Daniel

Daniel
Jangan Hilang....


Flashback rumah aulia


Hari itu Daniel dengan scutter matticnya melaju ke kediaman Aulia, rumah dimana tempat gadis pujaan hatinya tumbuh besar dengan baik dan ceria. Dia terus menarik gas scutter matticnya dalam kecepatan normal, bibirnya bersenandung, bersiul dan berakhir menyanyikan sebuah lagu reage come back to home. Semalaman dia memikirkan sebuah ide untuk membawa Aulia kesuatu tempat dan memberikan sebuah kejutan kecil. Namun, tetap saja hal yang harus pertama kali dia lakukan adalah bertemu dengan kedua orang tua Aulia dan meminta ijin untuk membawa Aulia ke tujuannya juga menginap barang semalam. Jelas saja itu bukan perkara mudah, memang orang tua macam apa yang dengan gampangnya memberikan ijin anak gadisnya dibawa seorang pria terlebih harus menginap dan hanya berdua. Ide gila bukan? Sudah jelas dia cari mati, setelah keluar dari rumah itu sudah pasti kepala dan lehernya akan terpisah batinnya.


Sesampai didepan pintu gerbang daniel menghentikan scutternya lalu memanggil seorang satpam yang memang sudah sangat hapal dengannya. Tidak jarang saat berkunjung kerumah Aulia atau saat menjemput Aulia pulang sekolah dia akan sedikit banyaknya mengobrol dengan satpam yang berlogat tegal ketika dia akan pulang.


"Mas Junet." panggil daniel kepada satpam tegal. Namanya memang Junet.


Merasa tidak ada jawaban daniel kembali mengeraskan suara. "Mas Juneeeeet." panggil nya lagi setengah teriak. Siempunya nama langsung terkaget mendengar suara teriakan yang menyebut namanya.


"Ealahdala, mas Daniel. Nyong pikir sapa." ujarnya dengan logat tegal medok. Dia berjalan membukakan gerbang sembari tangannya mengelus dada. "Untung jantunge inyong gak loncat".


"Hehehe, maaf yo mas bikin kaget. Abisnya aku panggil gak nyaut-nyaut." kekehnya meniru logat Junet.


"Mama, papa dirumah mas?" tanyanya sembari mendorong scutternya.


"Wislah ora apak apak mas. Bapak keluar kota mas, kalau ibu didalam. Loh Tumben mas daniel kesini?" ujarnya


"Biasa mas Junet urusan bisnis." bisiknya "yowis aku masuk dulu yo mas Junet. Bdw makasih yo udah bukain gerbangnya." dia lanjut mendorong scutternya dan memarkirkan disebelah mobil bewarna merah milik Rena. Sesampainya didepan pintu, daniel langsung mengetuk pintu yang langsung dibukakan oleh bik minah. Meskipun keberadaanya sudah seperti anak bagi Rena dan Jonathan, daniel masih menjunjung tinggi tata krama dalam bertamu. "Ehh mas daniel, mba Aulia belum pulang loh mas." ucap bik minah


"Iya bik, aku sengaja datang kerumah untuk ketemu mama." ucapnya. Dia masuk ke dalam dan duduk di sofa besar berwarna hitam pekat. "Kalau di lihat-lihat makin hari bibi makin cantik deh." godanya kepada bik minah dengan memainkan alis matanya.


"Apa toh mas daniel ini ngaco! bisa aja wong bibi sudah tua gini loh." kekehnya mengibaskan tanganya diudara "ibu ada didapur mas biasa lagi buat kue, saya panggilkan dulu ya." lanjut bik minah langsung menuju dimana Rena tengah asik menghias kuenya dengan cantik.


Didapur Rena tengah asik menghias kue berukuran besar yang sudah di penuhi butter cream dan setengahnya dilumuri cokelat juga taburan springkle warna warni. "Bu, ada mas daniel diruang tamu." suara bik minah langsung menghentikan kegiatan Rena. Dia meletakan plastik yang berisi lelehan cokelat berwarna hijau kemudian menuju wastafel mencuci tanganya. "Sama Aulia?" tanyanya dengan bik minah, dia mengerutkan keningnya, heran karena dijam jam begini anak anak sekolah bukannya masih belum pulang batinnya.


