membantu Anda mencari yang sesuai. Apa tema acaranya?"


Siska (berpikir sejenak): "Ini adalah pesta pernikahan teman saya. Saya ingin bunga yang elegan dan anggun."


Maya (tersenyum): "Baik, saya punya beberapa rangkaian yang mungkin sesuai. Silakan ikuti saya."


Maya membimbing Siska melalui berbagai jenis bunga yang tersedia di toko. Mereka berbicara dengan ramah, dan Maya dengan bijak menyertakan penjelasan tentang filosofi di balik setiap jenis bunga.


Maya (tersenyum penuh semangat): "Tahukah Anda, Bu, bahwa setiap jenis bunga memiliki makna dan filosofi yang berbeda? Misalnya, bunga mawar sering diartikan sebagai simbol cinta dan keindahan. Sedangkan bunga lily melambangkan


kemurnian dan kegembiraan."


Siska (tertarik): "Benarkah? Saya tidak tahu tentang itu."


Maya (bercerita dengan semangat): "Ya, setiap bunga bisa memiliki pesan yang mendalam. Seperti ini, bunga lavender melambangkan keharmonisan dan ketenangan, sedangkan bunga anggrek mewakili keanggunan dan keunikan."


Siska (terkesima): "Saya tidak pernah tahu bahwa bunga bisa memiliki makna seperti itu."


Maya (tersenyum): "Bunga adalah simbol keindahan alam dan perasaan manusia. Dengan memilih rangkaian bunga yang sesuai, kita juga bisa mengungkapkan perasaan dan pesan yang ingin kita sampaikan."


Siska merasa terkesan oleh pengetahuan dan semangat Maya dalam berbicara tentang bunga. Ia merasa bahwa Maya bukan hanya seorang penjual bunga, tetapi juga seorang seniman yang mampu menghadirkan keindahan dan makna dalam karyanya.


Siska (tersenyum): "Anda sungguh mengagumkan, Maya. Saya merasa bahwa Anda memiliki kedalaman pengetahuan tentang bunga."


Maya (tersenyum tulus): "Terima kasih, Bu. Saya selalu berusaha untuk berbagi pengetahuan dan keindahan bunga dengan orang lain."


Percakapan mereka bukan hanya seputar bunga, tetapi juga membawa Siska untuk melihat sisi lain dari Maya yang berpengetahuan luas dan memiliki semangat yang pandangan yang luas. Setelah memilih rangkaian bunga yang sesuai, Siska merasa senang dengan pengalaman berbelanja di toko bunga Maya. Ia merasa bahwa pertemuan ini telah membawanya untuk melihat sisi positif Maya yang penuh semangat dan pengetahuan..


Tidak lama setelah Maya dan Siska memiliki percakapan yang tulus di toko bunga, Rama memutuskan untuk membawa Maya ke rumahnya untuk makan malam bersama dan mengenalkannya pada keluarganya.


Maya merasa campur aduk antara gugup dan antusias. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan keluarga Rama, dan ia ingin memberikan kesan yang baik. Setelah menyiapkan dirinya dengan hati-hati, ia bersama Rama tiba di rumah


keluarga Rama. Andi dan Siska menyambut mereka dengan hangat di pintu depan. Andi tersenyum dan memberikan salam ramah, sementara Siska mencoba untuk menunjukkan senyum ramahnya, meskipun ada sedikit rasa tidak suka melihat penampilan Maya yang biasa.


Andi (sambutan hangat): "Selamat datang, Rama, Maya. Kami sangat senang kalian berdua datang."


Maya (tersenyum sopan): "Terima kasih, Pak Andi. Kami juga senang bisa datang."


Siska (tersenyum tipis): "Selamat datang, Maya."


Andi (berbicara pada Maya): "Rama telah banyak menceritakan tentangmu, Maya. Dia sangat mengagumi kemampuanmu dalam merangkai bunga."


Maya (tersenyum malu): "Terima kasih, Pak Andi. Saya hanya senang bekerja dengan bunga."


Siska (bertanya pada Maya): "Bagaimana kamu pertama kali tertarik pada bisnis bunga?"


