Our Happiness

Our Happiness
ZORA PART 3


            Awalnya kukira hidup seorang diri di kos itu menyenangkan. Berkaca pada Indhira yang tidak bingung dengan jam malam ketika harus lembur karena tugas kuliah, bangun siang tanpa ada suara ribut yang membangunkan ketika pagi datang dan hidup penuh ketenangan dengan cara sendiri tanpa ada yang berkomentar ini dan itu tentang kamar kita, nyatanya kehidupan kos yang aku dambakan tidak semudah  yang aku lihat.


            Setelah sebulan lamanya aku tinggal di kos, aku mulai merasakan beratnya hidup seorang diri. Aku harus cepat pulang kuliah ketika hujan hendak turun hanya untuk menyelamatkan jemuran yang kering dari hujan yang turun. Karena jemuran, aku berulang kali harus menggigit jariku karena kesal karena setelah usahaku yang usah payah untuk pulang cepat berakhir dengan kegagalan dalam proses penyelamatan jemuran. Aku juga harus memasak sendiri dan membeli bahan makanan sendiri untuk makan sehari-hari. Kukira memasak adalah hal mudah-hanya tinggal mencampur bahan-bahan seperti panduan video yang aku lihat. Tapi hasil yang aku terima adalah masakan yang aku masak tidak seenak gambaran dari video yang jadi panduanku. Selain itu. . . ketika gas untuk memasak habis, aku harus meminta bantuan Indhira datang ke kos untuk membantuku mengganti tabung gas.


            Setelah masalah memasak yang selalu gagal dan jemuran yang selalu gagal diselamatkan, aku masih harus sering kali bangun kesiangan dan sering kali terlambat datang ke kampus karena alarmku yang sangat kencang gagal membangunkanku dari tidurku yang larut. Bahkan tiga alarm yang sengaja aku pasang, masih saja gagal membangunkanku tepat waktu.


            Kesimpulan yang aku dapat setelah sebulan aku tinggal di kos adalah tinggal sendirian adalah bencana. Apapun yang aku lakukan semua berakhir dengan kegagalan.


            “Kau berlari lagi, gadis kecil???”


            Suara berat yang tidak asing itu membuatku yang berlari menaiki anak tangga menuju ke lantai dua di mana kamar kosku berada, untuk sejenak menghentikan langkah kakiku untuk menatap wajah dari pemilik suara itu yang selalu mengenakan kacamata hitam di wajahnya bahkan di saat langit mendung dan gelap seperti ini.


            Aku menatap wajah pria itu dan kemudian menganggukkan kepalaku dengan enggan. “Ya, Paman. Seperti yang Paman lihat, aku berlari setelah kuliahku usai hanya untuk menyelamatkan jemuranku.”


            Mendengar jawabanku, gelak tawa kencang kemudian terdengar bersamaan dengan kakiku yang melangkah lagi untuk berjalan naik.


            “Hahahahahahah. Akhirnya aku tahu kenapa kau selalu pulang dengan berlari kencang bahkan setelah membawa payung ketika hujan turun. . .”


            Setelah menyelesaikan langkah kaki dan membabat lima belas anak tangga untuk tiba di lantai dua di mana kamar kosku berada, aku menghentikan langkah kakiku dan menatap tajam ke arah pria-tetanggaku yang bernama Felix. Dengan napas yang masih tersengal setelah berlari cukup kencang bahkan setelah berulang kali payung yang kugunakan terbalik, aku membalas ucapan pria bernama Felix yang kupanggil dengan panggilan Paman. “Kenapa memangnya? Aku tidak boleh berlari dengan kencang hanya untuk menyelamatkan jemuranku?”


            Mendengar jawabanku dan menerima tatapan tajam dariku, Paman masih tidak menghentikan tawanya dan terus saja tertawa. Aku yang nyaris basah kuyup berjalan menuju ke depan kamar kosku untuk menyelamatkan jemuranku. Tapi begitu melihat tempat jemuranku yang kosong melompong, aku hanya bisa diam dengan wajah melongo. Ke mana semua jemuranku?


            Tawa Paman itu tiba-tiba terhenti ketika menyadari ekspresi wajahku yang terkejut bukan main karena melihat tempat jemuranku dalam keadaan kosong.


            “Paman!” teriakku.


            “A-apa??” tanya Paman yang terkejut mendengar teriakanku. “K-kenapa tiba-tiba berteriak, gadis kecil?”


            “S-sepertinya ada pencuri yang mencuri semua jemuranku.” Aku berkata sembari menunjuk tempat jemuranku yang sudah dalam keadaan kosong melompong.


            Mendengar ucapanku, sontak gelak tawa Paman terdengar lagi dan bahkan kali ini lebih kencang dari sebelumnya. “Bwahahahahahahahahah.”


            Mendengar tawa Paman yang semakin kencang dan ekspresi wajahnya yang sepertinya baru saja melihat hal yang sangat lucu, membuatku semakin kesal.  Merasa kesal, aku kemudian berteriak kepada pria bernama Felix. “Paman!! Kenapa tertawa? Ini bukan hal lucu! Ada pencuri yang mencuri semua jemuranku!”  


            Aku melihat Paman berusaha keras menghentikan tawanya untuk bisa bicara padaku. Melihat ekspresinya yang sungguh-sungguh merasa lucu karena rasa terkejutku, aku merasa semakin kesal saja. Pria ini benar-benar menyebalkan. Setelah berulang kali melampiaskan rasa kesalku di dalam benakku, aku kemudian membalas ucapan Paman. “Apanya yang lucu, Paman? Aku bukan sedang melawak, Paman! Aku sedang bingung dan terkejut karena semua jemuranku yang hilang dan lenyap begitu saja!”