"Sendiri kok bu". Jelasnya setengah berbisik


"Yasudah bik, tolong buatkan teh hangat jangan lupa kuenya juga ya" ucap Rena yang di jawab enggeh oleh bi minah.


Diruang tamu daniel membuka sebuah album berwarna navi yang di dalamnya berisi banyak foto-foto Aulia kecil. Sesekali bibirnya tersenyum ketika melihat satu persatu foto-foto dalam album tersebut. Tiba-tiba tawanya pecah saat tangannya berhenti disebuah foto, disana nampak seorang balita perempuan berukuran gempal yang mengenakan dres putih dengan topi putih tengah memakan kue berukuran besar. Mulutnya mengembung penuh, sedangkan bibir dan pipinya penuh dengan kue yang menempel.


"Lucunya dia ini." gumam daniel gemas.


Tangannya kembali membuka bagian album lainnya, dan lagi-lagi dia tertawa Iris matanya menangkap gambar Aulia yang mengenakan baju kodok duduk di kubangan air hujan, digambar itu Aulia berumur lima tahun. Bibirnya mengerucut maju, hidung merah dan Matanya merah sehabis menangis entah apa yang di tangisinya saat itu.


Saat dia sibuk dengan gambar-gambar dalam album, Rena datang dengan senyum lebarnya.


"Loh tumben kamu kerumah jam segini? Kamu gak sekolah nak?" tanya Rena tangannya llangsung disalami oleh daniel.


"Guru-guru disekolah ada rapat ma, jadi dipulangkan lebih awal." jelas daniel. Dia meletakkan album berwarna navi di meja sudut yang dikhususkan untuk menaruh beberapa album diatasnya.


"Album navi itu isinya kebanyakan foto-foto Aulia semua. Dari bayi merah sampai besar." jelasnya, dialbum itu memang lebih banyak berisi foto Aulia dan Alya adik kandung Aulia yang saat itu bersekolah dan tinggal berdua dengan adik ayahnya yang belum dikaruniai ketururan.


"Iya ma, banyak ekspresi Aulia yang lucu." kekehnya, Dia menggaruk telapak tangannya yang tidak gatal. Mengingat ide gilanya untuk meminta ijin membawa Aulia menginap disebuah tempat bisa jadi Rena yang tersenyum lebar sekarang bisa langsung mengeluarkan tanduk dan taringnya. Yang palling parah melemparnya sebuah gilingan besar tepaat dikepalanya. Semacam ide bunuh diri akhirnya. Mengerikan.


"Jadi ada apa nih, kata bik minah kamu mau ngomong sesuatu sama mama.?" tanyanya tiba-tiba seketika memecahkan lamunan danniel. Dia masih bergidik ngeri.


Daniel berdeham batuk untuk menetralisir rasa takutnya, dia harus berani demi kejutan kecilnya untuk Aulia gadisnya. "Mmmhh, kheem, jadi gini mah Daniel mau minta ijin sama mama." ucapnya pelan.


"Ehh.. Minta ijin apa sih?" tanya Rena lagi.


"Hari ini ulang tahun Aulia ma, emhhh Daniel ada surprised. Tapi ide ini gak akan berhasil tanpa restu dari mama." jelasnya lagi. Tanggal sepuluh dibulan seepuluh itu memang hari kelahiran Aulia juga hari jadi hubungan mereka.


Renaa menatap iris mata Daniel yang terlihat sungguh-sungguh, dia bukan tidak ingat akan hari kelahiran puteri pertama mereka. Hanya saja dia penasaran kejutan seperti apa yang harus sekali direstuinya itu.


"Memangnya kejutan apa sih Niel, sampai harus banget dapat restu dari mama?" tanyanya lagi.


"Daniel mau minta restu mama untuk bawa Aulia ke pantai ujung berdua dan menginap satu malam disana ma". Ucapnya pelan, lidahnya gemetar mengucapkan kalimat panjangnya barusan. Matanya terus menatap Rena yang kaget mendengarnya. Ingatkan nanti untuk dia membenturkan kepalanya ditembok setelah pulang dari ini. Ide konyolnya benar-benar gila.


