Our Happiness

Our Happiness
ZORA PART 1


       September 2017


             Aku berdiri di depan bangunan kos yang telah dipesankan oleh teman kuliahku-Indira dan Dina. Menatap bangunan kos yang hanya terdiri dari enam kamar dengan tiga kamar di lantai bawah dan tiga kamar di lantai dua, membuatku merasa sedikit ragu akan keputusanku. Rasa ragu untuk sesaat menyelimutiku karena kos yang dipesankan oleh dua sahabatku ini adalah kos campur di mana menerima wanita dan pria untuk tinggal di area yang sama, berbeda dengan kos di mana Indhira tinggal yang hanya menerima wanita untuk tinggal di dalamnya. Aku mengingat kembali alasanku berdiri di sini sembari menguatkan mentalku.


            “Aku sudah di sini. Aku memilih untuk tinggal di sini. Jadi. . . cobalah untuk bertahan selama beberapa bulan di sini, wahai diriku.” Aku memberi semangat kepada diriku sendiri sembari mengingat usaha Indhira dan Dina yang telah bersusah payah menemukan kamar kos untukku.


Indhira, Dina dan aku, kami bersahabat baik sejak tahun pertama aku masuk kuliah jurusan psikologi. Setelah dua tahun lamanya mereka selalu mendengar keluhanku mengenai aku yang tidak betah tinggal di rumah yang cukup jauh dari lokasi kampus, akhirnya Indhira mencetuskan sebuah ide menarik yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.


            “Kenapa tidak tinggal sendiri dan menyewa tempat seperti aku yang tinggal di kos?” Begitulah kalimat yang keluar dari mulut Indhira yang merupakan anak kos dan perantau yang rela tinggal jauh dari rumah hanya untuk kuliah.


            Selama dua tahun mengenal Indhira, kos tempat tinggalnya memang bersih dan terlihat cukup nyaman. Indhira tidak perlu mendengar omelan kedua orang tuanya ketika pulang terlambat setelah mengerjakan banyak tugas kuliah. Indhira juga tidak perlu rutin membersihkan kamarnya seperti mencuci pakaian, mencuci piring dan lain sebagainya karena tidak ada orang tua yang tinggal bersama dengannya dan mengomel padanya. Melihat keadaan Indhira selama dua tahun lamanya sebagai sahabat, jauh di dalam hati aku merasa sedikit iri dan karena itu di akhir tahun keduaku kuliah, aku memutuskan untuk tinggal sendiri di kos seperti Indhira.


            Tadinya aku berharap bisa tinggal di kos yang sama dengan Indhira. Kami hidup bersebelahan kamar layaknya tetangga. Kami bisa makan bersama dan terkadang tidur bersama ketika lembur mengerjakan tugas. Namun begitu aku memilih untuk meninggalkan rumah dan menginjakkan kaki di kos dengan berjuta harapan indah di dalamnya, kenyataan pahit langsung menamparku dengan kejam.


            “Maaf Zora. . . sekali lagi, maaf. Semua kamar di kos tempatku telah dipesan semua. Karena sebentar lagi mahasiswa dan mahasiswi baru akan masuk jadi semua kamar yang kosong telah dipesan.”


            Mendengar permintaan maaf dari Indhira, jujur aku merasa sedikit sedih. Aku menatap sedih dua sahabatku-Indhira dan Dina ketika mendengar tidak bisa tinggal di kos yang sama dengan Indhira. Harapanku untuk tinggal mandiri dengan seseorang yang kukenal, pupus begitu saja karena waktuku yang salah ketika membuat keputusan.


            “Benar, Zora. Salahkan dirimu sendiri, kenapa memilih untuk tinggal di kos ketika mahasiswa dan mahasiswi baru akan masuk.”


            Ucapan Dina-sahabatku yang lain benar-benar kejam seperti kenyataan yang baru saja menamparku. Tapi. . . seperti yang Dina ucapkan, semua memang adalah salahku karena aku memilih untuk tinggal di kos di waktu yang salah.


            Beruntungnya. . . Indhira dan Dina masih berbaik hati padaku karena tidak ingin mendengar keluhanku yang selalu sama selama dua tahun ini, untuk mencarikan kos untukku yang dekat dengan lokasi kos Indhira. Meski sulit dan harus sedikit bersusah payah, Indhira dan Dina menemaniku mencari kos untukku, hingga aku menemukan kos ini.


            Bangunan kos dengan nama “Bahagia” ketika pertama kali melihatnya membuatku merasakan sesuatu yang aneh: antara perasaan takut, ragu dan perasaan tidak enak. Bagaimana yah menjelaskannya? Yang jelas terkadang dalam film horor dan thriller, terkadang psikopat yang ada di dalamnya sebagai pemeran antogonis memberikan nama pada sesuatu yang digunakan untuk memikat mangsanya. Pikiran itulah yang muncul di dalam benakku pertama kali untuk menggambarkan sesuatu yang aneh di dalam diriku ketika melihat nama  bangunan kos di depanku saat ini.


            “Kamu tidak ingin melihat-lihat ke dalam?” Indhira bertanya padaku karena aku hanya diam mematung di depan kos  “Bahagia”.


            Aku menggelengkan kepalaku dengan mantap. “Tidak, melihat nama ‘Bahagia’ di depan bangunan kos itu, sudah membuatku merasa sedikit takut. Kau tahu kan, film-film horor dan thriller yang kita tonton terkadang melakukan ini, untuk memikat mangsanya.”


