Daniel

Daniel
Syera?


"Siapa?". Tanya Kamila menatap heran Aulia yang mematikan panggilan dari mamanya.


"Mama, dia minta gue cepet balik. Katanya ada Syera dirumah." jawab Aulia malas.


Kamila kaget ia membulatkan matanya tidak percaya.


"Whatt! Syera? Maksud lo Syera yang itu?".


"Iya siapa lagi kalau bukan Syera Latifia Andara yang gue ceritain ke lo dulu". Jawab Aulia. Mendengar namanya saja Aulia sudah malas sekali bertemu dengan perempuan jahat seperti dia.


"Gue gak ngerti Mil, kenapa itu dakocan bisa ada dirumah gue."


Aulia beranjak dari duduknya lantas mulai merapihkan kembali meja yang sebelumnya sudah di buat sedikit berantakan oleh Kamila. Meski masih dengan pikirannya yang berkecamuk akan kedatangan Syera namun, Ia tetap merapihkan setiap sudut Timbuktu dan seisinya yang dibantu juga dengan sahabatnya.


Ketukan sekali lagi terdengar dari balik pintu rumah yang biasa Aulia sebut Timbuktu. "Assalamualaikum. Halohaa ini aku calon suami masa depan Daysi, buka pintu doong."


Mendengar suara sang pujaan hatinya datang, Aulia langsung melempar sebuah kain pel ke arah Kamila dan mendarat tepat pada sasaran. Kain pel yang sudah berubah menjadi sedikit cokelat itu mendarat dengan cantik di wajah gadis yang identik dengan warna pink di setiap aksesoris yang ia pakai.


"Iiih Aul. Bener-bener deh ini manusia."


"Uppss maaf Mil gak sengaja kelepasan ini tangan asal lempar." kekehnya.


Aulia langsung merapihkan baju dan menyisir rambutnya dengan jari-jari lentiknya didepan kaca berukuran sedang.


"Daysi, apa perlu aku masuk lewat jendela?"


Mendengar kembali suara Daniel, Aulia langsung lari terburu-buru dan membuka pintunya. "Biasa banget deh kamu suka ngeburu-buruin orang." ucap Aulia gemas sambil bersandar pada kusen pintu.


Daniel mengacak gemas rambut Daysinya yang semula rapih kembali berantakan. "Sengaja biar kamu naik darah terus ngomel kayak nenek lampir."


Kemudian Daniel menoleh kearah sofa dan melambaikan tangan kepada Kamila yang masih memegang kain pel berwarna cokelat pekat. "Mila banting setir jadi bibi-bibi pinky girl ya sekarang."


"Biarin. Toh kecantikan gue gak luntur wleek dasar bebek bucin." jawab Mila mengejek.


"Gpp asal bucinnya sama Aulia."


Daniel mengarahkan kembali tatapannya pada Aulia, tangannya mengulur menunjukkan sebuah kotak kardus berisikan empat bebi kucing yang sengaja dibuang oleh orang yang memiliki sedikit rasa empati terhadap makhluk lucu dan berbulu didalamnya.


"Buat kamu." ia meringis lebar menampakkan setiap deretan gigi rapihnya.


"Tadi sewaktu jalan ke sini, gak sengaja nemuin mereka dijalan. Hampir tertabrak motor yang lewat."


Aulia mengambil kotak tersebut dari tangan Daniel. "Lucunya, kasian mereka pasti lapar. Siapa sih yang tega buang makhluk se comel mereka?"


"Kayaknya mulai besok kita harus buat papan informasi didepan tentang rencana kita untuk cari orang lain yang mau adopsi mereka." ucap Kamila dari dalam ruangan.


"Adopsi? Ide bagus tuh." timpal Daniel setuju lalu masuk kedalamnya di susul Aulia yang masih menenteng kardus berisikan empat anak kucing yang lucu-lucu.


"Iya, penghuni di Timbuktu kan udah terlalu banyak nih. Jadi si Mila saranin buat infoin kesemua orang siapa saja untuk adopsi penghuni-penghuni disini." jelas Aulia.


"Nanti sebelum adopsi mereka harus isi data formulir lengkap dengan alamat plus perjanjian tentang perawatan nya." lanjut Aulia.


