Our Happiness

Our Happiness
ZORA PART 2


“Terima kasih,” balasku pada Radeva yang membantuku membawakan dua tas koper besar milikku ke kamarku. Dari jarak yang dekat aku dapat dengan jelas melihat Radeva  yang memiliki wajah yang mirip dengan Ibu Sekar: hidung kecil yang lancip, bentuk wajah oval dengan bibir kecil, tubuh yang kurus dengan tinggi tubuhnya yang tidak terlalu tinggi untuk anak laki-laki. Kurasa tinggi badannya itu menurun dari Ibu Sekar karena menurut perkiraanku, Radeva memiliki tinggi sekitar 170 cm.


“Sama-sama, Kak. Semoga Kakak betah tinggal di sini.”


            Aku tersenyum mendengar balasan Radeva sembari berkata pada diriku sendiri. Semoga saja. Setelah membalas ucapanku, Radeva kemudian pergi kembali ke rumahnya. Sementara Ibu Sekar masih bersamaku di kamarku untuk memberikan beberapa penjelasan padaku.


            “Nak Zora, ada beberapa peraturan yang harus Nak Zora taati ketika tinggal di sini. Pertama pembayaran uang kos jangan sampai terlambat. Seperti yang Nak Zora lihat, kamar kos ini memiliki banyak fasilitas lengkap dengan kamar mandi pribadi dan dapur kecilnya di dalamnya. Jadi bayaran sebesar empat ratus ribu, harusnya bukan jumlah yang besar mengingat fasilitas yang diberikan di kamar ini.”


            “Ya, Bu.” Aku menganggukkan kepalaku setuju. Memang benar apa yang Ibu Sekar katakan padaku. Dengan harga empat ratus ribu, aku bisa mendapatkan kamar dengan ukuran 4x4 meter dengan kamar mandi dalam dan dapur kecil di dalamnya yang lengkap dengan kompor beserta tabung gas dan wastafel untuk mencuci piring. Dari pengalamanku berkeliling bersama dengan Indhira dan Dina beberapa waktu lalu, kamar ini seharusnya dihargai lebih dari lima ratus ribu rupiah. Menemukan kos seperti ini, bagi Dina dan Indhira rasanya seperti sebuah keberuntungan.


            “. . .Lalu yang kedua, jam malam di kos ini tidak ada. Jadi jika setiap penghuni kos ini akan saya beri kunci untuk pintu pagar jika pulang terlambat. Mohon untuk selalu mengunci pintu pagar ketika masuk atau keluar karena beberapa penghuni kos membawa kendaraan pribadi.”


            “Ya, Bu.” Aku menganggukkan kepalaku lagi dan mengingat ada mobil dan beberapa motor yang terparkir di depan bangunan kos ketika aku berkunjung kemari bersama dengan Indhira dan Dina.


            “. . . Lalu yang ketiga, untuk biaya listrik mohon dibayarkan bersama dengan uang kos. Dan jika Nak Zora ingin memakai wifi yang ada di dalam area kos ini, Nak Zora perlu menambahkan lima puluh ribu rupiah bersama dengan uang listrik. Sementara untuk uang air, Ibu tidak akan menariknya karena air di sini menggunakan sumur pribadi.”


            “Ya, Bu.” Aku menganggukkan kepalaku lagi dengan senyuman karena merasa senang karena tidak menyangka kos yang aku pilih ini bahkan menyediakan fasilitas wifi. Tidak seperti kos milik Indhira yang selalu berjanji akan memasang wifi namun selama dua tahun lamanya janji itu menguap begitu saja terkena panas dan dingin dari pergantian musim.


            “Apakah ada pertanyaan, Nak Zora?”


            Aku menatap ke arah Ibu Sekar dan kemudian menimbang-nimbang pertanyaan yang mungkin aku tanyakan untuk tiga peraturan yang telah dijelaskannya kepadaku. Selagi berusaha mencari, sesuatu kemudian muncul di dalam benakku.


            “Bu, maaf. Untuk teman yang akan menginap di kos, apakah Ibu keberatan dengan itu?” tanyaku dengan sedikit ragu-ragu.


