
Arga mencabut jarum suntik yang dengan ganasnya ditancapkan Yasmine pada lengan kirinya. Sepertinya Yasmine menyalurkan semua kebencian yang dipendamnya saat menusukkan jarum itu. Terbukti dengan setengah lebih jarumnya terbenam di otot bisepnya. Darah segar merembes dari balik kemeja hitamnya.
Arga bersandar pada dinding di dekatnya. “Cih. Suntikan ini berisi obat bius ?!”. Kepalanya sedikit pusing karena efek obat bius. Membiarkan orang-orang berjas hitam berlarian untuk bisa mengejar Yasmine. Arga sangat yakin gadis itu tidak akan bisa lari jauh.
“Maaf, masnya nggak kenapa-kenapa kan ?” Seorang perawat mendatangi Arga dengan wajah khawatirnya. Ada sedikit kecemasan juga yang terpancar dari perkataan perawat itu.
“ Saya nggak papa mbak.” Jawab Arga sekenanya.
Perawat perempuan itu segera mengambil jarum suntik yang tercampakan di lantai, dan segera undur diri. Masih ada banyak pasien yang menunggu obat untuk diantarkan.
Arga kembali berjalan mengikuti lorong yang dilalui Yasmine setelah kepalanya sedikit pulih dari rasa pusing. Dia tidak bisa beristirahat terlalu lama dan membiarkan Yasmine lari jauh. Meskipun itu tidak mungkin, tapi Arga sangat mengenal Yasmine.
Gadis itu bisa saja nekat dalam keadaan yang terdesak. Seperti orang kebanyakan yang tiba-tiba saja mendapat keberanian entah dari mana pada saat-saat genting. The power of kepepet.
Tapi Yasmine memiliki kenekatan yang melebihi batas wajar pada saat-saat tertentu.
Gadis itu tidak akan ragu memilih kesempatan dengan peluang kecil dan penuh resiko, dibandingkan hanya menyerah pada apa yang sedang dialaminya.
Keributan di bagian barat rumah sakit membuat Arga mendekat dan akhirnya mendapati Yasmine yang sudah tetangkap oleh anak buahnya. Gadis itu masih saja meronta minta dilepaskan. Meskipun sudah jelas kekuatannya tidak sebanding.
Arga memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya yang berada di dekat Yasmine untuk membuatnya diam. Orang yang berada di belakang Yasmine mengangguk patuh menerima perintah Arga, dan segera memukul tengkuk Yasmine dan membuat gadis itu pingsan. Pukulannya memang tidak terlalu keras, tapi ini cukup untuk membuat Yasmine pingsan setidaknya setengah atau satu jam kedepan. Dengan begini mereka akan lebih mudah untuk membawanya.
“ Bawa dia ke kamar kosong !” Arga berbalik setelah mengintruksiakan pada anak buahnya yang langsung dituruti tanpa ada bantahan.
Mereka membawa Yasmine ke sebuah kamar rawat kosong yang berada di ujung lorong. Meletakkan Yasmine di bed pasien dan segera undur diri. Menyisakan hanya Arga dan Yasmine serta seorang pemuda dengan hoodie hijau yang duduk santai di sofa sebelah bed pasien. Tidak tahu kapan pemuda itu berada disana.
“ Dia tidak mati kan? “ Pertanyaan bernada santai itu keluar dari pemuda dengan hoodie hijau yang masih asyik mengamati ekspresi tenang di wajah Arga.
Agak sedikit terkejut melihat aura tenang dan misterus yang menguar di sekililing Arga.
‘ Dia masih muda untuk bisa mendapat aura ini. Pasti pemuda ini sudah melalui masa yang sangat sulit sebelumnya.’
Sekilas pandang pemuda dengan hoodie hijau itu tampak seumuran dengan Arga, tapi sebenarnya umurnya jauh lebih tua dari itu. Wajah baby face-nya sering kali menipu banyak mata. Ditambah dengan postur tubuh yang sedikit lebih kecil. Layaknya perempuan.
“ Tidak. “ Arga menjeda sejenak. “ Cepat kamu ambil sidik jari dan sample DNA-nya, Ling.”
Arga tidak sedikitpun menaruh rasa hormat meskipun dia tau pemuda berhodie hijau yang dipanggilnya Ling itu lebih tua darinya. Dan hanya dibalas dengusan ringan oleh Ling. Pemuda itu tidak menyukai panggilan itu karena terlihat feminim. Tapi Ling tetap berjalan ke arah Yasmine dan menyelesaikan tugasnya.
