
Aksa mengajak Caroline menuju salon, memerintahkan pegawai salon untuk merombak penampilan Caroline. Ia berencana hendak mengajak Caroline menghadiri undangan makan siang dari kolega kerjanya sekaligus membahas kelanjutan kerja sama.
"Nanti jangan banyak bicara, biarkan aku yang menjawab pertanyaan nanti kau paham?" tanya Aksa pada Caroline yang sedang di tata rambutnya.
"Baik..." Caroline hanya patuh, untuk apa juga dia melawan toh? Aksa sudah membelinya.
"Tuan anda ingin gaun seperti apa untuk nona?" tanya salah satu pegawai membawa beberapa gambar gaun kepada Aksa.
Aksa mengambil beberapa gambar gaun, ia melihat beberapa dan ia menunjuk kepada gaun selutut berwarna putih dengan ikat pinggang pita berwarna merah.
"Yang ini" ucap Aksa. Sang pegawai mengangguk lalu menuntun Caroline yang baru saja selesai didandani.
Aksa menunggu sambil mengamati kemajuan perusahaannya melalui sebuah I-pad. Aksa menoleh saat mendengar suara hentakan high hils. Sejebak tatapannya terpaku pada penampilan Caroline yang entah kenapa seperti nampak bersinar.
"Kau kesulitan?" tanya Aksa saat melihat Caroline yang nampak sulit berjalan.
"Ugh bisa high hills ini di rendahkan? Ini terlalu tinggi" ucap Caroline takut Aksa akan memarahinya karena banyak maunya.
"Hn carikan yang nyaman di kakinya" ucap Aksa yang segera di laksanakan oleh para pegawia salon.
Setelah menemukan high hills yang nyaman untuk Caroline. Aksa segera mengajak Caroline menjemput Twins terlebih dahulu baru menuju tempat pertemuan.
.
.
.
"Mommy..." Twins segera berlari menuju Caroline saat mata mereka melihat Caroline yang berdiri di depan gerbang sekolah bersama Aksa.
"Ayo cepat masuk" ucap Aksa. Caroline mengajak Twins memasuki mobil.
Kali ini Aksa menyetir sendiri, tanpa supir. Saat sampai di tempat pertemuan berupa restauran bintang lima. Aksa di sambut dengan hangat dan di tuntun menuju ruang VIP.
"Tuan, tuan Albert sudah menunggu anda" ucap Jeremy saat melihat Aksa memasuki ruangan diikuti Caroline dan Twins.
"Tuan Aksa..." sapa seorang wanita muda dengan riang saat melihat Aksa.
"Kate jaga sikapmu" tegur sang Ayah kepada putrinya. Setelah melakukan sapaan ala kantoran, makan siangpun berlangsung.
"Mom, Kenzo mau kentang goreng" ucap Kenzo kepada Caroline yang sedang memotong daging steak.
"Ini Bibi ambilkan" ucap Kate mengambil kentang goreng dan memberikannya kepada Kenzo.
"Mom Kenzo mau kentang goreng" ucap Kenzo mengabaikan Kate, ia tidak suka wanita itu yang terus terang berusaha mendekati Daddynya dengan dandanan ala badut menurut Twins.
Caroline mengambilkan kentang goreng dan memberikannya pada Kenzo. Sedangkan Kenzi sedang menunggu suapan daging dari Caroline. Kate yang melihat penolakan Kenzo berusaha tenang, ia tidak boleh emosi agar bisa mendapat perhatian Aksa.
"Kenzi makannya pelan pelan" tegur Caroline melihat Kenzi dengan semangat menerima suapannya sampai saus belepotan di sekitar wajah tampannya. Caroline dengan telaten mengelap wajah Kenzi menggunakan tisu.
"Dia istri anda tuan Airon? Setahu saya anda seorang duda" ucap tuan Albert.
"Hn..." sahut Aksa singkat.
"A-apa? I-istri? Tidak, Bukannya makan siang ini akan membahas perjodohan aku dan Aksa?" tanya Kate tidak terima.
"Kate..." tegur Albert.
"Ayah, Ayah bilang akan menawarkan perjodohan antara aku dan Aksa sebagai imbalan kerja sama" ucap Kate.
"Kate jaga ucapanmu" tegur Albert.
"Cukup..." ucap Aksa menatap datar pada Ayah dan anak itu. Ia melirik Caroline yang masih sibuk mengurus Twins, seperti gadis itu mengikuti kata katanya untuk hanya diam.
"Aku mulai paham sekarang" ucap Aksa.
"Kau menawarkan kerja sama sekaligus menawarkan putrimu agar bisa mengaturku, dengan statusmu yang nantinya akan menjadi mertuaku tidak menyurut kemungkinan kau ingin mengendalikanku" ucap Aksa.
"Ti-tidak seperti itu" ucap Albert gagap karena rencanya terbaca.
"Jeremy" panggil Aksa.
"Ya tuan?" Jeremy nendekati Aksa.
"Batalkan kerja sama dengan tuan Albert dan kau tau apa yang kau harus lakukan selanjutnya" ucap Aksa.
