
“Dasar anak tak berguna, kau hanyalah aib di keluarga ini”
Sakit, itulah yang di rasakan sosok gadis berparas manis dan cantik itu. Di anggap aib oleh keluarganya karena kelahirannya yang tidak diinginkan dan membawa kesialan bagi keluarganya.
“Sudah ku bilang untuk membawa uang saat pulang kenapa tidak bawa ha? Kau berani membangkang?” jambakan di rambut ia dapat dari sang Ibu.
“Cih andai saja kau tidak lahir kita tidak akan jatuh miskin” ucap Ayahnya menendang kaki kecilnya.
“Sa-sakit hiks maaf Ayah, Ibu hiks” Caroline hanya bisa menangis saat mendapat kekerasan dari kedua orang tuanya. Tidak ada yang membelanya bahkan sang kakak laki-laki yang selalu ia banggakan menaatapnya jijik.
“Dasar menyusahkan, sebaikanya kau ku jual saja agar mendapatkan uang” ucap sang Ayah- Zakson.
“Ah kau benar suamiku, kita jual saja dia ke club malam” ucap sang Ibu- Margaret menyetujui ucapan suaminya.
“Hei Leo kau punya kenalan mucikari?” tanya Zakson pada anak sulungnya yang sedang duduk di sofa menonton adegan kekerasan yang sedang terjadi.
“Ti-tidak hiks jangan jual aku” Caroline memeluk kaki Ayahnya memohon.
“Lepaskan aku dasar menjijikkan” Zakson menendang Caroline hingga menabrak tembok.
.
.
.
Suara bising dari musik yang berdentum keras di club malam yang berada di pinggir kota itu tak menyulutkan niat seorang pria dewasa untuk menikmati malam dengan minuman berakohol. Bersama sang asisten yang setia
mengikutinya kemana saja, keduanya duduk di kursi depan meja batender.
“Aku pesan Vodka” suara datar itu mengalun di tengah tengah musik yang keras.
“Aku samakan saja” ucap sang asisten saat sang bos meliriknya seolah menanyakan ia ingin memesan apa.
“Baik, harap mennunggu sebentar” ucap sang batender menyiapkan pesanan pelanggannya.
Aksa Airon, pembisnis handal sekaligus ketua Mafia yang terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Siapa yang berani berurusan dengannya maka bersiaplah tinggal nama. Aksa menatap sekitar lautan manusia yang sedang menari di bawah kerlap kerlip lampu club.
“Semuanya hanya penjilat” dengus Aksa.
“Tuan, anda ingin menyewa wanita malam ini? Saya dengar mereka melakukan pelelangan gadis yang masih perawan malam ini” ucap Jeremy kepada Aksa.
“Aku tidak berminat dengan para wanita disini” sahut Aksa datar.
“Aa saya mengerti” ucap Jeremy memaklumi sikap sang bos.
“Silahkan tuan minumannya”
Aksa langsung meneguk Vodka pesanannya dan merasakan sensasi saat minuman itu mengalir di kerongkongannya. Ah rasanya begitu menyegarkan. Suasana Club mendadak hening, semua mata berfokus pada panggung dimana ada seorang wanita berpakaian minim berdiri memegang microfon.
“Selamat malam semuanya, malam ini club kami akan melakukan pelelangan”
Suasana seketika heboh, banyak yang sudah menyiapkan nominal uang yang besar untuk memenangkan pelelangan.
“Malam ini kami memiliki beberapa gadis yang siap untuk di lelang dan semuanya masih perawan, bagi yang berminat silahkan menyiapkan nominal yang cukup besar”
Aksa tetap duduk di kursinya menonton pelelangan yang sedang berlangsung. Dia menatap rendah para gadis yang di lelang, baginya mereka semua hanya memikirkan uang saja. Satu persatu gadis berhasil di lelang dan tibalah pada gadis terakhir.
Aksa menatap gadis yang setengah sadarkan diri tergeletak di atas panggung dengan keadaan terikat dan mengenakan bikini berwarna merah. Air mata yang mengalir di pipi dan keadaan tubuh yang sedikit lebam membuat Aksa menyimpulkan bahwa gadis itu di paksa menjual diri.
