
Regio memarkirkan mobilnya asal di tepi jalan. Suasana di depan sana penuh dengan orang yang bergerombol. Ada pemadam kebakaran dengan sirine yang terdengar sampai tempat Regio berdiri sekarang. Juga mobil ambulance yang bersiap pergi kerumah sakit terdekat. Ia sampai di sini setelah mengikuti gps mobil bodyguard Feby. Titik merah yang terus berkedip dan bergerak tidak tentu arah tadi berhenti di sini.
Langkahnya menjadi ragu saat mendekati kerumunan itu. Ia sangat tidak ingin mempercayai dugaan yang melintasi pikirannnya. Hatinya menjadi tidak tenang.
Regio menyibak kerumunan warga yang saling berbisik-bisik satu sama lain. menggosipkan betapa mengenasnya kecelakaan mobil yang menjadi pusat perhatian kini.
“ Aku tadi melihat mobil itu berguling 10 kali.”
“ Iya iya, aku juga melihatnya. Setelah itu BOM ... meledak sangat keras."
Medengar semua itu rasanya kaki Regio sudah tidak kuat lagi untuk melangkah. Dan akhirnya sampailah ia di barisan paling depan kerumunan. Petugas pemadam kebakaran sibuk memadamkan api dari mobil yang sudah hangus terbakar seluruhnya.
Seluruh bangkai mobil itu menghitam, ringsek di sana sini. Kemewahan yang sebelumnya melekat di sana hilang karena kobaran api. Regio memandang lekat pada 4 Petugas medis yang menggotong kantung jenazah berwarna putih dan meletakkannya di atas bed pasien untuk segera dimasukkan ke dalam mobil.
Hatinya tiba-tiba saja berdesir tidak mengenakan. Telingnya mendadak berdengung dan tidak lagi mendengar obrolan ibu-ibu tentang kecelakaan di belakangnya. Regio menelan salivanya dengan susah payah. Mencoba kembali mengumpulkan sisa kepercayaannya dan berjalan dengan cepat menuju petugas medis yang masih sibuk menaikan kantong jenazah ke atas mobil ambulance.
“ Sudah selesai. Ayo berangkat.” Salah seorang petugas berseru dan segera menaiki mobil. Bersiap menutup pintu belakang. Namun kemudian Regio menahannya sekuat tenaga dan turut masuk kedalamnya.
“ Maaf mas, ada apa ya ? ” petugas medis terlihat bingung akag kedatangan Regio
“ Apa boleh saya melihat korbannya ? ” Para medis saling berpandangan bingung, “ Saya kakaknya.” Regio menjelaskan singkat dan petugas itu hanya ber-oh-ria. Kondisi korban sangat mengenaskan dan tidak bisa dikenali.” Suaranya sedikit memelan demi memberi rasa simpati pada Regio.
“ Boleh saya membukanya ? ” Dengan terpaksa petugas medis itu membuka resleting kantong jenazah. Memperlihatnya seorang wanita yang wajahnya sudah hangus seluruhnya. Tidak bisa dikenali sama sekali. Kulit wajahnya tekelupas dan menampakkan bagian dalam dari kulit luarnya. Darah segar menetes dari lubang hidungnya.
Petugas medis kembali menutup resleting kantong jenazah saat melihat Regio yang sangat terpukul. Dan tidak bisa berkata apa apa lagi.
“ Kami masih harus membawanya ke rumah sakit untuk otopsi. Dan setelahnya baru bisa memastikan identitas korban. Masnya lebih baik sekalian ikut kami ke rumah sakit.” Saran petugas medis yang duduk didepannya. Anggukan ringan Regio berikan sebagai balasan. Dia masih terkejut setelah mengenali kalung yang masih melingkar di leher wanita dalam kantung. Itu adalah kalung pemberiannya sebagai hadiah anniversary kencan mereka tahun lalu.
‘ Itu tidak mungkin Yasmine.’
-
Setelah menempuh waktu sekitar setengah jam, akhirnya ambulan yang membawa jasad korban sampai di rumah sakit daerah. Petugas medis membawa kantong jenazah langsung ke ruang otopsi untuk diperiksa, sedangkan Regio hanya bisa melangkah bimbang mengikuti di belakangnya.
“ Ruang otopsi sudah siap, letakkan jasadnya langsung pada meja saja, Pak!” Perintah seorang pria bepakaian serba putih.
“ Baik, Pak.”
Sebelum sang dokter masuk ke ruang otopsi lebih jauh, seorang dengan jaket hitam berlari sambil membawa sebuah amplop coklat. Melewati Regio yang masih diam sejak tadi. “ Dokter Wahyu..” panggilnya sedikit terengah.
“ Oh, Pak Reza. Ada apa pak?”
“ Ini laporan awal dari TKP dan keterangan saksi tentang ciri-ciri korban.”
“ Baiklah, terima kasih. Saya akan berusaha mengidentifikasi korban.”
“ Siap pak. Saya menunggu hasilnya.”
Seorang yang bernama Pak Reza itu akhirnya berbalik menghadap Regio, setelah Dokter Wahyu memasuki ruang otopsi.
Pak Reza dengan mata menyelidiknya memandangi Regio dari atas ke bawah dan kembali ke atas lagi. “ Siapa kamu,nak?”
Regio mengankat kepalanya, ganti memandang pak Reza.
“ Saya pacarnya.” Jawab Regio singkat. Kembali menundukkan kepalanya.
“ identitas korban belum dipastikan. Bagaimana kamu bisa yakin kalau itu pacar kamu ?” pertanyaan ini membuat Regio medongak kembali. Bertemu pandang dengan pak reza yang masih memandangkanya dengan pandangan curiga.