"Jadi maksudnya kamu ajak Aulia ke pantai bermalam disana berduaan gitu?" tanyanya penuh penekanan, sudah pasti dia ingin marah. Berani-beraninya dia meminta ijin untuk membawa anak gadisnya pergi kepantai dan bermalam. Catat mana ada orang tua yang mengijinkan itu! Orang tua gila pasti pikirnya. "Memangnya kalian mau apa disana berduaan sampai menginap?" tanyanya lagi.


"Gak akan terjadi hal-hal yang begitu kok ma, Daniel sudah janji sama mama, papa juga diri Daniel sendiri untuk jagain Aulia". Ucapnya. Dia meneguk sallivanya kasar, gugup dan takut tapi dia tetap harus tenang saat meyakinkan orang tua Aulia.


"Disana kami tidur terpisah kok ma, Aulia dikamar daniel di sofa ruang tamu". Jelasnya lagi


Rena tetap diam dan mendengarkan penjelasan dari Daniel, kepalanya sibuk memikirkan dampak positif dan negatifnya, meskipun hasilnya tidak akan ada kata positif untuk keputusaan kali ini. " apa yang bisa buat mama yakin dengan ijinkan kamu bawa Aul kesana?" tanyanya, dia memang harus memberondong banyak pertanyaaan.


Daniel diam dan berpikir, dia mencari cari jawaban untuk meyakinkan mama Aul. Tidak mudah pastinya, tapi dia harus tetap maju sampai berhasil membawa Aul. Dan sialnya isi kepalanya tidak menemukan jawaban yang pas untuk meeyakinkan mamanya. Tiba-tiba Rena bersuara, dia mengubah posisi duduknya dan menatap Daniel intens.


"Mama percaya kamu Daniel, tolong jangan kamu salah gunakan kepercayaan mama". Ucapnya mantap tatapan matanya tidak sekalipun berpaling dari mata laki-laki remaja dihadapannya ini. "Mama ijinkan kamu bawa Aul tapi gak gratis, tetap ada syarat dan perjanjiannya." lanjutnya lagi.


Daniel kaget, diaa tidak menyangka bahwa Rena akan mengijinkannya untuk membawa anaknya. Meskipun sudah jelas dengan kalimat terakhirnya bahwa keputusan Rena harus ada perjanjian. Keputusannya keluar dengan tidak cuma-cuma. Buatnya tak masalah selama dia bisa membuat daysi nya bahagia dengan idenya ini.


"Apapun persyaratn dan perjanjiannya ma, Daniel pasti lakuin dengan senang hati." ucapnya mantap.


Rena terkekeh melihat wajah antusias dari Daniel, buatnya ekspresi daniel saat ini sudah menunjukan keseriusannya tadi. Dia bukannya seorang ibu yang gampang memberikan kepercayaannya apalagi sudah menyangkut masalah anak gadisnya. Dia hanya belajar untuk menjadi orang tua yang modern tapi tetap memaantau pergaulan anak-anak mereka. Baginya Daniel sudah dia anggap seperti anaknnya sendiri, dia percaya daniel tidak akan menyalah gunakan kepercayaannya itu.


"Syaratnya setelah pulang dari sana kamu harus temenin mama dan antar mama ke acara arisan dirumaah teman mama." kekehnya tapi masih menunjukan wajah seriusnya


"lagian mama sebel, teman-teman arisan mama itu suka banget cerita anak laki-laki mereka. Mama kan kesel, lagian mama punya nya cuma boneka barbie". Gumamnya lagi. Dia sering gemas ketika mengingat kelakuaan teman temannya yang sering sekali pamer kegiatan anak lelaki mereka.


Daniel tertawa, dia pikir akan mendapat perjanjian yang sulit tapi nyatanya sangat mudah untuk dia peenuhi. " cuma itu ma? Itusih gak perlu mama buat perjanjian kapan pun selama daniel bisa dengan senang hati Daniel temani." ucapnya yang masih terkekeh.


Diselah pembicaraan mereka bik minah datang dengan dua cangkir teh melati dan sepiring kue cokelat juga satu toples cookiess cokelat yang diletakkan diatas meja.


"Kata siappa itu aja, kamu selama satu minggu harus bersihin kolam belakang. Itung- itung itu hukuman kamu yang udah nekat mau bawa Aul menginap berdua." ucapnya yang langsung di balas anggukan oleh lawan bicaranya.


