
Dicintai dan di ingini sepenuh hati adalah sebuah keberuntungan. Keduanya adalah berkah terbesar dari Tuhan. //Aulia
***
Aulia masih memegang kotak hitam berpita putihnya, Jantungnya berpacu seakan ingin lari mencari tempat persembunyian dari segala macam kesakitannya. Jarinya perlahan mulai membuka setiap ikatan pita berwarna putih lalu ia letakkan diatas ranjang, entah keberanian macam apa yang sudah menguasai saraf adrenalinnya. yang pasti setelah memperhatikan sepasang remaja yang ia lihat tadi, tiba-tiba saja impitan perasaan tak kasat mata menyeruak seakan ingin menggebrak setiap dinding hatinya. Ialah RINDU sebuah rasa yang setiap detik harus ia paksakan untuk tega menikam hatinya, sungguh tiada lagi rasa yang paling menyesakkan saat hatinya dipaksa mati berkali-kali. Hatinya mati, ditikam oleh logikanya sendiri setiap kali ia ingat bahwa rindunya sudah tidak lagi bertuan.
Aulia mulai membuka penutup kotak hitamnya, tangannya terarah kepada sebuah telepon selular. Dulu sekali, benda kecil yang memiliki kamera mini dibagian belakangnya itu sering kali ia pakai untuk saling bertukar pesan dengan seorang remaja laki-laki.
Tidak hanya bertukar pesan, benda berukuran kecil nan ajaib ini juga sering kali ia pakai untuk saling bertukar cerita lewat panggilan suara. Menghabiskan waktu semalam suntuk, setiap menit bahkan setiap detik. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia saat ia habiskan bersama laki-laki yang dulu dia yakin sekali adalah masa depannya.
Namun asa tetaplah asa, manusia boleh saja berharap penuh, manusia boleh saja merencanakan kehidupan terbaiknya, manusia boleh saja merencanakan dengan siapa kelak ia akan menghabiskan masa tuanya, tapi hanya Tuhan yang memiliki kuasa akan hidup umatnya. Sekali lagi manusia hanyalah manusia, makhluk yang diciptakan tuhan dengan maha sempurna. Makhluk yang hanya bisa terus berharap akan kemurahan tuhan untuk tidak lagi dipermainkan oleh takdirnya masing-masing. Aulia menekan tombol disisi kanan bawah pada keyboardn di telepon selular nya, tapi tidak ada tanda-tanda benda kecil berbentuk persegi empat dengan ujung sedikit tumpul tersebut untuk menyala. Sudut bibirnya tertarik ke atas, ia tersenyum simpul lalu tangannya mulai menghapus bulir air yang menggantung di bagian baawah matanya. "Sudah lama sekali dan sudah pasti baterainya habis." gumamnya lirih.
Dia kembali meletakan benda kecil tersebut kedalam kotak berwarna hitamnya kemudian jari-jari lentiknya beralih pada sebuah topi hitam dengan pin hitam kecil bergambar burung garuda dan bertuliskan nama sekolah juga kelas yang hurufnya di cetak berwarna putih. Dia paham betul topi hitam itu adalah topi kesayangan lelaki dimasa lalunya. Topi hitam yang selalu dia kemas dalam plastik transparan itu sama sekali tidak dia ijinkan siapapun mencucinya, dulu dengan harapan wangi dari si empunya akan tetap tertinggal. Aulia membuka perlahan topinya dari plastik berwarna transparan tersebut, kemudian dia hirup pelan. Indera penciumannya ia paksa untuk membaui arroma yang sudah sangat lama ia rindui itu, otaknya bekerja menggali beberapa memori yang bersangkutan dengan sebuah topi lengkap dengan pin kecil hitamnya.
Aulia ingat sekali, hari itu sembilan tahun yang lalu minggu kedua di bulan oktober. Tahun itu adalah tepat satu tahun mereka menjalin hubungan. Daniel lelaki yang mengisi penuh hatinya datang menjemput seusai jam sekolah berakhir. Jarak sekolahnya dengan Aulia memang cukup jauh sekitar empat puluh menit waktu yang dia tempuh untuk sampai di SMA Grida tempat Aulia bersekolah. Aulia baru saja keluar kelas dan berjalan melewati gerbang besar, di depannya ada sebuah motor matic berwarna biru lengkap dengan pengemudinya yang memakai jaket biru dengan garis putih dan bertuliskan Slank didepannya juga tidak lupa dengan helm centro klasik warna hitam kesayangannya didalamnyan ada sebuah topi hitam yang dia pakai terbalik. Sebenarnya helm itu lebih cocok ketika dia pakai saat menaiki sebuah motor vespa daripada matic. Aulia tersenyum kearahnya saat sepasang mata diseberang sana juga melihat kearahnya, dia melambaikan tangan dan berjalan menuju ke arahnya. Tempat dia dan sepeda motornya menunggu.
