Lucky For Us

Lucky For Us
Bab, 12. Adrian


Malam itu, setelah Maya pulang setelah di antar oleh Rama, Rama kemudian pulang ke penginapan nya. 


Di tempat lain seorang pria Adrian namanya, duduk di dalam mobil hitam yang terparkir di persimpangan jalan. Adrian adalah seorang kenalan lama Maya, seseorang yang pernah mengisi hati Maya waktu mereka masih di universitas Namun, tanpa kejelasan hubungan mereka Maya pergi meninggalkan adrian. 


Adrian telah mendengar kabar tentang pertunangan Maya melalui percakapan di antara tamu di pesta tadi. Dia merasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan Maya saat ini. Mengapa Maya memilih Rama? Apa yang membuatnya begitu spesial?


Adrian kemudian menghubungi seseorang untuk membantunya lalu mengirim foto yang dia ambil di pesta tadi ke pada seseorang. 


"Daniel cepat cari tahu semua tentang kedua orang yang ada di foto itu" Perintah adrian kepada seorang di seberang sana yang merupakan asisten pribadinya. 60 menit berlalu Adrian masih berkutat dalam pikirannya tentang gadis pujaan nya yang pergi begitu saja. 


Tring.. Bunyi Notifikasi mengagetkan adrian dari lamunan nya, daniel telah mengirimkan informasi dari sang asisten. 


Dia memeriksa berbagai informasi yang dia dapatkan, mencocokkan nama dan wajah dengan gambar yang dia temukan. Dalam beberapa jam, dia memiliki gambaran yang lebih jelas tentang Maya dan Rama.


Adrian mencatat setiap detail yang dia dapatkan, dari pekerjaan Maya hingga tempat tinggalnya. Dia ingin tahu siapa yang pernah bertemu dengannya dan apa yang membuatnya begitu istimewa. Namun, yang paling penting, dia ingin tahu apakah Maya masih ingat dengannya


Saat malam semakin larut, Adrian memutuskan untuk melakukan pengamatan lebih lanjut. Dia tahu bahwa dia harus bertindak hati-hati agar tidak terlalu mencurigakan. dia menutup laptopnya, mengendarai mobil hitamnya, dan bergerak meninggalkan area itu. Pulang ke resor tempat tinggalnya saat ini. 


Adrian merenung tentang masa lalu mereka, tentang kenangan-kenangan kuliah yang mereka bagikan. Dia ingin tahu apa yang telah terjadi pada Maya sejak itu dan apa yang membuatnya meninggalkan dirinya. 


Adrian duduk di sebuah perpustakaan di resor pribadinya mata terfokus pada buku yang ada di depannya, meskipun pikirannya jelas sedang melayang jauh.


Flash back on... 


Dia bertemu dengan Maya dalam salah satu kuliah seni yang mereka ikuti bersama-sama. Pertemuan pertama mereka adalah saat mereka dipasangkan dalam proyek seni lukis. Maya adalah gadis yang ceria, dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.


Adrian ingat bagaimana mereka berdua bekerja keras untuk menyelesaikan proyek itu, meskipun pada awalnya, dia tidak tahu apa-apa tentang seni lukis. Maya adalah instruktur terbaik bagi Adrian; dia tidak hanya mengajarkan teknik-teknik dasar, tetapi juga berbagi cinta dan semangatnya untuk seni.


Selama semester itu, Adrian dan Maya semakin dekat. Mereka sering bertukar cerita dan ide-ide, bahkan di luar kelas seni. Pertemanan mereka berkembang menjadi persahabatan yang erat, dan kemudian menjadi sesuatu yang lebih dari itu. 


Di suatu malam yang indah, mereka keluar untuk makan malam bersama setelah selesai menghadiri pameran seni mahasiswa. Malam itu, suasana hangat dan cahaya lampu jalan menggambarkan romantisme yang tak terelakkan. Ketika mereka berjalan di bawah langit bintang, Adrian menangkap pandangan Maya yang lembut.


"Maya, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu," kata Adrian dengan hati berdebar-debar.


