Daniel

Daniel
Bubur cinta untuk Daysi



Happy reading


Pagi ini adalah pagi yang cerah, sinar mentari berhasil menembus celah-celah gorden bermotif kerang dan tepat mengenai langsung di wajah Aulia. Dia membuka kedua matanya sedikit silau lalu menutupinya dengan punggung tangannya.


"Engghh". Lenguhnya. Dia menatap keseluruh ruangan mencari keberadaan pujaan hatinya. Tidak ada, kedua iris matanya tidak sama sekali menangkap keberadaannya.


" eehh, bebek donal kemana?" tanyanya kepada dirinya sendiri. 


Aulia bangun dari ranjang lalu berjalan menuju wastafel, dia mencepol dan merapihkan anak rambutnya kemudian lanjut membasuh wajahnya dengan air dingin, Seketika dia merasakan segar akibat guyuran air dingin diwajahnya.


***


Dilain tempat suara gaduh antara pisau dengan papan pemotong mengisi penuh ruangan dapur berukuran minimalis. Disana nampak seorang pria yang tengah mematikan sebuah kompor lalu kembali tangannya memotong beberapa telur dan meletakkannya dalam mangkuk yang telah berisi bubur.


Semangkuk bubur lengkap dengan toping suwiran ayam, potongan daging, daun bawang, telur, sosis, taburan bawang goreng dan kerupuk menjadi menu sarapan paginya bersama Aulia. Dia membuatnya dengan menambahkan dengan banyak bumbu-bumbu cinta, baiklah terserah dia dan dunianya saja. Jangan bully aku readers!! batinnya.


Daniel mengambil dua buah gelas lalu menuangkan susu jahe dengan lemon yang sebelumnya dia masak dalam sebuah panci berukuran sedang.


"Bubur dan susu paket cinta. Gue memang pacar luar biasa". Kekehnya. Lanjut menata setiap mangkuk dan gelas diatas meja makan.


Aulia membuka kenop pintu, kepalanya menoleh kearah sebelah kanan. Iris mata cokelatnya menatap takjub ketika melihat pria yang sering disebutnya uncle donal atau bebek donal olehnya. Dia mengulum senyum dan berlari kecil menghampirinya.


Daniel terkejut saat merasakan kedua tangan mungil milik Aulia melingkar erat dipinggangnya.


"Waaaah, apa ini?" tanya Aulia. 


"Bubur cinta yang kubuat sepenuh hati". jawabnya.


" kamu buat sendiri keh? Atau ada bibi yang bantu masak?". Matanya mencari seorang wanita disana, tapi tidak ditemukan dimanapun.


"Kan udah aku bilang ini kubuat sendiri dengan sepenuh hati". Dengusnya kesal karena gadisnya tetap tidak percaya kalau dia yang memasak semuanya sendiri.


Aulia terkekeh geli sendiri dengan kalimat bebek donalnya yang seperti mengikuti iklan kecap yang terbuat dari malika kedelai hitam yang di besarkan sepenuh hati. Dia ini memang kebanyakan nonton iklan daripada sinetronnya. " hahaha, iya iya aku percaya kok percaya". Dia melihat muka sebal daniel dan kembali tertawa keras.


"Hahaha (jeda) hahahaha hahaha." Daniel menatap Aulia kesal,  Dia memasang muka bebeknya.


Aulia berdehem menetralkan tawanya. Asli dia setengah mati menahan tawanya yang ingin meledak lagi.


"Kheeem. Lagi pula aku gak nyangka kalau kamu bisa masak. Dan lihat ini, kamu romantis banget belajar darimana sih?"


"Terakhir kali kamu bantu aku masak aja jadi gosong sampai berkerak semua" lanjutnya.


"Kamu jangan cerewet baweell!!" daniel mencubit pipi Aulia kuat. Dia menggeret kursi kebelakang dan mendudukan Aulia disana. Dia merasa harus mengakhiri kekonyolan mereka sebelum kembali membahas perihal panci gosong itu lagi. Dia malu!


