
Yasmine kembali memandangi amplop coklat yang diberikan oleh polisi Dirga sore tadi. Jari telunjuknya terus berputar searah jarum jam diatas lingkaran merah tempat mengaitkan benang pengunci. Alisnya saling tertaut, tanda ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius diotaknya. Bibirnya sesekali manyun dan kembali dengan ekspresi sedih.
“Aku menemukan kalau ada orang lain yang memasuki rumahmu sebelum para perampok. Dan mereka memiliki ciri yang sama seperti yang telah kamu katakan.”
Kata polisi Dirga sebelum meninggalkan rumahnya sore itu.
Kalau bukti itu ditunjukkan saat sidang nanti, kasus pembunuhan itu mungkin bisa segera diungkap. Yasmine sangat berharap banyak didalam hatinya. Ini adalah awal yang bagus. Setidaknya masih ada sedikit petunjuk untuk menemukan Arga dan rombongannya.
Yasmine merebahkan dirinya diatas kasur busa yang sudah kempes ditengah dan salah satu sisinya. Tangan kanannya meraih ponsel putih yang tidak pernah dinyalakan sejak malam itu. Artinya sudah hampir 1 bulan ponsel itu dibiarkan mati kehabisan daya.
Ting ting ting
Notifikasi yang berasal dari berbagai aplikasi di dalamnya berbunyi bersamaan segera setelah ponsel itu berhasil menyala.
Ada lebih dari 100 panggilan tak tejawab. Sebagian besar dari sahabatnya yang cerewet dan perhatian – Faby – . Setengahnya lagi dari kekasihnya. Ya kekasihnya yang sudah ia abaikan selama sebulan.
Yasmine memang sengaja melakukannya. Sebenarya gadis itu merasa takut dan trauma. Kejadian berdarah dimalam itu tentunya bukan pengalaman yang bisa dilupakan dengan begitu mudah. Seberapa keras Yasmine berusaha, tetapi bayang-bayang itu terus datang dengan sendirinya.
Terlebih keberadaan Arga yang masih menjadi hal yang sangat tidak dimengerti oleh Yasmine.
‘kenapa dia ada disana?’
‘kenapa dia melakukannya ?’
‘kenapa dia sangat berbeda ?’
Rasanya Yasmine ingin mendudukkan Arga didepannya sekarang. Dan menanyakan semua pertanyaan yang mengganjal hatinya sejak malam itu.
Kembali kepada malam tahun baru.
Arga melepas masker hitam yang menutupi mulai hidung hingga ke lehernya. Terpampanglah wajah tampan dengan rahang yang sedang terbentuk. Hidung yang mancung dan matanya yang tajam. Warna coklat kulitnya semakin memberikan kesan yang sangat menawan untuk seorang Arga. Tapi juga misterius disaat yang bersamaan.
Yasmine tak akan melupakan senyum meremehkan yang terpatri di wajah mempesona Arga malam itu. Sorot matanya yang tajam menatap lurus tepat pada Yasmine yang masih tekejut dibelakang ibunya.
“Kau berjanji padaku Bu Anjani.” Suara tegas keluar dari mulut Arga. Ditujukan dengan jelas kepada ibu Yasmine. Tetapi pandangannya masih belum mau beralih dari Yasmine.
“Bebaskan kedua anakku terlebih dulu.” Bu Anjani masih bersikukuh dan tenang sejak tadi.
“Jangan mempersulit kami, Bu Anjani!!”
Bu Anjani semakin keras menekan kuku jarinya pada kepalan tangan. Wanita itu jelas merasakan kemarahan yang mendalam di dalam hatinya. Tapi dia masih mau bersabar agar tamu mereka merasa puas dan segera pergi.
Lama mereka terdiam dengan suasana tegang yang sangat mencekam. Mereka masih bersiaga dan tidak sedikitpun mengurangi kadar kewaspadaan itu. Keheningan ini layaknya gencatan senjata yang diberikan dari rombongan Arga. Agar Bu Anjani dapat menyusun rencana supaya bisa tetap bertahan atau bahkan membalikkan keadaan yang sekarang ini.
“ Yasmine ambilan flashdisk merah di ruang kerja Ayahmu. Di lemari belakang meja kerja.” Bu Anjani berujar tegas setelah sekian lama tenggelam dalam keheningan.
Yasmine yang masih mengatasi keterkejutan dan kebingungan hanya beringsut mendekati ibunya.
“ I-ibu. Apa yang terjadi?” dengan suara bergetar Yasmine menanyakan sebuah pertanyaan yang tidak akan mampu dijawab oleh ibunya itu.
Yasmine tesentak sadar dan memandangi orang-orang diruangan itu dengan wajah gelisah. Mulai dari Arga lalu keempat orang dengan pakaian serba tertutup dibelakang Arga. Mengamati satu persatu perawakan dari rombongan orang-orang yang sangat asing dimata Yasmine. Dan berakhir pada sosok ibu dan kakaknya.
