
Teeeett teeeet teeeet
Bel istirahat berbunyi nyaring di koridor sekolah. Semua siswa berjalan berhamburan menuju kantin sekolah untuk mengisi perut yang sudah unjuk rasa minta segera diberi makanan.
Aulia merapihkan buku catatannya kedalam ransel cream kesayangannya, lantas menyusul Kamila sahabatnya yang sudah menungguinya didepan pintu kelas.
Kamila merangkulkan tangannya dibahu Aulia mencoba menggodanya, dan siap memberondong banyak pertanyaan kepada sahabatnyabitu. Ia sengaja mengunci sahabatnya dengan rangkulan meski ia tahu Aulia tidak pernah suka ketika mendapat rangkulan oleh siapapun, termasuk dirinya. Aulia merasa risih nafasnya sesak seolah paru-parunya juga ikut terhimpit.
Aulia mencoba melepaskan dirinya dari rangkulan maut Kamila, sedangkan sahabatnya itu tetap berusaha mengunci pergerakan Aulia sekuat tenaga.
"Mila, sumpah deh gue gak suka dirangkul gini. Sesak tau!" Aulia terus menarik tangan Kamila menjauh dari bahunya.
"Gue gak akan lepas sampai lo cerita kemana lo pergi sama bebek lo itu. Sumpah bisa mati penasaran gue." Kamila terus menyeret Aulia ke meja kantin tempatnya biasa.
"Santai kali Mil, nanti juga gue cerita. Lepas dulu ini, gue gak bisa nafas Kamila." teriak Aulia.
"Salah siapa lo kasih gue cerita setengah-setengah bikin gue gak bisa fokus belajar." balas Kamila.
"Tadi kan bu Ratih udah masuk dikelas kalau lo lupa. jadi kan kepotong, bukan gue sengaja cerita setengah-setengah." jelas Aulia terengah.
"I swear Mila, lepas gue gak bisa nafas ih. Mashalloh ini temen lucknut banget ya." teriak Aulia gemas.
Kamila terus menyeret Aulia sampai di kantin, lalu menarik kursi dan mendudukan Aulia diatasnya. Dia tidak akan membiarkan sahabatnya kabur dan berakhir membuatnya menyimpan rasa penasaran sendirian.
Selama jam pelajaran berlangsung, Mila tidak sama sekali bisa fokus dengan penjelasan bu Ratih. Salahkan saja Aulia batinnya. Otaknya terus bertanya, apa yang sahabatnya lakukan sampai-sampai tidak bisa ia hubungin, padahal ia benar-benar membutuhkan bantuan berupa contekan PR yang diberikan guru mereka.
"Coba kabur, gue peluk selama tiga hari." ucap Kamila dengan nada mengancam.
"Gue mau pesen soto dulu. Lu mau gue pesenin apa?." tanya Kamila
Aulia mendengus sebal kearah sahabatnya, "Kalau gue gak sayang elo, udah gue masukin tong sampah lo. Kesel gue, ya Alloh salah apa hamba ini kau beri aku sahabat yang bentukannya macam Kamila ini."
Kamila menjitak kepala Aulia keras, "bibir kalau ngomong bisa lumer gitu ya minta di tampol."
"Udah cepet lo mau gue pesenin apa?" tanya Kamila lagi.
Aulia nampak sedikit berpikir, sebenarnya ia masih belum lapar karena sebelum berangkat mamanya membuatkan tiga roti lapis isi cream matcha.
"Siomay nya mang Diding aja kali ya gue."
Kamila langsung memesan soto ayam sesuai seleranya, juga tidak lupa memesankan Aulia siomay mang Diding juga dengan minumnya. Lalu, kembali duduk dikursi kantin berhadapan tepat dengan Aulia. Dia menatap Aulia dengan mata menyipit.
"Sekarang ceritain lengkapnya sama gue." tunjuk Kamila dengan sumpit kayu berwarna gading.
"Astaghfirulloh Mila itu sumpit kalau kena mata gue bisa bahaya tau!" teriak Aulia spontan melihat sumpit mengarah tepat di matanya.
"Oke oke oke. Gue ceritain dengerin baik-baik." ucap Aulia.
Kamila memasang wajah serius siap mendengarkan Aulia, tanganya sibuk memutar-mutar sumpit ditangannya.
Aulia mulai menceritakan semua alasan mengapa ia begitu sulit dihubungi sahabatnya. Mulai dari uncle donalnya yang menjemputnya sampai membawa kepondok kecil disebuah pantai yang Daniel belikan dengan hasil tabungannya.
Aulia menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan dari sahabatnya itu termasuk tidur berdua dengan Daniel dalam satu ranjang, sesekali mereka terjeda karena makanan yang mereka pesan sudah sampai.
"Ukhuuuk ukkhuuk ukhuuukk"
Kamila batuk tersedak kuah soto pedasnya sampai ke hidung, ia kaget dengan salah satu isi cerita Aulia yang menceritakan tidurnya dengan Daniel.
