
Sekencang apapun kaki dipaksakan untuk terus lari mengejar, kalau pun bukan ditakdirkan untuk bersama tetap akan menjauh dan semakin sulit dijangkau kalaupun kenyataannya sudah di depan mata. Pun sebaliknya. Bukan tidak mengusahakan, terkadang tindakan dari sebuah usaha pada akhirnya hanya bisa dikuatkan melalui doa.
**
Aulia memasuki mobil yang dikemudikan oleh supir pribadinya, Pak Rokib sendiri merupakan supir kepercayaan keluarganya yang sudah sangat lama bahkan saat Aul duduk dibangku sekolah dasar. Saat itu Papanya, Jonathan prasetyo mengalami peristiwa kecelakaan. Mobil yang di dikendarainya dengan kecepatan diatas delapan puluh kilometer perjam itu hilang kendali sesaat ban mobil meletus, nahas mobil menabrak bahu jalan dan terguling. Saat itu Pak Rokib hanyalah seorang pemulung yang kebetulan melewati jalan dimana mobil dengan keadaan ringsek parah dan mengeluarkan asap tebal. Melihat asap tebal yang keluar dari sisi depan mobil, pak Rokib langsung berlari dan menyelamatkan Jonathan dengan menyeretnya keluaar dari dalam mobil. Entah apa yang akan terjadi kalau saja saat itu Pak Rokib tidak segera menyelamatkan Jonathan.
Suara klakson dari pengendara lainnya menyadarkan Aul dari lamunannya. Sudah hampir satu jam lamanya mereka terjebak macet lantaran ada bus yang terguling. Tanpa sadar Ia memperhatikan dari dalam mobil, sebuah motor yang dikendarai sepasang remaja berboncengan menggunakan seragam SMA tengah asik mengobrol sesaat tertawa mereka terlihat sangat bahagia seperti serasa dunia hanya milik mereka saja. melihat interaksi mereka rasanya ada sesuatu yang mencuat dibagian sisi sensitifnya terasa ngilu juga perasaan rindu yang tak lagi bertuan ini berhasil mengobrak-abrik memori lamanya. Satu bulir air jatuh dari sudut mata kananya, tangannya menyapu cepat air mata yang jatuh, semua kenangan- kenangan yang seperti potongan puzzle melintas di kepalanya.
"Ahhh, bukankah tidak semua percintaan itu akan berakhir bahagia??", gumamnya lirih.
Supirnya yang mendengar langsung merasakan iba, ia tahu sudah lama sekali tapi perasaan sakit itu masih belum juga lepas dari majikannya. "Mbak Aul, segala sesuatu yang terjadi dengan manusi pasti sudah di atur dengan Alloh, bapak yakin suatu saat nanti mbak pasti mendapatkan laki-laki yang bisa memberikan mba Aul kebahagiaan. Percaya dengan Alloh saja mbak," ucap Pak Rokib lembut. Menarik nafas panjang Aulia tersenyum ke arah supirnya, ia selalu tahu setiap perubahaan mimik diwajahnya. "Terima kasih pak,"
Sesampainya di pintu gerbang nampak seorang wanita paruh baya berusia empat puluh lima tahun keatas membukakan pintu gerbang sesaat pak Rokib membunyikan klakson mobil.
Aulia keluar dari dalam mobil disusul dengan bik Minah yang juga membukakan gerbangnya tadi.
"Baru pulang mba, sudah lama sekali mba Aul tidak pulang kerumah ini?," tanya bik minah senang.
Bik minah sudah menganggap anak dari majikannya itu seperti anaknya sendiri. Ia juga memiliki seorang anak perempuan di kampungnya yang masih duduk di bangku SMA, biaya sekolahnya sepenuhnya dibiayai oleh Aulia supaya anak bik minah yang selalu dapat juara umum di sekolahnya itu bisa merasakan pendidikan sampai ke perguruan tinggi dan mewujudkan cita-citanya.
"Iya bik, papa sama mama ada dirumah kan? Oiya bik aku akan menginap dua malam tolong siapkan kamarku ya," katanya sembari menyunggingkan senyum dan disusul dengan anggukan dari bik minah, Aulia mendekati bik Minah dan memeluknya sudah sangat lama ia tidak menginjakan kakinya dirumahnya sendiri. "Aku merindukan bibi," ucapnya. Yang dijawab "bibi juga merindukan mbak Aul," mereka berdua saling menatap kemudian tersenyum dan tertawa setelahnya.
Aul berjalan melewati pintu utama mencari keberadaan mama nya yang berada di dapur, Aul tersenyum sesaat melihat mamanya sibuk menghias kue berukuran lumayan besar yang di dominasi dengan warna hijau dari matcha. Itu salah satu kue kesukaannya, ia suka semua olahan kue dan minuman yang berbahan dasar pokok matcha. "Semua yang terbuat dari matcha adalah yang terbaik," ucapnya sembari mengulurkan tangannya merengkuh tubuh milik mamanya, rindu ia sangat merindukan mamanya. Merasakan ada pelukan Rena Maharani, mama Aulia terkejut dan menghentikan kesibukannya.
