Our Happiness

Our Happiness
ZORA PART 4


            Sembari menahan air mataku yang nyaris saja terjatuh, aku melihat kedua kaki dari Paman Felix yang melangkah pergi meninggalkanku. Untuk sejenak perasaan terharu yang muncul ketika mendengar ucapan Paman Felix yang ingin membantuku menemukan jemuranku yang hilang, membalasku dengan kejam. Bukannya mendapatkan kembali jemuranku yang hilang, aku justru mendapat celaan karena pengalaman pertamaku sebagai anak kos yang buruk. Sial. Ini sungguh sial sekali. Aku menyesali merasa bersalah dan terharu padanya tadi. Ini sungguh memalukan. Aku yang sudah berusaha dua puluh tahun, menundukkan kepalaku menahan tangis di depan pria asing yang justru mengejek kekuranganku. Semua ini karena jemuranku yang menyebalkan itu!


            Setelah menyalahkan jemuran sialan dan kesialan yang terus menerus datang menghampiriku, sesuatu yang hangat menyentuh kepalaku dan perlahan membelainya dengan lembut. Menerima belaian itu, untuk sejenak aku merasa terkejut namun perasaan itu berubah menjadi perasaan nyaman ketika belaian itu berhasil membuat pikiran buruk yang terus berputar di dalam kepalaku akhirnya terhenti.


            Sebelum mengangkat kepalaku dan melihat, aku menghapus jejak air mataku yang sudah terjatuh beberapa tetes. Begitu mengangkat kepalaku, aku melihat senyuman lebar di wajah Paman Felix.


            “Ini. . .”


            Paman Felix mengangkat tangannya dari kepalaku dan kemudian menyerahkan keranjang laundry yang berisi jemuranku yang sempat kubilang hilang dicuri oleh pencuri. Tidak percaya dengan apa yang sedang aku lihat, aku dengan segera menerima mengambil keranjang laundry dari tangan Paman Felix dan memeriksa setiap pakaian yang ada di dalam keranjang itu. Ini semua jemuranku yang kubilang hilang. Bagaimana bisa??


            Setelah memerikan semua pakaian, aku meletakkan keranjang itu di lantai dan menatap menyelidik ke arah Paman Felix. Dengan kedua tangan di pinggangku, aku bertanya kepada Paman Felix. “Kenapa pakaianku yang tadi hilang bisa berada di keranjang ini, di tangan Paman juga?”


            “Salahmu sendiri! Tanpa bertanya lebih dulu, kau langsung mengira semua jemuranmu hilang dicuri oleh pencuri. Karena itulah aku tertawa cukup kencang tadi.  Selama dua tahun tinggal di sini, belum pernah sekalipun penghuni di kosa mengeluh tentang barangnya yang hilang karena pencurian.”


            Senyuman kecil dengan tanda seolah sedang menggodaku, mulai terlihat lagi di bibir Paman Felix. Untuk sejenak melihat Paman Felix tersenyum tanpa bisa melihat sorot matanya karena tertutup oleh kacamata hitam miliknya, membuatku merasa frustasi. Senyuman yang beberapa kali dibuat oleh Paman Felix tanpa bisa melihat sorot matanya, membuatku kesulitan menentukan bagaimana ekspresi sesungguhnya ketika melihatku.


            Sebagai mahasiswi yang mengambil studi psikologi, penting sekali membaca raut wajah seseorang terutama sorot mata seseorang. Namun untuk pertama kalinya, aku bertemu dengan seseorang yang selalu mengenakan kacamata hitam bahkan di hari mendung seperti ini. Hal ini benar-benar membuatku kesulitan karena aku tidak bisa menerapkan apa yang aku pelajari ketika kuliah.


            “Kalau begitu bagaimana jemuranku bisa berada di tangan Paman?” tanyaku menyelidik dengan kedua mataku yang menatap tajam ke arahnya. Sekali lagi, pikiranku tiba-tiba saja bekerja sendiri dan membuat gambaran buruk tanpa perintah dariku. “Mungkinkah Paman yang mengambil je-“


            “Stop!!” Sebelum menyelesaikan kalimatku, Paman Felix dengan cepat memotong ucapanku. “. . . Hentikan ucapanmu itu. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan sekarang, tapi harus kau tahu apa yang sedang muncul di dalam pikiranmu saat ini adalah salah, gadis kecil.”


            “Kalau memang apa yang aku katakan salah, lalu siapa orang yang mengambil jemuranku dan memberikannya kepada Paman?” Aku bertanya masih dengan gambaran pikiran buruk di dalam benakku.


            “Kau tahu di lantai bawah ada Ibu tunggal yang tinggal bersama dengan putrinya?”


            Aku mengerutkan keningku dan melepaskan kedua tanganku yang berada di pinggangku. “Apa hubungannya hal itu dengan jemuranku?”


            “Karena melihat hujan yang akan turun dan melihat jemuranmu yang mungkin akan basah karena hujan itu, aku meminta Ibu Gita yang sempat pulang untuk mengecek putrinya, untuk menyelamatkan jemuran milikmu. Setelah mengambil jemuranmu seperti permintaanku, Ibu Gita menitipkan jemuanmu di kamarku karena akan lebih mudah jika aku yang memberikannya dari pada Ibu Gita yang sibuk dengan pekerjaannya. Apa kau mengerti, gadis kecil?”


            Mendengar penjelasan dari Paman Felix yang ternyata telah berbaik hati menyelamatkan jemuranku, membuatku merasa bersalah karena pikiranku telah menuduhnya dengan tuduhan buruk sebelum sempat mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi.


            “Te-terima kasih,” ujarku dengan rasa bersalah sembari menundukkan kepalaku tidak berani menatap wajah Paman Felix.


            “Kau ini. . .”