            Mendengar jawabanku dan melihat raut wajahku yang ragu, Indhira dan Dina kemudian bersiap untuk melangkahkan kaki mereka pergi ke bangunan berikutnya bersama denganku. Namun. . . seorang ibu muncul di hadapan kami dan menyapa kami bertiga yang sedang berjalan-jalan mencari di bawah teriknya sinar matahari.


            “Panas-panas begini kenapa kalian-tiga gadis cantik berjalan tanpa payung?”


            Mendengar suara itu, spontan aku bersama dengan Indhira dan Dina langsung melihat ke arah yang sama.


            “Tidak apa-apa, Bu. Jarang-jarang kami bisa menikmati sinar matahari yang terik kalau bukan karena sahabatku ini.” Dina menjawab pertanyaan ibu itu sembari menyenggol perutku dengan siku tangannya. Perlakuan Dina itu, sontak membuatku merasa sedikit bersalah kepada dua sahabatku yang rela menemaniku mencari kos yang nyaman untukku di tengah terik sinar matahari di siang hari. Karena perasaan bersalah itu, akhirnya aku memberanikan diri membuka mulutku dan bertanya kepada ibu itu.


            Senyum merekah dari ibu yang berusia di kisaran angka empat puluhan itu kemudian terbentuk dengan jelas di bibirnya ketika mendengar ucapanku yang menyebut bangunan di depanku ini dengan nama “kos”. Melihat senyuman itu, untuk sejenak aku merasa sedikit merasa senang. Senyuman ibu itu terlihat sebagai senyuman ibu-ibu yang penuh ketulusan yang sudah lama tidak pernah aku lihat.


            Ibu itu berjalan mendekat ke arah kami dengan kipas plastik di tangannya. “Benar, Nak. Ini adalah kos milikku yang sengaja kuberi nama Bahagia. Apa tiga gadis cantik ini berniat untuk melihat-lihat ke dalam? Kebetulan ada satu kamar kosong di dalam.”


            Begitulah perjalanan kecilku mencari kos untukku dan berakhir di bangunan kos bernama “Bahagia” ini. Meski awalnya aku merasa sedikit ragu dan memikirkan kemungkinan buruk karena beberapa film horor dan thriller yang aku lihat bersama dengan dua sahabatku-Indhira dan Dina, aku menjatuhkan pilihanku pada kos ini untuk memulai petualangan hidup mandiriku untuk pertama kalinya.


            Bangunan kos yang terlihat seperti bangunan lama dari bagian luarnya, nyatanya memiliki bagian dalam yang jauh berbeda dengan bagian luarnya. Bagian dalam kosnya yang terdiri dari kamar mandi pribadi, satu tempat tidur dengan ukuran 2x1,2 meter yang cukup luas, satu meja dan kursi belajar, satu lemari pakaian dan dapur kecil, terlihat begitu nyaman di mataku.


            “Nak Zora sudah datang?”


            Aku menatap Ibu kosku yang bernama Ibu Sekar yang sedang menyambut kedatanganku di depan rumahnya. Aku melihat rupa Ibu Sekar yang sudah memiliki keriput di wajahnya dan rambutnya yang sudah memulai memutih. Namun di balik wajah dan fisiknya yang mulai dimakan usia, aku melihat Ibu Sekar masih terlihat cantik. Melihat penampilannya yang masih tetap anggun di usianya yang mendekati angka 50, Ibu Sekar dulunya adalah gadis yang cantik yang mungkin mendapatkan gelar kembang desa.


            “Ya, Bu. Aku sudah datang. Sekali lagi, terima kasih karena menerima saya untuk tinggal di sini, Bu,” balasku.


            “Sama-sama, Nak Zora. Ibu juga merasa senang memiliki penghuni lain terutama penghuni yang cantik seperti Nak Zora.”  Ibu Sekar kemudian menatap dua koper besar yang kubawa bersama dengan tas tangan besar dan tas punggung yang tergantung di punggungku. Setelah melihat barang bawaanku yang terlihat banyak dan berat, Ibu Sekar kemudian berbalik dan menghadap ke rumahnya dan kemudian berteriak memanggil nama seseorang. “Radevaaaaaa! Kemari bantu Ibu, Nak.”


            Aku tersenyum setelah mendengar teriakan Ibu Sekar yang sangat kencang itu. Senyuman itu kubuat untuk menyembunyikan rasa terkejutku karena mendengar suara Ibu Sekar yang begitu kencang dengan ukuran tubuhnya yang mungil yang kira-kira memiliki tinggi kurang dari 155cm.


            “Ya, Bu.”


            Dari dalam rumah Ibu Sekar yang berada tepat di samping bangunan kos muncul seorang anak laki-laki dengan wajah yang begitu mirip dengan Ibu Sekar. Tanpa perlu dijelaskan, aku sudah bisa menebak bahwa anak laki-laki yang tampan itu adalah anak dari Ibu Sekar.


            “Nak Zora ini anakku, Radeva.” Ibu Sekar kemudian mengalihkan tatapannya dari aku ke arah anaknya-Radeva. “Radeva. . . Ini Nak Zora yang mulai hari ini akan tinggal di kos kita.”


Tanpa banyak bicara Ibu Sekar segera mengenalkanku pada Radeva-anaknya dan sebaliknya Ibu Sekar juga mengenalkanku pada Radeva-anaknya.


“Salam kenal, aku Zora.”


“Salam kenal juga, Kak. Saya Radeva.”


Setelah kami saling mengenalkan diri kami masing-masing, Ibu Sekar kemudian meminta Radeva untuk membantuku membawa barang bawaanku yang berat karena kamar kosku yang berada di lantai dua.


Melihat Radeva dan Ibu Sekar yang saling berbincang satu sama lain ketika mengantarku ke kamar kosku, untuk sejenak aku merasa iri.