"Oke deal! Perjanjiannya aku setuju". Ucapnya mantap sembari mengulurkan tangan ke Rena. Mereka berjabat tangan tanda menyetujui pernyanjian tadi. Buatnya dia hanya merasa harus segera menyetujui sebelum Rena akan mengeluarkan perjanjian lainnya. Cukup menemaninya ke acara arisan yang notabene isinya adalah ibu ibu yang membosankan dan membersihkan keliling kolam renang selama seminggu. Baiklah bagian itu agak menjengkelkan mengingat capeknya ketika harus menyikati semuaa lantai dasar kolam renang itu. Tapi semua demi Daysi nya.


Setelah pembahasan ijin perinjinan selesai, mereka banyak mengobrol mulai dari membahas masalah sekolah, orang tua daniel, timbuktu, pondok kecil, sampai planet mars.


" jadi gitu ma, pondok kecil itu milik papa sama mama. Daniel beli pakai hasil celengan daniel, sisanya nanti daniel lunasi kalau sudah kerja." ujarnya menjelaskan kepada Rena


"Saran mama, kalian harus tetap fokus belajar, lulus sekolah, kuliah terus bekerja". Ucapnya menasehati. Daniel menganggung dan tersenyum kearah Rena. Matanya mengecek jam tangannya sudah menunjukan pukul dua siang, dia bergegas berpamitan deengan Rena untuk menjemput Aulia di sekolahnya.


***


Aulia masih menyandarkan kepalanya dibahu lelakinya yang dia beri panggilan Uncle donal. Menikmati suasana senja di bibir pantai lengkap dengap kicauan burung-burung yang sibuk pulang ke sangkarnya. Matanya memandang jauh kedepan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis membayangkan kelak suatu saat nanti dia akan dilamar ditempat seindah ini. Baiklah jangan salahkan dengan hayalan anak remaja yang dimabuk cinta, mereka belum mengerti jalan kehidupan yang sebenarnya.


Tanpa Aulia sadari, sepasang mata Daniel sibuk memperhatikan wajahnya. Dia tersenyum ketika dilihatnya Aulia tersenyum, dia tidak tahu pasti pikiran apa yang sampai membuat gadisnya tersenyum. Senyumnya tipis tapi memiliki makna yang dalam. Dia melepaskan topi hitam kesayangannya lengkap dengan pin bergambar garuda, kemudian dia pakaikan dikepala Aulia menutupi anak rambut yang sedari tadi menari dipermainkan angin. Merasa ada sesuatu dikepalanya Aulia memandang ke arah daniel, tangannya memegang sebuah topi yang sudah menempel dikepalanya. Tanpa sadar bibir nya kembali menyunggingkan senyum kali ini senyumnya sangat lebar menampilkan barisan gigi-gigi yang rapih terawat.


"Topinya kamu pakai ya, jangan dibuang ini topi kesayangan aku". Ucapnya lirih, dia menatap iris mata Aulia. Dimatanya Aul sangat cantik dengan topi itu, terkesan imut dan manis. Entahlah perasaaan apa yang bisa menggambarkan Aulia saat itu.


Daniel merogoh kantung celananya dia mengambil sebuah kotak merah berbentuk segitiga. Dia meminta Aul untuk menutup kedua matanya, lalu kemudian dia buka kotaknya perlahan, didalamnya ada sebuah kalung dengan bandul kecil berbentuk huruf D dan A. Kalung itu dia beli untuk hadiah ulang tahun gadisnya. Tangannya dia ulurkan melingkari leher lalu dia pakaikan kalung tersebut di leher Aulia.


Aulia membuka matanya setelah benda dingin menempel di lehernya, jarinya meraba huruf yang tergantung disana. Matanya menatap iris mata prianya, lagi-lagi dihari yang sama dia diberikkan banyak kejutan dimulai jemputan yang tiba tiba, menculik, pondok kecil dan ini sebuah kalung cantik. Hatinya seperti ditumbuhi banyak bunga-bunga didalamnya.


"Selamat ulang tahun Daisy ku". Ucapnya lirih dia mengelus pipi sebelah kanan Aulia hangat.


