
Beberapa hari setelah malam itu, Adrian terus memikirkan cara mendekati maya. Namun, saat ini dia hanya berusaha sesering mungkin memunculkan dirinya di mata Maya.
Suatu hari, saat sedang dalam perjalanan ke kantor, Adrian memutuskan untuk makan siang di salah satu kafe. Dia memesan makanan dan minuman duduk di sudut kafe, sambil merenung dan mengamati orang-orang yang datang dan pergi.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sepasang yang duduk di sudut seberang. Itu adalah Maya dan Rama. Maya terlihat cantik seperti biasa, dan Rama tampak begitu bahagia di sampingnya. Mereka berbicara dengan penuh tawa dan keceriaan, sepertinya menikmati setiap momen bersama.
Adrian merasa seakan-akan takdir sedang menggodanya. Dia tahu bahwa inilah kesempatan untuk mendekati Maya dan mengambil sedikit perhatiannya. Tapi sekaligus, dia juga merasa ragu, dengan reaksi Rama.
Dia memesan secangkir kopi lagi, mencoba meredakan ketegangan yang mulai memenuhi dirinya. Apakah dia harus pergi ke meja mereka? Apakah dia harus membiarkan mereka menikmati makanan mereka tanpa gangguan?
Akhirnya, Adrian memutuskan untuk tetap di tempatnya. Dia tahu bahwa pertemuan mereka tidak akan menjadi saat yang tepat. Ini adalah waktunya sedikit mengambil perhatian tanpa harus bertindak dahulu cukup memperlihatkan kemisteriusannya dahulu. Pikirnya, tersenyum smirk.
Dia melanjutkan makan siangnya sendiri, meskipun pikirannya terus melayang ke meja seberang. Apa yang akan terjadi jika Maya melihatnya? Apa yang akan dia katakan? Tidak ada jawaban yang pasti.
******
Rama dan Maya duduk di meja kafe dengan senyum yang tak henti-henti menghiasi wajah mereka. Mereka tengah asyik mengobrol tentang rencana pernikahan mereka, berbagi ide tentang dekorasi, undangan, dan tempat pernikahan yang sempurna.
"Kamu tahu, Maya, aku pikir taman adalah pilihan yang sempurna untuk pernikahan kita. Alam dan keindahan alam terbuka akan membuat momen ini lebih berkesan," kata Rama dengan penuh semangat.
Maya tersenyum lembut. "Aku setuju, Rama. Dan nanti kita bisa menambahkan sentuhan biru dan kuning kesukaan kita pada dekorasinya. Aku yakin itu akan menjadi pernikahan yang indah."
Saat mereka terus berbicara, mata Maya tanpa disadari melirik ke arah meja yang berbeda. Di sana, Adrian duduk sendirian, sambil menyesap secangkir kopi. Mata mereka bertemu dalam sekejap, dan Maya merasa seolah-olah waktu berhenti sejenak.
Dia mencoba menekan perasaan kagetnya, segera berbalik kembali untuk fokus pada percakapannya dengan Rama. Dia takut jika Rama akan merasa cemburu atau marah jika mengetahui tentang masa lalu mereka bersama Adrian.
Rama, yang tidak menyadari kejadian itu, melanjutkan dengan bersemangat, "Kita juga perlu merencanakan kartu undangan. Aku ingin itu menjadi sesuatu yang istimewa."
Maya setuju, tetapi pikirannya masih tertuju pada Adrian. Apa yang dia lakukan di sana? Apa maksud kedatangannya? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuinya, tetapi dia berusaha menjaga ketenangan dan terus mengobrol dengan Rama.
Namun, di sudut hatinya, Maya tahu bahwa masa lalu yang belum terselesaikan sedang mencoba untuk kembali dalam hidupnya.
Ingatannya kembali membawanya ke malam pesta pernikahan Arif, teman Rama. Dia melihat Pria misterius disana yang ternyata itu adalah Adrian, dia tahu itu setelah dia memikirkannya semalaman, dan itu adalah pertemuan yang mendalam yang membuatnya merasa bahwa ada sesuatu yang belum selesai antara mereka, sesuatu yang harus dia hadapi.
