Treason

Treason
Chapter 5 : Wartawan, Jaksa dan Wakil Bupati



Ruang sidang untuk kasus perampokan bersenjata terhadap seorang Jaksa penuntut umum akan segera dimulai. Berberapa wartawan berdatangan dengan antusias demi mencari berita yang masih hangat diperbincangkan sejak satu bulan yang lalu. Kasus tentang perampokan yang menewaskan Jaksa Yasa, istri dan juga anak tertuannya. Sedangkan anak keduanya terluka parah oleh tembaka.


Gerimis kecil sama sekali tidak menjadi halangan untuk para pemburu berita yang harus tetap stand by dan bergerak cepat. Mereka harus bisa mendapat berita sekecil apaun demi memuaskan para warga yang sangat menantikan kelanjutan berita ini.


Kembali ke dalam ruang sidang. Tiga orang hakim memasuki ruang sidang melalui pintu khusus di samping ruangan. Semua hadirin berdiri memberi hormat, tidak terkecuali jaksa penuntut umum yang sedang bertugaa – Jaksa Moreo.


Duduk di kursinya, Jaksa Moreo yang bertugas dalam kasus ini terlihat sedikit gelisah. Hari ini adalah sidang kedua pembacaan dakwaan yang sebelumnya tertunda karena saksi Yasmine tidak datang. Dan kemarin, penyidik polisi Dirga sudah mengatakan kalau Yasmine akan datang hari ini. Penyidik Dirga berjanji dengan kalau dia akan menjemput Yasmine pagi tadi. Tapi sampai sekarang penyidik Dirga belum juga menunjukkan kehadirannya. Jaksa Moreo tidak mengetahui kalau Yasmine sudah menghilang sejak pagi tadi.


Ketua hakim yang duduk di tengah membuka sidang dengan membaca nomor kasus dan serentetan aturan dalam persidangan. Ketukan palu yang terdengar menjadi pertanda dimulainya persidangan. Kemudian tiga orang terdakwa dibawa masuk dan didudukkan pada kursi pemeriksaan yang berada di tengah ruangan.


“ Apakah terdakwa berada dalam keadaan sehat dan siap mengikuti persidangan?”


“ Ya “


Setelah pembacaan identitas terdakwa oleh hakim, sidang pun berlanjut pada pembacaan dakwaan oleh Jaksa Moreo.


“ Terdakwa Tatang Suherman alias Maman bersama dengan dua temannya Hendro Agus alias Cecep dan Fredi Sinaga alias Fredi menerobos rumah milik Jaksa Yasa Jayanegara pada pukul 01.38 WIB pada tanggal 1 Januari.


Ketiganya memasuki rumah dengan memanjat pagar depan dan melalui pintu samping. Melihat bahwa penghuni rumah masih terjaga, Tatang Suherman alias Maman sempat melakukan kontak fisik dengan korban Yasa dan anak lelakinya, Naufal. Namun akhirnya menembaknya dengan senjata pistol FN-57 dan tepat mengenai jantung, pelipis kanan dan perut bagian bawah, dan kepala pada korban Yasa Jayanegara.


Hendro Agus alias Cecep dan Fredi Sinaga alias Fredi, juga menggunkan pistolnya dengan jenis yang sama untuk melukai 3 korban lainnya. Yaitu Anjani Melati, Naufal Rendra dan Yasmine Zivana. Kemudain ketigaya melakukan penjarahan pada rumah Jaksa Yasa."


***


Setelah hampir 3 jam sidang berlangsung dengan sangat lancar dan ketiga tersangka mengakui semua tuduhan tanpa sedikitpun pembelaan. Hal ini membuat Jaksa Moreo yang sedang membereskan berkas bersiap kembali ke kantornya menjadi bingung.


“ Mereka sama sekali tidak menyangkal tuduhanku dan menerima semuanya begitu saja?”


“ Mungkin mereka mencoba untuk mengurangi hukuman yang akan mereka dapat nantinya.” Rekan jaksanya yang berada disampingnya menanggapi dengan enteng. Seolah itu memang wajar, seperti air yang mengalir kebawah bukan keatas.


“ Benarkah ?” Jaksa Moreo menyrengitkan dahi merasa aneh.


“ Iya tentu saja. Ini mungkin juga strategi dari kuasa hukum mereka.” Rekan jaksa berbadan kecil itu sedikit mendekatkan dirinya pada Jaksa Morea. “Pak Andy Sitorus.” berbisik rendah sambil sesekali menatap sekeliling.