Maya (berseri-seri): "Saya selalu merasa bahwa bunga memiliki cara unik untuk mengungkapkan perasaan dan emosi. Saya merasa sangat terhubung dengan bunga sejak kecil, dan seiring waktu, saya belajar cara merangkai bunga dengan


berbagai makna."


Siska (mulai tertarik): "Begitu ya? Aku harus mengakui bahwa aku tidak tahu banyak tentang bunga."


Maya (tersenyum): "Tidak masalah, Bu. Saya senang berbicara tentang bunga dan bagaimana kita bisa menghargai keindahan alam melalui mereka."


Percakapan itu memberikan peluang bagi Siska untuk melihat sisi Maya yang memiliki pengetahuan dan ketertarikan yang mendalam terhadap bunga. Meskipun masih ada rasa ragu dalam dirinya, Siska merasa lebih tertarik dan ingin tahu tentang keahlian Maya.


Setelah itu, mereka pun duduk untuk makan malam bersama. Makanan lezat dan suasana yang semakin nyaman membantu melonggarkan suasana. Percakapan mulai mengalir dengan lebih alami, dan Siska mulai merasa lebih nyaman berbicara dengan Maya. Malam itu berjalan dengan baik, dan Maya berhasil menunjukkan sisi dirinya yang ramah dan berpengetahuan.


Adanya Andi dan Siska di meja memberikan rasa


hangat dan keluarga pada pertemuan ini. Meskipun masih ada perjalanan yang harus ditempuh, pertemuan ini adalah langkah penting menuju pemahaman dan hubungan yang lebih baik antara Maya dan keluarga Rama.. . Saat makan malam dimulai, suasana semakin terasa nyaman di sekitar meja makan. Percakapan mulai


mengalir dengan lebih lancar, dan semua orang terlibat dalam berbicara tentang berbagai topik. Rama dengan senang hati bercerita tentang kegiatan dan pekerjaannya, sementara Andi berbicara tentang perkembangan perusahaannya.


Sementara itu, Reza yang selama ini lebih pendiam mulai tertarik pada Maya. Ia


mendengarkan dengan seksama ketika Maya menceritakan kisahnya tentang bunga-bunga dan filosofi di baliknya. Matanya memperhatikan setiap ekspresi wajah Maya dengan penuh perhatian.


Reza (bertanya pada Maya): "Maaf, Maya. Aku belum tahu banyak tentangmu. Bisakah kamu ceritakan lebih banyak tentang dirimu?"


Maya (tersenyum ramah): "Tentu, Reza. Saya tinggal di desa tak jauh dari kota J, tempat saya memiliki toko bunga kecil."


Reza (antusias): "Wow, itu sangat menarik! Aku tidak pernah bertemu seseorang yang memiliki bakat seperti itu sebelumnya."


Maya (tersenyum malu): "Terima kasih, kak Reza. Saya hanya berusaha mengejar apa yang saya cintai."


Reza (bertanya lebih lanjut): "Bisakah kamu menunjukkan beberapa bunga yang kamu jual? Aku sangat ingin melihatnya kalau menarik mungkin saya bisa merekomendasikannya pada teman-teman saya."


Maya (senang): "Tentu saja, aku bisa mengirimkan beberapa foto nanti."


Saat obrolan berlanjut, Siska diam-diam memperhatikan reaksi Reza terhadap Maya.


Siska (berbicara pada Maya): "Maya, bagaimana kamu bisa membagi waktu antara merangkai bunga dan merawatnya?"


Maya (tersenyum): " saya hanya melanjutkan usaha orang tua dan sedikit merubahnya agar lebih kekinian."


Siska (terkesan): "Itu luar biasa. Kamu memiliki semangat yang menginspirasi."


Maya (tersenyum tulus): "Terima kasih, Bu Siska. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki hobi dan minat yang bisa membuat mereka bahagia."


"sudah, sudah kita lanjutkan ngobrolnya nanti, kita makan dulu" sahut andi menyela agar tidak semakin panjang.


Mereka akhirnya makan malam dengan khidmat. Dalam hati Maya merasa bersyukur telah diberi kesempatan untuk mengenal keluarga Rama lebih dekat, dan Siska mulai merasa lebih positif terhadap Maya. Meskipun masih ada tantangan yang harus dihadapi, pertemuan ini adalah langkah pertama menuju harmoni dan pemahaman di antara mereka.