"Cepat habiskan bubur cintanya keburu dingin".  Ucap daniel menyodorkan sendok yang sudah dia bersihkan dengan tisu.


Aulia menyuapkan bubur ke dalam mulutnya tak sabaran. Matanya membulat merasakan rasa bubur yang gurih dengan tekstur lembut berpadu dengan manisnya suwiran ayam, pedasnya sambal, dan ditambah dengan gurihnya potongan daging yang empuk. Jangan lupa dengan kriuknya krupuk udang. Cita rasa mahadasyat dari bumbu cinta yang dibuat daniel dengan sepenuh hati itu tidak hanya melelehkan hatinya saja tapi bahkan sampai ke lidahnya.


"Enak bangeet". Seru Aulia. Dia menyuapkan suapan kedua kalinya kedalam mulutnya lagi dan lagi.


" Aku bilang juga apa. Pasti kamu ketagihan. Kan dibuatnya pakai segenap cinta dan jiwa raga". Suara tawa dari daniel terdengar pelan.


Aulia memutar bola matanya, dia pura-pura tidak mendengarkan. Bibirnya bergerak menyanyikan sebuah lagu pengantar mandi untuk anak-anak.


"Donal bebek mandi dikali, rambutnya basah, kecebur kali" dia bernyanyi setengah teriak dan berkali kali menyanyikan lagu tersebut.


"Aduh. Donaaaaaaall!!" teriak Aulia mengelusi kepalanya. "Gak jitak kelapa juga kali katanya sayang". Lanjutnya.


" suara kamu jelek Daysi, kupingku sakit". Daniel menjulurkan lidahnya mengejek Aulia.


Aulia baru akan mengeluarkan suara protesnya tiba-tiba satu suapan sendok dari daniel berhasil masuk kedalam mulutnya "makan lagi. Enak kan?" ucapnya. Dia senyum lebar melihat ekspresi marah Aulia berubah kaget.


Aulia diam, mulutnya sibuk mengunyah dan merasakan kelezatan dari paduan bubur dan topingngnya.


"Enak gak nih?" tanyanya lagi.


"Mmhh, gak enak." jawab Aulia cepat, dia kembali mengunyah buburnya lagi.


"Ohhh gak enak ya. Yaudah sini biar aku habiskan semuanya sendiri." ucap daniel. Tangannya akan mengambil alih mangkuk bubur Aulia.


"Jangan! Jangan diambil". Aulia menyingkirkan tangan daniel cepat.


"Kamu bilang gak enak." ledeknya tangannya kembali mendekati mangkuk milik Aulia.


"Jangan di ambil! Aku masih lapar donal." Aulia mengangkat mangkuk miliknya keatas.


"Iya iya ini enaak. Bubur cinta buatan kamu enak!!." ucapnya cepat. Matanya pura-pura menatap daniel memelas,  Dia benar-benar takut mangkuknya akan di ambil donal.


Daniel tertawa, Aulia juga tertawa. Suara tawa mereka berdua sampai terdengar dari luar pondok, mereka menertawakan kekonyolan yang diciptakan sendiri oleh mereka berdua dan kembavokus untuk menyantap sarapan paginya.


***


Deruan halus dari motor scooter matic biru milik Daniel membawa siempunya dan gadisnya kembali kekota. Tadi Setelah menghabiskan sarapan paginya, mereka kembali sibuk mengemasi barang bawaan mereka yang tidak banyak. Hanya dua buah tas milik daniel dan Aulia.


Sepanjang jalan menuju rumah Aulia, sesekali mereka melewati tikungan tajam, pohon- pohon disebelah kanan dan kiri, juga bentangan sawah yang padinya sudah menguning tanda siap panen. Daniel menarik rem tangan di scooternya, di depannya ada ratusan atau bahkan ribuan bebek milik warga setempat menyebrang jalan beriringan.


"Saudara kamu tuh." ucap Aulia


Daniel protes tidak terima disamakan dengan makhluk makhluk didepannya itu. "Enak aja, enggak ya!".


Aulia tertawa keras, matanya asik memperhatikan ratusan bahkan ribuat bebek yang tengah asik menyebrang jalan melewati mereka acuh.


