Treason

Treason
Chapter 1 : Masker Hitam di Malam Tahun Baru


Hujan masih turun saat Yasmine sampai di pemakaman siang ini. Jarum jam sudah menunjuk ke angka 01.26 siang. Namun matahari nampaknya enggan menampakkan sinarnya sedikitpun sejak pagi tadi. Awan mendung masih menggelayut manja di langit cakrawala disertai dengan tetesan air hujan. Seakan mendukung suasana hati Yasmine yang tengah mendung meski mimik wajahnya nampak tenang. Kakinya terus melangkah menyusuri jalan setapak lebih jauh meninggalkan pintu masuk pemakaman. Tangan kanannya menenteng tiga tangkai bunga lily putih yang cukup besar.


Yasmine, gadis 17 tahun dengan rambut panjang serta mata bulat dengan iris hitam. Layaknya orang Asia pada kebanyakan. Hidungnya mungil. Begitu pula dengan bibir berwarna merah muda itu. Kulitnya kuning langsat. Tingginya hanya mencapai 158 cm dengan tubuh yang ramping.


Satu bulan yang lalu keluarganya mati terbunuh oleh sekelompok orang tidak dikenal yang mendatangi rumahnya di malam tahun baru. Suasana malam yang tadinya meriah berubah menjadi mencekam.


Yasmine sedang membungkus sebuah kado bersama kakak laki-lakinya – Naufal – dikamar, saat tiba-tiba saja beberapa orang memasuki rumahnya dengan pakaian serba hitam dan beberapa senjata tajam ditangan mereka. Kedua kakak-beradik itu segera berlari keluar kamar ketika mendengar suara tembakan yang sangat keras dari lantai bawah.


Yasmine yang sedang menuruni tangga menuju kedua orang tuanya di ruang makan mendadak menghentikan langkahnya karena terkejut. Badannya mendadak kaku dan sulit bergerak. Seakan ribuan paku telah menancapkan kakinya ke lantai tangga yang berlapis karpet beludru hitam kualitas terbaik. Badannya gemetar. Punggungnya tiba-tiba dingin, bukan karena suhu udara yang memang dingin di penghujung tahun. Tapi lebih kepada rasa ngeri yang tiba-tiba menjalar ke sekujur saraf ditubuhnya. Matanya tidak lepas dari arah dapur yang tepat dibawah sana. Sosok tegap sang ayah sudah tergeletak di lantai dengan beberapa lubang yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah berbau anyir. Cairan tersebut terus mengalir seperti mata air baru dipengunungan yang tinggi. Orang bodoh pasti juga tahu cairan apa yang mengalir dari lubang dikepala ayahnya. Serta dua lubang lain di dada kirinya.


Yasmine tersentak saat menyadari apa yang sudah terjadi. Sementara dirinya masih terdiam ditengah tangga dengan mata bulat yang sedikit berair, sang kakak sudah lebih dulu mencapai ujung tangga dengan tangan yang mengepal erat dikedua sisinya.


Yasmine kembali mengarahkan pandangannya menyapu seluruh isi ruang makan. Rasa penasaran sejak keluar dari kamarnya tadi tehapus dengan sangat menyakitkan ketika Yasmine menyaksikan sendiri tanpa perlu bertanya. Ada lima orang dengan pakaian serba hitam dan masing-masing memegang senjata yang berbeda. Wajah mereka tertutup masker. Salah satu diantara lima orang tadi tengah duduk di kursi tinggi didepan pantry. Sambil salah satu tanganya menodongkan pistol kearah sang ibu yang masih terdiam kaku.


Bau hangus ayam panggang mengisi ruangan. Jika tidak dalam suasan yang menegangkan seperti sekarang ini mungkin Yasmine sudah berlari kearah ayam panggang favoritnya. Dan bersiap memarahi siapapun yang telah membuat ayamnya menjadi gosong tidak bisa dimakan.


Kesadaranya kembali ketika sang kakak berlari menuju ibunya dan segera menempatkan dirinya sebagai tameng untuk sang ibu. Penjahat itu belum menarik pelatuknya sejak kedatangan dua kakak beradik dari lantai atas. Tetapi ujung pistolnya sudah berada pada posisi siap siaga untuk memuntahkan timah panas didalamnya. Meluncur dengan kecepatan tinggi dan jarak yang cukup dekat. Peluru itu pasti bisa menembus kepala sang ibu jika sampai termuntahkan dari pistolnya. Matanya menyipit, menandakan bahwa penjahat itu sedang tersenyum dibalik masker hitam yang menutupi dari hidung hingga ke leher.


“ Ibu, pergilah bersama Yasmine. Aku akan mengulur waktu sebentar.”


Sang ibu yang berada dibelakangnya tidak bisa untuk tidak terkejut mendengar bisikan pelan dari anak sulungnya. Wanita berusia 40 tahun itu mengerti niat baik dari anaknya. Tetapi meskipun anaknya mempunyai kemampuan karate sabuk hitam sekalipun, tidak akan mungkin bisa menahan lima orang sekaligus lebih dari 10 menit. Apalagi ada berbagai macam senjata ditangan penjahat itu. Suaminya yang merupakan seorang jaksa tidak mampu melakukan perlawanan yang berarti.