"Hei uncle donal, kok gak kabarin aku kalau kamu mau jemput aku?," tanyanya kegirangan. Gadis remaja mana yang tidak merasa senang ketika pujaan hatinya datang menjemput dengan tiba-tiba. Rasanya Seperti mendapat undian lotere saat itu. Senang, senang sekali.
"Surprise dong, aku sengaja kesini mau jemput kamu. Aku mau culik kamu." jawabnya, sembari memainkan kedua alisnya yang ditarik turun kebawah. Dia menyodorkan helm yang sama seperti helmnya kepada Aulia yang langsung dipakaikan. "Pakai helm dulu ya mrs.daisy," ucapnya sembari ternsenyum memasangkan helm di kepala Aulia, hari itu keselamatannya adalah tanggung jawab penuhnya. Daisy sendiri adalah nama panggilan kesayangnya, nama pasangan dari karakter kartun disney donald duck. Awalnya Aulia sering memanggil Daniel dengan sebutan uncle donal dan berakhir dengan menyebut dirinya sendiri sebagai mrs.daisy.
"Biar aku tebak, hari ini pasti kamu bawa aku ke Timbuktu iya kan? Ahh aku rindu Timbuktu." ucapnya. Aulia duduk dibelakang Daniel yang mulai menyalakan mesin skuter maticnya. Tangannya dia lingkarkan erat di pinggang, kepalanya dia sandarkan di bahu pujaan hatinya itu.
"Emmhhh, salah besar mrs. Daisy, hari ini Timbuktu bukan tempat tujuan kita. Nanti kamuu tahu." dia menjawab pertannyan sembari terkekeh. "Tapi kalau kamu rindu, pulang nanti kita masih bisa kesana sebentar." ucapnya. Scuter matic yang dikendarainya meluncur menyusuri jalan sesekali mereka melewati jalan berkelok, atau jalan yang di sisi kanan kirinya penuh dengan pepohonan. Sebelumnya mereka berhenti di sebuah toko untuk membeli minum dan makanan ringan, kemudian kembali melanjutkan perjalan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam tiga puluh menit, mereka akhirnya sampai di sebuah pondokan kecil yang terbuat dari kayu serta atapnya dari pelepah aren yang telah mengering. Aulia terperangah ketika melihat pondok mini ini, jelas saja didepannya terdapat balkon yang bisa membuat siapa saja leluasa menikmati pemandangan laut, tidak hanya dinikmati oleh mata semilir angin pantai juga bisa dirasakan melalu indera penciuman juga perabanya. Angin dipantai memang selalu bisa menyapa wajah setiap penikmatnya.
"Uncle donal, ini keren!!! Kereen sekaliiii!! Ada laut, pantai, dan apa ini? rumah kecil? ahh bukan ini gubuk kecil yang unik. Aku suka. Ini sangat keren!!. Aulia menyerocos hebat, dia turun seketika dari scutter maticnya kemudian berlari kecil kegiranngan. Rambut dan bajunya seakan ingin terbang dipermainkan angin yang. Dia sangat antusias dengan apa yang dia lihat.
" kamu suka daisy?? Aku senang kalau kamu suka. Gubuk ini aku beli sendiri pakai uang tabunganku. Keren kan??" ucapnya. Dia terkekeh melihat Daisy nya melompat dan berlari kecil kegirangan.
Daniel turun dan dibantu Aulia menuntun Scutter maticnya, lalu dia parkirkan tepat di depan gubuk kecil. Melewati anak tangga yang terbuat dari kayu berwarna cokelat, Daniel langsung membuka pintu dengan kunci kecil berbentuk jangkar. Dia mendorong pelan pintu dan langsung menampakkan bagian dalam dari pondok kecil ini. Aulia dibuat tidak habis habisnya terperangah bibirnya membentuk huruf o menunjukan ekpresi kagumnya.
"Waaah. Waaaah. Woooow. Kereen. Uncle Donal, kau tau? Kau luar biasa...!!" begitulah suara dan setiap kata yang keluar ketika matanya mengitari setiap isi di pondok itu.
