Spring Day

Spring Day
BAB 7


“Jadi kau yang direkomendasikan oleh Amy ?”


Desainer Cha menatap Aria dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Iya, Desainer Cha,” jawab Aria. Dia tidak berkata penjelasan yang lain, selain yang ditanyakan Desainer Cha. “Jurusan fashion desain, kan ? Benar ? Tahun ke berapa ?”


Aria mengangguk. “Iya, tahun ke tiga sekarang.”


Desainer Cha mengangguk. “Style mu cukup keren sebagai mahasiswi jurusan fashion. Apa kau pernah bekerja dengan desainer lain sebelumnya ?”


“Tidak pernah. Ini pengalaman pertamaku.”


“Haa ??” Desainer Cha menarik napas. Mengeluh. Terlihat sekali dari ekspresi wajahnya. “Kau orangnya pekerja keras dan cepat belajar, kan ? Huh ! Aku tidak betah dengan orang lamban.”


Kali ini Desainer Cha melotot. Dia menuntut jawaban.


Aria mengangguk pasti. “Aku pasti bekerja keras. Tolong terima aku jadi pegawaimu.”


Desainer Cha dari tadi terus menatap Aria. Dari atas sampai bawah. “Ahh, oke,” jawab Desainer Cha sambil melipat kedua tangannya. “Ku terima kau bekerja di sini. Pergi temui Amy karena dia adalah mentormu. Cepat … Cepat … Cepat temui dia,” usir Desainer cha dengan gerakan tangannya.


Aria keluar dari ruangan Desainer Cha. Dia ingat kalau ruangan Amy ada di lantai ke dua.


“Bagaimana ?” tanya Amy saa dia melihat Aria. Amy sedang sibuk dengan lembaran-lembaran kertas yang berserakan dimejanya.


“Desainer Cha bilang, aku diterima,” jawab Aria seadanya.


“Hanya itu ?” tanya Amy lagi. “Apa dia tak mengeluh dulu ?”


Aria mengangguk.


“Ahh, benar,” Amy seakan menjawab pertanyaanya sendiri. “Dia pasti mengeluh dulu.”


Amy menuntun Aria mendekati meja kerjanya.


“Nah, aku akan memberikan tugas pertama sebagai mentormu. Sekarang kau susun lembaran foto yang berantakan ini ke dalam map file.”


Aria memegang selembar foto dan tergegun. “Ini…”


“Hmm…?” Amy yang berada disamping Aria tidak paham. “Iya, ini adalah REAP. Kau tidak tahu mereka ?”


Lembaran foto dan kertas yang berserakan dimeja adalah style kostum yang sudah dipakai para member REAP. Lengkap dari style kostum panggung, variety show, fanmeet, sampai style bandara.


“Kita akan mengurus style pakaian mereka saat syuting variety show mereka minggu depan,” kata Amy menjelaskan. “Jadi aku perlu informasi tentang style member masing-masing. Ohh ya, kalau kau punya pendapat, jangan sungkan beritahu aku ya.”


Aria mengangguk. “Apa kita akan terus bertemu mereka ?”


“Iya. Tentu saja kita akan bertemu mereka saat bekerja.”


Hhhmm…. Dunia terasa sempit sekali ya, pikir Aria.


Aria menarik kursi disebelahnya dan mengamati foto-foto member REAP.


“Apa sebelumnya kau juga mengurus style mereka ?” tanya Aria.


“Bukan aku,” jawab Amy. “Tapi rekan kerjaku yang lain. Aku dapat projek Kerjasama dengan mereka sekarang.”


Aria mengangguk mengerti.


Seseorang memasuki ruangan. Amy dan Aria menoleh bersamaan.


“Amy, Mister Cha mencarimu,” ucap gadis berkacamata itu.


Amy mengangguk mengerti dan memberi kode kepada Aria untuk melanjutkan pekerjaannya.


Aria meletakkan tasnya dan duduk di sofa. Hari pertama bekerja ternyata sudah melelahkan. Mister Cha tidak main-main, dia benar-benar perfeksionis.


Aria melihat sekeliling. Yura tidak terlihat dimana-dimana, berarti dia belum pulang ke rumah.


Setelah menarik napas, Aria berdiri dan mengambil minuman dingin di kulkas. Dia juga memeriksa bahan makanan yang tersedia untuk makan malamnya hari ini.