            Ibu Sekar tersenyum melihat ke arahku seolah dia tahu bahwa ini adalah pertama kalinya aku tinggal di kos, tinggal mandiri dan tinggal jauh dari orang tuaku. “Tidak. Ibu tidak keberatan asal temanmu itu sama-sama perempuan. Ibu hanya melarang jika teman yang menginap itu adalah teman yang berbeda jenis. Meski kos ini adalah kos campur di mana pria dan wanita tinggal bersebelahan, Ibu sangat menjaga nama baik kos ini dan penghuninya. Sebisa mungkin Ibu menjaga kalian di sini dari kesalahan yang mungkin kalian buat karena berada jauh dari orang tua kalian. Menerima kalian di sini, itu artinya ibu bertanggung jawab kepada orang tua kalian. Terutama bagi anak muda yang baru menginjakkan kakinya dalam dunia bebas. Apa bisa dimengerti, Nak Zora?”


            Aku tersenyum menganggukkan kepalaku merasa terharu ibu kos ku ini begitu menjaga penghuni kosnya. “Saya bisa mengerti, Bu.”


            Setelah mengatakan hal itu, Ibu Sekar kemudian keluar dari kamarku sembari menyerahkan dua kunci padaku: satu kunci kamarku dan satu lagi kunci pagar depan. Sebelum berjalan pergi dan turun dari lantai dua di mana aku menyewa kamar, Ibu Sekar mengatakan satu haln penting  yang sepertinya telah dilupakannya. “Ibu sepertinya lupa mengatakan ini padamu, Zora.”


            “Apa itu, Bu?” Aku melihat raut wajah Ibu Sekar yang sedikit ragu-ragu dan berusaha mengingat sesuatu yang penting yang mungkin terlupakan olehnya. Melihat raut wajah itu, untuk sejenak, aku merasa sensasi aneh lagi dalam tubuhku dan pikiranku membuat gambaran buruk lagi sebelum kuperintah.


            “Di awal kamu datang berkunjung, Ibu mengatakan padamu bahwa kamar di lantai dua di huni oleh wanita, bukan?”


            “Ya, Ibu memang mengatakan itu padaku ketika aku berkunjung untuk melihat kamar ini bersama dengan dua temanku beberapa waktu lalu.” Aku menganggukkan kepalaku lagi. Entah sudah berapa kali aku menganggukkan kepalaku dalam rentang waktu satu jam ini?


            “Ah benar. Ibu sepertinya lupa mengatakannya padamu, Nak Zora.”


            Ibu Sekar menepuk bahuku dengan pelan dan membuatku semakin merasakan sensasi aneh di dalam tubuhku. Belum sempat kuhentikan, pikiranku bekerja sendiri dan membuat gambaran yang lebih menakutkan dari sebelumnya. Mungkin ada yang bunuh diri di kamar ini sebelumnya, mungkin terjadi pembunuhan di kamar ini atau kamar sebelahku, mungkin terjadi perampokan di kamar ini atau di  kamar sebelahku. Pikiranku memikirkan semua gambaran buruk yang kubaca dari berita yang menimpa anak kos ketika tinggal seorang diri di kos. “. . . Ibu lupa mengatakan jika penghuni kamar di sebelahmu adalah pria dan bukan wanita. Maaf sekali, Nak Zora.”


            Aku menganggukkan kepalaku karena merasa senang bahwa gambaran-gambaran buruk dalam pikiranku tidak menjadi kenyataan. Namun ketika menyadari seorang pria tinggal tepat di samping kamarku, tiba-tiba aku merasa sedikit was-was. “Ke-kenapa tiba-tiba pria yang harusnya tinggal di lantai satu berada di lantai dua? Apakah kamar di lantai bawah sudah penuh sehingga ada pria yang mau tinggal di lantai dua di mana seharusnya hanya wanita yang tinggal, Bu?”


            “Lalu, kenapa bisa begitu, Bu?” tanyaku penasaran.


            “Sebenarnya penghuni kamar di sebelahmu sebelumnya adalah ibu tunggal dengan putrinya yang masih berusia sembilan tahun. Namanya Ibu Gita dan Nura. Karena Ibu Gita ini bekerja sebagai perawat yang bekerja dalam sistem shift, terkadang Ibu Gita tidak bisa mengawasi putrinya. Karena takut putrinya mungkin terjatuh di tangga, maka Ibu Gita meminta untuk tinggal di kamar bawah dan bertukar kamar dengan salah satu pria yang tinggal di sana.”


            Baru selesai Ibu Sekar menutup mulutnya memberi penjelasan padaku, dari arah tangga aku mendengar sebuah langka kaki yang berjalan ke arah kami berdua. Suara langkah kaki itu kemudian membuat perhatianku dan Ibu Sekar selama beberapa detik tersita karena rasa ingin tahu.