*
Setelah hampir setengah jam tidak sadar, Yasmine merasakan perutnya yang tertekan dan kepala menjadi semakin pusing. Kepalanya sedikit bergoyang dan rasa mual tiba-tiba saja mendatanginya. Membuatnya membuka mata dengan tiba-tiba.
Dan hal pertama yang dilihatnya adalah punggung lebar seseorang berkemeja hitam. Terus berjalan dengan santainya sambil memikul Yasmine di pundakknya.
Yasmine menyrengit. Gadis itu akhirnya sadar sepenuhnya setelah berpikir beberapa detik.
“ Hei turunkan aku!” Teriakan nyaring serta tendangan brutal membuat Arga- si penggendong - menurunkan Yasmine dari pundaknya.
Tatapan benci sangat ketara dari mata Yasmine setelah Arga menurunkannya. “ Ada apa? ” Dengan suara datarnya, Arga menanyakan sesuatu pertanyaan yang membuat Yasmine mengerutkan dahinya heran. Berharap bisa memukul wajah Arga sekarang juga.
‘ Ada apa ? Kau bertanya ada apa? ‘
“ Cih. ” Yasmine mendengus. Otaknya mencoba berpikir tentang maksud pertanyaan tidak jelas yang keluar dengan datarnya dari bibir tipis Arga.
Karena Arga sudah terlanjur bertanya seperti itu, sekalian saja Yasmine menanyakan pertanyaan yang selalu menghiasi kepala cantiknya setiap malam. “ Kenapa kamu membunuh orangtua dan kakakku?” Suara Yasmine terdengar mendesis dengan penekanan yang dipenuhi emosi disetiap katanya.
Mata coklatnya tidak sedetikpun lepas untuk memandangi raut perubahan emosi di wajah Arga yang sepertinya sia-sia saja. Pemuda itu tetap saja menampilkan ekspresi dingin dan tidak terbaca.
Jika tidak mengingat kejadian di malam tahun baru itu, Yasmine pasti sudah menganggap kalau Arga yang berdiri di hadapannya sekarang ini adalah sahabat yang selalu perhatian seperti sebelumnya. Yang akan membelikan Yasmine martabak saat ia sedang ngambek.
“ Tidak ada alasan apapun.” Arga menjawab enteng masih mempertahankan ekspresi tenangnya.
Jawaban tidak bersalahnya itu membuat Yasmine mendidih. Gadis itu sangat ingin menjedotkan kepala Arga ke pot batu besar di sampingnya. “ Kau-“
Buagh
Tiba-tiba saja sebuah tendangan keras mengenai belakang kepala Arga hingga membuatnya terhuyung. Yasmine refleks menghindar ke samping dan membiarkan Arga nyaris mencium tanah.
“ Nona Yasmine! Cepat masuk ke mobil! ”
Yasmine memandang seorang lelaki berusia awal 30-an berkemeja putih yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang tempat Arga tadi. Wajah khas orang China dengan mata yang hanya segaris dan ada tahi lalat kecil diujung hidungnya. Yasmine mengingat wajah ini sebagai bodyguard Feby. Lelaki yang tidak Yasmine tau namanya itu selalu berada di manapun Feby berada.
Melihat Yasmine yang tak kunjung bereaksi, membuat lelaki itu menariknya keras menuju mobil yang sedang yang terpakir asal di tepi jalan. Arga yang sudah pulih dari rasa pening sekejapnya segera berlari mengejar Yasmine dan lelaki itu.
Arga menarik paksa Yasmine dan membuatnya terjatuh kebelakang hampir mengenai pot bunga yang tersusun rapi di tepi jalan setapak buatan. Melihat itu, lelaki berkemaja putih segera mencengkeram kerah kemeja hitam polos milik Arga memberikan bogeman tak terelakan kewajah tampan Arga. Arga yang merasakan ngilu di bibirnya, menjadi geram. Ia melayangkan beberapa pukulan yang semuanya mampu dihindari dan ditangkis oleh lelaki berkemeja putih.
Keduanya sama-sama mengambil jarak dan sedikit mengambil nafas. Saling memandang dan menilai lawan masing-masing. Arga tau kalau lelaki di depannya ini bukanlah lawan yang sepadan untuknya. Ia jelas berada di level yang sangat jauh dibandingkan dengan lelaki itu.
Kali ini Arga melakukan tendangan memutar dengan kaki kirinya yang digunakan untuk menendang. Karena gerakannya yang sangat mudah dibaca, lelaki itu berhasil menangkap kaki Arga dan membantingnya sampai membuat punggung Arga menubruk pot bunga disamping.
Arga mengerang kesakitan.
Sementara itu, beberapa pria berjas hitam yang tadi sedang menyiapkan mobil untuk mereka kembali ke Jakarta baru saja datang. Yang lainnya masih membereskan kekacauan yang tadi sempat dibuat karena mengejar Yasmine.