" maaf ya kalungnya bukan kalung berlian, nanti setelah aku kerja kalung ini aku ganti dengan yang lebih bagus. Untuk sementara jangan kamu lepas ya." lanjutnya. Ada perasaan bahagia yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, mereka saling lempar senyum saat kedua mata mereka saling menumbuk, lalu didetik selanjutnya mereka tutup kedua mata mereka dan perlahaan daniel mendekatkan wajahnya kearah Aulia. Bibir kenyalnya mendarat dibibir tipis milik Aulia lalu dia kecup singkat. Jantung mereka berdegub kencang, keduanya bisa mendengar detak jantung satu sama lain. Pipinya jangan ditanyakan lagi, keduanya sudah seperrti udang rebus.


Aulia membuka kedua matanya perlahan, dia kembali tersenyum. Jantungnya masih berdegub kencang seolah tengah maraton ditempat. Dia menatap daniel dengan tatapan penuh cinta dan hangat. "Aku suka terima kasih ya uncle, kejutan bertubi-tubinya. Kalung ini cantik, sampai kapan pun gak akan aku lepas sampai kamu sendiri yang lepas kalung ini." ucapnya malu-malu. Wajahnya terasa panas, hari itu dia yakin sekali wajahnya sudah pasti memerah seperti udang rebus. "Dan satu lagi, apapun yang dari kamu. Aku suka." lanjutnya.


Daniel berdiri lalu tanganya menarik pergelangan tangan Aulia untuk membantunya segera berdiri. Dia memegang pundak Aul dan mengecup kening Aulia singkat. "I love you". Ucapnya. Bibirnya tersenyum lagi.


Matahari sudah sepenuhnya menghilang dari balik lautan digantikan oleh bulan untuk menerangi Langit yang mulai gelap. Daniel memeluk pundak Aulia erat, mereka berjalan beriringan menuju pondok kecilnya. Sekitar pondok tidaklah gelap, disetiap sisi jalan banyak tergantung lampu lampu kecil yang menciptakan kesan romantis bagi sepasang remaja. Sesampainya didalam pondok, Daniel bergegas untuk membersihkan tubuhnya dari keringat lengket dan pasir-pasir pantai. Sementara Aulia mengecek bahan makanan yang bisa dia masak untuk menu makan malamnya.


Aulia membuka mesin pendingin, didalamnya sudah terisi bahan makanan lengkap. Dia mengambil beberapa bahan seperti ayam, wortel, jagung dan kentang lengkap dengan daun bawangnya. Dia mulai memotong setiap bahan dan memasukan kedalam panci yang sudah terisi air. Menu yang dia buat kali ini adalah sup jagung ayam dan perkedel jagung serta sambal kecap dengan irisan bawang merah dan cabe rawit.


Sup jagung yang panas cocok untuk menghangatkan tubuh mereka pikirnya. Setelah semua masakanya matang, dia menyusun semuanya di atas meja makan lengkap dengan hidangan pencuci mulutnya yang sudah tersedia di mesin pendingin.


Setelah acara mandinya selesai, Daniel mengenakan kaos berwarna putih celana pendek hitam. Mencium aroma masakan, daniel bergegas menuju dapur dimana Aulia bereksperimen dengan bahan makanannya. Dia mendekati Aulia dan membaui aroma masakan dalam-dalam


"Heeemmm... Ini sup jagung terenak yang pernah aku makan." ucapnya. Dia mengaduh ketika mendapat sentilan di jari tangannya yang ingin mengambil satu potong perkedel jagung.


"Ssssttt, sakit daysi". Aduhnya sembari mengelus jarinya.


" makanya duduk dulu baru makan donaaal. Ckk, Kebiasaan buruk dipiara deh. Lagian sup belum dicicip udah bilang enak aja sih" ujar Aulia yang langsung menyendokan nasi ke piring daniel. Dia jadi teringat Rena yang selalu menyendokan nasi dan sayur ke piring papanya. Rasanya seperti sedang main mama papaan deh pikirnya.


"Hilap sayang." ucapnya sedikit ada nada menggoda. "Kalau dipikir sekarang kita lebih mirip suami istri beneran ya". Kekehnya. Dia menatap Aulia yang pipinya sudah berubah merah.