Sebenarnya pondok ini lebih enak disebut dengan cottage mini, designnya yang unik, klasik, didalamnya terdapat ruang tamu yang berukuran kecil, ruang makan kecil lengkap dengan kitchen set serta satu buah kamar yang didalamnya ada ranjang dan kursi berikut dengan meja nakas yang diatasnya ada sebuah lukisan besar seorang anak laki-laaki yang tengah memakan pisang. Dinding kayunya berwarna cokelat mengkilap, di sudut dinding ada sebuah mesin pendingin yang lemarinya lengkap dengan minuman soda juga mineral. Meskipun ukurannya sangat kecil, pondok mini ini sangat nyaman untuk di tinggali. Seorang Aulia saja rasanya akan betah hidup selama puluhan tahun disini, asalkan ada uncle Donal. Iya, dunia nya akan baik-baik saja selama kekasihnya itu ada.
Daniel membawa dua buah piring berisi puding matcha dan matcha crepe serta dua gelas minuman yang berisi matcha. Semua yang berbahan baku matcha adalah menu faforit Aulia. Sehari sebelumnya, daniel sudah memesan kepada seorang wanita paruh baya yang dia percaya mengurus pondok kecilnya untuk menyiapkan semua bahan makanan dan juga memesankan beberapa minuman dan makanan yang berbahan baku matcha tersebut.
"Aku tadi kerumahmu. Aku sudah ijin dengan mama, malam ini kita akan menginap disini." katanya sembari menyodorkan minuman kepada Aulia yang dibalas dengan tatapan heran. Kalimatnya seketika menghentikan matanya yang masih sibuk melihat setiap sudut ruangan itu. Bagaimana tidak, seorang mama yang super overprotective itu bisa mengijinkan anak gadiisnya bermalam dan hanya berdua saja.
"Hah? Maksudnya kita menginap disini terus mama kasih ijin? Kenapa bisa?." tanyanya heran kemudian meneguk pelan ice matcha lattenya.
"Bisa, Daniel gitu. Hebat ya? Aku cuma ijin dengan mamamu menginap satu malam dan pakai perjanjian sih pastinya." jelasnya. Daniel mulai memotong pudingnya dan memasukan kedalam mulutnya.
"Perjanjian? Kamu buat perjanjian apa sama mama sampai mama rela aku kamu bawa jauh jauh dan menginap. Berdua lagi." Daniel mengulum senyumnya, tangannya bergerak seperti mengunci mulutnya. Bibirnya bergerak seperti mengeja "Ra-ha-si-a." ucapnya. Sebuah bantal berwarna putih mendarat tepaat dikepalanya.
"Hei uncle donal, sudah mulai main rahasia-rahasiaan ya sekarang." ujarnya sebal. Bibirnya dia majukan seolah ingin menunjukan bahwa dia sedang merajuk.
"Iya dong, gak akan ada yang dirugikan dengan perjanjian yang aku sama mamamu buat." Daniel memainkan sebelah alis kanannya naik turun. Dia suka sekali melihat ekpresi sebal Aulia itu.
"Hmmmm, awas ya lain kali aku juga mau buat rahasia. Yang banyak, uncle donal gak perlu tau." Aulia berdiri meninggalkan Daniel, dia berjalan kearah kamar untuk mengganti bajunya. Baru dua langkah kakinya berjalan tiba-tiba pergelangan tangannya di tarik, Daniel berdiri matanya menatap Aulia bibirnya dia dekatnya ditelinga kemudia berbisik
"aku gak akan biarin kamu buat rahasia yang banyak. Kamu lupa? aku ini uncle donal suami masa depannya Daysi itu artinya aku juga ayah dari anak anak kita, ayah dari kwik kwek dan kwak. Nanti kita juga tinggal diTimbuktu, dan sebagai seorang istri yang baik dilarang buat rahasia-rahasiaan" bisiknya namun suaranya masih tetap bisa didengar.
Aulia seketika membeku, jantungnya mendesir seperti air terjun yang turun jatuh ke sungai. Otaknya mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut lelaki yang masih memegang erat pergelangan tangannya. Wajahnya merah, nafasnya sudah tidak lagi beraturan jarak antara keduanya tidak sampai satu jengkal, Aulia bisa merasakan hembusan nafas yang hangat menyapa leher dan telinganya. Wanita itu benar- benar makhluk terbaper pikirnya.
"Eh....oh...emmmh.. Ya..yaudah deh suka suka kamu. Dasar Donal menyebalkan." Aulia mengecup pipi Danil dengan kecepatan kilat, setelah nya dia berlari masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Sebentar lagi jantungnya meledak, salahkan bibirnya saja! Lancang sekali dia mencium uncle donal. Hasilnya, dia harus menahan malu.
Dasar bibir kurang ajar, dasar bibir menel, dasar bibir, dasar bibir. Ini semua salah bibir!!." gumam Aulia lirih dia sibuk memukul pelan bibirnya.