Kelembutan yang biasanya menghiasi wajahnya kini hilang digantikan dengan ekspresi tegas yang tidak pernah dilihat Yasmine sebelumnya dari sang ibu. Dengan satu tarikan lembut namun tegas wanita itu menyingkirkan tangan anak lelakinya yang masih terbentang didepannya.


“Aku tau apa tujuan kalian datang kemari. Jangan libatkan kedua anakku. Biarkan mereka pergi dan kalian mendapatkan apa yang kalian mau.” Suara sang ibu dingin dan menusuk.


Tapi tindakannya tidak diikuti oleh 4 orang yang berada dibelakangnya. Ibu Yasmine masih waspada karena beberapa penjahat justru mengarahkan pistol mereka pada Yasmine, ibu dan kakak lelakinya.


“Letakkan senjata kalian!” nada tenang namun dipenuhi oleh aura dingin dan mengancam terdengar dari penjahat yang duduk dipantry. Jika dilihat dari gerak gerik dan juga perintah yang baru saja dikeluarkan, pria itu pastilah pimpinan dari rombongan tamu tak diundang yang mengunjungi rumahnya itu.


Dengan patuh keempat penjahat dibelakang mereka menurunkan senjata mereka. Meski dengan rasa enggan yang tak sedikitpun disembunyikan dari pancaran mata mereka.


Yasmine berlari dengan cepat menuju ibunya. Gadis itu langsung bersembunyi dibelakang tubuh ramping sang ibu yang masih menunjukkan ekspresi tenang di saat seperti ini. Punggungnya masih lurus seakan tidak akan ada apapun yang mampu membahayakan dirinya beserta kedua anak kesayangannya.


Pemimpin penjahat itu menarik masker yang menutupi wajahnya. Memperlihatkan wajah asli dibalik masker yang sejak kedatangannya sudah membuat Yasmine tidak sabar untuk menariknya dan menampar wajahnya sampai berdarah. Yasmine menatap benci pada pemimpin penjahat yang sepertinya sedang menggoda Yasmine dengan gerakan lambatnya dalam menarik masker. Kilatan kegembiraan jelas terpancar dari kedua matanya yang memilki cekungan. Sampai akhirnya masker hitam itu terlepas dari wajahnya, Yasmine tidak bisa menahan dirinya untuk tetap berdiri dengan tegak. Meski kedua kakinya sudah gemetaran sejak tadi.


Begitu masker yang menutupi wajah pemimpin terlepas dari tempatnya, keterkejutan tidak lagi bisa disembunyikan dari wajah ibu dan kedua anak dibelakang punggunnya. Yasmine tanpa sadar mudur beberapa langka kebelakang sampai membentur tepian meja dapur. Tubuhnya lemas seketika. Bahkan untuk berdiripun Yasmine harus berpegangan erat pada pinggiran meja dapur.


Mata bulatnya memandang sekeliling sambil mencoba mengatur nafasnya yang sedikit berat. Dia sangat berharap bahwa sebentar lagi ayahnya akan terbangun dan semua orang diruangan akan mentertawakan kebodohannya yang dengan begitu gampangnya tertipu. Dan semua orang akan berteriak dengan wajah gembira bahwa semua kejadian ini hanyal prank. Seperti beberapa video yang sedang viral di youtube akhir akhir ini. Sahabatnya Feby pernah melakukan hal seperti ini padanya beberpa waktu lalu demi konten youtubenya.


Tapi bau darah dan wajah ketakutan ibu serta kakak lelakinya segera menghempaskan Yasmine pada sebuah kenyataan pahit yang harus ia alami. Meskipun seribu kali dia berharap akan keajaiban dari kejadian hari ini, nampaknya itu tidak akan pernah sesuai dengan keinginannya.


Yasmine menggenggam tangannya erat-erat. Kuku-kuku tajammya menusuk kulit tapi masih tidak dipedulikan. Nafasnya memburu saat Yasmine mengingat kembali kejadian mengerikan malam itu. bukan kesedihan yang terpancar dari kedua mata jernihnya. Tetapi sebuah tekad penuh dendam yang semakin hari semakin menumpuk pada pria yang pernah melabeli dirinya sebagai teman.


“Arga sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu.” Bagai sebuah mantra Yasmine menguatkan hatinya yang sempat mengenedur ketika kakinya melangkah memasuki pemakaman.


Sekarang ia dihadapkan tiga pusara yang semakin menguatkan dendam dihatinya. Ia tidak akan mundur hanya karena ia sendiri dan seorang perempuan. Tidak ada yang namanya perempuan atau laki-laki dalam pembalasan dendamnya. Banyak jalan menuju Roma. Yasmine yakin bahwa ia akan menemukan jalannya.