            “Aku akan menemukan semua jemuranmu asalkan kamu menjawab beberapa pertanyaanku, gadis kecil. Bagaimana?”


            Mendengar bahwa pria yang merupakan tetanggaku ini akan berusaha untuk menemukan semua jemuran milikku yang hilang, spontan aku menganggukkan kepalaku sembari merasa sedikit terharu dan merasa bersalah. Aku merasa terharu karena setelah sebulan ini tinggal di kos, ada orang asing yang merupakan tetanggaku, mau membantuku yang sedang kesulitan. Lalu perasaan bersalah itu muncul dalam benakku karena beberapa kali aku sudah memberikan penilaian buruk kepada Paman Felix karena penampilannya.


            “. . . Baiklah. Kalau begitu pertanyaan pertama, apakah ini pertama kalinya kamu tinggal di kos, gadis kecil?”


            Aku menganggukkan kepalaku untuk kedua kalinya. “Itu benar, Paman. Ini pertama kalinya aku tinggal di luar rumah seorang diri.”


            Aku menatap ke arah Paman untuk melihat reaksinya setelah mendengar jawaban dariku dan aku melihat senyuman di bibirnya.


            “Pantas saja.” Paman itu menganggukkan kepalanya seolah memahami sesuatu yang tidak aku mengerti. “Lalu untuk pertanyaan kedua, mungkinkah di rumah kamu selalu dilayani?”


            Mendengar pertanyaan tak terduga itu, spontan aku membulatkan kedua mataku dan mengajukan pertanyaan kepada Paman. Aku benar-benar terkejut pria asing di hadapanku ini bisa dengan mudah menebak bagaimana kebiasaanku di rumah. “Kenapa Paman bisa berpikir begitu?”


            “Pertama, kau tidak bisa memasak. Semua masakan yang kamu masak selalu gagal dan kamu selalu membuangnya di tempat sampahmu. Kedua, kamu bahkan kesulitan untuk berbelanja baik itu kebutuhan sehari-hari atau bahan makanan yang akan kamu masak. Aku lihat banyak sayuran busuk yang kamu buang di tempat sampahmu. Ketiga, ketika tabung gas yang kamu gunakan habis, kamu selalu memanggilmu temanmu kemari. Dalam sebulan kamu sudah mengganti tabung gas itu sebanyak dua kali, kutebak kamu menggunakannya untuk memasak air hangat untuk mandi. Benar bukan?”


            Mulutku menganga mendengar penjabaran Paman Felix tentang semua kegiatanku yang kusebut bencana selama sebulan ini. Melihat ekspresiku yang tidak percaya dengan mulut menganga, senyuman Paman Felix semakin lebar. Dengan cepat, aku segera menutup mulutku untuk menyembunyikan ekspresi terkejutku.


            “. . .Lalu yang keempat. Kamu selalu memasang banyak alarm berulang kali yang berhasil membuat tidurku dan tidur Rania yang tinggal di sebelahku terganggu setiap harinya. Suara alarmmu itu benar-benar ‘luar biasa’. Mendengar suara alarm yang ‘luar biasa’ itu  berulang kali dan kau tidak terbangun, tidurmu itu pun benar-benar ‘luar biasa’. Bagaimana yah menggambarkannya. . . “


            Untuk sejenak Paman menghentikan kalimatnya dan melihat ke arahku dengan senyuman yang semakin lebar seolah sedang menggodaku.


            “Bagaimana maksudnya?”


            “Tidurmu itu menakutkan. Rasanya seperti ada gempa atau bencana yang datang, kau tidak akan terbangun dan akan mati begitu saja karena tidak sempat menyelamatkan diri. Tapi. . . dengan begitu, kamu mungkin tidak akan merasakan sakit dalam kematianmu. Hahahahahahahah.”


            Sial. Sial sekali aku hari ini. Setelah kehujanan karena berusaha menyelamatkan jemuranku dan semua jemuranku yang tiba-tiba menghilang entah ke mana, aku masih harus menerima komentar menyebalkan dari Paman ini. Dan herannya setelah selama sebulan ini, kami hanya saling bertegur sapa sebagai sesama penghuni kos, dia dengan mudahnya mengatakan semua tindakanku burukku yang kusebut dengan bencana. Kesialan apa yang sedang mendatangiku ini? Setelah puas mengumpat di dalam benakku, aku menatap tajam ke arah Paman dengan wajah kesal. “Apa Paman sudah puas mengerjai dan menggodaku? Benar, aku memang baru pertama kali tinggal seorang diri. Benar juga, aku tidak bisa memasak. Benar juga, aku menghabiskan banyak gas untuk memasak air hangat karena aku tidak bisa mandi air dingin di malam hari.  Benar juga, jika selama ini ada pengasuh yang selalu mengurusku: dari memasak hingga semua kebutuhan bahkan ketika membangunkanku dari tidur. Lalu kenapa dengan itu, Paman? Bukankah selalu ada ‘kata pertama kali’ dalam langkah dan hidup seseorang? Apakah aku juga tidak bisa begitu? Aku datang kemari dan mengerjakan semua yang tidak pernah aku kerjakan, bukankah itu artinya aku sudah bertekad untuk lebih mandiri?”


            Setelah mengatakan semua kekesalan yang ada di dalam benakku selama sebulan, setelah semua kegagalan dalam hidup mandiri yang kusebut dengan bencana dan setelah operasi penyelamatan jemuranku yang setelah kesekian kalinya selalu gagal, hari ini dalam keadaan baju  basah, aku menundukkan kepalaku menahan rasa kesal, lelah dan air mata yang hendak jatuh. Aku menundukkan kepalaku dan berharap orang di depanku saat ini yang begitu menyebalkan ini, tidak melihatku menangis.