Daniel mengangguk setuju, ia mendengarkan penjelasan dari keduanya. Lagipula ia juga perlu tahu dengan tentang apa saja persyaratan untuk mengadopsi penghuni-penghuni lucu di Timbuktu ini.


"Nanti biar aku bantu mengurusi semua data adopsinya ya."


Kamila berjalan didekat keduanya dengan cekatan duduk di hadapan kedua temannya yang sedang fokus mengelusi atas kepala makhluk-makhluk berbulu itu manja. Ia melihat jelas aura kebahagiaan terpancar dari wajah sahabatnya Aulia, dengan antusiasnya ia membelai satu persatu kucing-kucing itu dengan lembutnya. Kamila menyunggingkan senyum lebarnya diam-diam, begitulah Kamila ia juga akan merasakan kebahagiaan yang sama meski hanya melihat aura kebahagiaan dari sahabatnya saja.


"Lun gak jadi balik nih? Tadi kan tante Rena minta lo balik." suara Kamila mengingatkan.


Aulia menepuk keningnya keras, sangking antuasiasnya dengan keberadaan makhluk-makhluk yang di bawa pujaan hatinya itu ia sampai melupakan perintah mamanya untuk segera pulang mengingat adanya makhluk sejenis Dakocan tengah bersemayam dirumahnya.


"Lupa gue. Yaudah yuk balik."


"Loh balik? Aku baru sampai loh ini." ucap Daniel sedikit terkejut.


"Daysi aku antar pulang ya." lanjutnya yang dibalas anggukan tidak lupa juga dengan senyuman lebarnya.


Aulia menatap sahabatnya, alis matanya ia naik turunkan. "Kamilaa, Kamila cantik yang baik hati, Kamila calon isteri masa depannya Rio. Kamila pulang sendiri yee."


"Iya iya iyaa dah iyaa pulang sendiri gue, daripada dalam mobil bertiga tetep mata gue jadi korban kebucinan kalian."


Kamila berdiri mengambil kunci mobilnya yang tergantung di dinding, sedangkan Daniel memasang kembali jaket kesayangannya yang sebelumnya ia sampirkan disebelahnya.


**


Terdengar suara deruan motor dari arah tempat parkir dirumah Aulia yang tidak begitu jauh dari pintu depan rumahnya.


Daniel melepaskan helm centro miliknya lantas membantu melepaskan milik pujaan hatinya juga.


Tanpa mereka sadari dari arah atas balkon kamar milik Aulia, seseorang diam-diam memperhatikan kegiatan sepasang sejoli yang tengah di mabuk asmara itu. Ia mengetukkan buku jari-jarinya di atas besi pembatas balkon keras. "Ganteng banget." senyumnya menyeringai tercetak dibibirnya.


Mereka beriringan jalan melewati setiap undakan anak tangga di depannya setelah berada persis di depan pintu besar mereka lantas mengucapkan salam bersamaan.


"Assalamualaikum." Keduanya langsung masuk.


Aulia berlari kecil mencari keberadaan mamanya yang ia tebak pasti berada di dapur menghias kue pesanan kerabatnya.


"Assalamualaikum mamaku." suara Aulia menghentikan kegiatan Rena.


"Waalaikumsalam. Dari tadi loh mama tungguin Aul tapi gak sampai-sampai, kasian si Syera nungguin kamu. Kesepian dia." ucap Rena kemudian mengecup kecil pipi kanan dan kiri Aulia tidak lupa juga dengan mengecup kedua mata Aulia.


"Maaf ya ma. Aul tadi bersihkan Timbuktu dulu. Si Donal tadi bawakan penghuni baru loh, lucu-lucu."


"Oiya? Tapi lebih baiknya kalau kamu gak terlalu sering main bareng mereka, mau gimana pun mereka bisa aja bawa penyakit ke kamu kan?" ucap Rena mengingatkan.


"Pasti ma, aku selalu pakai masker kok. Lagipula Daniel punya tugas rutin setiap hari jumat dia pasti bawa penghuni sana untuk vaksin."