            "Selamat siang, Ibu Sekar. . .”


            Seorang pria dengan rambut gondrong, mengenakan kacamata hitam, mengenakan kaos oblong dengan celana selutut dan sandal jepit yang terpasang di kedua kakinya, kemudian muncul dan menyapa Ibu Sekar yang sedang berdiri bersama denganku.


            “Ah, siang, Nak Felix. Apa kau baru pulang dari jalan-jalan?”


            Jalan-jalan? Di siang bolong dengan panas yang terik ini? Aku menatap sosok pria dengan suara berat itu dari atas kepala hingga ke sepasang sandal jepit yang terpasang di kakinya. Aku menggelengkan kepalaku selama beberapa kali karena merasa penampilan pria itu benar-benar mencolok, terutama dengan kacamata hitam di wajahnya itu.


            Pria itu memiringkan kepalanya sedikit ke arah kanan dan memberi lirikan setelah mengangkat bungkusan plastik di tangan kanannya, sebelum menjawab pertanyaan dari Ibu Sekar. “Ya, Bu. Saya baru jalan-jalan dan membeli ini. Siapa gadis ini, Bu? Apakah dia tetangga baruku seperti kata Ibu kemarin?”


            Pria itu mengalihkan pandangannya dari Ibu Sekar ke arahku dan melakukan hal yang sama denganku: memandangku dengan saksama dari atas kepala hingga ke bawah. Menerima tatapan itu, aku kemudian melihat diriku sendiri untuk memeriksa jika mungkin sesuatu dari penampilanku terlihat buruk atau aneh. Beruntungnya. . . aku mengenakan celana panjang kulot berwarna putih dengan blus lengan pendek  berwarna pendek yang memiliki kesan sopan. Syukurlah kesan pertama dari pakaian yang aku kenakan menggambarkan jati diriku sebagai gadis yang sopan.


            Ibu Sekar kemudian mengenalkanku pada pria yang tadi dipanggil dengan nama Felix oleh Ibu Sekar. “Benar, Nak Felix. Ini Nak Zora, mahasiswi yang kuliah di universitas dekat sini.”


            Setelah mengenalkanku pada pria bernama Felix, giliran Ibu Sekar mengenalkan pria bernama Felix itu kepadaku. “. . . Nak Zora, ini Nak Felix yang tinggal tepat di samping kamarmu dan menjadi tetanggamu.”


            Pria bernama Felix itu kemudian mengulurkan tangannya ke arahku untuk berjabat tangan denganku sebagai tanda perkenalannya denganku. Melihat penampilannya, caranya berpakaian dan suaranya yang terdengar begitu berat, aku merasa jika pria bernama Felix ini pastilah seorang pria yang sudah berumur setidaknya di atas tiga puluh tahunan. Dengan enggan dan berusaha menghormati sesama penghuni kos, aku mengulurkan tanganku dan membalas jabatan tangan dari pria bernama Felix.


            Sembari berjabat tangan, aku menatap ke arah pria bernama Felix itu. Namun karena kacamata hitam yang terpasang di wajahnya, aku tidak bisa melihat sorot matanya dan menebak apa yang mungkin dipikirkannya ketika melihatku.  Mataku berhenti menatap ke arah pria bernama Felix itu ketika mendapati senyuman muncul di wajahnya sembari menjabat tanganku. Merasa durasi jabatan tangan kami sudah cukup, dengan cepat aku menarik tanganku dari jabatan tangan itu.


            “Kalau begitu, aku kembali ke kamar dulu untuk menikmati es krim ini, Bu.”


            “Ya, Nak Felix. Selamat menikmati.”


            Setelah mengatakan hal itu, pria bernama Felix itu berbalik dan membuka kunci kamarnya yang berada tepat di samping kamarku. Sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, pria bernama Felix itu menghentikan gerakan tubuhnya dan melihat ke arahku yang berdiri tepat di samping Ibu Sekar.


            “Semoga kamu betah dan semoga kita menjadi tetangga yang rukun.”


            Aku tersenyum mendengar kalimat terakhir dari pria bernama Felix itu sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Sekejap. . . bulu kudukku merinding ketika mengingat kembali penampilan dari pria bernama Felix.


            Mungkinkah dia itu om-om genit yang suka menggoda gadis-gadis muda? Sekali lagi tanpa ijin dariku, pikiranku bekerja sendiri dan membuat gambaran seenaknya sendiri.