
“Apa ini ?” ucap Yura yang diberi kejutan. “Aku sangat terharu.”
“Tidak, tidak,” Amy menggeleng. “Hentikan reaksi palsumu, kami sudah tahu kalau kau memang mengharapkan perayaan untukmu.”
Yura tertawa. “Yah, pokoknya terimakasih teman-teman.”
“Nuna, bolehkahaku pesan makanan lagi ?” tanya Min. “Pizza ? Ayam goreng ?”
“Ohh, aku yakin Min memang kelaparan karena dietnya,” ucap Won yang duduk disampin Min.
Yura mengangguk. “Tentu saja Min, pesan saja yang kau mau.”
“Asyik… Ada yang juga ikut pesan makanan ?” tanya Min sebelum mengetik aplikasi di ponselnya.
“Aku juga ingin makanan yang tidak pedas,” ucap Aria.
“Yaa,” Min mengangguk. “Jjajangmyeon ?”
“Boleh juga,” Aria setuju. “Itu enak.”
Hwi ikut bicara, “Kalau itu aku juga mau.”
Min mengetik pesanan di ponselnya dan sudah dikonfirmasi. “Mereka akan segera mengantarkan makanannya.”
“Aku kira Yura tidak akan pulang ke rumah malam ini,” ucap Aria. “Bukankah kau bilang masih bekerja ?”
“Ohh,” Yura mengangguk. “Aku baru pulang sore ini. Setelah pemotretan di Jeju. Suasananya sedang indah disana. Sayang sekali aku pergi ke sana hanya untuk pekerjaan.”
Han menatap Yura. “Kau mau kesana lagi akhir pekan ini ? Bersamaku ?”
Yura balik menatap Han, dia tahu kodenya berhasil. “Yaa. Kalau kau tidak ada jadwal.”
“Kalau tidak ada pekerjaan mendadak, seharusnya kita bisa libur kan, Jian ?” Han bertanya pada Jian yang duduk didepannya.
“Seharusnya,” jawab Jian. “Tidak apa-apa, hyung. Kau bisa ambil waktumu.”
“Baiklah,” balas Han. “Sayang, kau dengar sendiri, kan ? Kita akan pergi ke Jeju akhir pekan ini.”
Pulau Jeju adalah pulau terbesar di Korea Selatan dan terletak disebelah selatan Semenanjung Korea. Sejauh mata memandang, pulau ini akan menyajikan spektrum alam dalam warna biru dan hijau. Selain menikmati keindahan alam, dipulau Jeju juga terdapat Dolhareubang. Dolhareubang adalah simbol pulau Jeju berbentuk manusia dan dipahat dari batu. Nama Dolhareubang berasa dari kata ‘dol’ yang berarti batu dan ‘hareubang; yang berarti kakek.
“Aku mau,” jawab Joon. “Tapi belum tentu pacarku mau.”
Amy menatap Joon disampingnya. “Aku sibuk. Saat aku bernafas saja, bosku masih mencari.”
“Nuna, kenapa kau tidak meluangkan waktu untuk Joon-hyung ?” Fen bertanya. “Gara-gara itu lah dia digosipkan gay.”
Joon mengangguk dia mengacungkan jempol pada Fen.
“Ohh, gossip itu,” balas Yura. “Kenapa tidak kunjung reda ya? Apa agensi kalian sudah mengurusnya ?”
“Sedang diurus,” balas Jian. “Aku berharap gossipnya cepat menghilang.”
“Aku juga berharap seperti itu.” Amy mengangguk simpati. “Atau, kau cari pacar saja ? Mau ku kenalkan dengan seseorang yan bisa kau jadikan pacar ??! Tipemu seperti apa ??”
“Trus, kalau sudah punya pacar apa gossipnya akan berhenti ?” tanya Yura.
“Yaa, tidak secepat itulah,” balas Joon.
“Memangnya bisa cepat dapat pacar seperti mencari kimbab diminimarket?” ucap Aria. “Bukankah lebih kejam pura-pura suka padahal tidak ada perasaan apa-apa ?” Aria menyelesaikan kata-katanya dan meneguk es kopinya.
“Tentu saja kejam,” balas Min. “Jian-hyung, yang sabar ya.”
Jian menatap Min sambil berkata, “Jangan mengasihaniku.”
“Tidak lah. Buat apa aku mengasihanimu.” Si bungsu menggeleng. “Hyung sering memarahiku sejak gossip itu.”
“Jadi sok jadi korban,” Han mengetuk kepala Min. “Itu karena memang kelakuanmu yang usil.”
Min terkekeh. Sebagai member paling bungsu, dia juga yang paling jahil.
Notifikasi handphonenya menyala. Ternyata pesanan mereka sudah diantar dan bisa di ambil di lobby apartemen.