"Didepan ada Donal ma." Aulia menunjuk ke arah depan dimana Daniel tengah duduk dengan sebuah album navy di tangannya.


"Yasudah kamu ganti baju setelah itu kebawah ya. Mama mau ke Daniel dulu."


"Siaap cheff Rena." teriak Aulia lalu melesat berlari melewati anak tangga kemudia masuk kearah kamarnya.


Aulia masuk kedalam kamarnya lantas menggantung tas sekolahnya di dalam lemari yang memang ia khususkan untuk tempat menyimpan tas-tasnya. Sesaat matanya tidak sengaja mengarah pada pintu balkon yang terbuka penuh, mendapati seorang gadis berambut sebahu, dengan tubuh sedikit gempal tengah berdiri membelakangi dirinya.


Melihat ciri-ciri dari objek didepannya, Aulia bisa menebaknya bahwa ia adalah Syera. Ya gadis itu adalah Syera, makhluk yang ia sebut-sebut sebagai dakocan karena perlakuan buruknya bertahun-tahun lalu, baginya bagaimana mungkin ia akan melupakan setiap perlakuan makhluk sepertinya dulu. Lantas bagaimana bisa dakocan itu masuk kedalam kamarnya, pasti ulah mamanya yang membiarkan gadis itu masuk. Benar-benar menyebalkan pikirnya.


"Ehh Aulia. Kangennya sama kamu, sekarang kamu jadi makin cantik ya." teriak Syera sedikit berlari menghampiri Aulia lantas memeluknya.


"Gimana kabar kamu?" tanya nya lagi.


Aulia melepaskan tangan syera yang memeluknya erat. Entah ia hanya merasa sedikit risih dengan perlakuan gadis didepannya ini, sebenarnya tidak ada yang salah dengan pelukannya.


"Kamu kok kaku banget sih sama mbak. Mbak kesini cuma mampir karena mbak sudah gak tinggal sama om Wira."


"Ohh gitu." Aulia hanya ber oh ria saja menanggapi Syera yang masih dengan sok dekatnya lantas mendudukan dirinya diatas ranjang berbungkus serba putih itu.


"Kok cuma oh aja sih." Syera menyusul Aulia dan duduk tepat disebelahnya.


"Mbak minta maaf ya, dulu suka jahat sama kamu. Mbak nyesal deh Aul, kasih mbak kesempatan ya untuk perbaiki kesalahan mbak dulu." pinta Syera sedikit memohon kepada Aulia.


Aulia tidak percaya sepenuhnya dengan ucapan Syera, namun melihat iris matanya yang sedikit berkaca-kaca ia jadi berpikir untuk memaafkan gadis didepannya itu. Tidak ada salahnya mencoba memaafkan orang lain mereka memintanya dengan tulus, barang kali ia bisa merubah sikapnya bukan hanya dengan dirinya saja tapi dengan semua orang.


"Aul, kamu mau kan maafin mbak?" lagi suara Syera menelisik masuk kedalam celah telinga Aulia.


Aulia tersenyum tipis menoleh ke arah Syera di sampingnya. "Aku udah maafin mbak Syera kok. Jangan dipikirin lagi ya."


"Terima kasih Aul. Mbak menyesal." ucapnya langsung memeluk Aulia. Tanpa Aulia ketahui gadis yang memeluknya kini tengah menyunggingkan seringaian senyumnya dari balik bahu Aulia.


"Yasudah aku mandi dulu ya mbak." ucap Aulia di balas dengan anggukan oleh Syera.


"Emhh mbak sudah ijin pamit dengan om wira?" tanya Aulia.


"Mbak sudah pamit dengan om Wira kok. Oiya kamu gak keberatan kan mbak menginap disini sampai mbak mendapat rumah kost untuk mbak tinggal?"


"Enggak kok mbak, nanti Aul bantu ya."


Aulia berdiri kemudian membuka lemari bajunya lantas mengambil satu setel baju berwarna salem dan melesat masuk kedalam kamar mandi meninggal Syera yang terpaku duduk di atas ranjang berseprai putih milik Aulia.