“Ini yang terakhir, kami harus mengikatnya karena dia memberontak tapi saya yakin dia sangat memuaskan” ucap sang MC dengan seringai.
“Wah dia masih sangat belia dan tubuhnya sangat bagus walaupun ada sedikit lebam”
Aksa mendekati panggung dan membisikkan sesuatu pada sang MC.
“Catat berapa yang kau inginkan, gadis itu milikku” ucap Aksa memberikan selembar cek.
Dengan mata berbinar, sang MC mengumumkan bahwa gadis tadi sudah di beli dan menjadi milik Aksa yang tentu saja membuat banyak orang yang sudah menawar kecewa.
“Jeremy, lepas jasmu” ucap Aksa mendekati gadis yang ternyata Caroline.
Jeremy melepas jasnya dan memberikan pada Aksa. Aksa menyelimuti tubuh lemah itu dan menggendongnya keluar dari Club.
.
.
.
Sesampainya di mansionnya, Aksa membawa Caroline menuju kamarnya dan membanting tubuh ringkih itu ke ranjang King size miliknya.
“To-tolong le-lepaskan aku” Caroline memohon dengan suara lemah.
“Seharusnya kau berterima kasih kepadaku yang sudah menyelamatkanmu dari tempat terkutuk itu” ucap Aksa datar.
“Tu-tuan aku mohon le-lepaskan aku” Caroline memeluk tubuhnya yang terbalut jas jeremy.
“Kau tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu kau bukan tipeku” ucap Aksa acuh. Entah kenapa Caroline lega mendengarnya.
“Ka-kalau begitu le-lepaskan aku” ucap Carolien.
“Tidak semudah itu” Aksa menyeringai ke arah Caroline.
“Tu-Tuan, kau bilang ti-tidak akan menyentuhku” ucap Caroline melihat Aksa menindihnya.
“Ah aku berubah pikiran” ucap Aksa meniup daun telinga Caroline.
“Daddy~”
Aksa dan Caroline menoleh ke arah pintu mendapati dua bocah manis yang satu berwajah datar dan yang satu sedang menangis sesegukkan. Usia mereka sekitar lima tahunan.
“Hey son what hapenned?” tanya Aksa mendekati kedua putra kembarnya itu.
“Kenzi menangis” ucap Kenzo menggenggam tangan adiknya.
“Ada apa hm?” tanya Aksa.
“Dad hiks Kenzi sedih hiks teman-teman tadi di sekolah mengejek Kenzi karena tidak punya Mommy hiks” adu Kenzi.
“Dia siapa Dad?” tanya Kenzo menatap Caroline yang juga menatap ketiganya.
“Ah dia-“
“Mommy?” tanya Kenzi memotong ucapan Aksa dan melihat Caroline yang duduk di tengah tengah kasur.
“Dia Mommy? Dad?” tanya Kenzo tak percaya.
“Eh aku bu-“
“Iya dia Mommy kalian” ucap Aksa saat melihat Caroline hendak protes. Ia menatap tajam Caroline yang hendak menyangkal.
“Mom” Kenzi dan Kenzo berlari menaiki ranjang Aksa dan memeluk Caroline erat.
“Mom hiks kenapa Mom baru pulang hiks” Kenzi menangis sesegukkan membuat Caroline gelagapan.
“Mom Kenzo merindukkan mom” ucap Kenzo dengan mata berkaca kaca. Caroline melirik ke arah Aksa bermaksud meminta bantuan tapi malah tatapan tajam seolah mengatakan ‘bujuk mereka agar diam’.
“He-hei jangan menangis oke siapa tadi namamu? Kenzi?” Kenzi menatap Caroline dan mengangguk lucu.
“Nah anak laki laki tidak boleh menangis” ucap Caroline mengusap air mata Kenzi, lalu mengangkat tubuh kurus itu ke pangkuan kanannya.
“Mom Kenzo juga mau di pangku” ucap Kenzo.
“Ah kemari” Caroline memangku Kenzo di pangkuan kirinya.
“Mom jangan pergi lagi” lirih Kenzi sesegukkan.
