Treason

Treason
Chapter 4 : Mencari Yasmine


Jam dinding menunjukkan pukul 23.14 WIB. Suasana di rumah kontrakan Yasmine sudah sepi. Memang karena penghuninya hanya Yasmine seorang di sana. Begitu pula dengan gang sempit di depan rumah itu. Hanya suara jangkrik yang sesekali mengisi malam. Tak jarang kucing milik ibu kontrakan diujung gang terdengar sedang bertengkar dengan kucing hitam milik tetangga sebelah.


Berbeda dengan malam senyap di gang depan kontrakan Yasmine, jalan raya masih saja ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang tanpa mengenal istirahat. Jalanan ibu kota memang tidak pernah sepi.


Yasmine masih terjaga. Berbaring menyamping di kasur busanya yang sangat tidak nyaman. Tangannya sesekali memainkan benang yang lepas dari sarung bantalnya. Matanya seperti enggan untuk terpejam dan menjemput mimpi yang sudah menanti disana.


Mungkin malam ini Yasmine tidak akan tidur. pikirannya terasa berat dan hatinya mulai lelah.


Apa sebaiknya aku menyerah saja?


***


Dua hari kemudia.


Dirga mengetuk pintu kontrakan Yasmine untuk kesekian kalinya. Kalau bukan karena kesopanan, mungkin lelaki itu sudah mendobrak pintu kayu rapuh itu sejak tadi. Tapi Dirga segera mengurungkan niat buruknya itu. Ia adalah petugas kepolisian. Setidaknya ia harus menunjukkan bahwa petugas polisi adalah aparat yang melindungi warganya. Bukan orang-orang yang menakutkan yang bertindak sesuka hatinya.


“ Nona Yasmine ??” Dirga kembali memanggil lebih keras. Dan kembali masih tidak ada jawaban apapun dari dalam.


Dirga melhat jam tangan Expedition berwarna coklat kayu yang melingkar di tangan kanannya. Jam tangan bergaya klasik modern produk Indonesia itu baru dibelinya 2 bulan yang lalu.


“ Sekarang jam 9.34, satu jam lagi sidang akan dimulai.” Keluh Dirga. Ponsel hitamnya sudah bergetar sejak tadi. Tapi ia abaikan begitu saja.


Dirga sangat tahu siapa yang menelponnya. Dan dia tidak ingin mendengar cermah dipagi hari karena tak kunjung membawa Yasmine ke tempat sidang.


“ Pak.. kamu mencari anak perempuan kecil itu?” seorang ibu-ibu berbadan gemuk dengan tas belanjaan di tangannya sedikit mengejutkan Dirga.


Dirga mendekati ibu-ibu itu dan menjawabnya. “ Iya, bu.”


“ Aku yang punya rumah kontrakan ini. Anak perempuan yang bapak cari sudah pindah pagi tadi. Sepertinya dia sangat terburu-buru.”


“ Pergi? Kemana?”


“ Aku tidak tahu. Aku kan bukan ibunya. ” Ibu-ibu itu melengos begitu saja setelah memberikan informasi penting yang sangat terlambat.


Sepertinya ada orang lain yang datang pada Yasmine setelah dirinya. Sehingga Yasmine merubah keputusannya untuk datang keacara persidangan sebagai saksi sekali lagi.


Kasus ini tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah. Pria itu menunduk. Kembali menemui jalan buntu membuat semangatnya menguap dalam hitungan detik. Padahal pagi tadi ia masih sangat bersemangat mengurusi kasus Jaksa Yasa yang sungguh membertkan hati dan pikirannya.


Ini kasus yang melibatkan keluarganya sendiri. Mengapa anak itu terus saja menghindar? Apa yang sebenarnya terjadi ?


***


Feby baru saja mendapat kabar dari salah satu pengawalnya kalau Yasmine pergi dari kontrakannya pagi ini. Pengawal itu mengatakan kalau Yasmine tidak pergi ke tempat bekerjanya, melainkan menuju ke daerah Bogor. “ Yasmine mau kemana?” gumaman Feby hanya dijawab oleh angin kosong.


Matanya sesekali menatap Miss Mega – guru Bahasa Inggris, yang masih menerangkan tentang kisi-kisi menjawab pertanyaan listening untuk ujian nanti. Feby hanya bisa memerintahkan pengawal yang seharusnya ditugaskan oleh ayahnya untuk menjaganya, agar terus mengikuti kemana Yasmine pergi.


“ Feby ...” Adelia, - teman sebangku Feby setelah Yasmine tidak pernah masuk sekolah - menegur Feby yang masih asyik dengan smartphone keluaran terbarunya.


“ Ada apa ? “ jawabnya singkat, memandang sekilas pada Adelia sebelum akhirnya kembali fokus dengan smartphone yang disembunyikan di balik lembaran buku catatan diatas meja.


Tempat duduk mereka berada di barisan ketiga dekat jendela. Sedikit banyak memberikan keuntungan kepada Feby untuk menghindari pengawasan dari Miss Mega yang ada di depan sana. Terkadang Feby dan Yasmine sesekali memandang keluar jendela demi bisa melihat pemandangan adik-adik kelas tampan yang sedang berolah raga dilapangan.


“Kamu yang ada apa? Nanti ketahuan Miss Mega habis kamu. “


“ Bentar lagi Del. Kamu liatin Miss Mega dulu, jangan sampai liat kesini.” Feby mengabaikan peringatan Adelia. Dan Adelia hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah saja menuruti permintaan Feby.


Perhatian Adelia terpecah saat tidak sengaja melihat coretan menggunakan pena di ujung mejanya.


Adelia merasakan setiap goresan dari setiap kata yang terukir di atas meja itu. Yasmine yang menulisnya.