Maya menoleh padanya, mata berbinar-binar. "Apa itu, Adrian?"


"Dari saat pertama kita bertemu, aku merasa ada yang istimewa tentangmu," lanjut Adrian dengan suara lembut. "Kau telah menjadi sumber inspirasiku dalam seni, dan juga dalam hidupku. Saya tidak ingin kehilanganmu."


Mata Maya berkaca-kaca, dan dengan suara yang penuh rasa, dia menjawab, "Adrian, aku juga merasa begitu. Kau adalah sosok yang luar biasa dalam hidupku."


Semester-semester berlalu, dan hubungan Adrian dan Maya terus berkembang dalam ikatan yang semakin kuat. Mereka mengisi hari-hari mereka dengan seni, cinta, dan mimpi-mimpi bersama. Adrian selalu memandang Maya dengan rasa kagum dan cinta yang dalam. Namun, ketika dia memasuki semester terakhirnya, beban dan tanggung jawab sebagai ahli waris perusahaan ayahnya mulai menghimpitnya.


Pekerjaan dan persiapan untuk mengambil alih perusahaan keluarga menjadi prioritas utama Adrian. Dia menghabiskan lebih banyak waktu di kantor dan sering terlalu sibuk untuk menghubungi Maya. Beberapa hari berlalu tanpa kabar, dan ini membuat Maya merasa khawatir.


Suatu hari, saat Adrian memiliki sedikit waktu luang, dia memutuskan untuk bersantai sejenak dengan mengajak seorang gadis cantik teman kantornya untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Mereka tertawa bersama dan menikmati kebersamaan mereka, tetapi ketika mereka akan keluar dari salah satu toko, sekelebat bayangan muncul tak jauh darinya. Dia hampir yakin itu adalah Maya, tetapi ragu.


Adrian berhenti sejenak, berusaha memahami apa yang baru saja dia lihat. Dia melihat bayangan itu bergerak pergi, dan dia memutuskan untuk tidak mengejar. Dia beralasan bahwa itu bukanlah Maya dan mungkin hanya bayangan dari masa lalu yang datang untuk menghantuinya.


Adrian (Sambil tertawa) Kau tahu, tadi saat kita berada di toko itu, aku hampir yakin aku melihat seseorang yang sangat aku kenal.


Andrea(Tersenyum) Oh ya? Siapa itu?


Adrian(Merasa ragu) Itu seolah-olah adalah bayangan seseorang. Seorang wanita yang sangat penting bagiku.


Andrea(Penasaran) Apakah itu mantan pacarmu?


Adrian(Menggeleng) Bukan, dia masih kekasihku, tapi kami jarang bertemu karena kesibukanku


Andrea (Mengerti) Sepertinya kau sangat merindukannya.


Adrian (Mengangguk) Ya, itu benar. Tapi saat inipun dia juga sibuk. 


Andrea(Santai) Terkadang, itu adalah cara alam mengingatkanmu


Adrian(Sadar) :Mungkin benar. Dan yang lebih penting sekarang kepercayaan di antara kami


Dia melanjutkan jalan-jalannya bersama Andrea yang bersamanya, tetapi ada perasaan aneh yang mengganggunya. Dia merasa ada yang hilang, dan dia merindukan kehangatan dari hubungannya dengan Maya yang sebelumnya.


Saat itulah, Adrian menyadari bahwa tak peduli seberapa sibuknya dia dalam kehidupan profesionalnya. Maya selalu ada dalam ingatannya dan momen-momen indah yang mereka bagikan bersama-sama.


Tuntutan ayahnya semakin mengalihkan perhatiannya dari Maya hingga Adrian keluar negeri melanjutkan sekolahnya. 


Flash back off... 


Sejak saat itu maya seperti di telan bumi tak pernah dia temui lagi Maya dalam hidupnya dan Adrian pun tak punya waktu untuk mencari karena kesibukannya dan kuliahnya secara bersamaan. Perlahan dia melupakan kekasihnya itu tapi sabar Maya muncul di hadapannya bersama pria lain membuat nya harus mendapatkan cintanya lagi.