Spring Day

Spring Day
Bab 6


“Sudah siap ?” tanya Miwoo yang hari ini menyetir.


“Iya. Tolong menyetir dengan hati-hati,” balas Jian sopan.


Sesuai jadwal, hari ini Grup REAP punya acara amal di panti asuhan. Ini adalah kegiatan rutin mereka dalam setahun, mendatangi sebuah panti asuhan untuk menjenguk dan menghibur anak-anak panti.


“Manajer, kau yakin tidak aka nada wartawan kan ?” tanya Jian memastikan.


Miwoo mengangguk. “Hmm.. tentu saja.”


“Jian, tenanglah. Manajer pasti mengerti situasi kita saat ini,” ucap Fen.


Situasi yang dimaksud adalah gosip gay yang tidak kunjung reda. Walaupun REAP sudah terbiasa tampil dipublik, namun Jian tetap saja merasa tidak tenang saat ini. Ini adalah gossip tak masuk akal yang menyinggung kehidupan pribadi member.


Min yang duduk dibelakang Jian, menepuk pundak pemuda itu.


Miwoo tidak bersuara lagi dan hanya fokus menyetir.


Ini adalah agenda pribadi dari REAP, maka mereka tidak akan mengundang wartawan ataupun media. Kegiatan ini sebagai bentuk rasa terimakasih dan berbagi karena kesuksesan mereka saat ini.


Mereka sampai di panti asuhan.


Rupanya anak-anak sudah menyambut mereka. Secara rutin, mereka memang sering mendatangi panti asuhan ini, sehingga akrab sekali dengan anak-anak dan pengurusnya.


“Haloo, semuanya,” Han yang pertama kali menyapa. “Apa kabarnya ?”


Anak-anak menjawab dengan gembira. Tentu saja. Mereka senang bertemu dengan semua member REAP.


“Adik-adik ..” giliran Fen yang menyapa, “Kami punya hadiah untuk kalian.”


Min dan Joon membuka bagasi mobil dan mengeluarkan dua kotak kardus yang berisi hadiah.


“Nah, ayo kita masuk,” ajak Fen sambil membantu Min membawa kotak tersebut.


“Siapa yang mau ikut membuka kotak hadiah ????” sambung Min.


Anak-anak antusias mengikuti Fen dan Min masuk, sementara Miwoo dan Jian masih berada diluar untuk menyapa para pengurus panti.


“Terimakasih sudah menyambut kami disini, Mother.” kata Miwoo sambil menyalami ibu panti yang akrab disapa mother.


“Ahh iya, seharusnya kami yang berterimakasih karena kalian sudah menyempatkan jadwal kalian untuk mengunjungi kami. Apa semua member sehat-sehat ?” tanya mother perhatian.


Jian menggangguk. “Iyaa, terimakasih atas perhatiannya.”


Mereka hendak masuk ke panti, namun terdengar seseorang memanggil dari belakang.


“Haloo, selamat siang,” gadis itu menyapa Mother.


“Ohh, Nona Kim, kau datang hari ini,” balas Mother. “Aduhhh maaf, aku lupa memberi tahumu, kalau hari ini kelas seni anak-anak dibatalkan karena ada yang berkunjung.”


Aria menatap orang-orang yang berdiri disamping Mother dan mengerti situasi yang terjadi. Mereka pun saling menunduk memberi hormat.


“Wah.. kau ..” Jian yang pertama bereaksi. Bagaimana mungkin dia lupa wajah orang ingin dia temui. “Apa kabar ?”


Aria tampak terkejut. Tapi kemudian menjawab, “Kabar saya baik. Saya harap anda juga.”


“Rupanya kalian saling kenal ?” interupsi Mother. “Nona Kim adalah guru seni untuk anak-anak panti ini. Dia melakukan pekerjaan sukarelawan disini.”


“Wahh… ini kebetulan atau apa…” sambung Miwoo. “Karena kau sudah terlanjur datang, bagaimana kalau ikut acara kami. Boleh kan, mother ?”


Mother segera mengangguk. “Tentu saja. Nona Kim juga bagian dari panti ini.”


“Terimakasih,” ucap Aria sopan.