Melihat kesemptan ini, Yasmine menarik tangan lelaki itu pergi. “ Paman, ayo cepat pergi.”
Mereka berlari menuju mobil yang terparkir di tepi jalan, melajukan mobilnya menjauhi kawasan rumah sakit.
“Nona pegangan ! Saya harus menambah kecepatan agar mereka tidak bisa menyusul.” Paman bodyguard itu semakin menambah kecepaan mobilnya melewati jalanan yang cukup ramai di depan rumah sakit.
Karena jalan raya yang cukup besar dan padat, lelaki itu harus cermat saat harus mendahului kendaraan di depan mereka. Yasmine hanya bisa memejamkan mata sesekali, masih memegang erat tali seat belt-nya.
Dari kaca spion di tengah dapat dilihat Arga dan anak buahnya sudah menyusul dengan 2 mobil mereka. Dan juga, sebuah sepeda motor yang terlihat semakin dekat.
Setelah melewati gedung bank swasta, mereka berbelok ke kiri di pertigaan secara mendadak. Pengendara motor yang tidak siap nyaris bertabarakan dengan ibu-ibu yang menaiki motor matic merah dari arah seberang.
“ Dasar orang gila ... “ Ibu-ibu yang masih terkejut berhenti di tempatnya sambil mengeluarkan jurus memaki andalannya dengan suara keras.
Sementara itu, pengendara motor itu lebih memilih untuk mengabaikan dan tetap mengejar mobil yang ditumpangi Yasmine. Diikuti dengan 2 mobil lain dan salah satunya dikendarai oleh Arga.
Tak jauh di depan sana ada sebuah tikungan yang cukup tajam. Dan jalanan yang sempit membuatnya melakukan manuver dengan cermat agar tidak menabarak dinding tebal milik rumah warga.
Yasmine hanya bisa memejamkan matanya erat, berdoa dalam hati untuk keselamatan dirinya serta Paman Bodyguard yang tidak sedikitpun menunjukkan ekspresi tegang saat badan mobil itu sudah menyrempet sedikit tembok warga.
Sreett
Goresan panjang tergambar dengan mirisnya pada badan mobil sebelah kiri. Jantung Yasmine seperti mau melompat saking tegangnya. Belum sempat gadis itu mengatur nafasnya untuk lebih tanang, Paman Bodyguard di sebelahnya kembali membelokkan mobilnya ke kiri di pertigaan. Bagian kanan mobilnya menyenggol mobil lain yang datang dari jalan kanan. Mobil berwarna silver yang disenggolnya berputar arah dan menghalangi jalanan. Tabrakan beruntun di belakangnya tidak bisa dihindari.
Mobil Yasmine berlalu dan tidak sedetikpun mengurangi kecepatan lajunya. Menyalip kendaraan lain didepan mereka.
Dor
Timah panas melesat melewati samping jendela dekat Yasmine. Mematahkan kaca spion sebelah kiri dan terus melaju entah menuju kemana. Saat menghadap ke belakang, si pengendara motor tampak mengacungkan pistol kearahnya.
“ P-paman –“ belum sempat yasmine melanjutkan kata- katanya, pria disebelahnya membanting stirnya kearah kiri hingga memasuki daerah pemukiman warga.
Duk
Kepala Yasmine terantuk jendela mobil dan mengaduh kesakitan. “ Aduh.”
Dor dor dor
Tiga letusan tembakan lain terdengar memekakkan telinga Yasmine. Tapi kali ini tembakan itu tidak ditujukn kepadanya. Melainkan berasal dari Paman Bodyguard di sebelah yasmine.
Tembakan itu mengenai pengendara motor. Dua penumpangnya terjatuh mengenaskan di jalanan. Motor itu berdecit saat beradu gesekan dengan aspal kasar. Dan tertabrak oleh pengendara motor lain yang tidak sempat menghindar.
Hanya tertinggal dua mobil yang mengejar mereka. Paman Bodyguard kembali melepaskan timah panas dari pistolnya. Setengah badannya keluar dari jendela mobil dan menghadap belakang.
Yasmine hanya bisa berdoa melihat aksi berbahaya dari paman itu.
Dan saat Paman Bodyguard kembali memasukkkan badannya kemobil, tiba-tiba saja ada mobil minibus silver kelaur dari gang di depan, berniat untuk menyebrang jalan.
Karena terkejut mobil Yasmine tidak sempat untuk mengerem, akhirnya tidak mampu menghindarai tabrakan dengan mobil minibus hingga terseret beberapa meter kedepan. Sampai akhirnya berhenti.