" kalau di lihat-lihat, makin dilihat mirip kamu ya uncle?" ledek Aulia lagi. Dia lupa bahkan Daysi juga satu jenis dengan bebek bebek itu.


"Mirip kamu juga doooong!." teriak Daniel tak mau kalah.


"Daysi dan uncle donal satu spesies, kalau kamu lupa." jelasnya.


"Ohh iya ya!". Aulia berteriak lupa kalau mereka satu spesies, tangannya menepuk jidatnya keras. Mereka berdua bersamaaan mengeluarkan tawa yang keras sampai sebagian bebek yang asik menyebrang dibuatnya kaget dan berlari. Tawa mereka seperti sebuah ancaman bagi bebek bebek itu.


Daniel kembali menarik gas dari scooter mattic birunya dan melaju dengan kecepatan normal. Setelah menghabiskan waktu satu jam lebih tiga puluh menit akhirnya scutter matic yang dikendarainya sampai didepan gerbang rumah milik orang tua Aulia. Menekan klaksonnya berkali-kali sampai akhirnya si Junet satpam Aulia membukakan pintu gerbangnya.


"Halo mas daniel baru sampai toh." sapa junet dengan logat tegalnya.


"Iya nih mas junet. Mama sama papa dirumah?." tanya daniel.


Sebelum Junet si lelaki tegal itu menjawab, Aulia bersuara menyapanya.


"Halo mas Junet. Mas Junet sehat?". Sapa Aulia.


" Ehh ada mbake Aulia. Alhamdulilah mbak Aul inyong sehat". Jawab Junet sambil memamerkan otot otot dilengannya. Sebenarnya yang ditanya aulia itu sehatnya bukan besar ototnya si junet. Memang narsis si Junet itu.


"Ibu bapak ada didalam" lanjut Junet.


"Oke mas, kami masuk kedalam dulu ya" ucap daniel.


"Daaah mas Junet". Timpal Aulia tangannya melambai diudara.


Daniel kembali melajukan scooternya dan memarkirkan tepat disebelah mobil hitam milik Jonathan, Papa Aulia.


" Assalamualaikum, mamaku"


"Assalamualaikum, papaku" salam aulia keras. Setelah masuk melewati pintu, Aulia dan Daniel menuju ruang keluarga. Disana Papa Aulia dan mamanya asik menonton acara berita siang itu.


"Waalaikumsalam cantik". Ucap kedua orang tua Aulia bersamaan. Aulia dan Daniel mendekati Jonathan dan istrinya kemudian menyalami tangan tua mereka.


"Kalian pasti capek kan? Mama sudah buatkan makan siang untuk kalian." Rena bangkit dari duduknya disusul suaminya Jonathan.


Mereka bersama menuju ruang makan besar yang diatas mejanya sudah tersaji gurame goreng krispi, ayam goreng, tumis kangkung, sambal terasi beserta lalap daunnya dan tidak lupa dengan kerupuk kulit oleh oleh junet dari kampungnya.


Rena menyendokkan nasi kepiring suaminya, juga memindahkan beberapa lauk dan sayur. Kemudia beralih ke piring Daniel dan Aulia. Mereka menyantap makan siang bersama.


"Jadi kemarin gimana disana, kalian gak aneh-aneh kan?". Suara Rena memecahkan keheningan.


"Enggak lah mah, kita gak aneh-aneh kok cuma tidur berdua aja". Ucap aul spontan. Dia keceplosan dengan menyebutkan tidur berduanya dengan Daniel.


Mata Daniel membulat kaget, dia menatap Aulia tidak percaya. Demi pantat berduri bayi landak, Aulia sepertinya sedang mencoba membunuh Daniel lewat kalimat polosnya itu. Dia meneguk salivanya kasar.


" ma..maksudnya tidur berdua bukan tidur yang begitu kok ma, pa". Ucap daniel menatap Rena dan Jonathan.


"Kita memang tidur bareng kok ma, pa berdua tapi gak ngapa-ngapain". Jelas Aulia. "Cuma tidur dibawah atap yang sama gitu" lanjutnya.