"Baik saya mengerti" ucap Jeremy.
"Hn ayo pulang" ucap Aksa mengangkat tubuh Kenzo diikuti Caroline dan Kenzi.
"Tidak, Aksa tunggu" Jeremy menahan Kate yang hendak mengejar Aksa.
.
.
.
"Hm?..." gumam Aksa.
"Bisa kita ke taman bermain?" tanya Kenzo.
"Ya Kenzi mau ke taman bermain" ucap Kenzi semangat.
"Daddy sibuk" ucap Aksa fokus dengan jalanan di depannya. Caroline melihat ke belakang dan mendapati wajah sedih Twins.
"Em Twins kalian pergi bersama Mommy saja ya" ucap Caroline.
"Tidak Mom, kami ingin ada Daddy juga" ucap Kenzi.
Caroline menatap Aksa, dia menyentuh lengan Aksa.
"Em bisakah kau meluangkan waktu untuk mereka?" tanya Caroline hati hati.
"Tidak, aku sibuk" ucap Aksa.
"Aku mohon, sebagai gantinya aku akan melakukan apapun asal kau mau mengajak Twins ke taman bermain" ucap Caroline. ia tidak tega melihat wajah sedih Twins.
Aksa nampak berpikir, tak lama kemudian ia menyeringai kecil. Ah dia memiliki permintaan yang bagus. Aksa meraih ponselnya dan menghubungi sekertarisnya agar menghandel semua pekerjaan.
"Oke, kita ke taman bermain" ucap Aksa membuat Twins bersorak senang.
"Ingat janjimu" bisik Aksa kepada Caroline.
Akhirnya Aksa mengajak Twins dan Caroline ke taman bermain. Selama di taman bermain Aksa terus mengikuti kemauan Twins. Twins begitu aktif, Caroline sampai kewalahan menghadapinya.
"Dad ayo main itu" tunjuk Kenzi ke arah stand bermain tembak tembakan yang berhadiah boneka.
"Kalian itu laki laki..." ucap Aksa.
"Ish Dad ayolah, main itu dan menangkan boneka paling besar" ucap Kenzi menggoyangkan tangan Aksa.
"Kenzi benar Dad, nanti bonekanya berikan pada Mommy" ucap Kenzo.
"Baiklah..." ucap Aksa menggandeng Twins. Sedangkan Caroline sedang membeli minuman untuk mereka.
"Dad ayo, Daddy bisa" ucap Kenzo menyemangati saat Aksa sudah memegang pistol air yang akan di arahkan ke titik target yang bergerak.
"Silahkan dimulai tuan" ucap sang penjaga stand.
"Hn ini mudah" gumam Aksa membidik targetnya yang terus bergerak.
"Woah..." Twins berdecak kagum saat tiga tembakan lepas dengan cepat mengenai target.
"Hn..." gumam Aksa. Sang penjaga stand melongo, belum ada yang bisa berhasil mengenai target karena ia sedikit melakukan kecurangan.
"Paman kami mau yang itu" tunjuk Kenzi ke arah boneka apel yang besar. Dengan terpaksa sang penjaga stand memberikan boneka itu.
"Tunggu, bukannya aku mengenai tiga kali maka hadiahnya juga tiga" ucap Aksa datar.
"Tapi tuan anda hanya mendapat satu boneka" ucap sang penjaga stand.
"Disana tertera sekali kena dapat satu boneka sedangkan aku tiga kali mengenai berarti tiga" ucap Aksa datar sambil menunjuk poster yang tertempel di tiang penyangga tenda stand.
"Tuan anda tidak bisa begitu" ucap sang penjaga stand tak terima.
"Kau ingin curang? Baik jangan harap kau bisa bekerja disini lagi" ucap Aksa.
"Ck siapa kau ini? berani mengancamku?" ucap penjaga stand marah.
"Aku? Pemilik taman bermain ini" ucap Aksa datar membuat sang penjaga stand pucat panik. Ia menberika dua bonoeka besar lagi, yang satu spongebobs dan satunya lagi boneka kepala Doraemon.
"Woah Daddy hebat sekali tadi, nanti ajari Kenzo ya Dad agar bisa menembak seperti Daddy" ucap Kenzo memeluk boneka kepala Doraemon.
"Hn nanti akan Dad ajarkan, ayo kembali Dad rasa Mommy mencari kita" ucap Aksa membawa boneka spongebobs.
Benar saja, Aksa dan Twins kembali ke tempat semula dan mendapati Caroline yang menunggu mereka dengan botol minuman.
"Mommy..." Twins segera mendekati Caroline.
"Kalian dari mana saja?" tanya Caroline.
"Mom, tadi Daddy begitu hebat lihat kami mendapat tiga boneka besar" ucap Kenzi semangat. Catoline tertawa ringan melihat sifat ceria Kenzi.
"Waktunya pulang" ucap Aksa melihat jam tangannya yang menunjukkan jam lima sore.
Twins berlari dengan semangat menuju mobil sambil membawa boneka masing masing.
"Aku menunggumu di kamar malam ini" bisik Aksa di telinga Caroline.
TBC