My Body Is Tempting

My Body Is Tempting
Bab 6.


Brian POV..


pagi ini, aku akan melihat wajah gadis yang malang. bagaimana tidak malang, setiap dia mengajukan sebuah lamaran kerja, setiap itu pula dia menghadapi pria mesum yang memberinya syarat berkencan.


Aku sangat penasaran, pesona apa yang dimiliki gadis itu, sehingga dia diperlakukan begitu oleh beberapa pria.


Aku meminta aris untuk menghubunginya, alih alih menjadikan nya asisten aris, sebenarnya itu semua hanya karena rasa penasaranku yang terlalu memuncak.


Aku sudah sampai diruanganku sejak tadi, aku sengaja membuatnya menunggu kedatanganku,, hahaha tampak konyol bukan,, aku seorang direktur perusahan besar mempermainkan seorang mahasiswa.


Aku berjalan dengan gagah, ketampananku memang membuat banyak wanita tergila gila, bukan hanya tampan aku pun banyak uang, dan itu sasaran empuk untuk wanita murahan diluar sana, dan mungkin gadis kecil yang sedang menunggu ku saat ini juga akan terpana dengan pesona ku. aku atau dia yang akan terkejut nanti, aku semakin tidak sabar. aku melangkah kan kaki ku semakin cepat, agar aku dapat melihat gadis itu.


Aku sudah melihatnya, melihat gadis yang membuatku penasaran, sayang sekali ketika aku berada dihadapannya, dia tampak takut dan menundukan kepalanya terus menerus, bahkan aku tak melihat wajahnya dan dia juga tidak melihatku. Akal ku begitu banyak, ketika aku bertanya apa tujuannya mencari


pekerjaan, alasannya membuatku terpana.


Dimana kedua orang tuanya? sehingga dia harus membiayai kuliahnya sendiri? apa dia wanita yang tak mau merepotkan kedua orang tuanya. ah sial aku semakin dibuat penasaran.


Aku memaksanya melihatku ketika berbicara. dan saat itu terjadi..


Deg..


Tuhan,, indah sekali ciptaanmu, wajah nya tanpa riasan yang mencolok, rambutnya yang sebagian menutupi dadanya.


What the ****,, shit,, dadanya ahh sunggung menggoda. bentuk tubuhnya bak model bintang dewasa. pikiran kotor ku menguasai diriku sesaat.


Kemeja yang cukup longgar itu tetap memperlihatkan betapa bentuk dadanya yang size nya lebih dibanding wanita pada umumnya.


Pantas saja banyak pria berubah jadi mesum ketika melihatnya, ku rasa aku juga kalo saja aris tak berada diruangan itu bersama kami.


Aku mengakui, aku tergoda dengan nya, aku terpesona dengan wajah dan bentuk tubuhnya, aku tak kuat berlama lama melihatnya yang sedang melihatku.


Mata nya ketika bertemu mataku, membuat gairahku terpancing, matanya memancarkan aura sensual, berpadu dengan hidung dan bibirnya sungguh kesatuan yang indah dan menggoda.


berapa kali aku harus membuyarkan pikiran mesum ku.


" Baiklah, aris yang akan memberi tahu apa saja pekerjaanmu. " ucapku lalu pergi meninggalkan nya dan kembali keruang kerjaku..


" Oh shits,, dia membangunkan adik kecilku,, hanya dengan melihatnya saja gairahku bisa tertantang. Dadanya tadi, oh tuhan,, siapa pemiliknya,, betapa menggairahkan nya gadis itu. apa dia masih virgin.? Aku bisa gila,, kenapa otak ku kotor sekali. "


Dan selang berapa menit,, aris menunjukan meja kerjanya, aku melihatnya dari cctv ruangan tersebut, melihat dia yang kadang tidak fokus ketika aris menjelaskan pekerjaanya.


Ketika dia berjalan rasanya aku ingin mendekapnya dari belakang, aku benar benar sudah gila. Aku termasuk pria mesum. hanya saja aku bisa sedikit menahannya ketika dia dihadapanku.


Melihatnya cepat mengerti dengan pekerjaannya membuat ku merasa senang, aku memang sudah tertarik dengan gadis itu saat ini.


Aris meminta nya keruangan ku untuk mengantarkan berkas yang harus aku tanda tangani, sebenarnya itu hanya akal akalan ku saja.


Aku yang ingin dia berada diruanganku, satu ruangan denganku, dan bisa melihatnya dihadapanku. konyol bukan,, ini seperti bukan aku saja, biasanya wanita akan menghampiriku, tetapi ini,, aku yang ingin menghampirinya. Dengan seribu macam akal, akan ku buat dia yang datang walaupun sebenarnya aku lah yang ingin.


Mengingat kelakuan ku saat ini, seperti kelakuanku ketika aku menjalin hubungan dengan mantan kekasihku kemarin. aku yang membuat dia menghampiriku, dan aku yang sering menghampirinya. sebesar itu mungkin rasa penasaranku terhadapnya.


Tok.. Tok.. Tok..


" Permisi pak. " ucapnya..


Akhirnya dia masuk keruanganku, akhirnya aku berhadapan lagi dengannya, senang sekali rasanya melihatnya takut untuk menghampiriku.


Dia menyerahkan berkas yang harus ku tanda tangani, dengan sengaja pula ku buat lama membaca setiap kata diberkas tersebut. membuat dia seperti tidak nyaman karena aku terlalu lama membuatnya berada diruangan ini.


Aku berpikir dalam hati, kenangan buruk apa yang membuatnya sangat takut berlama lama satu ruangan bersama seorang pria. apa dia pernah mengalami hal buruk sehingga dia memprotek dirinya agar memberi jarak dengan semua pria.


Aku semakin penasaran..


Setelah aku menandatangani berkas tersebut, dan memberikan kepadanya, dia lalu bergegas keluar dari ruangan ku.


Ku lihat setelah dia meletakan berkas tersebut di laci kerja aris, dia kembali ke meja kerja nya, dan berulang kali tampak dia menetralkan dirinya dengan menarik nafas serta memegang dadanya.


Apa sebegitu menyeramkan nya diriku..?


Sehingga dia tampak ketakutan tadi.?


Padahal aku hanya melihatnya sekedar saja saat dia dihadapanku tadi.


Apa yang membuatkanya setakut itu?


Apa karena pengalamannya melamar kerja kemarin kemarin?


Sudah jam makan siang, tapi dia tetap dalam posisinya, apa dia tidak merasa lapar dan mencari kantin, karena waktu makan siang tidak lama. Aku masih memperhatikannya, aku takut dia tidak nyaman bekerja disini.


Ku hubungi aris agar segera tiba dikantor, dan ku minta dia mengajak gadis itu makan siang atau beritahu di mana letak kantin kantor ini, mungkin saja dia tidak tahu, kan ini hari pertamanya bekerja.


Setelah aris tiba, mereka terlihat sedikit berbincang, memang dengan aris dia tak nampak canggung ataupun takut. entah apa sebabnya dia tidak takut dengan aris, padahal dia juga seorang pria dewasa.


Aris dan gadis itu sudah tidak terlihat diruangannya, mungkin mereka sudah makan siang dikantin.


Aku juga beranjak pergi untuk makan siang, siang ini aku sudah janji kepada mama akan makan siang bersamanya.