"Benar Daniel?". Tanya Jonathan


" Benar pa". Jawabnya.


"Papa percaya kalian, kalian sudah sama-sama mengerti mana yang salah dan benar". Jonathan memberikan siraman rohaninya singkat.


"Kalian masih punya perjalanan panjang, lulus sekolah, kuliah, cari wawasan yang luas dan cari pekerjaan". Lanjutnya.


" Baik pa" jawab Daniel singkat. Dia mengerti arah pembicaraan papa Aulia itu. Aulia hanya mengangguk mantap.


"Aul, bahasa kamu itu loh ambigu. Mama kira kalian skidipapap disana." omel Rena kepada anak sulungnnya.


"Mbok ya kamu itu kalau ngomong yang jelas, kebiasaan deh. Mau copot jantung mama rasanya." lanjut Rena masih dengan omelannya.


"Kamu ini ya sempet-sempetnya godain mama. Mama ngomel ini loh". Ucap Rena.


"Iya mama. Maaf." Aulia menatap kedua orang tuanya tersenyum. Begitulah Aulia selalu tahu caranya meredakan orang tuanya ketika marah.


***


Diruang tamu Jonathan, Daniel dan Rena duduk menikmati kopi hitam panas dan red velvet yang dibuat Rena semalam.


"Jadi kamu masih ingat kan dengan perjanjian kita Niel". Tanya Rena mengingatkan.


" masih dong ma." jawab daniel mantap.


"Jadi minggu depan kamu temani mama arisan dirumah teman mama ya". Ajak Rena.


Jonathan mengernyitkan keningnya, dia bingung. "Arisan?"


"Iya papa, Arisan. Minggu depan mama minta Daniel temanin mama." jelas Rena.


"Daniel ini punya perjanjian sama mama. Yang mama ceritain ke papa kemarin itu." lanjutnya.


Jonathan mengangguk mengerti dengan penjelasan istrinya. Dia tersenyum ke arah Daniel "maklumi saja ya, mama mu ini kepingin banget punya anak laki-laki".


"Iya pa, Daniel maklum. Minggu depan kebetulan gak sibuk jadi bisa temanin mama disana". Ucapnya.


Aulia turun dari anak tangga, dia baru selesai mengganti bajunya dengan yang lebih nyaman. Aulia menenteng sebuah telepon genggam, dia berlari kecil menuju ruangan dimana Jonathan, Rena juga Daniel tengah asik mengobrol.


" Ma, ada telpon nih dari Alya katanya rindu sama mama." ucap Aulia menyodorkan telepon genggam hitamnya.


Rena menerima benda kecil berwarna hitam dari tangan Aulia, lalu bangun dari duduknya dan berjalan menuju taman disamping rumah. Aulia menatap punggung mamanya heran tidak biasanya mamanya akan menjauh saat menerima telepon dari adiknya. Harus di interogasi batinnya.


"Pa, mama kenapa sih ngejauh gitu. Tumben." tanya Aulia


Jonathan tampak berpikir sesaat kemudia dia menggedikan bahunya tanda dia tidak tahu. "Nanti kamu tanya sendiri aja." katanya.


"Iih papa gak asik ya". Dengus Aulia lirih.


Daniel tersenyum melihat interaksi gadis nya bersama kedua orang tuanya, dia paham sekali kalau Aulia memang paling manja jika dibandingkan dengan Alya adiknya. Alya jauh lebih cuek dan mandiri. Melihat kebersamaan Aulia dengan papanya, hati daniel merasakan rindu yang dalam kepada kedua orang tuanya di kampung. Dia memang tinggal bertiga bersama kakak perempuan dan adik perempuannya disebuah rumah orang tuanya dikota. Bulan depan dia harus pulang melepas rindunya.


Daniel melihat jam dinding sudah menunjukan pukul 16:00 sore, dia merasa sudah waktunya untuk pamit pulang.


" Papa. Aul." panggilnya


"sudah jam empat. Aku pamit pulang ya. Kasian mbak dirumah takut khawatir". Lanjutnya.