Aulia menatap daniel sebal, bisa bisanya dia menyebutkan kalimat suami istri dengan santainya. Sedangkan dia baru memikirkannya saja sudah dibuat maraton kembali jantungnya. "Iya biar belajar jadi rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah." ucapnya keras dia sengaja mengucapkan dengan sedikit teriak untuk meredakan jantungnya. "Cepat makan, jangan sisain nasi barang sebutir oke". Lanjutnya setengah memperingatkan daniel. Aulia memang salah satu manusia yang percaya akan mitos kalau manusia tidak akan tahu di setiap butir nasi yang disisakan saat makan barangkali ada nasi yang diberikan berkah besar oleh Alloh Swt. Makanya Aulia selalu membersihkan piringnya ketika makan.


Suara tawa dari daniel pecah, dia tertawa keras karena melihat ekspresi wajah kesal Aulia. Saat marah pun dia tetap menggemaskan batinnya.


" baiklah tuanku." ucapnya. Mereka berdua saling tatap dan tertawa. Mereka menertawakan kekonyolan mereka di meja makan. Setelahnya kembali fokus menikmati makan malam yang sederhana di pondok kecil itu hanya suara dentingan piring dan sendok yang meramaikan acara makan malamnya atau sesekali suara daniel yang meminta minum karena rasa pedas dari sabal kecapnya. Setelah selesai menghabiskan sup jagungnya, Aulia membersihkan meja dan mengangkat piring kotor kedalam wastafel dibantu oleh daniel, sesekali mereka saling menyiramkan air kearah masing masing dengan tangan saat mencuci piring-piring kotornya.


Malam semakin larut, jam sudah menunjukan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Aulia dan daniel menghabiskan waktu malam mereka berdua, duduk di balkon dan menghadap ke arah laut. Disana sunyi tidak ada satu lalu lalang dari masyarakat setempat, hanya beberapa nelayan yang lewat hendak menangkap ikan buruannya.


"Daysi." panggil daniel kepada gadis yang duduk tepat disampingnya itu. Matanya masih fokus memandang ke depan.


"Hmmm." gumam Aulia. Dia menoleh kearah suara kemudian memfokuskan pandangannya kedepan lagi. Dia merasa pemandangan didepannya ini sangat sayang untuk dilewatkan. Sejauh mata memandang didepannya hanya ada laut, pasir putih, dan deretan lampu lampu kecil disisi kanan dan kiri menambah kesan romantis baginya.


"Kamu cantik, tapi aku gak rela bagi-bagi." ucap Daniel menatap kearah Daisy nya sambil terkekeh dengan kalimatnya sendiri. Dia berpikir bagaimana menyembunyikan wajah Aulia agar manusia berjenis lelaki lainnya tidak bisa melihat kecantikan gadisnya. Haruskah dia pakaikan topeng?


Aulia menarik keras telinga daniel sampai mengaduh, dia langsung mengelus kupingnya yang terasa panas akibat tarikan gadis disebelahnya. Matanya melotot, pipinya mengembung karena sebal "kamu ini apaan sih donal, memangnya aku cokelat chunkybuuur yang gede tapi gak rela bagi bagi". Omelnya tapi dia tersenyum ketika mengingat bagian daniel mengatakan dia cantik. Perempuan mana yang tidak suka dipuji terlebih dengan pujaan hatinya. Betul tidaaak??


Sedetik itu juga pikirannya melayang, tangannya menutupi bibirnya yang melongo "kamu gak ada niatan untuk pakein topeng dimuka aku kan?" tebaknya. Tebakannya memang benar, daniel pun terkejut seolah Aulia mengerti isi kepalanya. Dia terkekeh, gadisnya ini seperti cenayang pikirnya.


"Aku hampir mau bungkus kamu kedalam karung beras biaar laki laki lain gak bisa nemuin kamu." kekehnya. Aulia kembali mencubit dan memukul kecil lengan Daniel. Yang mendapat sasaran dari Aulia kembali tertawa. Kali ini tawanya lebih keras. Sangking kerasnya bahkan sampai memecahkan kesunyian di sekitarnya.