“Kalau begitu, ayo kita masuk,” ajak Mother. “Anak-anak pasti sangat senang didalam sana.”


“Mungkin kalian bisa duluan,” ucap Jian. “Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Nona Kim.”


Aria segera menatap Jian dengan tatapan bertanya.


“Mungkin ini terlambat, tapi aku ingin minta maaf padamu karena insiden handphone itu. Maaf karena tidak bisa bertemu kemarin.”


Aria menghela napas.


“Sudah bukan masalah lagi, karena manajer mu telah mengganti rugi.”


“Naah, seharusnya aku yang pergi menemuimu secara langsung.”


“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu merasa bersalah lagi.”


“Terimakasih,” Jian mengangguk mengerti. Dia lalu mengajak Aria masuk ke dalam panti.


Suara anak-anak terdengar sangat senang. Rupanya mereka banyak sekali mendapat hadiah. Ada mainan, buku cerita, buku gambar, alat tulis, serta snack. Mereka bisa memilih apapun yang mereka perlukan.


“Wuah Aria, kau di sini ?” suara seseorang menyapa Aria saat masuk.


Aria segera mengenali suara itu. Dia berusaha ramah, menyapa pacar sepupunya. “Iya. Apa kabar ?”


“Kabar ku baik,” jawab Han. “Tidak sangka bertemu kau disini.”


“Kau mengenalnya ?” tanya Jian yang penasaran. Dia masih berdiri di samping Aria rupanya. “Apa


kalian teman ?”


Han menatap Jian sebentar. “Tentu saja kenal. Dia kan tetangga kita, sepupunya Yura.”


“Apa ?” Hwi ikut menimpali. “Siapa yang tetangga kita ?”


Han menatap Hwi. “Dia.”


“Ohh, dia,” rupanya Won ikut bergabung. “Aku sering lihat dia keluar masuk dari apartemen Yura.”


“Hai…” sapa Fen. “Kita belum berkenalan. Namaku Fen. Siapa namamu ?”


“Aku tahu namamu,” balas Aria ramah. “Namaku Aria.”


“A..Ri..a..” Fen mencoba menghapal nama seseorang seperti kebiasaannya.


“Kalau aku.. apa kau tahu namaku ?” tanya Min polos.


Aria mengangguk. “Namamu Min kan ? Kau keren dan berbakat sekali.”


“Wuahh, dia bilang aku keren dan berbakat,” reaksi Min terlihat senang. “Terimakasih, nunna.”


“Hemm, Min memang selalu senang ketika di puji,” ucap Won. “Dia adik termuda kami.”


“Apa kalian sudah siap ?” tanya Joon yang baru muncul.


“Ohh, kau sudah pilih ceritanya ?” tanya Hwi.


Joon mengangguk. “Ayo kita segera mulai.”


“Ayoo…”


Para member segera duduk dikursi kecil yang memang Joon siapkan. Rencananya mereka akan membacakan cerita anak-anak secara bergantian. Sisa member yang lain akan duduk bersama anak-anak.


Anak-anak sudah duduk dengan tertib ingin mendengarkan cerita.


“Pada jaman dahulu, diceritakan disebuah kolam yang lumayan luas tinggal seekor anak katak hijau bersama ibunya,” Won membuka buku cerita dan mulai membaca. “Si anak katak itu sangat nakal. Dia jahil dan tidak menuruti kata-kata ibunya. Jika ibunya menyuruh pergi ke gunung, maka dia pergi ke laut. Jika ibunya menyuruh pergi ke arah timur, maka dia akan pergi ke arah barat. Apa pun yang diperintahkan ibunya, dia malah melakukan yang sebaliknya.”


“Ibu katak berpikir, ‘Apa yang harus aku lakukan ? Mengapa dia tidak seperti anak-anak yang lainnya ?” Sambung Won menirukan suara ibu katak. “Ibu katak ingin anaknya dapat menjadi anak baik yang selalu menuruti apa kata orang tua.”


“Pada suatu hari, si ibu katak hijau berkata, ‘Anakku, kau jangan pergi keluar rumah, sebab di luar sedang turun hujan sangat deras. Kau bisa terbawa arus.”