Jonathan menepuk punggung Daniel pelan " yasudah papa titip salam buat mama, papa juga keluargamu ya".


Daniel mengangguk mantap. "Nanti daniel sampaikan pa". Ucapnya.


Jonathan bangun dari duduknya, dia berjalan menuju kamarnya. Dia sengaja memberikan waktu untuk Daniel dan Aulia mengobrol sebelum berpisah. Jonathan paham dia tidak sekalipun melarang apapun yang disukai anaknya, meskipun membebaskan setiap pilihan anak sulungnya Jo tetap memantau pergaulan anak sulungnya itu. Dia bukan orang tua yang kolot, dia juga pernah merasakan darah muda.


Aulia mengantar Daniel sampai didepan pintu rumahnya. Mereka berjalan beriringan sambil menggenggam erat tangan satu sama lain. Euforia anak remaja dimabuk cinta.


"Yaah, harus banget ya pulang sore ini?" tanya Aulia. Dia masih belum rela berjauhan lagi dengan uncle donalnya.


"Minggu depan aku pasti kesini kok. Aku ada janji sama mama". Ucapnya lembut. Dia menatap iris mata cokelat milik Aulia lalu tersenyum.


" Jangan sedih jarak kita cuma beberapa puluh menit kok kalau ditempuh pakai si biru". Kekehnya.


"Sama aja deh, kita jauhan. Aku tuh maunya setiap hari sama kamu." gumamnya.


"semakin aku pikirkan semakin aku kesal kalau jauh dari kamu. Aku iri sama semua hal yang bisa terus dua puluh empat jam interaksi sama kamu." lanjut Aulia bibirnya mengerucut. Dia selalu seperti ini ketika akan berpisah dari uncle donalnya.


Daniel membelai rambut Aulia pelan, ditatapnya kembali wajah gadisnya itu. "Sabar ya sampai waktunya datang pasti kita bisa terus bersama. Kamu mau kan kita berjuang sama-sama?"


Aulia menatap balik Daniel, dia mengangguk pelan "meskipun harus mendaki gunung dan lewati lembah". Ucapnya lirih. Mereka berdua tersenyum.


Daniel menyalakan scooter mattic biru kesayangannya, memakai helm sentro miliknya lengkap dengan jaket tebal. "Hati-hati ya uncle, kabari ya begitu sampai dirumah". Ucap Aulia. Tangannya melambai-lambai kearah Daniel.


"Pasti Daysiku" balas daniel.


Daniel menyalakan mesin scooter mattic birunya dan melenggang menjauhi Aulia. Didepan Aulia yakin Daniel akan berhenti sebentar untuk mengobrol dengan Junet.


"Mas Junet buka gerbang ya". Panggil Daniel kearah pos security.


" loh cepet betul pulange mas daniel iki." Junet berjalan membuka gerbangnya lalu menggesernya ke arah kanan.


"Iyo mas Junet. Pulang dulu mas Junet. Makasih yo mas". Ucap Daniel. Dia membawa scutternya melewati gerbang yang telah dibuka Junet menjauhi rumah Aulia.


***


Didalan Aulia mendekati Rena yang duduk di gazebo dekat kolam.


" dooor." kaget Aulia. Dia mendapati Rena tengah melamun.


"Astaghfirullohalladzim Auuul. Kamu bikin kaget mama tau gak!." ucap Rena kesal dia mengelusi dadanya.


"Yee, memang Aul mau buat mama kaget kok". Ledek aul jail.


" Kamu itu ya, liat-liat dong. Kalau mama mu ini kena serangan jantung gimana?" kata rena mengingat kan anaknya.


Aulia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya ma, maaf ya".


"mama kenapa sih kok Aul perhatiin mama melamuun?" lanjutnya.


"Mama cuma kepikiran adik kamu disana, katanya dia mau pulang gak betah dirumah om mu." jelasnya. Rena menghembuskan nafasnya pelan.


"Lagipula adikmu itu sudah ada dipertengahan tahun sebentar lagi dia ujian lulus SMP". Lanjut Rena


Aulia menggenggam tangan Rena erat,


" mama tenang aja ya biar nanti Aul coba ngomong sama Alya" ucapnya.