"Enak aja, memang kamu pikir aku kucing". Dengusnya


Daniel mengarahkan pandangannya ke arah Aulia, tatapannya serius kali ini.


" Daysi Mencintai kamu itu bukan perkara sulit. Yang sulit adalah mempertahan hati kamu untuk tetap mencintai aku lengkap dengan kekuranganku. Hatiku lemah, mudah sekali dibuat jatuh cinta oleh mu. Jangan hilang ya". Ucapnya. Dia benar benar serius dengan kalimatnya lali ini. Tidak ada kesan becanda atau menggoda Aulia, dia benar-benar tidak ingin kebersamaan mereka ini hilang.


"Aku bisa seribukali buat hati kamu semakin lemah. Memang itu yang aku lakukan kan? Lagipula aku mau hilang kemana sih? Rumahku disini." ucap Aulia pelan tangannya mengarah kepada dada daniel menunjukan rumahnya ada dii hatinya, tempat ternyaman. "Rumah ku disini, gak ada pikiran aku untuk pergi apalagi hilang". Lanjutnya dia tersenyum memamerkan gigi-giginya yang rapih.


Daniel menarik Aulia kedalam pelukannya erat, mencium pucuk kepalanya lalu membelai rambutnya pelan. " sudah hampir larut malam, kita tidur yuk". Ajaknya lalu menarik Aulia berdiri dan berjalan beriringan menuju kamarnya.


Daniel menyelimuti tubuh Aulia dengan selimut tebal hingga menutupii seluruh tubuhnya keculi kepala Aulia. "Kamu tidur disini ya". Daniel mengecup kening aulia lagi " good nite". Ucapnya


Aulia menatap punggu daniel yaang berjalan kearah sofa tempatnya tidur, dia berpiikir kenapa tidak satu ranjang saja. Bahkan mereka sudah salling memberikan ciuman batinnya. "Tidur disini". Ucapnya seperti perintah. tangannya menepuk-nepuk bantal disebelahnya. "Disana dingin, kita bisa tidur berdua disini cuma tidur kan gak akan jadi masalah". Ucapnya lagi.


Daniel menoleh ke sumber suara, kepalanya berpikir untuk menyetujui ajakan Aulia tapi dilain sisi hatinya menolak. Dia tidak ingin merusak gadis yang dicintainya ini. " aku tidur disofa aja, gak baik kalau kita harus tidur berdua". Ucapnya. Untuk sesaat dia menarik nafasnya dan menghembukan perlahan, dia kembali berpikir untuk menyetujui ajakan gadisnya. Hanya tidur dan tidak lebih pikirnya.


Dia berjalan kembali ke ranjang dimana Aulia sudah berbaring disana. Menarik selimut dan menutupi setengah badannya. Dia berbaring disamping Aulia yang terus menatap ke arahnya. Tatapannya penuh ejekan, seolah meneriakkan kalau dia lelaki labil.


"Ehh apa ini? Katanya tadi mau tidur disofa aja. Yaudah gih sana kesofa". Ucapnya sedikit mengejek.


"Aku tidur disinii aja lebih hangat. Lagian kesempatan langka kan tidur bisa disamping kamu plusnya dapat pelukan kamu". Kekehnya. Dia memainkan kedua alisnya keatas kebawah, dan Tangannya menepuk nepuk kepala aulia pelan.


" iiiiih dasar bebek mesuuuuum!!!" teriaknya. Dia beranjak duduk dan memukul mukul daniel dengan bantal guling. Yang dipukul hanya tertawa saja, Aulia semakin gencar sampai tangannya dia tarik kedalam pelukan daniel.


"Jangan pukul, sakit badanku kamu pukul terus." ucapnya pelan dia mengecup kening Aulia. "Kita tidur begini aja ya sampai pagi, jangan dilepas." lanjutnya. Dia memeluk Aulia erat.


"Dasar bebek mesum" ucap Aulia pelan. Dia menenggelamkan kepalanya di ceruk daniel dalam mengirup aroma lelakinya.


Malam semakin larut, mereka memutuskan untuk tidur dengan saling memeluk satu sama lain sampai pagi. Sesekali pelukan mereka terlepas karena mengubah posisi tidurnya, di menit sellanjutnya berpelukan lagi. Begitu terus sampai matahari terbit.