Gadis manis yang selalu tersenyum dan tidak pernah marah saat Adelia meminta contekan saat sedang ujian. Adelia merasa sepi tanpa kehadiran Yasmine. Meskipun mereka baru saja berteman sejak satu tahun yang lalu karena Adelia sebelumnya adalah anak pindahan, tapi Yasmine adalah teman yang baik dan peduli dengan teman – temannya.


Sementara Adelia masih sibuk mengenang Yasmine, Feby sudah kembali meletakkan ponselnya kedalam tas dan kembali mendengarkan penjelasan panjang dari Miss Mega.


***


Sementar itu di salah satu gedung Universitas di Jakarta.


Seorang pemuda berjalan cepat keluar dari kelas setelah dosen Manajemen Pemasaran Jasa mengatakan kelasnya berakhir. Dosen dengan rambut beruban dan perut buncit itu hanya bisa melongo melihat mahasiswanya yang melengos begitu saja disaat sang dosen masih berada didalam kelas.


“ Maaf ya pak, teman saya kebelet. Hehehe ... “ Salah satu mahasiswa lain dengan senyum lebarnya mencoba memberi alasan untuk temannya yang sudah menghilang dari pandangan.


Pak dosen hanya bisa menggelangkan kepalanya melihat tingkah mahasiswanya itu. “ Sepertinya dia memang sedang kebelet. Sampai melupakan sopan santun. Ck ck ..”


---


“ Regio ... “ Teriakan nyaring dari pemuda dengan senyum cerah mengisi koridor yang cukup ramai oleh mahasiswa lain. Pemuda itu berlari demi bisa menyamai langkah sahabatnya.


“ Kamu mau kemana Regio? Jalannya cepet banget sih ?” keluh pemuda dengan senyum cerah, Nova.


“ Yasmine pergi ke Bogor.” Jawaban singkat itu segera membuat Nova yang sejak tadi berusaha menyamai langkah Regio akhirnya berhenti.


Nova memandang pemuda dengan setelan rapi yang masih berjalan dengan cepat menuju parkiran mahasiswa. Nova agaknya sedikit terkejut karena akhirnya ada kabar dari Yasmine setelah 2 minggu tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Dan kabarnya hari ini akan kembali diadakan sidang atas kasus pembunuhan dan perampokan yang menewaskan Ayah, Ibu serta Kakak Yasmine. Mengingat itu , Nova kembali merasa sedih. Sungguh kasihan nasib keluarga dari pacar sahabatnya itu.


“ Regio memang sidangnya pindah ke Bogor?”


Regio menggeram mendengar pertanyaan bodoh dari Nova yang akhirnya sadar setelah terkejut selama sesaat. Sepertinya saraf-saraf Nova memang tidak bisa bekerja dengan cepat untuk memproses informasi yang datang. Kebodohannya itu sudah mengakar dengan sangat kuat sejak kecil. Regio ragu kalau Nova masuk ke Universitas yang sama dengannya ini dengan hanya bermodal otaknya yang setengah itu. Sepertinya orang tuanya turut campur tangan demi masuknya Nova. Makhlum saja Ayah Nova adalah bos pemilik perusahaan batu bara di Papua.


“ Yasmine hilang lagi, dan pengawal Feby mangatakan kalau Yasmine pergi ke Bogor. Apa kamu masih belum paham, hah ?” Rasanya Regio ingin membenturkan kepala Nova ke dinding kalau sampai sahabatnya itu masih tidak memahami kegelisahaan apa yang sedang Regio alami.


Semalam Feby menemui Regio dan mengatakan kalau gadis itu berhasil menemukan keberadaan Yasmine. Dan rencananya hari ini Regio akan menemui kekasihnya itu setelah selesai kuliah. Namun siapa yang akan menyangka kalau Yasmine akan kembali menghilang hari ini. Atau lebih tepatnya kabur.


Dan pergi ke Bogor. Untuk apa Yasmine pergi kesana?


Regio jadi teringat perkataan Arga beberapa hari yang lalu. Hari itu Arga yang merupakan kakak kelasnya di jurusannya dan teman Yasmine mengatakan kalau ia juga akan pergi ke Bogor.


Mereka sudah dekat sebelum Regio menjadi pacar Yasmine. Mungkinkah Arga meminta Yasmine untuk menemuinya di Bogor? Tapi kenapa ?


Hati Regio entah kenapa tiba-tiba memanas. Regio sangat tahu hubungan keduanya hanyalah sahabat, namun melihat Yasmine yang lebih tergantung pada Arga dibandingkan dirinya yang merupakan ‘pacarnya’ , sungguh membuat hati Regio terasa seperti dililiti oleh tangkai berduri. Tangannya mengepal dengan kuat tanpa sadar.


Regio bersumpah akan menemukan Yasmine hari ini dan membawanya pulang. Mungkin dia akan mengurung Yasmine di kamar seperti saran Nova beberapa hari lalu.


Ponsel Regio kembali bergetar sesaat setelah dia sampai di depan mobilnya. Ada satu pesan masuk dari Feby.


Sebuah link yang akan mengarahkan nya ke sebuah aplikasi buatan seperti layaknya google maps. Namun, aplikasi ini lebih detail dengan berbagai informasi yang lebih akurat.


Pesan lain dari Feby menyusul di bawahnya.


" Sepertinya Yasmine menemui pembunuh keluarganya. Aku punya firasat buruk."


Regio menggeram membaca pesan terakhir dari Feby. Pemuda itu hampir saja berteriak marah, andai dia tidak melihat sedang dimana dirinya saat ini.


'Bagaimana bisa Yasmine bertemu dengan pembunuh seorang diri, hah?!'