Our Happiness

Our Happiness
PROLOG


            Sekarang, tahun 2022.


            Senyuman muncul di bibirku ketika melihat pemandangan yang telah lama kurindukan. Setelah empat tahun lamanya, semua penghuni kos bernama “Bahagia” berkumpul di sini. Semua orang kecuali  Paman Felix sudah tiba di sini-di kos milik Ibu Sekar. Di sampingku ada Dirgantara yang biasa disapa Kak Dirga sedang membantuku memotong daging dan sayur-sayuran sebagai menu utama dalam pesta barbeque hari ini. Tidak jauh dari tempatku berdiri, Ibu Gita dengan putrinya yang bernama Nura bersama dengan Kak Rania yang sedang menata meja dan peralatan makan. Lalu tidak jauh dari tempat Kak Rania, Kak Sambara yang biasa disapa dengan Kak Bara sedang sibuk menata lampu-lampu yang mungkin kami butuhkan ketika kami berpesta hingga malam hari.


            “Felix, masih belum datang?”


            Kak Dirga yang sedang membantuku bertanya padaku dengan lirikan matanya yang menyiratkan sinar sedang menggodaku.


            “Kurasa Paman masih belum datang. Tadi Paman mengirim pesan bahwa Paman mungkin akan datang terlambat karena jalan yang macet.” Aku menyadari lirikan mata Kak Dirga dan menjelaskan sembari berusaha mengabaikan lirikan yang aku tahu sebagai tanda dari Kak Dirga yang sedang menggodaku.


            Menyadari aku mengabaikan lirikan matanya dan bersikap seolah tidak peduli, Kak Dirga menghentikan pisau yang digunakannya untuk memotong daging dan menatap ke arahku. Meski aku tahu Kak Dirga menghentikan pekerjaannya karena rasa ingin tahunya, aku tetap melalukan pekerjaanku seolah tidak menyadari rasa ingin tahu Kak Dirga.


            Namun Kak Dirga terus menatap ke arahku meski aku sudah berusaha untuk mengabaikannya. Mau tidak mau, akhirnya aku membuka mulutku untuk bertanya padanya. s“Ke-kenapa Kakak berhenti?” Aku bertanya sembari terus mencuci sayuran dan menata daging yang telah dipotong ke atas piring.


            “Kenapa kamu masih memanggil Felix dengan panggilan Paman dan bukannya Kakak? Kau tahu bukan, jika usia Felix tiga tahun lebih muda dariku, Zora? Ini sudah empat tahun lamanya dan kamu masih memanggil Felix dengan sebutan Paman?” Kali ini Kak Dirga menatap tajam ke arahku, menuntut jawaban dariku.


            Aku menganggukkan kepalaku. “Aku tahu itu, Kak.”


            “Lalu??”


            “Bukannya aku lupa, Kak. Hanya saja mulutku ini. . .” Aku menghentikan apa yang sedang aku kerjakan saat ini dan kemudian memukul mulutku dengan pelan sebagai bukti kesalahanku pada Kak Dirga. “Mulutku ini sungguh tidak bisa diajak kerja sama, Kak. Memanggil Paman rasanya lebih enak di lidahku dari pada memanggil Kakak pada Paman Felix.”


            Mendengar jawaban yang kuberikan, perlahan senyuman muncul di bibir Kak Dirga dan menghapus tatapan tajam dari matanya yang tadi sejenak kuterima. Setelah empat tahun lamanya, aku mengira Kak Dirga akan marah padaku hanya karena masalah kecil seperti panggilan yang aku buat pada Paman Felix. Namun nyatanya, aku salah. Melihat senyuman itu muncul di bibirnya, aku tahu Kak Dirga sedang menggodaku.


            “Kukira kau sudah berubah, Zora. Nyatanya kau masih tetap sama seperti empat tahun lalu. Kau masih saja memanggil Felix dengan sebutan Paman dan merasa terintimidasi ketika menerima tatapan tajam dari mataku ini. . .”