“Oke Mo-mom tidak akan pergi asalkan Kenzi berhenti menangis” ucap Caroline masih canggung karena panggilan dua anak laki laki kembar itu kepadanya.
“Kenzi tidak menangis lagi” ucap Kenzi mengusap air matanya kasar.
“Dad, Kenzi juga mau tidur dengan Mom” ucap Kenzi berharap.
“Kalian tidurlah, Dad masih ada pekerjaan” ucap Aksa.
“Dan kau, pakai saja pakaianku untuk sementara” ucap Aksa dan melenggang pergi.
“Mom ayo tidur, Kenzi mau dipeluk Mommy” ucap Kenzi dengan mata sembabnya.
Caroline mengangguk, sebelum dia mengajak kedua anak kembar itu untuk mencuci kaki, tangan, muka dan mengosok gigi. Ia sendiri mengambil kemeja milik Aksa yang kebesaran di tubuhnya sehingga menutupi setengah pahanya.
“Mom peluk”.
.
.
.
Aksa membuka kelopak matanya perlahan saat merasakan sinar matahari menerpa wajahnya. Ia menguap dan mengacak rambutnya. Dia baru tertidur jam tiga dini hari tadi karena menyelesaikan beberapa dokumen. Ia mencium aroma wangi dari arah dapur dan suara bising kedua putranya yang tumben heboh biasanya hanya ada keheningan.
Melangkahkan kakinya ke arah dapur setelah mencuci muka dan gosok gigi tentunya. Ia mendapati kedua putranya yang sedang heboh karena memperebutkan hal sepele.
“Pokoknya Mommy akan menyuapi Kenzi” ucap Kenzi.
“Tidak, Mommy akan menyuapiku” ucap Kenzo. Mata Aksa menangkap Caroline yang membawa piring berisi ayam goreng. Ah Aksa baru ingat kalau tadi malam dia membawa seorang gadis ke Mansionnya.
“Ah selamat pagi, silahkan duduk kau mau apa tuan?” tanya Caroline. Aksa meneliti penampilan Caroline yang hanya mengenakan kemeja milikya dengan Apron merah.
“Hn buatkan aku kopi” ucap Aksa duduk di kursi.
“Kenzi, Kenzo jangan bertengkar nanti akan Mom suapi kalian berdua” ucap Caroline melerai pertengkaran keduanya.
“Baik Mom” Kenzi dan Kenzo tersenyum cerah.
Caroline kembali berkutat dengan sup buatannya sambil membuat kopi untuk Aksa. Aksa memperhatikan setiap gerakan gesit caroline, matanya tanpa sengaja menangkap beberapa lebam di kaki dan tangan caroline.
“Silahkan dinikmati” ucap Caroline menaruh segelas kopi di hadapan Aksa.
“Mom Kami mau supnya yang banyak” ucap Kenzo saat melihat sup buatan Caroline sudah matang dan di tarus di meja makan.
“Kemana para Maid?” tanya Aksa.
“Oh itu Kenzo usir mereka” ucap Kenzo polos.
“Kami mau makan masakan Mommy” ucap Kenzi. Aksa hanya menghela nafas karena kelakuan dua putranya yang begitu semenah menah.
Caroline menyuapi Kenzi dan Kenzo dengan telaten, sekali dia membersihkan bibir keduanya jika berantakan karena mereka makan dengan lahap.
“Dad ayo makan, masakan Mom enak” ucap Kenzi dengan mulut yang penuh.
“Saat makan tidak boleh berbicara nanti tersedak” ucap Caroline.
Aksa mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauk. Saat sendokkan pertama sampai di dalam mulutnya, Aksa menyetujui ucapan kedua putranya yang mengatakan bahwa masakan Caroline enak. Kopi yang di buat Carolinepun pas, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit.
“Setelah ini bersiaplah, asistenku akan mengajakmu berbelanja membeli pakaian” ucap Aksa.
“Kami ikut ya Dad” ucap Kenzi.
“Boleh ya Dad, kan hari ini hari libur” ucap Kenzo.
“Pergilah, tapi jangan nakal” ucap Aksa.
“Baik...” balas keduanya kompak.
