
“Ehm,” Aria melirik baju yang masih dipegangnya. “Ini mungkin cocok untukmu,” kata Aria sambil menyerahkan baju itu.
Sebenarnya dia tidak yakin dengan ukuran baju yang dipegangnya, walaupun ukuran Han dan Jian hampir sama. Jika ukurannya tidak cocok atau terasa tidak nyaman, dia bisa mengambilnya nanti.
Jian menerima pakaian yang disodorkan dan beranjak dibilik ganti.
Selesai mengenakan pakaian, Jian menyibakkan tirai. Aria masih menunggu didepannya.
“Kau memberiku ukuran Han ? Ini sedikit sempit,” ucap Jian.
Aria mengangguk. “Maafkan aku,” dia mendekat ke arah Jian dan mengukur ukuran yang pas. Aria sempat terdiam berada didekat Jian. Itulah kali pertama dia berada sangat dekat dan melihat wajah Jian lebih jelas.
Sadarlah …
Tapi, siapa yang tidak gugup saat berada didekat laki-laki tampan ???
Apalagi laki-laki itu melihat wajah Aria lebih dekat.
Sadarlah ….
Sadarlah Aria !!
“Jadi kau bekerja disini ?” suara Jian mengejutkan Aria.
Benar ! Sadarlah, Aria ! Kau sedang bekerja sekarang. Jadilah seorang Pro.
Aria mundur sejenak dan mengangguk. “Yaa, baru saja,” jawab Aria.
“Wah,” Jian tersenyum singkat. “Ternyata kita bisa bertemu dimana-mana ya.”
“Yaa, begitu lah,” balas Aria lagi. “Aku akan mengambil ukuran yang pas untukmu. Tolong tunggu disini.”
Jian mengangguk. Dia memperhatikan Aria yang menghilang dibalik lalu lalang staf yang lain.
“Hyung, kau sudah selesai ganti baju ?” tanya Fen yang menghampiri Jian.
“Belum, sebentar lagi.”
Ternyata Fen tidak datang sendirian, dia datang bersama cameramen.
Biasanya REAP memang merekam video dokumentasi kegiatan mereka dan dibagikan ke social media agar
selalu dekat dengan fans. Semua member tidak punya akun sosial media pribadi, jadi mereka biasanya membagikan postingan di social media yang sudah dibuat agensi untuk mereka pakai bersama.
“Tapi baju ini kelihatannya cocok untukmu,” ucap Fen lagi.
“Benarkah ?”
Fen mengangguk. “Hyung, selalu cocok pakai apapun.”
Jian hanya tersenyum mendengar pujian Fen. “Aku juga suka ini, tapi ukuran sedikit kecil untukku.”
“Bagaimana bisa ?” tanya Fen lagi.
“Ku rasa ini ukuran Han,” jawab Jian. Sesekali dia melakukan kontak mata dengan kamera. “Aku akan memakai sesuatu yang lebih baik dari ini.”
Fen juga menatap ke kamera. “Baiklah kalau begitu, mari kita nantikan baju seperti apa yang akan dipakai Jian hyung.”
+++
Aria meletakkan tangannya dirak baju. Dia harus mengambil baju yang cocok untuk Jian, tapi pikirannya jadi kemana-mana.
“Apa yang kau pikirkan ?” suara Amy mengejutkan Aria.
“Hah ?”
Amy menatap Aria. “Sedang apa kau ?”
“Aku sedang mencari baju untuk Jian,” jawab Aria.
Aria menggeleng. “Tidak perlu.”
“Good,” Amy tersenyum puas.
Aria segera memilih beberapa baju yang cocok untuk Jian dan segera meninggalkan Amy.
“Ohh ya, Aria, aku lupa bilang padamu,” Amy mencegat Aria. Aria menatap Amy dengan tatapan bertanya. “Jangan lupa beli kuenya. Kue kesukaan Yura.”
“Kue ? Untuk apa ? Untuk Yura ? Dia bahkan tidak pulang dari kemarin.”
“Kau lupa kalau hari ini ulang tahun Yura ?”
“Ohh benarkah ?” Aria balik tanya. Dia pasti benar-benar lupa.
“Aku sudah bilang padanya untuk pulang.” Amy mengangguk. “Kau yang beli kue, aku yang beli makanan.”
“Yaa, baiklah,” kata Aria.
Setelah itu, Amy memberi isyarat dengan tangannya untuk melanjutkan pekerjaan.
Aria kembali menemui Jian. Ternyata pria itu sedang bicara dengan rekannya didepan kamera. Aria harus segera membantu Jian karena waktu pemotretan akan dimulai. Dia menatap Jian dibelakang cameramen dan memberi isyarat.
Jian dan Fen yang melihat Aria mengangguk mengerti. Mereka menutup sesi video mereka sehingga Aria bisa mendekat.
“Kau sudah dapat pakaiannya ?” tanya Jian begitu Aria mendekat.
“Yaa, maaf karena sudah lama menunggu,” jawab Aria. Dia menyodorkan pakaian yang paling bagus untuk Jian.
“Tidak apa-apa,” balas Jian. “Kau tunggu disini ya, aku mungkin akan butuh bantuanmu lagi.”
Aria mengangguk.
+++
“Aria, kau dimana ?” tanya Amy dibalik telponnya.
“Aku sedang dilobby apartemen. Sebentar lagi sampai. Kau dimana ?”
“Aku ? Aku sudah diapertemen kalian.”
“Ohh, Yura sudah datang kan ?” tanya Aria.
“Iya, cepatlah,” jawab Amy. “Kau harus membuat kejutan dengan kuenya.”
Aria memutar bola matanya. Kenapa juga dia harus dibuat repot ?
“Akan ku atur sendiri,” jawab Aria singkat. Dia menunggu lift sampai ke lantai apartemen mereka.
Tingg ….
Bunyi lift berdenting, artinya sebentar lagi pintunya akan terbuka. Aria segera keluar saat pintu lift terbuka. Dia berdiri didepan pintu apartemen dan menatap kue yang ada ditangannya.
“Tunggu, nuna,” seseorang mendekati Aria. “Biar ku bantu.”
Aria menoleh pada orang yang memanggilnya ‘nuna’. Ohh, dia adalah Min.
“Kenapa ?”
“Kita akan membawakan kue untuk Yura-nuna,” jawab Min sambil membantu Aria mengeluarkan cake dari boxnya. “Amy-nuna sudah memberitahuku saat bertemu tadi.”
Aria mengangguk mengerti. Dia membiarkan Min memasang lilin ulang tahun dan menyalakannya.
“Aku juga ikut, loh,” ucap Fen yang ada dibelakang Min. “Yura-nuna juga adalah teman kami.”
Aria juga melihat Fen yang muncul dibelakang Min. “Aku mengerti.”
Min sudah menyalakan lilin ulang tahun dan kue siapkan diantarkan. Aria mengetik sandi apartemen dan masuk sambil membawa kue ulang tahun, sementara Min dan Fen menyanyikan lagu ulang tahun untuk Yura.