Oh, siapa yang tidak mengenal pengacara kondang yang sudah sering memenangkan berbagai kasus, bahkan saat dirinya yang dulu merupakan Jaksa penuntut umum. Dia selalu memenangkan setiap kasus yang ditanganinya.


Andy Sitorus, dulunya merupakan seorang Jaksa, sebelum akhirnya memilih untuk beralih menjadi seorang pengacara. Beliau selalu memenangkan kasus apapun yang di tanganinya. Karena itu, Andy Sitorus mendapat julukan si Tangan Emas.


Jaksa Moreo mencoba untuk tidak memikirkan kecurigaannya dan berjalan mengikuti rekannya keluar dari ruang sidang. Dia masih harus menyiapkan berkas untuk sidang selanjutnya. Dan menemui Penyidik polisi Dirga yang tidak membawa Yasmine pada sidang hari ini.


***


“ Menurutmu kenapa Pak Yasa bisa terbunuh disaat beliau hampir saja membongkar kasus dari wakil bupati Brama Abimanyu itu?” salah seorang wartawan bertanya pada teman di depannya.


Mereka berdua sedang istirahat makan siang setelah meliput kedatangan Brama Abimanyu ke gedung KPK. Yang sebelumnya sempat menjadi buron setelah kematian Jaksa Yasa. Dan beberapa kali mangkir dari panggilan KPK.


“ Apa menurutmu ini konspirasi?”


“ Jangan mengarang cerita kalian ini.” seorang wartawan lain turut bergabung dalam meja keduanya.


“ Memangnya kamu tidak penasaran? “ Wartawan yang pertama kali bertanya semakin mencondongkan badannya bersiap untuk ‘bergosip’.


Memang jiwa keingintahuan seorang wartawan itu tidak ada yang bisa mengubahnya. Atau sepertinya mereka memang harus disetting seperti itu, agar mendapatkan berita- berita yang lebih menarik dan lebih eksklusif.


“ Apa?” wartawan yang baru saja datang bertanya dengan santai. Masih belum tertarik sepenuhnya dalam pembicaraan dengan rekan-rekannya.


“ Aku pernah dengar kalau Brama Abimanyu itu juga mendapat suap dari penasehat hukum dari PT Bedhaya Ketawang.”


“ Maksudmu perusahaan yang membangun komplek perumahan elit itu ?”


Mereka sama-sama terkejut ketika menyadari bahwa mungkin berita yang sedang menjadi hot potato akhir-akhir ini saling terkait dan memiliki rahasia besar dibaliknya.


Wartawan yang pertama berbicara kembali bercerita. " Jaksa Yasa berhasil menemukan bahwa Brama Abimanyu menerika suap dari seorang yang merupakan konsultan hukum di salah satu perusahaan besar itu. Brama Abimanyu meloloskan surat ijin pembangunan gedung apartemen dan lainnya. Selain itu, Jaksa Yasa juga menemukan bukti kampanye hitam pemilihan wakil bupati Brama Abimanyu."


" Dari mana kamu mendapat info itu?" Wartawan yang terakhir datang masih merasa ragu dengan temannya.


" Aku ini punya teman di kejaksaan, jadi wajar saja aku punya info lebih banyak dari kalian."


" Sombong kamu." Gelak tawa terdengar setelahnya. " Selanjutnya apa yang terjadi? "


" Kalian tahu sendiri kelanjutnnya. Kasus perampokan bersenjata. Padahal anak perempuan Jaksa Yasa bersaksi kalau mereka di bunuh oleh 5 orang tidak dikenal yang mencari sebuah berkas. " Wartawan itu berhenti sejenak demi kembali menyendokkan nasi kemulutnya. " Menurut kalian mana yang benar? " sambil mengacungkan sendok ke arah teman- temanya, wartawan itu kembali bertanya.


" Aku tidak tahu kalau kesaksian anak Pak Yasa seperti itu." Wartawan ketiga memandang heran.


" Tapi aku juga mendengar kalau pernyataannya memang diganti. " Wartawan kediu meyakinkan pernyataan wartawan pertama.


" Seperinya Pak Brama ini punya backingan yang kuat."


" Sepertinya seperti itu, dia saja bisa merubah kasus pembunuhan menjadi perampokan. Itu pasti bukan masalah gampang kan ?"


Insting mengorek berita dari para wartawan memang tidak bisa diremehkan begitu saja.