Syera menatap pintu kamar mandi sinis, untuknya kehidupan tidak pernah adil meski hanya untuk sekali saja memihaknya, atau membuatnya sedikit merasa di inginkan orang lain. Baginya kehidupan adalah neraka, maka jika ia melihat sedikit saja kebahagiaan dari orang lain ia harus menyeretnya kedalam lubang neraka yang sama. Termasuk Aulia, yaa Syera amat membenci Aulia. Lebih tepatnya kehidupan Aulia yang menurutnya sempurna.


Suara ketukan pintu terdengar dari balik kamar Aulia yang tidak lama muncul Rena dari baliknya. Ia melihat Syera yang tengah duduk memandang lurus kedepan tepatnya menatap pintu kamar mandi dihadapannya. Melihat itu Rena langsung masuk mendekati Syera.


"Gadis kok bengong terus. Makan dulu yuk, dibawah ada calon menantu tante. Ehh belum sih tapi dia masih otw jadi menantu." kekeh Rena pelan ia yakin kalau puteri sulungnya mendengar kalimatnya ia akan lebih berisik dengan kata menantu yang berujung membawa anaknya pada hayalannya.


Syera mendengus kecil dari balik senyumannya, lagi-lagi semua tentang kebahagiaan Aulia batinnya. Mau tidak mau ia ikutan terkekeh menertawakan guyonan Rena meski ia tidak tahu letak lucunya dimana.


"Tante senang banget ya ada calon menantu tante datang?"


"Iya dong, kan kamu tahu sendiri tante gak ada anak cowo, semuanya boneka berbie. Makanya tante senang kalau dia datang, belum lagi dia itu baik banget."


"Iyaa masuk akal juga sih kalau tante bisa sesenang itu." ucap syera masih dengan senyum tipisnya.


"Turun yuk Syer, bantu tante siapkan makan malam." ajak Rena menggandeng Syera untuk turun ke lantai bawah.


Ditarik tangannya oleh Rena, Syera menatap kesal kearah Rena dari balik punggung mama Aulia. Benarkan dimana pun tempatnya ia akan selalu diperlakukan seperti pembantu batinnya kesal.


Begitu menginjakkan kakinya di dapur, Syera melihat punggung laki-laki yang datang bersama Aulia tadi dari balik pintu kulkas. Mengambil satu kotak susu dan menuangkannya penuh kedalam gelas panjang.


"Tante itu siapa?" tanyanya sembari menunjuk kearah laki-laki dibalik mesin pendingin.


Rena menoleh mengikuti arah tangan Syera yang menunjuk sedang yang ditunjuk menengok dengan tatapan aneh.


"Ohh itu, yang tante bilang tadi. Calon menantu tante." bisiknya pelan ditelinga Syera.


"Ohh gitu. Berotot banget ya tante." ucapnya terkekeh.


"Pantas aja Aulia jatuh cinta." bisiknyaa kepada Rena.


"Hussh udah yuk keburu jam makan malam lewat." aja Rena untuk segera menyiapkan makan malam. Namun, sebelum bergerak melangkah Daniel terlebih dulu mendekati keduanya dengan tangan membawa gelas yang berisi penuh susu.


"Aulia mana ma?" tanya Daniel matanya mencari keberadaan Aulia yang belum turun.


"Mandi, bentar lagi juga selesai. Tau sendiri kan dia mandinya lelet banget entah apa yang di gosoknya." kekeh Rena.


Melirik segelas susu ditangannya Syera lantas mencoba bertanya kepada laki-laki di depannya dengan tatapan penuh. "Suka susu juga ya?"


Daniel menunjukkan gelas yang ia bawa. "Suka, tapi ini untuk Aulia. Dia suka susu soalnya."


See, siapa pun akan selalu menomor satukan Aulia meski dirinya ada didepan mata mereka. Ia adalah tamu dirumah ini mestinya mereka harus menjamunya seakan ratu dirumah ini bukannya malah seperti pembantu yang harus membantu mereka masak batinnya kesal.


"Ohh gitu." jawabnya singkat


"Yasudah kamu keatas aja susul Aulia, dia kalau gak di buru-buru bisaa sampai subuh didalam kamar mandi. Leleetnya macam keong." ucap Rena pada Daniel dan langsung menggandeng Syera untuk memulai kegiatan memasaknya.