“Belum juga si ibu katak selesai bicara, anak katak hijau sudah melompat keluar rumah dan sambil tertawa riang.”


“Horeee…. Aku bisa bermain sepuasnya…” ucap Han yang menirukan suara anak katak hijau.


“Tak henti-hentinya si ibu menasehati bahkan setiap hari. Ibu katak ingin anaknya menjadi anak yang baik. Tapi kelakuan anaknya malah semakin buruk. Semakin nakal.”


“Si ibu semakin murung dan sedih melihat kelakuan anaknya,” giliran Hwi yang melanjutkan cerita. “Ibu katak menjadi jatuh sakit. Semakin hari sakitnya semakin parah.”


Anak-anak masih tetap mendengarkan cerita dengan serius. Mereka juga kasihan kepada ibu katak


yang sedang sakit.


“Hingga suatu hari, si ibu merasa tubuhnya semakin melemah, dia pun memanggil anaknya. ‘Anakku, ibu rasa hidup ibu tidak akan lama lagi. Tolong dengarkan ibu dengan serius, jika ibu mati, jangan kuburkan ibu diatas gunung, tapi kuburkan saja dipinggir sungai’ begitulah pesan ibu katak.”


“Sebenarnya maksud si ibu ingin dikuburkan diatas gunung, tapi karena anaknya selalu melakukan sebaliknya, si ibu pun akhirnya berpesan kepada anaknya dengan sebaliknya pula.”


“Lalu hari menyedihkan itu tiba. Ibu katak meninggal. Anak katak menangis dan terus menangis menyesali semua kelakuannya.”


“Ohh ibuku yang malang, mengapa aku tidak pernah mau mendengarkan kata-katamu. Sekarang ibu telah tiada, aku selalu menyusahkan ibu selama masih hidup,” Han kembali menirukan ucapan anak katak yang menangis sedih.


“Si anak teringat pesan terakhir dari ibunya.”


“Aku selalu saja melakukan apapun yang dilarang oleh ibuku. Dan sekarang aku akan menebus semua kesalahanku. Aku akan melakukan pesan terakhir ibu dengan sebaik-baiknya.”


“Kemudian si anak katak menguburkan ibunya ditepi sungai, seperti pesan ibunya. Beberapa minggu kemudian, turun hujan yang sangat lebat sehingga membuat air sungai dimana anak katak menguburkan ibunya meluap. Anak katak begitu khawatir dengan keadaan kuburan ibunya. Dia takut kuburan ibunya akan tersapu oleh air sungai yang meluap. Akhirnya dia pergi ke kuburan ibunya dan mulai mengawasi tempat itu. Dia terus memohon dan menangis di tengah hujan yang lebat itu.”


Han berekspresi sedih dan berkata, “Kwoongg …. Kwoong…. Kwoong… Wahai sungai, jangan bawa ibuku pergi.”


“Anak katak tidak ingin kehilangan ibunya lagi, namun dia tidak ingin melawan pesan terakhir ibunya. Anak katak sangat menyesal dan sangat sedih saat hujan tiba.”


“Hingga saat ini, katak hijau akan selalu pergi ke sungai dan menangis setiap hujan lebat datang,” ucap Won menutup akhir cerita. “Dan sejak itulah kita selalu mendengar katak akan mengeluarkan suara nyaring seperti tangisan setiap kali turun hujan lebat.”


“Kira-kira, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari dongeng katak hijau ?” tanya Hwi kepada anak-anak yang dari tadi mendengarkan. Anak-anak saling menatap satu sama lain dengan pandangan tidak tahu.


Satu anak kecil angkat tangan, “Tidak boleh menguburkan katak di sungai, nanti kuburannya bisa tersapu air sungai.”


Han tertawa mendengar jawaban polos anak tersebut. “Tidak, bukan itu pelajaran yang bisa kita ambil,” ucapnya.


“Pelajaran yang bisa kita ambil adalah, kita harus menghormati orang tua. Harus mematuhi perkataan orang tua yang bertujuan untuk kebaikan anak itu sendiri,” Won yang menjelaskan. “Kalian mengerti ?”


“Iyaaa….” Anak-anak menjawab dengan senang.