Maya mencoba menjaga ketenangannya saat dia berbicara dengan Rama tentang dekorasi pernikahan mereka, tetapi dia tidak bisa menghilangkan kegelisahan dalam hatinya. Dia merenungkan apakah sebaiknya dia memberi tahu Rama tentang pertemuannya dengan Adrian atau tidak.
Maya menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk jujur. "Rama, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Malam ini, saat kita di sini, aku melihat seseorang yang sangat aku kenal."
Rama memandang Maya dengan rasa penasaran. "Siapa itu, Maya?"
Maya menatap Rama dengan mata penuh ketulusan. "Itu adalah Adrian, teman kuliahku dari masa lalu. Kami memiliki kenangan bersama, dan aku tidak pernah memberi tahumu sebelumnya."
Rama menarik napas dalam-dalam, mencoba mengolah informasi itu. Meskipun dia merasa sedikit cemburu, dia menghargai ketulusan Maya. "Kenapa kau tidak memberi tahuku sebelumnya, Maya?"
Maya menjawab dengan jujur, "Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahumu. Tapi aku merasa sekarang adalah saat yang tepat. Aku ingin berbicara dengan Adrian dan menyelesaikan semua yang ada di antara kami."
Rama mengangguk mengerti. "Tentu saja, sayang. Aku mendukungmu sepenuhnya. Apa yang ingin kau katakan pada Adrian?"
Maya tersenyum, merasa lega karena Rama memahami. "Aku hanya ingin menjelaskan semuanya, menjelaskan bahwa aku bahagia bersamamu, dan bahwa masa laluku bersama Adrian sudah berakhir."
Mereka berbicara dengan hati-hati tentang rencana Maya untuk berbicara dengan Adrian. Rama, meskipun merasa sedikit cemburu, tahu bahwa Maya telah memilihnya dan bahwa masa lalu harus diselesaikan untuk membuat hubungan mereka semakin kuat.
Sementara itu, Adrian duduk sendirian di sudut kafe, menyesap secangkir kopi, dan melanjutkan memikirkan tentang pertemuan yang tak terduga ini. Baginya, ini adalah titik balik yang akan membawa kejelasan dan penyelesaian untuk masa lalunya bersama Maya.
Setelah Maya menyadari bahwa pria di meja berbeda adalah Adrian, dia merasa bahwa saatnya telah tiba untuk berbicara dan mengklarifikasi semua yang ada di antara mereka. Dengan hati yang berdebar-debar, dia memberitahu Rama bahwa dia akan sebentar pergi dan menyusulnya. Rama, yang memahami situasinya, memberi restu dengan senyum.
Maya bangkit dari kursinya, menyesap sisa kopi dalam cangkirnya, dan perlahan berjalan ke arah tempat Adrian duduk. Dia merasa hatinya berdebar keras karena tidak tahu bagaimana Adrian akan merespons pertemuannya.
Namun, saat Maya mencapai meja Adrian, dia menyadari bahwa tempat itu sudah kosong. Adrian telah pergi, meninggalkan kafe tanpa memberikan tanda-tanda bahwa dia menyadari kehadiran Maya. Perasaan Maya campur aduk. Dia merasa bingung dan sedikit kecewa.
Dia memutuskan untuk mengejar Adrian, melangkah cepat keluar dari kafe. Namun, ketika dia mencapai pintu keluar, dia hanya melihat ekor jas Adrian yang menghilang di tikungan jalan. Dia merasa seperti kesempatan pertemuan itu telah hilang entah ke mana.
Maya menghela nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Mungkin itu adalah pertanda bahwa masa lalu mereka harus tetap menjadi masa lalu. Dia berpikir bahwa mungkin itu adalah tanda bahwa dia harus fokus pada masa depan bersama Rama, yang telah memahaminya dan mendukungnya sepenuhnya.
Sambil berjalan kembali ke kafe, Maya merenungkan arti pertemuan yang singkat dengan Adrian. Apa yang seharusnya dia katakan padanya jika dia tetap di sana? Apakah itu akan mengubah sesuatu atau hanya akan membingungkan mereka lebih jauh?
Sementara Maya merenungkan pertanyaan-pertanyaan itu, kembali ke meja tempat Rama menunggunya. Dia merasa bahwa sekarang adalah saatnya untuk fokus pada rencana pernikahan mereka dan membiarkan masa lalu tetap di belakang.