Daniel menaiki setiap undakan anak tangga setengah berlari menuju kamar pujaan hatinya. Untuk seorang Daniel masuk kedalam kamar Aulia memang sudah hal yang biasa, meski ia jarang sekali masuk kedalamnya itupun hanya sekadar membawakan susu atau mengajaknya supaya bisa sedikit cepat. Semuanya atas perintah mama Aulia.


Membuka kenop pintu perlahan kemudian ia masuk dengan segelas susu ditangannya untuk ia letakkan diatas nakas milik Aulia.


"Daysi." panggil Daniel setengah berteriak pada Aulia yang masih asik dengan kegiatan mandinya didalam.


"Daysi masih lama ya? Mandi gak perlu lama-lama loh, kamu gak takut berubah jadi ikan dugong didalam."


Aulia keluar dari dalam mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil ditangannya lantas berdiri didepan kaca meja towaletnya. "Baru juga selesai, kamu itu gak jauh beda sama mama suka buru-buruin aku. Ngeselin."


Daniel terkekeh sampai punggungnya bergetar, ia memperhatikan gadisnya yang sibuk mengusap rambutnya yang basah. Baju berwarna salem itu nampak serasi dengan warna kulit Aulia, gadis dihadapannya saat ini benar-benar cantik dimatanya. Tidak ada jenis kecantikan lainnya diluar sana kecuali ibunya dan Aulia.


"Kamu kenapa sih ngeliatin aku terus?" tanya Aulia malu mendapat tatapan dari Daniel. Ia mulai menyisir rapih rambutnya dan memakai pelembab juga serum di wajahnya.


"Donal. Udah sih liat-liatnya aku malu tau. Ada yang salah ya sama muka aku?" tanya Aulia lagi lalu mengecek wajahnya dikaca mencari letak keanehannya dimana. Ia tidak menemukan apa apa setelahnya.


Aulia kembali menatap Daniel dari kacanya, masih dengan tatapan yang sama Daniel menatap Aulia lekat. Ia yakin saat ini tengah di goda oleh pujaan hatinya itu.


"Aku sudah selesai, ayo turun." ajak Aulia menarik lengan Daniel, namun yang ditarik hanya diam dan tersenyum lebar menggoda kearahnya.


"Iiiih donaaal aku udah sellesai loh ini." Aulia menarik-narik lengan Daniel agar cepat turun saat suara mamanya melengking mengingatkan makan malam hampir siap.


Daniel benar-benar senang ketika menggoda gadis didepannya ini menggenggam erat tangan Aulia kemudian menariknya kedalam pelukannya.


"Kamu cantik, buat aku kecantikan maha sempurna adalah ketika aku menatap kalian. Ibuku juga kamu."


Aulia membenamkan wajahnya di dada bidang milik Daniel menyembunyikan perubahan warna wajahnya menjadi seperti udang rebus. Aroma menenangkan milik Daniel selalu berhasil menciptakan ketenangan untuk hatinya bahkan diwaktu bersamaan hatinya juha meronta berdegub seakan tengah dibawa lari maraton.


Daniel menggenggam bahu Aulia memberikan sedikit jarak diantaranya.


"Sampai kapan pun perjuangan aku cuma untuk kamu."


"Udah ahh turun yuk, gak baik buat jantung aku dipeluk kamu lama-lama." ucap Aulia spontan dibalas kekehan kecil oleh Daniel. Ia mencubit keras hidung milik Aulia yang masih berubah berwarna merah seperti kedua pipinya.


"Minum dulu susunya, aku bawain ini special buat kamu." Daniel menyodorkan gelas panjang didepan Aulia lalu diteguknya hingga habis semua isi dalam gelas tersebut.


Tanpa mereka sadari, Syera mendengarkan percakapan keduanya dari balik pintu kamar ketika ia diminta mama Aulia untuk menjemput keduanya turun. Ia mengepalkan tangannya kuat hingga kuku kuku panjangnya menembus kulit jarinya terluka.


"Gue gak akan biarkan lo bahagia. Gak akan Aul gak akan pernah. Lo juga harus ada di kehidupan gue." gumamnya lirih dan langsung bergegas turun kebawah.