Tanpa Aulia tahu, Daniel masih mematung ditempatnya. Jantungnya memompa keras, pipinya merah dia merasa gerah seketika padahal ac di dalam masih menyala. Tangannya meraba tempat bibir Aulia mendarat, kemudian dia mendehem beberapa kali untuk menetralkan jantungnya.
Tak ada sahutan suara dari Aulia. Daniel membuka lemari pendinginnya, dia mengambil beberapa snack dan minuman juga buah-buahan yang sudah terlebih dulu dia potong kecil-kecil. Setelah semuanya dirasa cukup lalu dia masukan kedalam keranjang, tidak lupa dia ambil sebuah alas lipat yang terbuat kain persegi empat. Ukurannya cukup untuk mereka berdua lengkap dengan makanannya. Sembari menunggu Mrs. Daisynya keluar, Daniel menggelar alas lipatnya lalu menata bawaannya dari keranjang. Satu piring berisi sandwich dengan selai matcha dan nuttella, satu mangkuk yang berisi potongan buah anggur, apel, berry, jeruk, pir juga pisang, serta dua buah botol minuman susu cokelat dan satu botol matcha. Tidak lama, Aulia keluar menyusul Daniel yang tengah sibuk mengatur suara dari dawai gitarnya. Dia mengenakan dress biru laut selutut warnanya senada dengan baju yang dikenakan daniel. Lalu dibagian depannya terdapat dua buah tali panjang yang dia ikat membentuk pita. Rambut hitam bergelombangnya dia biarkan terurai, terbang berantakan disapu angin. Dia berjalan dan duduk tepat disebelah Daniel, gadis itu berusaha menyembunyikan rasa malunya akibat insiden bibirnya tadi.
"Kamu bawa gitar?" tanya Aulia tangannya sibuk membenahi anak rambut yang berantakan terkena angin.
"Ini Gitar papa, katanya gitar ini dulu pernah papa pakai untuk melamar mama. Buat papa gitar ini membawa keberuntungan." jawabnya sembari menunjukan giitar berwarna hitam pekat yang sudah sedikit kusam termakan usia.
"Kamu tahu Daisy? Pondok ini juga salah satu saksi ketika dulu papa melamar mama. Tapi sudah kubeli, pakai uang tabunganku sisanya aku lunasi setelah bekerja nanti." jelasnya. Aulia hanya diam dia mendengarkan setiap ceritanya.
Daniel sebentar menoleh kearah Aulia, matanya menatap mata Aulia kemudian dia melanjutkan setiap kalimatnya
"suatu saat nanti setelah kita lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang baik, aku akan mengikuti jejak papa. Beberapa tahun kemudian uncle donal akan melamar daisynya ditempat ini, disaksikan pondok mini ini dan juga gitar tua ini." Aulia lagi-lagi terdiam. Entah sudah berapa kalimat yang dikeluarkan daniel berhasil membuatnya merasa takjub, ada perasaan bahagia dihatinya. Dia tersenyum. Dia merasa tidak sabar untuk segera lulus sekolah, menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah lalu bekerja. Rasanya dia ingin dilamar saja hari ini, persetan dengan sekolah batinnya.
"Iya, iyaaa aku mau!! Daysi bilang, dia mau jadi istri dari uncle donal. Tinggal di Timbuktu, dan punya anaaaaaak yang banyak." ucap Aulia antusias sangking bahagianya dia melontarkan semua kalimat dengan nada sedikit keras dan setengah berteriak. Daniel terkekeh dia menganggukkan kepalanya, tangannya membelai kepala Aulia hangat.
"Kalau gitu, ayo kita berjuang bersama sampai tujuan kita." katanya mantap.
Aulia mengambil sandwich dengan isian selai matcha dia masukan kedalam mulutnya untuk dia kunyah. Sesekali tangannya menyuapi roti selai itu kedalam mulut daniel yang mulai memainkan senar gitarnya. Dengan suaranya yang khas serak-serak basah itu dia mulai menyanyikan sebuah lagu Nothing’s Gonna Change My Love For You dari George Benson
🎼🎼🎼
If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever, oh, so clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong.
Our dreams are young and we both know
They'll take us where we want to go
Hold me now, touch me now
I don't want to live without you
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you
Mendengar setiap lirik yang di nyanyikan uncle donalnya, Aulia ikut bersuara bernyanyi bersama mengikuti petikan gitar. Setelah lagu pertama selesai mereka kembali menyanyikan sebuah lagu milik taylor swift berjudul love story. Kepalanya dia sandarkan di lengan bahu milik daniel, dengan ditemani semilir angin sore, burung yang terbang, serta jingganya sunset seakan turut mendukung suasana romantis yang tengah di ciptakan sepasang remaja yang pasti saat itu mereka yakini bahwa dunianya hanya milik mereka berdua saja.