            Setelah mengatakan hal itu, senyuman di bibir Kak Dirga perlahan berubah menjadi tawa kecil yang memikat siapapun yang melihatnya termasuk aku. Kuakui lima tahun yang lalu, aku sempat membuat Kak Dirga sebagai idolaku. Dari pada memilih artis, penyanyi atau aktor yang berada jauh di sana-maksudku oppa dari Korea dan mungkin tidak mengenaliku, aku lebih memilih Kak Dirga sebagai idolaku. Beberapa teman kuliahku awalnya sempat tertawa dan mengejekku ketika mendengar idolaku, tapi begitu mereka bertemu langsung dengan Kak Dirga, dalam sekejap mata mereka tidak bisa lepas dari Kak Dirga dan langsung membuat klub penggemar untuk Kak Dirga. Dan di antaranya para pendirinya, aku menjadi satu dari orang-orang itu.


            “Kurasa empat tahun bukanlah waktu yang cukup untuk mengubah seseorang. . .” ujarku sembari melihat ke arah Ibu Sekar, Ibu Gita, Nura, Kak Rania dan Kak Bara. “Lihatlah, Kak! Mereka masih saja sama seperti empat tahun yang lalu.”


            Di depanku dan Kak Dirga, kami berdua melihat Kak Rania dan Nura yang berdebat satu sama lain. Nura membela Kak Bara yang sejak tadi selalu menerima perintah dari Kak Rania, sementara Kak Rania yang selalu diperlakukan sebagai wanita anggun oleh Kak Bara, merasa tidak terima oleh ucapan Nura yang menganggap Kak Rania selalu memerintah.


            “Berhenti Kak Bara!”


 Nura berteriak dengan memasang badannya di depan Kak Bara seolah dirinya adalah pelindung dari Kak Bara. Aku tertawa melihat tindakan Nura ini karena usia Nura yang masih remaja dan jelas sekali jika ukuran tubuhnya lebih kecil dari Kak Rania bahkan Kak Bara.


“Kenapa kamu membuat berteriak meminta Bara berhenti? Sudah kukatakan pada Bara jika posisi lampu yang dipasangnya itu miring. Apa kamu tidak melihatnya, Nura??”


Kali ini giliran Kak Rania yang berteriak ke arah Nura dengan wajah tidak terima. Melihat kejadian itu pun membuatku tertawa kecil bahkan ketika melirik, aku pun menyadari bahwa Kak Dirga yang berdiri di sampingku pun juga tertawa melihat pemandangan itu. Bagaimana tidak? Kak Rania yang berusia mendekati 30 tahun dan seharusnya sudah dewasa justru bertengkar dengan anak yang berusia kurang dari setengah usianya.


“Kau benar, Zora. Beberapa orang tidak berubah. Mereka masih tetap sama bahkan setelah beberapa tahun telah terlewati. Hahahaha.”


            “Minggir!”


            Kak Rania dan Nura yang masih saling melempar tatapan sengit satu sama lain kemudian menatap tajam ke arah Bara  bersamaan dan meminta Kak Bara yang menghalangi tatapan sengit yang nyaris membunuh itu, untuk segara pergi.


            “Kalian ini benar-benar tidak berubah sama sekali. . .”


            Ucapan dari seseorang yang berdiri di pagar kos milik Ibu Sekar kemudian menghentikan pertarungan tatapan sengit dari Kak Raina dan Nura.


            “Paman Felix!!” Nura langsung berlari ke arah Paman Felix ketika melihatnya dan langsung memberinya pelukan. Aku bersama dengan orang-orang hanya bisa terdiam membeku melihat gadis remaja itu dengan mudahnya memeluk seseorang.


            “Lama tidak bertemu, Nura. Kau sudah tumbuh besar jadi gadis cantik rupanya.” Paman Felix membalas pelukan Nura dengan cukup singkat sebelum akhirnya melepaskan pelukannya untuk menatap wajah Nura. “Sepertinya waktu empat tahun ini, aku kehilangan momen penting melihat anak perempuan dari Ibu Gita yang tumbuh menjadi gadis yang cantik.”