"Kau pulang nak?," katanya sembari mencium pipi, mata dan kening putrinya. Itu sudah menjadi kebiasaannya bahkan dari Aul yang masih bayi merah. Mereka berpelukan dan saling mengalirkan perasaan rindunya masing-masing, biasanya ia hanya mengabari orang tuanya melalui pesan singkat atau video call dan itu sepenuhnya masih belum cukup untuk mengobati.
"Hmm, Aul pulang. Mulai saat ini aku akan sering pulang dan menemani mama menghias kue," ia tersenyum lebar
" mama tahu aku sangat merindukan kebersamaan kita menghias kue seperti ini misalnya," ucapnya setengah berteriak dan kemmbali memeluk Rena.
"Dasar anak nakal, kalau begitu kenapa kau tidak pulang saja," gerutunya
" sekarang kau mandi dulu kau pasti lelaah, setelah itu baru kita makan kue ini bersama," kata rena yang kembali asik menghias bagian aatas kue dengan bentuk bunga mawar berwarna hijau daan putih.
"Baiklah, mama tahu? Semua yang berasal dari matcha selalu yang terbaik, semua yang terbuat dari tangan mama selalu yang terenak," teriaknya sembari setengah berlari kecil menuju kamarnya.
Rena menggelengkan kepala dan tertawa kecil setelahnya. Ia tahu betul bahwa anaknya masih menjadi pesakitan setelah kehilangan semua kepercayaan dan juga cintanya. Ia tahu betul bahwa setiap tawa dan senyum dari anaknya hanya untuk menyembunyikan lukanya. Sampai saat ini, bertahun lamanya ternyata anaknya masih belum berhasil mengatasi hatinya bahkan menanamkan kepercayaannya terhadap pria manapun. Meskipun dua kali ia mencoba membuka hatinya namun tidak juga sampai meluluhkan hati anaknya itu. Menarik nafas kasar berkali kali, Rena hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Aulia. "Semoga suatu saat nanti ada pria yang berhasil merubuhkan dinding pertahananmu nak," gumamnya lirih.
Aul berjalan menaiki anak tangga, sebelumnya ia mengunjungi kamar dimana Jonathan yang tengah tertidur pulas. Ia berjalan mendekati papanya, menatap kearah papanya yang selalu menomor satukan kebutuhan anak nya dari apapun. Sudah terlalu banyak kerutan di wajahnya bahkan rambutnya yang sedikit berwarna putih menandakan umurnya yang sudah tidak lagi muda. Ia mencium kening papanya yang sangat ia rindukan, tak hanya menciumnya ia juga memeluknya.
Merasakan ada air yang mengalir dan membasahi pipinya, Jonathan terbangun dan terkejut dengan kepulangan anaknya. Memang Diluar rumah mereka masih sering bertemu, namun kepulangan Aulia putri kesayangannya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untuknya. Anaknya sudah sangat dewasa ia tahu persis dari penampilannya, hanya sikapnya yang terkadang masih menunjukan sisi kekanakannya dan itu hanya ditunjukan kepada Jonathan dan juga Rena.
"Ka..kau sejak kapan sudah ada dirumah, selamat datang dirumah putriku," ucapnya
"Aku baru saja sampai pa, jangan menatapku seolah kita baru bertemu hari ini," kekehnya yang masih kembali memeluk papanya.
"Baiklah baiklah, papa hanya terkejut dan senang akhirnya putri manja papa mau kembali kerumah ini," jeelasnya yang masih dibaarengi dengan kekehan, ia membelai lembut rambut anaknya
"Aku akan mandi setelah itu ayo kita berkumpul dibawah, aku ingin makan kue bersama kalian," ucapnya.
Aulia membuka pintu kamarnya menarik nafas dalam dan mengeluarkan. Ia berjalan ke arah ranjang dan meletakkan tas kecilnya diatas nakas berwarna putih. Kamarnya sudah terlebih dulu dibersihkan oleh bik minah, semuanya masih sama saat terakhir ia memutuskan untuk tinggal di apartemen nya. Kamar dengan nuansa serba putih dan bingkai- bingkai yang masih tertata rapih di meja serta dinding juga pernak pernik khas anak remaja saat itu. Ia melihat sebuah kotak hitam dengan pita berwarna putih, Aulia membawa kotak tersebut dan duduk dipinggir ranjang. Ia memeluk menyapu kotak yang beriisi banyak kenangan masalalunya dari debu yang menempel. Untuk sesaat ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan lagi perlahan, jantungnya berdegub, hatinya jangan lagi ditannyakan sudah pasti luka itu masiih sama terasa sakitnya.
Tak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang wanita yang ditinggal kasihnya, Tanpa salam, tanpa kabar lalu Ia pergi ditinggal begitu saja. Tak ada lagi yang menyakitkan kan. "Daniel," suaranya serak lirih memanggil nama yang sudah lama seekali tak lagi ia sebut. Suara serak itu penuh akan kepiluan.