Aulia sigap memberikan air minumnya kepada Kamila yang langsung diteguk habis oleh sahabatnya itu.
"Lo serius tidur berdua sama Daniel.? Lo gak waras ya Aul, pikirin masa depan elo dasar bucin bebek." ucap Kamila lirih takut takut ada yanv sengaja menguping pembicaraan mereka.
"Yee pikiran lo kemana Mil?" Aulia melempar Kamila tisu didepannya.
"Tidur yang gue maksud itu, tidur dalam artian yang sebenarnya bukan yang sampai gitu-gitu. Lo sih kebanyakan nonton film dewasa." lanjut Aulia menjelaskan yang langsung di mendapat pelototan Kamila.
"Gue nonton curriuos George ya kalau lo lupa! Enak aja, gue masih polos loh ini." bela Kamila tak terima.
"Tapi beneran deh, si donal niat banget sampai bikin ide bawa lo ke sana. Pake ijin minap lagi sama nyokap lo. Terbaek memang." ucap Kamila menggelengkan kepalanya pelan.
Aulia kembali menyuapkan potongan siomay goreng kedalam mulutnya, ia menganggukkan kepalanya.
"Gue aja sampai heran, tumben gitu bisa dapat ijin. Lo kan tau mama gue bentukannya gimana kalau udah urusan sama anaknya." jelas Aulia.
Kamila tersenyum manis melihat binar mata bahagia Aulia.
"Udahlah gak usah dipikirin gimana donal bisa dapat ijin nyokap lo. Yang penting lo happy kan kemarin."
"Siapa sih yang gak happy, dapat surprise pondok dari hasil tabungannya sendiri dan itu khusus buat lo. Gue aja yang cuma jadi pendengar ikutan ngerasain bahagianya elo Aul."
"Lo beruntung punya makhluk bebek macam Daniel. Langka soalnya. Makanya lo harus jaga hubungan lo supaya gak ada perempuan gatel yang ambil bebek dari hidup lo." lanjut Kamila.
Aulia menganggukkan kepalanya mantap ia akan berusaha menjaga hubungannya dengan uncle donal.
"Tapi Mil, kalau jodoh gak akan kemana. Kalaupun donal bukan jodoh gue meski gue jaga dia ketat dia pasti pergi juga Mil, sebaliknya kalau donal adalah rusuk yang Alloh ciptakan buat gue pasti dia kembali meski pergi sejauh apapun." ucap Aulia mantap.
Suara bel kembali berbunyi nyaring diseluruh koridor sekolah menandakan jam istirahat telah usai. Aulia dan Kamila segera membayar pesanannya dan kembali berjalan beriringan menuju kelasnya.
"Mil, balik sekolah temenin gue ke Timbuktu ya." ajak Aulia.
***
Aulia dan Kamila berjalan memasuki sebuah mobil berwarna hitam milik Kamila, mereka sengaja menggunakan mobil Kamila agar mereka tidak perlu menunggu supir Aulia menjemput.
Setelah menghabiskan waktu selama dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah minimalis berwarna hijau yang didepannya terdapat banyak kucing- kucing yang sengaja dibiarkan berkeliaran didalam pagar. Jarak antara sekolah dan Timbuktu memang tidak begitu jauh, hanya terkadang saat lalu lintas padat bisa memakan waktu sampai empat puluh menit bahkan sampai satu jam.
Aulia dan Kamila turun dari mobilnya, menenteng tas ransel berwarna cream lantas berjalan mendekati sebuah pagar yang tingginya hanya sebatas dada Aulia dan Kamila.
Membuka gerbang perlahan kemudia menutupnya kembali. Aulia menghapiri kucing-kucing kesayangannya lantas ia keluarkan sekotak makanan kering dari bahan dasar ikan untuk camilan mahkluk-makhluk gemas dan berbulu itu.
Timbuktu sendiri adalah rumah yang Aulia khususkan untuk kucing-kucing liar dan buangan. Dulu sekali saat berjalan menuju arah rumah Aulia sempat melihat kotak kardus yang berisi dua bayi-bayi kucing menggemaskan, lalu membawanya pulang kerumah. Namun sesampainya dirumah, Rena meminta Aulia untuk membuangnya.
Aulia menangis berusaha agar mamanya mau menampung mahkluk berbulu ditangannya itu, sampai Jonathan tidak tahan mendengar tangisan Aulia pun langsung memberikan sebuah rumah untuk kucing-kucingnya. Sejak saat itu setiap kali Aulia pulang sekolah ia akan mampir seminggu empat kali untuk membersihkan rumah dari kotoran-kotoran penunggu timbuktu atau mengecek persediaan makanan mereka.
Bahkan dua kucing yang ia temui dalam kardus pun menjadi penunggu pertama di timbuktu. Mereka diberikan nama oleh Aulia Oyen dan Bleki sesuai dengan warnanya.
"Makin banyak aja deh penunggu disini, lo gak repot ngurus mereka, kasih makan mereka?" tanya Kamila menggendong anak kucing berbulu sedikit panjang, dengan warna abu-abu pekat.