"Iya, mama percaya kok sama kamu". Ucap Rena mantap. Aulia memang selalu berhasil ketika membujuk adiknya yang keras kepala.


"Yasudah Aul keatas dulu ya ma. Mau kerjain tugas kimia" ucapnya. Dia mengambil telepon genggamnya dari tangan Rena.


Sesampainya di kamar, Aulia langsung merubuhkan tubuhnya di atas ranjang yang seprainya bergambar bayi kucing.


Dia membenamkan kepalanya ditumpukan bantal empuk miliknya, tubuhnya sudah sangat lelah dia ingin tidur sebentar sebelum mengerjakan tugas sekolahnya. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi menampilkan nama Kamila Dewanti disana. Aulia ogah ogahan menekan tombol oke


"Assalamualaikum". Ucapnya yang dibalas serupa dari seberang sana.


"Waalaikumsalam.. Auuuul". Teriak Kamila. " lo kemana aja sih gue hubungin gak nyambung-nyambung". Tanya Kamila dengan kecepatan mercon.


"Gak teriak juga Kamilun, gue gak tuli." dengus Aulia kesal. Dia mengucek lubang telinganya.


"Iya maaf deh kelepasan. Namanya juga bibir mercon". Kekehnya.


"Gak di maafin!" teriak Aulia.


"Ya ampun Aull, dendeman banget deh jadi manusia". Ucap kamila.


"Biarin wlek, lagian kenapa sih heboh banget. Segitu kangennya tah sama gue baru juga gue tinggal sehari." Balas Aulia.


"Enggak, gue cuma penasaran. Lo kenapa ninggalin gue ditoilet kemarin. Gak usah sok pura-pura lupa ya!".


Aulian menepuk keningnya keras "sory Mil, yang kemarin itu gue buru-buru jadi gak denger suara elo ngajak gue ke toilet. Jadi mungkin waktu lo jalan masuk ke toilet gua jalan nya kearah pintu gerbang." Jelasnya.


Aulia memang benar-benar tidak merasa kalau Kamila hari itu mengajaknya ketoilet sekolah. Jadi dia meninggalkan kamila disana dan lansung menuju gerbang sekolah.


"Kemarin itu gue bener-bener minta maaf deh Mil. Daniel juga ternyata nungguin gue di depan pintu gerbang." ucap Aulia dia masih berusaha membujuk sahabatnya agar tidak merajuk ataupun marah padanya.


"Yaudah gue maafin. Tapi ada syaratnya." ucap Kamila.


"Iye gue jabanin syaratnya" jawab Aulia mantap.


"Contekin tugas kimia. Asli gue gak ngerti dari kemarin gue mau nanya tapi lo susah baanget di hubungin."


Aulia tidak ingin menanggapi pertanyaan Kamila kemanaa dirinya yang sulit dihubungi. Biarkan besok saja dia ceritakan langsung pada sahabatnya itu, hari ini dia ingin istirahat barang sebentar.


" hehehe itu doang nih? Gampaang." ucap Aulia.


"Yaudah ya Mil gue gak tahan mau ketemu pangeran donal gue di mimpi. Daah Kamila". Aulia langsung menekan tombol end mengakhiri sambungan mereka bahkan ketika Kamila belum selesai untuk memberondong pertanyaan kepada sahabatnya itu.


Di lain tempat dikamar bernuansa pink dengan pernak pernik semuanya berwarna pink milik Kamila, gadis itu mendengus kesal lalu berteriak


" Dasar pasangan bebek gak ada akhlaaaak!!!!.


Selesai juga ya untuk chapter ini. Entah dapat wangsit dari mana aku tuh bisa kasih judul bubur cinta untuk daysi yang dibuat dengan sepenuh hati. Hahaha


Terserah aku aja deh. Readers yang terhormat jangan ikutan strees macam aku ya.


Oh iyaaa tinggalkan jejak dengan tekan bintang dan komen ya.  Kalian baik sekali. Hihihi