Duagh
Bruak
Minibus silver itu keluar dari badan jalan. Menubruk sebuah warung sederhana di pinggir jalan hingga roboh.
Orang - orang yang kebetulan sedang menikmati hidangan dan bersantai didalam berhamburan keluar. Memaki-maki tidak jelas pada Yasmine dan pria di sebelahnya.
Beberapa pria yang sadar, berlari ke arah mobil Daihatsu silver yang sudah penyok bagian sampingnya.
" Hati-hati dong kalau bawa mobil!"
"Kalau nggak bisa nyetir mendingan jangan bawa mobil deh. Sok banget jadi orang."
"Heh keluar. Ganti rugi karena sudah merubuhkan warungku. Memangnya kamu pikir bangun warung itu murah!!"
Ocehan mereka berhenti saat mendengar bunyi tembakan. Paman Bodyguard segera menarik mundur mobilnya. Dan kemabi ke badan jalan. Mengacuhkan orang-orang yang masih meneriakan protes padanya. Tidak ada waktu untuk mengurus kekacauan ini. Dia hanya bisa berharap tidak akan ada korban jiwa dari mereka yang tidak bersalah.
Tangannya kembali mencari pistol yang tadi sempat terlepar.
“ Paman mencari ini?” yasmine menyodorkan benda yang dicarinya.
" Ck pelurunya habis." Keluh Paman Bodyguard di sebelahnya. Ia menyesal tidak membawa peluru cadangan disaat genting seperti ini.
" L-lalu sekarang bagaimana?"
" berpeganganlah lebih erat nona, saya akan menambah kecepatan."
Belum sempat rencana itu terlaksanakan, sebuah peluru sudah lebih dulu memecahkan ban belakang sebelah kanan. Dan disusul sebelah kiri kemudian.
Suara decitan terdengar nyaring di telinga. Percikan-percikan api semakin terlihat jelas dari ban belakang yang pecah. Mobil itu terus melaju dan menggores aspal sampai beberapa meter. Menciptakan dua garis panjang yang sejajar.
Karena kecepatan awalnya yang tinggi membuat mobil yang ditumpangi Yasmine dan Paman Bodyguard terbalik dan berputar putar beberapa kali.
Yasmine merasakan pusing yang teramat sangat karena badan mobil yang terus berputar tidak mau berhenti. Tangannya berusaha meraih apapun yang bisa ia gunakan untuk berpegangan. Teriakan sudah tidak bisa keluar dari mulutnya.
Setelah beberapa kali berputar mobl itu berhenti dengan posisi terbalik.
Beberapa warga yang sedang dalam perjalanan pulang dari sawah, berlari mencoba menyelamatkan. Namun akhirnya diurungkan karena bagian depan mobilnya tiba-tiba saja mengeluarkan percikan api yang semakin membesar.
Para warga mundur satu persatu dan semakin menjauhkan diri. Tidak ada dari mereka yang berniat untuk membantu. Mereka lebih sayang dengan diri mereka sendiri, dibandingkan dengan membantu orang lain yang sedang kesusuhan.
Yasmine meringis merasakan sakit di kepalanya. Kepalanya menjadi semakin pusing karena keadaannya yang terbalik. Penglihatannya mulai memburam. Samar - samar Yasmine mendengar suara riuh warga yang berlari menjauhi mobilnya.
“ Nona bertahanlah.. Nona ...”
Sebuah tangan penuh darah milik paman bodyguard berusaha membuka pintu mobil yang sepertinya macet.
Dari kaca jendela mobil yang sudah pecah Yasmine melihat beberapa warga yang berlari menjauh. Dan juga orang-orang berjas hitam yang sejak tadi mengejarnya.
Yasmine mati-matian menjaga kesadarannya, badannya sakit semua. Sepertinya tulang-tulang di tubuhnya sudah remuk karena berguling bersama mobil tadi.
Dalam pandangan kaburnya dia melihat Arga yang keluar dari mobil. Yasmine tidak bisa melihat dengan jelas mimik muka di wajah Arga karena terlalu jauh.
Berbagai kelebat kenangan tentangnya juga Arga datang silih berganti. Semakin membuat Yasmine sakit kepala. Pandangannya kembali jatuh pada Arga yang masih bediam diri disamping mobilnya.
Hatinya seperti tertusuk dengan ribuah panah. Perih dan sakit. Ia tidak pernah membayangkan akan mendapat seuah penghanatan sebesar ini dari salah satu orang yang disayangnya.
BOOOMM...
Ledakan besar terjadi.
Api berkobar membakar mobil hitam yang terbalik itu. Kobaran apinya menyala ditengah siang yang sedikit mendung. Tangki bensin yang bocor semakin menambah besar kobaran api itu .