“ saya adalah IPTU Reza, bisakah saya menanyakan beberapa hal kepada saudara?”
***
Ketiganya berdoa sebentar sebelum akhirnya benar-benar memulai otopsi.
“ Waktu otopsi 16:27 WIB.” Dokter wahyu membuka kain penutup dan memperlihatkan wajahnya menghitam karena terbakar. Seorang perawat laki-laki dengan kamera ditangannya sedikit kasihan melihat wajah korban. Dia berdecak dan kembali pada tugasnya untuk memotret setiap detail tanpa terlewat.
Dokter Wahyu memperhatikan wajah mayat di hadapannya dengan teliti. “ Kulit epidermis rusak karena terbakar.”
“Kulit epidermis rusak karena terbakar.” Perawat perempuan yang bertugas mencatat kembali mengulangi apa yang dikatakan oleh dokter Wahyu sembari mencatatnya.
“ Ambil sampel darah pada hidungnya dan segera berikan pada bagian analisis.”
“baik”
“ Ambil juga beberapa rambutnya.”
Perawat perembuan mengumpulkan darah dengan alat seperti cotton bad lalu menggunting rambut korban yang masih belum terbakar dan meletakkannya pada tempat yang terpisah.
“ Luka goresan di dahi.” Otopsi kembali berlanjut dengan memeriksa semua bagian tubuh tanpa terkecuali.
***
Jaksa penyidik Moreo baru saja sampai di rumahnya yang berada di perumahan Mega Asri, Jakarta Selatan. Sang istri menyambutnya dengan hangat dan segera menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya. Sementara Jaksa Moreo sedang menyantap makan malamnya di ruang tengah yang merangkap sebagai ruang tamu. Maklum saja Jaksa Moreo belum bisa membeli rumah yang lebih besar dari ini, karena gajinya yang masih pas-pasan. Anak perempuan satu-satunya sudah terlelap sejak tadi. Ini sudah jam 10 malam. Wajar saja kalau anak umur 12 tahun sepertinya sudah tidur dan menyelami alam mimpi yang penuh keceriaan dan imajinasi.
“ Mas, kasusnya Pak Yasa masih belum kelar ya?” sang istri membawakan teh hangat dan mendudukkan dirinya di samping sang suami.
“ Belum. Kayaknya sebentar lagi juga kelar.”
“ Tadi siang ada kabar kalau anak perempuan Pak Yasa kecelakaan dan meninggal.” Jaksa Moreo menghentikan acara makannya ketika sang istri mulai menyebutkan nama putri atasannya itu. Atau lebih tepatnya mantan atasannya.
Yasa Jayanegara adalah jaksa penuntut umum yang berada di satu bidang yang sama. Jaksa moreo sangat mengagumi kinerja beliau. Pak yasa adalah orang yang disiplin, tegas, dan berkepala dingin. Beliau dikenal sebagai jaksa berprestasi dan beintegritas tinggi. Tidak cocok sekali dengan kasus terakhir yang akhirnya membelitnya sebelum pembunuhan itu terjadi.
Malam itu Jaksa Moreo, Pak Yasa dan timnya sedang sibuk dengan laptop dan berkas yang menggunung. Mereka sedang menangani kasus penemuan mayat seorang pria, 38 tahun yang ditemukan di tempat pembuangan sampah. Hasil otopsi baru saja keluar satu jam yang lalu, dan mereka mencoba mencocokkan hasil otopsi dengan foto tkp juga keterangan beberapa saksi yang sudah mereka kumpulkan. Sampai tiba-tiba dering ponsel tanda panggilan masuk memecah keheningan. Ponsel Pak Yasa bergetar dan menampilkan nomer tidak dikenal.
“ ya pak.” Pak yasa sedikit mengerutkn dahinya, meskipun masih dengan ekspresi yang tenang. “ baik saya akan kesana.” Dan setelahnya sambungan telepon ditutup. Pak yasa berdiri dari kursinya dan mengambil jas yang tersampir di sandaran kursinya.
“mau kemana pak?”
“ saya akan keluar sebentar dengan atasan. Kalian lanjutkan penyelidikan.” Pak yasa memberi wejangan sebelum keluar dari ruanganan.
Malam itu semua kembali sibuk dengan pekerjaannya tanpa merasakan sesuatu yang berbeda. Mereka bekerja lembur agar masih memilik waktu tersisa untuk sedikit berlibur di malam tahun baru besok lusa.
Dan pada hari pertama tahun baru, Jaksa Moreo menerima kabar yang cukup membuatnya terkejut di pagi buta. Kabar pertama adalah tentang kasus suap Pak Yasa dan kabar kematiannya yang menyusul beberapa jam kemudian.
“ Mas ?” Suara lembut sang istri menyadarkan kembali Jaksa Moreo yang sempat terdiam cukup lama.
“ Bagaimana dengan kecelakaan putri Pak Yasa?” Jaksa Moreo kembali melanjutkan makannya dengan sang istri yang melaporkan mengenai kecelakaan putri Pak Yasa dari berita di TV.
“ Aku merasa kasihan dengan nasib keluarga mereka.” Sang istri mengakhiri ceritanya dengan perasaan iba yang amat kental. Meski begitu, ia masih menerima piring kosong dari suaminya dan berjalan ke dapur untuk mengambilkan air putih.
Jaksa Moreo kembali termenung. Dia menghela nafas kasar dan bersandar pada sandaran sofa. Pria itu merasa semakin yakin ada suatu potongan puzzle yang hilang di sini.
Tiba- tiba saja ponselnya berbunyi dan menampilkan sebuah email masuk.
Tangannya sedikit bergetar ketika membaca siapa nama pengirim. Disana tertulis dengan jelas nama seniornya. “Pak Yasa?”