Lucky For Us

Lucky For Us
Bab, 7. Keraguan


Setelah pertemuan di rumah keluarga Rama, Maya merasa ada perubahan dalam sikap Siska terhadapnya. Meskipun Siska berusaha menunjukkan sikap yang lebih baik, Maya masih merasakan adanya sedikit ketidakjujuran dalam perilakunya. Maya merasa ada hal yang tidak beres, tetapi ia juga tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan.


Beberapa hari setelah pertemuan itu, Maya dan Rama duduk berdua di toko bunga sambil merangkai bunga-bunga baru. Maya merasa perlu berbicara dengan Rama tentang keraguannya terhadap sikap Siska.


Maya (berbicara pelan): "Rama, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."


Rama (menghentikan pekerjaannya): "Tentu, Maya. Ada apa?"


Maya (menggigit bibirnya ragu): "Aku merasa ada yang tidak beres dengan sikap Bu Siska terhadapku."


Rama (tertawa pelan): "Apa maksudmu?"


Maya (menggelengkan kepala): "Aku tidak tahu pasti, tapi aku merasa bahwa sikapnya tidak sepenuhnya jujur. Meskipun dia berusaha menunjukkan sikap yang baik, aku merasa ada sedikit ketidakjujuran dalam perilakunya."


Rama (berpikir sejenak): "Sulit untuk mengatakan dengan pasti, Maya. Mungkin dia masih perlu waktu untuk mengenalmu lebih baik."


Maya (berpikir): "Tapi ada sesuatu yang tidak nyaman. Aku ingin menjaga hatiku tetap terbuka, tapi aku juga tidak ingin dipermainkan."


Rama (menyentuh tangan Maya dengan lembut): "Aku mengerti perasaanmu, Maya. Tapi ingatlah bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan perasaannya sendiri. Mungkin ada alasan tertentu di balik sikapnya."


Maya (menghela nafas): "Mungkin kamu benar. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak terlalu terjebak dalam situasi yang mungkin merugikan."


Rama (tersenyum): "Jangan terlalu khawatir, Maya. Kita akan terus bersikap terbuka dan melihat bagaimana situasinya berkembang. Ingatlah bahwa kita memiliki waktu untuk mengenal satu sama lain lebih baik."


Maya merasa lega setelah berbicara dengan Rama. Dia menyadari bahwa penting untuk tetap waspada, tetapi juga memberi kesempatan kepada Siska untuk membuktikan dirinya. Maya memutuskan untuk tetap terbuka dalam menjalani hubungan dengan keluarga Rama, sambil tetap memperhatikan segala tindakan dan perilaku di sekitarnya.


Pertemuan pertama di rumah keluarga Rama mungkin telah meninggalkan keraguan dalam hati Maya, tetapi dia juga berharap bahwa dengan komunikasi yang jujur dan sikap yang bijak, semua hal tersebut akan dapat diatasi seiring berjalannya waktu.


.


.


Suatu hari, di ruang keluarga yang hangat, Andi dan Siska duduk bersama. Mereka sedang membaca buku dan menikmati secangkir teh.


Siska (menghela napas): "Andi, aku ingin berbicara tentang Rama dan Maya."


Andi (penasaran): "Tentang apa, Sayang?"


Siska (berbicara dengan hati-hati): "Andi, aku merasa sedikit khawatir tentang Maya. aku merasa dia tidak sederajat dengan kita."


Andi: "Bagaimana begitu, Siska?"


Andi (berpikir sejenak): "Siska, aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilannya. Maya adalah gadis yang baik dan memiliki kepribadian yang hangat."


Siska (mengangguk): "Aku mengerti, tapi aku merasa bahwa Maya dan Rama sangat berbeda. Rama adalah anak tampan dan mapan, dan mungkin dia berhak untuk lebih dari sekadar penampilan."


Andi: "Siska, kebahagiaan Rama juga penting. Saya percaya bahwa dia memiliki perasaan yang tulus terhadap Maya. Penampilan bukanlah segalanya, yang penting adalah hubungan mereka bersifat saling menghormati dan mendukung."


Siska (berpikir sejenak): "Aku tahu bahwa Rama adalah anak kita yang baik. Tapi sebagai orang tua, tentu saja kita ingin yang terbaik untuknya."


Andi: "Siska, kita harus memandang lebih jauh dari itu. Rama adalah anak kita yang kita besarkan dengan baik. Dia memiliki nilai-nilai yang kuat dan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat."


Siska (tersenyum sedikit): "Andi, aku tahu kamu benar. Aku hanya ingin melihat Rama bahagia dan sukses."


Andi (menggenggam tangan Siska): "Aku juga ingin hal yang sama, Sayang. Kita harus mendukung Rama dalam setiap langkah yang dia ambil, termasuk dalam hubungannya dengan Maya."


Beberapa hari kemudian, Rama dan Maya datang berkunjung ke rumah. Andi (tersenyum pada Rama): "Bagaimana kabarmu, Rama?"


Rama (tersenyum): "Baik-baik saja, Ayah."


Siska (tersenyum pada Maya): "Maya, apa kabar?"


Maya (tersenyum): "Saya baik, Bu Siska."


Setelah bercakap-cakap sebentar, Andi dan Siska mengajak Rama dan Maya untuk duduk bersama di ruang keluarga.


Andi (berbicara dengan lembut): "Rama, Maya, kami ingin kalian tahu bahwa kami mendukung kebahagiaan kalian."


Rama (terkejut): "Terima kasih, Ayah, Bu. Kami sangat menghargainya."


Siska (tersenyum pada Rama dan Maya): "Kami mungkin memiliki beberapa kekhawatiran, tapi yang terpenting adalah kalian berdua bahagia bersama."


Andi (tersenyum): "Kami berharap kalian bisa menjalani hubungan ini dengan baik dan saling mendukung."


Maya (terharu): "Terima kasih, Pak Andi, Bu Siska. Kami akan berusaha yang terbaik."


Setelah percakapan yang tulus dan terbuka itu, Rama dan Maya merasa lega. Mereka merasa bahwa dukungan dari orang tua Rama sangat berarti bagi hubungan mereka.


Waktu berlalu Andi dan Siska semakin melihat betapa Rama dan Maya saling mencintai dan saling menghargai. Mereka merasa bahwa cinta dan kesatuan mereka jauh lebih penting daripada penampilan atau perbedaan latar belakang. Andi dan Siska mengambil langkah untuk memahami Maya lebih dalam dan menyadari bahwa kebahagiaan putra mereka adalah hal yang paling penting.


Perlahan-lahan, Siska merasakan perubahan dalam pandangan mereka. Mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak terhalang oleh penampilan atau perbedaan status sosial.