“Makan rose pasta tampaknya enak,” gumam Aria.


Dia segera mengambil handphone nya dan menelpon Yura, memastikan apakah sepupunya ikut makan atau tidak.


“Halo…” ucap Aria begitu panggilan teleponnya terjawab. “Apa kau pulang hari ini ? Mau makan bersama ?”


“Makan ?” balas Yura diseberang sana. “Tentu saja. Aku sedang di perjalanan pulang. Kau yang masak, kan ?”


“Yaa,” Aria mengangguk walaupun tidak ada yang melihat. “Aku mau masak rose pasta.”


Terdengar helaan napas Yura ditelepon. “Wah, kau benar-benar tahu apa yang ingin ku makan,” balas Yura. “Aku akan segera pulang.”


Aria terkekeh. “Yaa, yaa. Hati-hati saja di jalan.”


Pasta mungkin makanan asal Italia, bahkan banyak olahan sausnya pun khas Italia. Namun bukan berarti saus untuk pasta tak bisa dikreasikan sendiri, salah satu saus pasta yang unik adalah saus rose pasta khas Korea. Selain untuk pasta, saus ini biasanya juga dipakai sebagai pengganti saus tteokboki yang pedas. Makanan yang menggunakan saus rose sangat popular di Korea Selatan akhir-akhir ini.


Setelah mencuci udang dan dimarinasi dengan sedikit lada bubuk, paprika bubuk, dan garam, Aria merebus air untuk memasak pasta. Masukkan sesendok garam agar air cepat mendidih dan setelah mendidih baru masukkan spaghetti. Masak hingga empuk dan tingkat kematangan sesuai selera. Tiriskan, campurkan dengan minyak zaitun.


Selagi memasak spaghetti, bisa membuat saus rose yang menggunakan campuran udang dan saus tomat. Pertama-tama, tuang minyak zaitu secukupnya diteflon, hangatkan lalu tumis bawang Bombay, cabai kering, dan bawang putih yang sudah dicincang. Masak semuanya hingga harum layu, baru masukkan udang yang sudah dimarinasi, tumis hingga berubah warna.


Tuang saus tomat, Italian herbs, dan heavy cream, aduk dan masak hingga mendidih. Masukkan garam dan lada bubuk secukupnya. Aduk rata.


Aria mendengar seseorang membuka pintu. Pasti Yura sudah datang.


“Kenapa kau cepat sampainya ?” tanya Aria. Dia sedang memasukkan spaghetti yang sudah direbus kedalam saus rose.


“Baguslah kalau aku cepat sampai,” jawab Yura. “Apa makanannya sudah masak ?”


“Sebentar lagi.”


Yura melihat spaghetti yang hampir mengental dan siap diangkat. Dia mengangguk dan menyiapkan piring diatas meja makan.


“Ohh iya, aku dengar kau sudah mulai bekerja dengan Amy. Bagaimana ?”


“Iya, mulai hari ini,” jawab Aria. “Aku langsung diterima.”


Yura yang pernah sekali bekerjasama dengan Desainer Cha bertanya lagi, “Apa Desainer mengeluh dulu ? Aku tebak dia pasti mengeluh dulu.”


“Iya, dia mengeluh dulu,” jawab Aria lagi. “Bagaimana kau tahu ?”


“Aku pernah sekali bekerjasama dengannya. Walaupun dia sangat cerewet dan pemilih, tapi hasil proyek kerjasama kami sangat memuaskan. Karir dan kredibilitasku bahkan semakin naik.”


Aria mengangguk mengerti. Dia melihat piring Yura yang hampir kosong. “Kelihatannya kau benar-benar lapar. Apa kau mau tambah lagi ?”


Yura melirik piringnya lalu menggeleng. “Tidak. Aku harus diet, karena ada pemotretan lusa.”


Aria mengerti bekerja di dunia model memang harus disiplin. Seperti industry hiburan lainnya, industry mode juga memiliki standar yang sangat tinggi.


“Semangat, ya,” ucap Aria. Dia meneguk air minumnya dan meletakkan piring kotor ditempat cuci piring.


“Hmm, kau juga,” balas Yura. “Aku harap kau jadi lebih baik lagi.”


Aria mengangguk sambil tersenyum. Setelah mencuci piringnya, dia berencana untuk mandi dan segera istirahat.