Yasmine melepaskan tangan ibunya dengan perasaan berat. Langkah kakinya mulai bergerak meninggalkan dapur dan menuju lantai atas. Tanpa sekalipun menoleh kearah belakang.
Yasmine tahu Arga menatapnya. Memandangi kepergian Yasmine ke lantai 2 rumah itu. Arga tidak sedikitpun melepaskan pandangan pada Yasmine sejak masker yang menutupi wajahnya tersingkap. Pandangan matanya tidak dapat dijelaskan ketika melihat Yasmine – sahabatnya itu. Atau mungkin sekarang Yasmine sudah enggan untuk memanggilnya sebagai sahabat setelah apa yang sudah ia lakukan kepada ayah tecintanya. Siapa pula yang akan menganggap seorang pembunuh adalah sahabat jika bukan orang bodoh.
Gadis itu dengan tergesa mencari ponsel di kamarnya dan segera menghubungi polisi. Dengan suara gemetar dan ketakutan Yasmine melaporkan semua kejadian juga alamat rumahanya.
Tanpa membuang banyak waktu, Yasmine segera berlari keluar dari kamarnya. Dia berlari menyusuri lorong kecil dan ruang keluarga yang memang didesain sangat nyaman di tengah lantai 2. Dimana beberap kamar dan ruangan disekelilingnya.
Ruangan itu biasanya ia gunakan sebagai tempat berdiskusi dan membahas berbagai hal mulai dari yang sangat penting sampai masalah siapa yang seharusnya mendapat jadwal membuang sampah dihari Minggu.
Yasmine membuka dengan kasar pintu ruang kerja ayahnya. Mencari flashdisk yang diminta oleh ibunya. Lebih tepatnya diminta oleh Arga.
....
Sialan.
Umpatan pelan lolos begitu saja dari mulut kecil Yasmine. Tangannya meremas ponsel putih dengan keras. Kenangan itu masih melekat jelas didalam pikirannya. Seberapa keras ia mencoba lebih menerima dan menjadi tenang, kemarahan selalu saja menyelimuti dan terus menggerogoti hatinya.
Yasmine memandang noda darah yang masih tertinggal di ponsel putihnya tidak mau dibersihkan. Seperti memberi tanda kenangan buruk yang pernah dialaminya sendiri. Bukan sebuah film seperti yang sering ditontonnya bersama dengan Kak Naufal.
Dari sekian banyak pesan masuk diponselnya, ada satu nama yang menarik perhatiannya seketika. Nafasnya kembali memburu hanya dengan membaca nama itu. Separuh hatinya sangat penasaran dengan pesan apa yang sudah dikirim mantan sahabatnya itu. Tapi separuhnya lagi merasa marah dan sangat ingin menghindari semua hal yang berhubungan dengan dia lagi.
Setelah pergolakan batin yang ternyata memakan waktu hingga setengah jam, akhirnya Yasmine memutuskan untuk membuka pesan darinya. Yasmine berusaha mengatur nafasnya agar lebih tenang.
Pada nama pengirim tertulis ‘kakakku Arga’ dan diakhiri dengan emoticon kepala harimau disana. Andai Yasmine tahu akan jadi seperti ini ia tidak akan menolong Arga 4 tahun lalu. Saat pertama dimana Yasmine bertemu dengan seorang pemuda pendiam tapi sangat menyayanginya layaknya seorang kakak.
‘aku menunggumu di taman kota jam 07.00 malam.’
Pesan singkat itu dikirim padanya seminggu yang lalu. Yasmine menggeram.
Masih bisa dia meminta untuk bertemu setelah semua yang dilakukannya padaku?
Yasmine merasa konyol dengan permintaan Arga. Apa semua ini hanya dianggap sebuah lelucon untuk Arga? Dia pasti mentertawakan kebodohan Yasmine selama ini. Betapa konyolnya Yasmine yang sudah menganggap Arga menjadi kakak dan orang yang penting dihidupnya.
Yasmine menghempaskan tubuhnya ke kasur. Memejamkan mata dan mencoba melepas beban berat yang menindih hati nya. Helaan nafas terdengar sangat putus asa.
Pesan itu sudah satu minggu yang lalu, pikirnya. Dan tidak mungkin Arga akan terus menunggu untuk tetap bertemu.
Namun tiba-tiba saja ponsel putih di tangan kirinya itu bergetar. Panggilan masuk disana. Dan nama Arga menjadi satu-satunya tempat bagi mata Yasmine memandang.
Gadis itu ragu sejenak. Tangannya gemetar dan dengan lambat menggeser tanda telepon berwarna hijau dilayar.
“ halo ...”