            Sentuhan hangat kembali kurasakan di atas kepalaku sebelum tangan besar itu mengacak-acak rambutku yang dalam keadaan setengah basah.


            “Paman!” teriakku.


            “Apa lagi??” Paman Felix juga ikut berteriak karena mendengar suaraku yang berteriak padanya. “Kenapa lagi kau berteriak, gadis kecil?”


            “Berhenti mengacak-acak rambutku!”


            “Kalau begitu bawa keranjang milikku ini lebih dulu. Jika sudah, kau bisa mengembalikannya padaku, gadis kecil.”


            Aku menganggukkan kepalaku dua kali sembari mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya dan maaf karena telah berprasangka buruk kepadanya. Setelah mengatakan itu, aku mengambil keranjang milik Paman dengan pakaian milikku di dalamnya dan hendak masuk ke dalam kamarmu.


            “Gadis kecil!”


            Tubuhku yang sudah setengah masuk ke dalam kamar kosku, kemudian terhenti ketika aku mendengar “nama panggilan” yang Paman berikan padaku.  Aku menolehkan kepalaku dan bertanya “Ada apa lagi, Paman?”


            “Kau tahu kita semua yang tinggal di kos ini adalah keluarga, jika kau butuh sesuatu atau merasa kesulitan akan sesuatu, kamu bisa meminta bantuanku. Yang perlu kamu lakukan adalah mengetuk pintu kamarku ini. Bukankah itu tidak sulit?”


            Setelah mengatakan itu, Paman Felix kemudian memberikan contoh padaku dengan mengetuk pintu kamar kosnya sendiri.


 Tok. . . tok. . . tok.


Melihat tindakan Paman Felix itu, sekali lagi aku merasa kesal karena merasa sedang dipermainkan olehnya. Anak kecil pun tahu cara mengetuk pintu. Kenapa dia harus mempraktikkannya seolah aku tidak tahu? Aku mungkin kesal dengan caranya itu, tapi sesuatu membuatku merasa heran. Kata “keluarga” yang keluar dari mulutnya, rasanya seperti sesuatu yang aneh di telinga dan otakku. “Kita tidak memiliki hubungan darah, bagaimana bisa kita menjadi keluarga?”


Paman Felix menyandarkan bagian tubuh sampingnya ke dinding kamar kosnya dan kemudian melipat kedua tangannya di batas antara perut dan dadanya. “Keluarga bisa kau dapatkan di mana saja. Keluarga yang dibentuk tidak harus memiliki hubungan darah. Kau bisa menganggap sahabatmu sebagai keluargamu. Lalu kenapa kau tidak bisa menganggap tetangga kosmu sebagai keluargamu juga?”


Aku hendak membuka mulutku dan membalas ucapan Paman itu dengan memberikan penjelasan kata keluarga yang aku pelajari. Namun dengan cepat Paman mengangkat satu tangannya  yang dalam posisi bersidekap dan mengarahkannya kepadaku sebagai tanda isyarat untuk berhenti.


“Stop, gadis kecil! Melihat sinar matamu, aku tahu kamu ingin mendebat ucapanku dan caraku menilai sebuah keluarga. Tapi dari pada mendebat penilaianku, lebih baik segera masuk ke dalam kamar kosmu dan ganti pakaianmu yang basah itu. Jika tidak, kau akan jatuh sakit dan mungkin membuatku kesulitan nantinya. Intinya. . . aku hanya ingin mengatakan karena ini adalah pengalaman pertamamu sebagai anak kos, aku sebagai satu dari beberapa tetanggamu, berbaik hati untuk memberimu bantuan jika kau merasa kesulitan.”


           


           


             


            Aku hendak membuka mulutku lagi dan memberikan balasan untuk ucapannya padaku. Namun sekali lagi, Paman mengangkat tangannya dan memberi isyarat untuk berhenti kepadaku untuk kedua kalinya.


            “Sudah cepat masuk sana, gadis kecil!”


            Setelah mengatakan hal itu padaku, dengan cepat Paman membuka pintu kamar kosnya dan masuk ke dalamnya. Sebelum benar-benar hilang dari hadapanku, sekali lagi aku melihat senyuman kecil di sudut bibir Paman dan kali ini kurasa senyuman kecil itu bukan senyuman yang memiliki arti menggodaku.


            Kret.


            Aku masuk ke dalam kamar kosku setelah menutup pintu kamar kosku. Setelah meletakkan keranjang laundry milik Paman yang berisi pakaian, aku melihat ke jendela kamar kosku. Dari balik kaca, aku melihat langit mendung yang menghalangi sinar matahari perlahan bergerak dn memberikan celah kepada sinar matahari untuk melewatinya. Bersamaan dengan suara rintik hujan yang mulai mereda, aku mengambil satu persatu jemuranku dari dalam keranjang milik Paman. Senyuman kecil terbentuk di bibirku ketika aku mulai melipat pakaianku satu persatu. Siapa yang akan menyangka insiden penyelamatan jemuran yang kukira gagal justru memberikanku kesempatan untuk berbicara dengan tetangga kosku? Siapa yang akan menyangka usahaku untuk menyelamatkan jemuranku justru memiliki akhir yang berbeda? Siapa yang akan menyangka jemuran yang selama ini kuanggap sebagai satu dari beberapa bencana dalam sebulan ini, justru menjadi alasan bagiku untuk mengenal tetanggaku? Siapa yang akan menyangka?


            Aku tertawa kecil setelah berbicara sendiri di dalam benakku. Aku menertawakan insiden kecil yang melibatkan aku dengan Paman Felix-tetanggaku, hanya karena jemuran milikku. Tapi. . . karena jemuran milikku itu juga, aku mulai mengenal satu dari beberapa tetangga kosku.