            Setelah mengatakan hal itu, Paman Felix kemudian mengacak-acak rambut Nura seperti kebiasaan kecilnya ketika bertemu dengan gadis yang lebih pendek darinya dan merasa gemas dengannya. Sembari melakukan itu, Paman Felix kemudian melemparkan pandangannya ke arah Ibu Gita dan Ibu sekar dan menundukkan kepalanya sedikit dengan tersenyum untuk memberi salam.


            “Lama tidak bertemu Ibu Gita, Ibu Sekar.”


            “Lama tidak bertemu, Nak Felix,” balas Ibu Gita dengan senyumnya. Ibu Gita segera maju dan mendekat ke arah putrinya-Nura dan meminta Nura untuk memberikan kesempatan pada orang-orang untuk melepas rindunya kepada Paman. “Kamu ini. . . bisa-bisanya memeluk Felix begitu saja.”


            Nura ingin membalas perkataan ibunya, namun Paman Felix lebih dulu membuka mulutnya dan menggantikan Nura untuk menjawab. “Tidak apa-apa Ibu Gita. Nura sudah saya anggap sebagai keponakan saya sendiri. Kebetulan saya tidak punya keponakan perempuan.”


            Mendengar ucapan Paman Felix, aku menangkap raut wajah kesal di wajah Nura. Benar saja, Nura langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan melemparkan protesnya kepada Paman dengan suara melengkingnya.


            “Kenapa hanya keponakan, Paman? Bukankah sejak dulu aku mengatakan pada Paman ingin jadi istri Paman??”


            Mendengar protes dari Nura, senyuman kecil Paman kemudian muncul di bibirnya yang merah sembari melihat ke arahku. Paman terus menatap ke arahku bahkan ketika tangannya mengacak-acak rambut Nura untuk kedua kalinya sembari memberi pengertian kepada Nura.


            “Usia Paman sekarang sudah kepala tiga, Nura dan kamu masih belum berusia 15 tahun. Menunggumu dewasa, masih terlalu lama bagi Paman. Jika Paman melakukan itu, ketika menikah denganmu maka Paman kemungkinan sudah tua dengan penuh keriput di kuli wajah Paman. Apa kamu masih mau menikah dengan Paman saat kamu justru tumbuh menjadi gadis cantik dan dilirik oleh banyak lelaki tampan?”


            Mendengar jawaban dari Paman, Nura sempat terdiam sejenak. Kutebak untuk sejenak itu, Nura sedang membayangkan dirinya enam tahun lagi yang tumbuh menjadi gadis cantik dan dikejar banyak lelaki tampan yang mungkin lebih tampan dari Paman sekarang.


            “Kalau begitu, kubatalkan keinginanku menjadi istri Paman. Enam tahun lagi ketika usiaku menginjak kepala dua, Paman yang memiliki keriput di wajah Paman pasti tidak terlihat tampan lagi.”


            Mendengar jawaban dari Nura, gelak tawa terdengar dari mulut semua orang kecuali Nura sendiri tentunya.


            “Bagus, Nura. Bagus. Itu pemikiran yang bagus, kamu harus mencari pria yang lebih tampan dari Paman kelak.”


            Sembari mengatakan hal itu, Paman Felix menatap ke arahku dan mengerlingkan satu matanya ke arahku untuk menggodaku. Caranya mengacak-acak rambutku itu membuatku teringat bagaimana awal dari perkenalan kami berdua. Kukira dulunya, pria yang aku panggil Paman ini adalah pria yang menyebalkan sekaligus menyedihkan. Kukira bersama dengan pria sepertinya, hidupku akan tertular kemalangan yang dimilikinya. Namun kenyataan berkata lain. Berkat pria ini, aku justru menemukan sesuatu yang selalu aku cari.