.
.
.
Jeremy mengantar kedua tuan kecilnya beserta gadis yang tadi malam tuannya beli berkeliling Mal. Mereka memasuki butik yang di kelolah oleh adik Aksa.
“Auntie Mia...” sapa Kenzi mendekati Mia yang sedang duduk di ruangannya.
“Ow ow keponakan Auntie kenapa bisa ke sini? Bersama Dad?” tanya Mia kepada keponakan bungsunya itu.
“Tidak, Kenzi bersama Mommy” ucap Kenzi senang.
“Mommy?” Mia terbelalak kaget, jangan bilang wanita ular yang menjebak kakaknya dulu kembali lagi.
“Dimana Mommymu sayang?” tanya Mia.
“Diluar bersama Kenzo” ucap Kenzi, dia memang kabur tadi dari pengawasan Caroline.
Mia menggendong Kenzi ke luar ruangannya dan berjalan mendekati Caroline yang berdiri membelakanginya bersama Kenzo yang sibuk memilihkan pakaian untuk Caroline.
“Mommy” panggil Kenzi, Mia siap mencaci maki wanita yang di panggil Mommy oleh keponakannya tapi tercekat di tenggorokkan karena apa yang di duga oleh Mia salah.
“Kenzi? Mom mencarimu dan ternyata kau disini” ucap Caroline lega karena Kenzi tidak hilang. Pantas saja Kenzo nampak santai saat Kenzi tiba tiba menghilang.
“Siapa kau?” tanya Mia datar.
“Eh? Aku Caroline salama kenal” ucap Caroline sopan.
‘Sopan, tapi belum tentu baik’ batin Mia.
“Apa tujuanmu mendekati kakaku Aksa?” tanya Mia datar.
“Aksa? Siapa? Aku tidak kenal kakakmu” ucap Caroline bingung.
“Mom, Aksa itu nama Daddy” ucap Kenzo.
“Eh? Benarkah?” tanya Caroline.
“Nona Mia, dia baru bertemu tuan Aksa tadi malam dan langsung di bawa tuan Aksa ke Mansion” ucap Jeremy.
‘Ah begitu’ batin Mia.
“Baiklah, kau kemari ingin membeli pakaiankan? Ayo aku tunjukkan beberapa model terbaru” ucap Mia.
Mia pun menunjukkan beberapa model pakaian keluaran terbaru kepada Caroline. Carolline nampak ragu untuk membeli karena harganya yang begitu fantastis.
“Kenapa? Kakakku memberikanmu kartu kreditnya kan? Beli saja semuanya” ucap Mia.
“Em, maaf, tapi rasanya tidak sopan memakai uang milik orang yang baru saja kita kenal” ucap Caroline.
“Nona, Tuan Aksa menyampaikan kepada saya untuk membungkus semua pakaian di setiap model untuk di bawa pulang” ucap Jeremy.
“Bukankah ini berlebihan?” tanya Caroline tak enak hati. Bagaimana cara dia mengembalikan uang yang ia pakai.
Setelah paksaan dari Mia dan jeremy, akhirnya Caroline menyetujui membeli semuanya. Ditambah Kenzi dan Kenzo yang merengek lapar karena sudah masuk jam makan siang.
Mia menatap Caroline yang keluar dari tokonya bersama Kenzi dan kenzo. Dia mengirimkan pesan kepada Aksa.
To: Kak Aksa
Aku butuh penjelasan tentang wanita yang di panggil Mommy oleh keponkanku.
Mia lalu mengirim pesan kepada ibunya yang ia yakini dapat membuat heboh keluarga Airon, dan bisa di pastikan Aksa akan di introgasi habis habisan.
To: Mommy
Mom, Kak Aksa sudah memiliki calon.
Mia tertawa nista, ia akan mengerjai kakaknya nanti di tambah ia juga tertarik dengan Caroline yang nampak tidak tertarik dengan kekayaan Aksa. Di lihat dari cara dia menolak pakaian yang di sodorkan olehnya tadi.
TBC
Ugh maaf, ceritanya author ubah soalnya cerita yang kemaren mendadak buntu di peretengah jalan cerita :')