"Mereka kebanyakan kucing liar Mil, ada yang sengaja buang disini." jelas Aulia.
"Lagipula masa iya gue tega buang mereka, ini rumah mereka dan gue gak keberatan." lanjut Aulia mulai menuangkan makanan kering untuk kucing-kucing penunggu timbuktunya.
"Ini udah terlalu banyak loh Aulia, lo gak bisa rawat mereka sebanyak ini. Yang ada dengan jumlah yang terus bertambah kesehatan mereka bisa jadi gak terkontrol." ujar Kamila mengingatkan. Ia membelai anak kucing dalam gendongannya.
"Lo bisa kok buka pengumungan dipapan depan untuk siapa aja yang mau adopsi. Nanti gue bantu data deh." lanjutnya.
Aulia diam menoleh Kamila yang tampak serius dengan idenya, ia berpikir sejenak. Baginya memberikan kucing-kucingnya sama seperti memberikan anak kandung kepada orang lain yang bahkan bisa jadi tidak ia kenal sama sekali.
Menggelengkan kepalanya cepat Aulia melihat kucing-kucing yang sudah berkumpul menggerumuninya, memang sudah terlalu banyak pikirnya. Tapi ia tak untuk membiarkan orang lain mengadopsi mereka.
"Gak usah kebanyakan mikir Aul, lo bukan lagi buang anak. Plis deh gak usah lebay mikirnya." cletuk Kamila gemas melihat tingkah sahabatnya.
"Entah gue berasa kayak mau buang anak Mil." ucap Aulia lirih matanya masih sibuk menatapi kucing-kucing dihadapannya yang asik memakan makanan keringnya.
Aulia bangun dari duduknya lalu masuk kedalam timbuktu melewati pintu yang di tempeli banyak sticker cap kaki kucing. Di ikuti Kamila di belakangnya, Aulia membuka mesin pendingin lalu mengeluarkan setoples kue kering dan permen berwarna warni dengan bentuk love.
"Ini nih yang paling gue demen kalau ditimbuktu. Banyak cookies juga permen gratis lagi." ucap Mila antusias.
Kamila langsung membuka bungkus permen dan memakannya, permen ini bisa dikunyah karena memang tekturnya mirip permen sugus bedanya yang ini rasa susu dengan cokelat.
"Nanti gue coba pikirin lagi deh Mil, kalau dipikir-pikir mereka juga butuh di adopsi dengan orang orang baru. Siapa tau ada yang bisa lebih sayang dari gue." ucap Aulia.
Kamila kembali memasukan cookies cokelat kedalam mulutnya.
"Gue setuju, nanti gue bantu data deh. Jadi lo bisa pantau mereka juga dari jauh. Gimana?"
Aulia menatap Mila dan tersenyum lebar, ia memeluk Kamila erat.
"Setuju, thanks ya Mil. Gue kebantu banget sama ide lo."
"Santuy, gue cuma gak suka aja lo tiap ajak gue kesini pasti sibuk urus eek ucing dimana-mana. Masih untung didalam sini aman. Hiiiy." ucap Kamila bergidik ngeri membayangkan benda lembek dan berbau asam itu.
Aulia terkekeh geli melihat ekspresi jijik dari sahabatnya, lantas menggendong oyen dan bleki dalam pangkuannya. Kedua kucing itu kini sudah bertambah besar, banyak lemak dimana-mana yang selalu berhasil membuat Aulia juga sahabatnya gemas.
Mendengar suara handphone berbunyi nyaring dari dalam tas, Aulia cepat merogoh tasnya lalu segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum ma." salam Aulia.
"Waalaikusalam Aulia dimana ini,? jam berapa sekarang belum juga pulang?." Rena memberondong Aulia dengan pertanyaan.
"Aulia ditimbukti berdua Mila, maaf ya buat mama khawatir." ucap Aulia
"Yasudah, cepat pulang ya. Ada Syera dirumah. Kasihan dia sendirian dari tadi nungguin kamu pulang". Ucap Rena.
" sebentar lagi Aul pulang kok ma. Assalamualaikum. " jawab Aulia langsung mematikan teleponnya.
Aulia menggedikkan bahunya.
" Syera?".
"Untuk apa dia kemari?" gumamnya lirih.
Kamila menatap sahabatnya dengan ekspresi aneh.
"Siapa?".
" mama, dia minta gue cepet balik. Katanya ada Syera dirumah." jawab Aulia malas.
Kamila kaget ia membulatkan matanya tidak percaya.
"Whatt! Syera? Maksud lo Syera yang itu?".
" iya siapa lagi kalau bukan Syera Latifia Andara yang gue ceritain ke lo dulu". Jawab Aulia. Mendengar namanya saja Aulia sudah malas sekali bertemu dengan perempuan jahat seperti dia.
Aulia seketika bergidik ngeri, ia meneguk salivanya kasar. Kedatangan Syera seperti akan membawanya kedalam kehidupan yang mengerikan.